oleh

Internalisasi dan Dinamika Pendidikan Multikultural di Era Society 5.0

Oleh: Nelson Sihaloho

*).Penulis:Guru SMPN 11 Kota Jambi
Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

ABSTRAK:
Sebagaiana kita ketahui bahwa saat ini revolusi digital begitu cepat dan dinamisnya berkembang. Bebagai informasi dapat diakses dengan mudah melalui berbagai platform platform media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Tik tok dan berbagai startup jual-beli serta pengiriman paket secara online. Digitalisasi internet ke seluruh pelosok tanah air merupakan kewajiban dan tugas mulia pemerintah. Zaman kini telah berubah, bahkan dunia pendidikanpun dituntut untuk sadar digital. Pemahaman yang mendalam tentang makna perbedaan merupakan inti dan dasar utama pada pendidikan multicultural. Pendidikan multicultural berfokus pada proses pengembangan seluruh potensi manusia yang menghargai pluralitas dan heterogenitas sebagai konsekuensi keragaman budaya, etnis, suku, dan agama. Pendidikan Multikultural merupakan proses yang meliputi berbagai aspek praksis di sekolah , kebijakan dan organisasi  yang dimaknai  untuk menjamin  pencapaian pengalaman dan kemampuan akademik peserta didik  tingkat  tinggi ,memiliki kesadaran sosial  dan memeiliki pengalaman aktif baik sebagai warga  lokal , nasional dan global. Pendidikan multikultural memposisikan   sekolah pada tempat yang penting dan strategis . Sekolah harus mampu menjalankan fungsinya sebagai  institusi dasar atau wahana  bagi transformasi masyarakat  dan mengeliminasi  tekanan dan ketidakadilan yang sringkali muncul.   Internalisasi dan dinamika yang muncul dalam pendidikan di era Society 5.0 diharapkan akan mamu meninimalisir berbagai bentuk  diskriminasi di sekolah dan masyarakat. Selain itu hasil maupun aot put mampu menerima dan memahami kenyataan yakni pluralisme (keberagaman etnik, ras, bahasa, agama , ekonomi  dan gender ) yang ada dalam kehidupan peserta didik, guru maupun masyarakat.
Kata kunci: internalisasi, pendidikan multicultural, era Society 5.0

