Asesmen Nasional dan Penguatan Atmosfir Sekolah

Oleh: Nelson Sihaloho

*)Penulis: Guru SMPN 11 Kota Jambi

ABSTRAK:

Asesmen Nasional (AN) kini telah menjadi salah satu alternatif transformasi pendidikan pada tingkat sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, pengajaran, dan lingkungan belajar maupun satuan pendidikan. AN merupakan program penilaian terhadap mutu setiap sekolah, madrasah, serta program kesetaraan pada jenjang dasar dan menengah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil belajar murid yang mendasar (literasi, numerasi, dan karakter) serta kualitas proses belajar mengajar dan iklim satuan pendidikan yang mendukung pembelajaran. Informasi-informasi tersebut diperoleh dari tiga instrumen utama, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar.

AN dirancang untuk menghasilkan informasi akurat untuk memperbaiki kualitas belajar-mengajar dan akan meningkatkan hasil belajar pesrta didik. AN menghasilkan informasi untuk memantau perkembangan mutu dari waktu ke waktu, dan kesenjangan antar bagian di dalam sistem pendidikan (misalnya kesenjangan antarkelompok sosial ekonomi dalam satuan pendidikan, kesenjangan antara satuan Pendidikan negeri dan swasta di suatu wilayah, kesenjangan antardaerah, atau pun kesenjangan antarkelompok berdasarkan atribut tertentu).
AN bertujuan untuk menunjukkan apa yang seharusnya menjadi tujuan utama satuan pendidikan, yakni pengembangan kompetensi dan karakter peserta didik. AN juga akan memberi gambaran tentang karakteristik esensial sebuah satuan pendidikan yang efektif untuk mencapai tujuan utama pendidikan. AN diharapkan dapat mendorong satuan pendidikan maupun dinas pendidikan untuk memfokuskan sumber daya pada perbaikan mutu pembelajaran. Melalui asesmen yang lebih berfokus, perbaikan kualitas, layanan pendidikan yang semakin efektif memiliki kontribusi yang signifikan terhadap penguatan mutu maupun atmosfir sekolah.
Kata kunci: asesmen nasional, atmosfir sekolah

 

Perubahan Paradigma

Sebagaimana kita ketahui bahwa perubahan mendasar pada AN tidak lagi mengevaluasi capaian peserta didik secara individu, akan tetapi mengevaluasi dan memetakan sistem pendidikan berupa input, proses, dan hasil. Intinya bahwa potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil AN akan menjadi cermin untuk bersama-sama melakukan refleksi mempercepat perbaikan mutu pendidikan di tanah air.
AN merupakan pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program keseteraan jenjang sekolah dasar dan menengah. AN terdiri dari tiga bagian, yaitu Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Survei Karakter, dan Survei Lingkungan Belajar. AKM dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar kognitif yaitu literasi dan numerasi. Kedua aspek kompetensi minimum itu akan menjadi syarat bagi peserta didik untuk berkontribusi di dalam masyarakat, terlepas dari bidang kerja dan karier yang ingin mereka tekuni di masa depan.

Sedangkan survei karakter dirancang untuk mengukur capaian peserta didik dari hasil belajar sosial-emosional berupa pilar karakter untuk mencetak Profil Pelajar Pancasila. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebhinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Adaoun survei lingkungan belajar untuk mengevaluasi dan memetakan aspek pendukung kualitas pembelajaran di lingkungan sekolah.

Sebagai alat ukur pengganti UN, AKM diikhtiarkan menjadi pengukur kompetensi literasi dan numerasi merujuk pada survey-survey internasional yang lazim diikuti banyak negara diantaranya PISA (Programme for International Student Assessment) dan TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study). Hal yang membedakan dengan survey-survey internasional tersebut, penyelenggaraan AKM hanya mengukur kemampuan/kompetensi literasi dan numerasi.

Sementara untuk kompetensi sains, sebagaimana yang dilakukan di PISA dan TIMSS, bukan termasuk domain yang akan diukur tingkat kompetensinya di AKM. Ini menjadi salah satu justifikasi mengapa asesmen kompetensi tersebut menggunakan label minimum.