Internalisasi Dalam Pendidikan

Di era globalisasi saat ini wacana tentang hidup berdampingan dan bergaul dengan berbagai kelompok masyarakat yang berbeda ras, etnik, bahasa, budaya dan negara, menjadi suatu kewajiban. Hidup dalam masyarakat plural dan multikultural bukan merupakan suatu hal yang harus dihindari. Justru menjadi bagian dari dinamika kehidupan sosial yang patut dihargai. Multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia sesungguhnya sudah tercermin dalam Pancasila sebagai Ideologi bangsa yang sarat dengan nilai-nilai pluralisme dan multikulturalisme. Untul lebih jelasnya bahwa kata internalisasi dalam bahasa Inggris yaitu internalizad yang berarti to incorporate in oneself. Internalisasi adalah proses menanamkan suatu nilai atau budaya menjadi bagian diri orang yang bersangkutan (Sahlan, 2010: 130). Dalam KBBI, Internalisasi mempunyai arti penghayatan terhadap suatu ajaran, doktrin atau nilai sehingga merupakan keyakinan dan kesadaran akan kebenaran doktrin atau nilai yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku ( KBBI, 2007 : 439 ). Dengan demikian internalisasi adalah suatu proses menamankan nilai-nilai multikultural yang dipentingkan manusia, dimana sesuatu hal tersebut menyangkut abstraksi tentang sesuatu yang baik maupun benilai positif. Dalam konteks Indonesia, pendidikan multikultural merupakan keharusan, bukan lagi pilihan.
Konsep masyarakat plural (plural society) seringkali disamakan dengan masyarakat multikultural (multikultural society). Kedua konsep ini penting dibedakan karena implikasinya terhadap bentuk masyarakat yang dihasilkan berdasarkan corak hubungan di antara masyarakat dan budaya. Pada masyarakat plural, interaksi dan komunikasi masyarakat dan budaya berlangsung sendiri-sendiri, tidak intensif. Mengutip Fay, Lubis (2004: 121) mengemukakan multikulturalisme sebagai suatu ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan, baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam masyarakat multikultural, berbagai perbedaan budaya, etnis, lokalitas, bahasa, ras, bangsa, dan lain-lain dilihat sebagai mozaik yang memperindah masyarakat. Prinsip keanekaragaman, perbedaan, kesederajatan, persamaan, penghargaan pada demokrasi, hak azasi, dan solidaritas merupakan ideologi yang diperjuangkan dan dijunjung tinggi. Dalam masyarakat multikultral, interaksi antara masyarakat dengan berbagai kebudayaan berbeda-beda tersebut berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Keadilan tercapai di antara berbagai perbedaan budaya tersebut karena dipandang dan ditempatkan dalam kedudukan yang sejajar dan setara. Lubis,et,all, beberapa studi dan penelitian multikultural yang dilakukan di Indonesia diharapkan dapat membantu mengembangkan prinsip demokrasi, persamaan, dialog, dan solidaritas yang diperlukan bagi kehidupan yang lebih nyaman dengan saling menghormati antarberbagai etnis, budaya, agama, dan ras dalam abad informasi dan globalisasi sekarang ini. Secara etimologis, internalisasi menunjukkan suatu proses. Dalam kaidah bahasa Indonesia akhiran-isasi mempunyai definisi proses, sehingga internalisasi dapat didefinisikan sebagai suatu proses. Dalam kamus besar bahasa Indonesia internalisasi diartikan sebagai “penghayatan, pendalaman, penguasaan secara mendalam yang berlangsung melalui binaan, bimbingan dan sebagainya” (KBBI,. 1989). Sedangkan dalam perspektif sosiologi, internalisi merupakan salah satu dari tiga instrumen konstruksi sosial (eksternalisasi, objektifikasi dan internalisasi) terhadap realitas kehidupan masyarakat yang digagas oleh Peter L. Berger (Dharma, F.A.,2018). Menurut (Thoha,C.,2006), internalisasi nilai merupakan teknik pelaksanaan pendidikan nilai yang sasarannya sampai pada kepemilikan nilai yang menyatu dalam kepribadian peserta didik. Pada dimensi nilai multikultural membagi beberapa jenis nilai multikultural yang penting diterapkan di sekolah/madrasah, yaitu: sikap toleransi, tema-tema tentang perbedaan etno kultural, aspek keagamaan, bahaya diskriminasi, penyelesaian konflik dan mediasi, HAM, demokrasi dan pluralitas, kemanusiaan universal. Intinya dapat kita pahami bahwa bahwa, internalisasi nilai multikultural adalah suatu proses untuk menanamkan, mengajarkan dan membiasakan peserta didik untuk berinteraksi dengan individu atau komunitas yang berbeda secara toleran, inklusif dan damai agar tercipta harmoni bersama. (Azra.,2007). Pengingkaran suatu masyarakat terhadap kebutuhan untuk diakui merupakan akar dari segala ketimpangan dalam berbagai bidang kehidupan sosial. (Mahfud,C., 2009) Dalam pendidikan multikultural selalu muncul dua kata kunci, yakni pluralitas dan kultural. Pendidikan multikultural itu mencakup seluruh peserta didik tanpa membeda-bedakan kelompok-kelompoknya seperti gender, etnik, ras, budaya, strata sosial, dan agama (Mahfud,C., 2009). Bennet seperti dikutip oleh (Musyarofah, 2016: 185) bahwa konsep pendidikan multikultural meliputi gerakan menuju pencapaian pemberian kesempatan yang sama bagi setiap peserta didik, kurikulum yang dapat mengembangkan pemahaman tentang perbedaan budaya, proses yang memfasilitasi peserta didik untuk menjadi orang yang secara budaya kompeten, dan komitmen untuk melawan kesewenangan diskriminasi dan ketidakadilan sosial. menjelaskan bahwa fokus program pendidikan multikultural tidak semata-mata diarahkan pada kelompok rasial, agama dan kultural dominan atau mainstream.

Dinamika Pendidikan Multikultural

Indonesia, yang notabene dikenal sebagai negara multikultural, yang memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Pendidikan merupakan suatu proses yang menentukan, apakah suatu generasi dalam suatu bangsa berhasil menjadi generasi yang cerdas, tidak hanya terbatas intelegensi, namun lebih dari itu secara emosional dan spritual. Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan multicultural merupakan suatugerakan reformasi yang ditujukan pada perubahan pendidikan di AmerikaSerikat yang selama ini melakukan tindak diskriminasi terhadap masyarakat “minoritas,” yaitu masyarakat yang berada di luar “White-Male-Protestant-Anglo Saxon (WMPA). (Banks & Banks Eds, 2001). Menurut Gorski, ada tiga tujuan utama pendidikan multikultural (yang boleh disebut sebagai sasaran instrumental dan terminal), yaitu: 1) Meniadakan diskriminasi pendidikan, memberi peluang sama bagi setiap anak untuk mengembangkan potensinya (tujuan instrumental); 2) Menjadikan anak bisa mencapai prestasi akademik sesuai potensinya (tujuan terminal internal);3) Menjadikan anak sadar sosial dan aktif sebagai warga masyarakat lokal, nasional, dan global (tujuan terminal akhireksternal). (Gorski, 2010, Zamroni, 2011). Pendidikan multikultural dapat berlangsung dalam setting pendidikan formal atau informal, langsung atau tidak langsung. Pendidikan multikultural diarahkan untuk mewujudkan kesadaran, toleransi, pemahaman, dan pengetahuan yang mempertimbangkan perbedaan kultural, dan juga perbedaan dan persamaan antar budaya dan kaitannya dengan pandangan dunia, konsep, nilai, keyakinan, dan sikap (Aly, 2005). Pendidikan multikultur adalah suatu solusi karena memberikan suatu dasar yang benar yaitu mengajak melihat perbedaan sebagai sesuatu yang wajar (Maliki, 2010: 254).
Pendidikan multikultural di Indonesia hendaknyadilakukan dengan memperhatikan perspektif  pengelolaan pluralisme budaya yang ada di masyarakat, yang pada tataran teoritik terdapat dua perspektif, yaitu: 1) Pendekatan convensionalism yang mengakui keanekaragaman identitas  budaya. Dalam hal ini masing-masing entitas budaya diberi hak membawa simbol-simbol dan lambang yang mereka  milikike ranah publik. Konsep kesatuan  dalam hal ini distruktur oleh keragaman budaya atau yang dikenal dengan unity in diversity.2). Perspektif deconvensionalism yang dalam hal ini harus ada penataan pengelolaan simbol-simbol askribtif di ruang publik. Simbol dan lambang-lambang yang direpresentasikan identitas atau budaya partikular tidak boleh di bawa ke ranah publik. Dalam interelasi dengan publik hanya  diperbolehkan memakai lambang atau simbol-simbol bersama. Konsep kesatuan kemudian dikenal dengan unity without diversity . (Maliki, 2010 : 263)