Penyebutan kata minimum juga merujuk pada jenis dan jumlah kompetensi yang akan diukur. Lebih lanjut bahwa AN dirancang untuk memantau dan mengevaluasi sistem pendidikan dasar dan menengah, sedangkan prestasi siswa dievaluasi oleh pendidik dan satuan pendidikan. Apabila dikaji lebih mendalam AN tidak sama dengan Ujian Nasional (UN) baik dari sisi fungsi maupun substansinya. AN berorientasi pada perbaikan dan informasi baik itu kepala sekolah maupun guru-guru dimana saja level numerasi, literasi, dan juga level nilai-nilai Pancasila yang ada di sekolahnya baik peserta didiknya maupun guru-gurunya. Intinya AN merupakan suatu pemetaan, potret serta memberikan informasi agar membantu sekolahnya mengubah dirinya.

 

Perbaiki Atmosfir Belajar

Pebaikan atmosfir belajar sangat penting dilakukan dilingkungan sekolah. Sebab atmosfir yang baik akan memberikan iklim yang nyaman terhadap peserta didik. Menanamkan pendidikan karakter menuntut pihak sekolah, guru untuk lebih kreatif untuk pengembangan karakter. Intinya para pendidik harus berkonsentrasi pada perbaikan atmosfer belajar dilingkungan sekolah.

 

Untuk menerapkan penguatan pendidikan karakter di sekolah, guru tidak hanya dituntut memberi contoh pada peserta didik. Pendidikan di sekolah harus mampu menciptakan atmosfer yang menciptakan siswa untuk berpikir kritis, komunikatif, dan kolaboratif. Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan yang dilaksanakan tidak hanya mengandalkan narasi, tapi juga menciptakan kultur yaitu suasana pembelajaran menyenangkan termasuk didalamnya kreativitas guru.  Kreativitas guru akan menjadi kunci dalam penguatan pendidikan karakter di sekolah.

Unsur komunikatif dan kolaboratif harus benar-benar dimaksimalkan. Salah satu bentuk kolaborasi antara guru dan siswa bisa dilakukan dalam penentuan nilai. Proses pendidikan harus fokus pada proses menciptakan anak yang kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. Karena itu guru dituntut untuk lebih kreatif ketika menyampaikan materi tanpa harus menjelaskan bahwa materi yang diajarkannya itu bertujuan mengembangkan karakter.

 

Pengembangan karakter akan berjalan dengan baik dan sinkron tatkala ketika (peserta didik) akan bekerjasama dengan yang lain, penguatan value (nilai) dan etika akan masuk ke dalam diri siswa. Perlu ditanamkan nilai-nilai kepercayaan diri pada peserta didik serta membuat mereka merasa nyaman berada di tempat belajar. Guru harus lebih banyak memberikan inspirasi terhadap peserta didik. Lingkungan sosial atau suasana kelas saat pembelajaran berlangsung merupakan penentu psikologis utama yang mempengaruhi belajar akademis. Suasana atau keadaan ruangan kelas menunjukkan arena belajar yang sangat dipengaruhi emosi.

 

Sangat disarankan kepada para guru  sebelum memulai pelajaran, rancanglah suasana kelas agar tercipta suasana yang menyenangkan, sehingga perasaan maupun emosi siswa nyaman  dan rela menerima materi pelajaran. Memperhatikan emosi siswa dapat membantu guru mempercepat pembelajaran mereka. Memahami emosi para siswa juga dapat membuat pembelajaran lebih berarti dan permanen. Harus diingat bahwa minat dan  motivasi siswa berkaitan erat dengan emosi mereka. Jika perasaan siswa tidak senang, bosan, terancam, tegang saat belajar dapat dijamin bahwa mereka tidak melaksanakan proses pembelajaran, tetapi mereka bertempur melawan perasaan mereka sendiri dan berharap proses pembelajaran segera berakhir. Dengan demikian penguatan atmosfir akademik akan membuat suasana pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, positif, penuh semangat, dan menciptakan hal-hal baru yang bermanfaat bagi pribadi, lembaga pendidikan, dan masyarakat, sehingga tercipta lulusan-lulusan berkualitas. Kegiatan membaca dan menulis harus tetap berkelanjutan dilakukan di kalangan guru serta memiliki publikasi ilmiah baik skala lokal, nasional, ataupun international, sebagai salah satu parameter produktivitas kinerja seorang guru.

 

Menulis bukan saja sebagai kebutuhan untuk peningkatan karier guru, akan tetapi sebagai tanggung jawab moral sebagai seorang pendidik dan ilmuan.  Reward seharusnya diberikan kepada para guru yang berhasil mempublikasikan karya ilmiahnya yang intinya akan mendorong para guru aktif berkarya serta bermanfaat untuk kalangan masyarakat luas.  Atmosfer akademik dalam dunia pendidikan berbeda dengan atmosfer birokrasi dalam sistem pemerintahan dan atmosfer profit pada sektor swasta yang lebih berorientasi pada keuntungan atau benefit.  Membangun atmosfer akademis di kalangan guru menjadi salah satu parameter bahwa kinerja profesionalisme guru telah dijalankan dengan baik oleh sekolah yang bersangkutan.