Multikultural dan Era Society 5.0

Menghadapi era Society 5.0 semakin sulit ditemukan komunitas-komunitas sosial yang homogen dan monokultur. Globalisasi mengakibatkan fenomena multikultural semakin menjadi bagian dari hidup dan peradaban manusia saat ini. Merespon fenomena multikultural perlu dikembangkan tentang pendidikan dan kesadaran multikulturalisme. Pendidikan multikulturisme adalah pendidikan yang menekankan pengakuan, penerimaan dan penghargaan terhadap keberagaman budaya,agama, etns, ras, bahasa serta budaya lain. Pengakuan terhadap keragaman budaya ini harus memiliki implikasi politis, sosial, ekonomi, dan budaya yang jelas. Pemahaman yang jelas dan kesadaran yang mendalam tentang identitas bangsa sebagaimana dalam Pembukaan UUJD 1945 harus dikmplementasikan dengan baik serta benar. Pendidikan hendaknya memberi penghargaan terhadap realitas pluralitas. Pendidikan yang tidak memberi penghargaan terhadap realitas pluralitas akan membawa banyak implikasi negatif. Pendidikan yang berparadigma multikulturalisme penting dibangun sehingga potensi unggul sumber daya manusia (SDM) yang menghargai pluralitas dan hetrogenitas sebagai konsekuensi keberagaman budaya, etnis, suku, agama dalam suatu bangsa.
Begitu juga dengan perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang sangat cepat mengharuskan kita untuk siap menghadapi perubahan dunia terutama dalam bidang pendidikan.Dalam era Society 5.0 terutama dalam pendidikan multicultural adalah manusia  yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0 yang berpusat pada teknologi. Society 5.0 yang memfokuskan kepada komponen teknologi dan kemanusiannya akan semakin mempercepat proses transformasi dalam pendidikan multicultural termasuk teknologui digital.
Kecakapan hidup abad 21 yang dikenal dengan istilah 4C (Creativity, Critical Thinking, Communication, Collaboration) akan semakin mudah diaplikasikan dalam pendidikan multikultural. Sejalan dengan hal itu pada abad ke – 21, pelajar diharapkan memiliki kompetensi yakni kemampuan Enam Literasi Dasar. Yakni literasi baca dan tulis adalah pengetahuan dan kecakapan untuk membaca, menulis, mencari, menelusuri, mengolah, dan memahami informasi untuk menganalisis, menanggapi, dan menggunakan teks tertulis untuk mengembangkan pemahaman dan potensi. Kemudian literasi numerasi adalah pengetahuan dan kecakapan untuk bisa memperoleh, menginterpretasikan, menggunakan, dan mengkomunikasikan berbagai macam angka dan simbol matematika untuk memecahkan masalah praktis dalam berbagai macam konteks kehidupan sehari-hari. Selanjutnya literasi sains adalah pengetahuan dan kecakapan ilmiah untuk mampu mengidentifikasi pertanyaan, memperoleh pengetahuan baru, menjelaskan fenomena ilmiah, mengambil simpulan berdasarkan fakta, memahami karakteristik sains, membangun kesadaran bagaimana sains dan teknologi membentuk lingkungan alam, intelektual dan budaya.Menyusul selanjutnya adalah kiterasi digital adalah pengetahuan dan kecakapan untuk menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum. Kemudian literasi finansial adalah pengetahuan dan kecakapan untuk mengaplikasikan pemahaman tentang konsep dan risiko, keterampilan, dan motivasi agar dapat membuat keputusan yang efektif dalam konteks finansial. Terakhir adalah literasi budaya adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami dan bersikap terhadap kebudayaan Indonesia sebagai identitas bangsa. Sementara itu, literasi kewargaan adalah pengetahuan dan kecakapan dalam memahami hak dan kewajiban sebagai warga masyarakat.
Dengan pendidikan multikultural diharapkan mampu menciptakan tatanan masyarakat yang terdidik dan berpendidikan serta menjadi sangat urgen, mendesak untuk dikonsepkan maupun dipraksiskan dalam kegiatan pembelajaran di negara yang sangat bernuansa plural dan multikultural demi kokohnya keseimbangan. Pendidikan multikultural merupakan suatu perspektif yang mengakui realitas sosial, politik, dan ekonomi yang dialami oleh masing-masing individu dalam pertemuan manusia yang kompleks dan beragam secara kultur, dan merefleksikan pentingnya budaya, ras, seksualitas dan gender, etnisitas, agama, status sosial, ekonomi, dan pengecualian-pengecualian dalam proses pendidikan. Dengan demikian, pendidikan multikultural sangat relevan dan urgen sesuai dengan situasi, dinamika maupun kondisi multi etnis, multi ras, dan multikultur yang riil serta faktual dalam konteks kebangsaan Indonesia saat ini. Intinyab memiliki relevansi yang signifikan diterapkan di negera kita dalam bingkau Bhineka Tungga Ika. Semoga bermanfaat. (*****)

Rujukan:
Aly, A. 2005. “Pendidikan Multikultural dalam Tinjauan Pedagogik”. Makalah dipresentasikan pada Seminar Pendidikan Multikultural sebagai Seni Mengelola Keragaman, yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSB-PS). Universitas Muhammadiyah Surakarta. Sabtu, 8 Januari 2005.
Amirin, Tatang M. 2012. Implementasi Pendekatan Pendidikan Multikultural Kontekstual Berbasis KearifanLokal Di Indonesia.Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasidan Aplikasi. Volume 1, Nomor 1, Juni, 2012
Lubis, Akhyar Yusuf, 2006. Deskontruksi Epistemologi Modern. Jakarta: Pustaka Indonesia Satu.
Maliki, Zainuddin. 2010. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
Yaqin, M. Ainul 2005.Pendidikan Multikultural: Cross-cultural Understanding untuk Demokrasi dan Keadilan. Yogyakarta: Pilar Media.
Zamroni. 2011. Pendidikan Demokrasi Pada Masyarakat Multikultural. Yogyakarta:Gavin KalamUtama.

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.