 

Penguatan Atmosfir Belajar di Sekolah

Prinsip-prinsip pengelolaan kelas yang dapat mendukung terciptanya atmosfir belajar yang kondusif diantaranya kehangatan dan keantusiasan, tantangan, bervariasi, keluesan, Pengembangan disiplin diri sendiri oleh siswa merupakan tujuan akhir dari pengelolaan kelas.

 

Pemberdayaan otak kiri dan otak kanan ha¬rus dicermati dalam proses pembelajaran. Pengaturan lingkungan belajar sangat diperlukan agar peserta didik mampu melakukan kontrol terhadap pemenuhan kebutuhan emosionalnya. Lingkung¬an belajar yang memberi kebebasan kepada anak untuk melakukan pilihan-pilihan akan mendorong anak untuk terlibat secara fisik, emosional, dan mental dalam proses belajar, dan karena itu, akan dapat memunculkan kegiatan-kegiatan yang kreatif-produktif.

ltulah sebabnya, mengapa setiap anak perlu diberi kebebasan untuk melakukan pilihan-pilihan sesuai dengan apa yang mampu dan ingin dilakukannya. Prakarsa anak untuk belajar (the will to learn) akan mati apabila kepada mereka dihadapkan pada berbagai macam aturan yang tak ada kaitannya dengan belajar. Aldridge, 2002 (dalam Rosyada, 2004:167) menyatakan bahwa untuk meningkatkan kualitias pembelajaran, seorang guru harus mengembangkan berbagai perlakuan.

 

Diantaranya (1) Guru harus mampu menciptakan situasi kelas yang tenang, bersih, tidak stress, dan sangat mendukung untuk pelaksanaan proses pembelajaran; (2) Guru harus menyediakan peluang bagi para siswa untuk mengakses seluruh bahan dan sumber informasi untuk belajar; (3) Gunakan model cooperative learning (belajar secara kooperatif) melalui diskusi dalam kelompok-kelompok kecil, debat, atau bermain peran; (4) Hubungkan informasi baru pada sesuatu yang sudah diketahui oleh siswa, sehingga mudah untuk mereka pahami; (5) Dorong siswa untuk mengerjakan tugas-tugas penulisan makalahnya dan dalam kajian yang mendalam; dan (6) Guru harus memiliki catatan-catatan kemajuan dari semua proses pembelajaran siswa, termasuk tugas-tugas individual dan kelompok mereka dalam bentuk portofolio. Adapun De Porter (2004:67) menyatakan dalam menciptakan lingkungan yang optimal, baik secara fisik maupun mental untuk belajar.

Lingkungan yang optimal itu yakni (1) perabot, jenis dan penataan, (2) pencahayaan, (3) musik, (4) visual-poster, gambar, papan pengumuman, (5) penempatan persediaan, (6) temperatur, (7) taman, (8) kenyamanan, dan (9) suasana hati secara umum. Lebih lanjut De Porter, (2004:65) menyatakan bahwa iklim pembelajaran yang diciptakan dari lingkungan belajar yang tepat adalah: (1) ciptakan suasana nyaman dan santai, (2) gunakan musik supaya terasa santai, terjaga, dan siap untuk berkonsentrasi, (3) gunakan pengingat-pengingat visual untuk mem¬pertahankan sikap positif, dan (4) berintraksilah dengan lingkungan Anda untuk menjadi pelajar yang lebih baik. Iklim belajar membawa dampak terhadap perkembangan anak. Kurt Lewin dan Ronal Lippit (1939) dalam Nasution (2004:135) meneliti mengenai perbedaan iklim demokratis dan otokrasi dalam pembelajaran.

Mereka menyimpulkan bahwa: (1) Iklim otokrasi lebih banyak dikeluarkan kecaman tajam bersifat pribadi, sedangkan dalam iklim demokrasi terdapat suasana kerja sama, pujian terhadap sesama teman, saran-saran konstruktif, dan kesediaan menerima buah pikiran orang lain; (2) Iklim otokrasi lebih ditonjolkan diri sendiri, soal ’aku’, sedangkan dalam iklim demokrasi adalah suasana ke-’kita’-an; (3) Suasana oktokrasi, adanya pimpinan yang kuat menghalangi orang lain untuk memegang pimpinan, sedangkan dalam iklim demokrasi beda status sosial pimpinan dan yang dipimpin kecil sekali sehingga pada suatu saat setiap orang mudah memegang kepemimpinan dalam hal ia memiliki kelebihan; (4) Idividualitas muris berkembang dalam iklim demokrasi sedangkan perkembangan tertekan dalam iklim otokrasi; dan (6) Dalam iklim otokrasi tindakan kelompok bukan tertuju kepada pemimpin melainkan terhadap salah seorang anak didik sebab anak didik mudah dijadikan kambing hitam, secara potensial setiap anak didik dapat menjadi saingan atau lawan anak didik lainnya. Karena itu penting diciptakan ekosistem pendidikan yang berkualitas dilingkungan sekolah. Pendidik maupun guru merupakan ujung tonggak terciptanya ekosistem pendidikan yang berkualitas Agar guru terus dapat menjaga kualitas dan mutu pembelajaran di sekolah, maka guru harus terus mengkaji, melakukan inovasi dan perubahan-perubahan dalam proses pembelajaran di kelas. Salah satu upaya pemecahan masalah yang dapat dilakukan guru dalam peningkatan atmosfir belajar di sekolah adalah dengan melakukan penelitian berkenaan dengan pembelajaran baik di dalam maupun di luar kelas.

 

Selain itu sekolah harus mencipatakan iklim kerja yang kondusif. Iklim kerja di sekolah merupakan faktor utama yang menentukan kondisi kualitas pembelajaran yang dihadapi oleh peserta didik di sekolah. Supardi (2014: 123)  menyatakan setidaknya ada 9 ciri-ciri iklim kerja yang kondusif. Yakni; (1) Sekolah mempunyai seperangkat nilai etika-moralitas dan etos yang dianggap penting;(2) Kepala sekolah, guru dan peserta didik menunjukkan kepedulian dan loyalitas terhadap tujuan sekolah;(3) Sekolah menjanjikan lingkungan dan suasana yang menyenangkan, dan menantang bagi guru serta peserta didik; adanya

 

iklim saling menghargai dan saling mempercayai sesama, diantara guru dan peserta didik;(4) Adanya komitmen yang kuat untuk belajar sungguh-sungguh;(5) Kepala sekolah, guru, dan peserta didik mempunyai semangat yang tinggi untuk mencapai prestasi belajar yang tinggi;(6) Adanya moral semangat juang yang tinggi dikalangan peserta didik;(7) Adanya disiplin yang baik di sekolah; (8) Adanya tingkat kemangkiran yang rendah dikalangan guru dan peserta didik; dan (9) Adanya tingkat persatuan conhesiveness dan semangat yang tinggi di kalangan guru. Karena itu potret layanan dan kinerja setiap sekolah dari hasil AN kelak akan menjadi cermin untuk melakukan refleksi sebagai upaya untuk mempercepat perbaikan mutu pendidikan. Semakin baik atmosfir pendidikan yang diterapkan pada lingkungan sekolah akan memberikan kontribusi yang signifikan terhadap peningkatan mutu maupun kualitas pendidikan. AN yang terdiri dari AKM, Survei Karakter dan Survei Lingkungan Belajar akan terukur dan teruji kelak apabila peserta didik kembali ke masyarakat.

 

Penciptaan atmosfir belajar yang baik dilingkungan sekolah harus dikedepankan jika kita berkeinginan untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan dalam mempersiapkan generasi global. Semoga bermanfaat (******)

 

Rujukan:
Absawati, H. (2020). Telaah sistem pendidikan di Finlandia: penerapan sistem pendidikan terbaik di dunia jenjang sekolah dasar.
Albertus,D.K. (2021, Maret 9). Paradoks Asesmen Nasional. Kompas.id. Diakses dari https://www.kompas.id/baca/ opini/2021/03/09/paradoks-asesmennasional/, pada 3 Juli 2021.
De Porter, Bobbi dan Mike Hernacki.2004. Quantum Learning. Bandung: Kaifa.
Dryden, Gordon dan Jeannette Vos. 2003. The Learning Revolution. Bandung: Kaifa.
Nasution. 2004.Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Napitupulu, E. L. (2021, Juli 29). Menggugat urgensi asesmen nasional di tengah pandemi.Kompas.id.Diakses dari https://www.kompas.id/baca/dikbud/2021/07/ 29/menggugat-urgensi-asesmen-nasional-ditengah-pandemi/,pada12 Agustus 2021.
Pusat Asesmen dan Pembelajaran. (2021). Presentasi Persiapan Asesmen Nasional Tahun 2021

Komentar