oleh

Tingkatkan Soft Skills Siswa dengan Pembelajaran Reflektif

 

Oleh:Nelson Sihaloho

Abstrak:

Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) merupakan salah satu bagian dari 10 prioritas dalam melaksanakan program making Indonesia 4.0. SDM adalah hal yang penting untuk mencapai kesuksesan pelaksanaan Making Indonesia 4.0. Indonesia berencana untuk merombak kurikulum pendidikan dengan lebih menekankan pada STEAM (Science, Technology, Engineering, the Arts, dan Mathematics) menyelaraskan kurikulum pendidikan nasional dengan kebutuhan industri di masa mendatang.

Hartanto, (2018) mengungkapkan bahwa Indonesia akan bekerja sama dengan pelaku industri dan pemerintah asing untuk meningkatkan kualitas sekolah kejuruan, sekaligus memperbaiki program mobilitas tenaga kerja global untuk memanfaatkan ketersediaan SDM dalam mempercepat transfer kemampuan. Fokus keahlian bidang pendidikan abad-21 saat ini meliputi creativity, critical thingking /problem solving, communication, collaboration/ team-working, leadership, digital literacy, emotional intelligence, entrepreneurship, dan global citizenship.

Menghadapi abad 21 yang identik dengan pola pembelajaran abad-21 kecakapan hidup atau soft skills sangat penting dimiliki oleh peserta didik. Kecakapan hidup (soft skills) dengan pembinaan kecerdasan interpersonal dan intrapersonal, dan berkomunikasi perlu dilakukan dengan berkelanjutan.

Sebagaimana diketahui bahwa dalam dunia kerja SDM yang unggul merupakan SDM yang tidak hanya memiliki kemampuan hard skill saja namun juga memiliki kemampuan dalam aspek soft skills-nya. Softskill merupakan kompetensi non akademik yang menjadi modal seseorang agar dapat mencapai kesuksesan dalam karier serta lebih berhasil dan berfungsi dalam kehidupannya. Pembelajaran reflektif diyakini menjadi satu solusi dalam meningkatkan soft skills peserta didik.

Kata kunci: soft skills, pembelajaran reflketif

Soft skills

Konsep abad 21, bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai peran penting dalam kemajuan bangsa. Kecakapan utama dalam kehidupan di abad 21 meliputi sikap dan ketrampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif.

Pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah harus melatih siswa siap menghadapi kehidupan di masa depan. Model pembelajaran abad 21 yang mengembangkan soft skills peserta didik yakni pembelajaran model STEAM (Sains, Technology, Engineering, Art and Mathematic). Dalam pembelajaran ini mengaitkan ilmu pengetahuan (sains), teknologi, teknik, seni, dan matematika, sehingga peserta didik dibekali dengan pemahaman menyeluruh tentang keterkaitan antar bidang ilmu dan pengetahuan melalui pengalaman pembelajaran keterampilan abad 21. Begitu juga dengan pembelajaran reflektif adalah melatih siswa berpikir aktif serta reflektif dan dilandasi dengan proses berpikir ke arah beberapa kesimpulan definitif.

Mengutip Stephen R. Covey dalam bukunya 7 Habbits of Highly Effective People memaparkan kepada pembacanya ada 7 kebiasaan manusia yang bisa dipraktekkan agar hidup bisa lebih produktif dan efektif, yang secara garis besar terbagi menjadi 3 golongan, yakni kebiasaan yang berhubungan dengan diri sendiri, kebiasaan yang berhubungan dengan orang lain, serta kebiasaan untuk mengembangkan keahlian diri. Karya inspiratif Stephen Covey, yaitu 7 Habits of Highly Effective People, dia menyarankan perlunya melakukan tujuh langkah pembiasaan (habit) untuk menjadi manusia unggul, yaitu proaktif, menentukan tujuan akhir, memulai dari yang utama, berpikir menang-menang, berusaha untuk memahami terlebih dahulu ketimbang minta dipahami, melakukan sinergi, dan mengasah diri secara terus menerus.

Covey menyebut empat hal yang perlu diasah secara terus-menerus, yaitu dimensi spiritual, mental, fisik, dan sosial/emosional.
Pengembangan soft skills kini telah menjadi kebutuhan mendesak mengingat dunia pendidikan saat ini betugas untuk menghasilkan SDM unggul baik dari aspek hard skill maupun soft skills-nya. Pemahaman dan penguasaan aspek soft skills dapat ditingkatkan melalui proses pembelajaran, baik dengan cara langsung maupun tak langsung terintegrasi dalam mata pelajaran yang terkait.

Mengintegrasikan muatan soft skills ke dalam proses pembelajaran bukan sesuatu hal yang mudah dan diperlukan adanya perubahan kurikulum pembelajaran. Pendidikan soft skills juga dapat dilakukan melalui kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler seperti kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dalam organisasi-organisasi kesiswaan. Dalam kegiatan kurikuler, pendidik seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan soft skills pada proses pembelajarannya.
Mengutip Patrick (2001) menyatakan soft skills didefinisikan sebagai kemampuan non teknis yang tidak terlihat wujudnya (intangible) tetapi sangat diperlukan.

Begitu banyaknya atribut soft skills yang dikenal di masyarakat kita, diantaranya adalah Winning Characteristic, yang terdiri dari communication skills, organizational skills, leadership, logic, effort, group skills dan ethics. Soft skills memang berasal dari istilah  dalam sosiologi tentang EQ (Emotional Intelligence Quotient) seseorang, yang dapat dikatagorikan menjadi kehidupan sosial, komunikasi, bertutur bahasa, kebiasan, keramahan, dan optimasi. Soft skills memang “berbeda” dengan hard skills yang menekankan pada IQ.

Artinya penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan ketrampilan teknis yang berhubungan dengan bidang ilmunya. Soft skills dapat dikategorikan menjadi 2 hal yaitu, intra personal skills, yaitu kemampuan seseorang dalam mengatur dirinya sendiri untuk pengembangan kerja secara optimal. Misalnya manajemen waktu, manajemen stress, dan berpikir kreatif. Sedangkan inter personal skills, yaitu ketrampilan seseorang dalam hubungan dengan orang lain untuk pengembangan kerja secara optimal, misalnya kemampuan memotivasi, kemampuan memimpin, dan kemampuan negoisasi. Illah Sailah (2006) menyatakan bahwa terdapat cukup banyak atribut soft skills dan dimiliki oleh setiap orang dengan kadar yang berbeda-beda, karena dipengaruhi oleh kebiasaan berpikir, berkata, bertindak dan bersikap. Namun, atribut ini dapat berkembang dengan cara membiasakan diri untuk menjalaninya, hingga akhirnya menjadi karakter seseorang. Menurut Center for enterpreneurship education and develompnet, Halifax, Nova Scotia  (dalam Illah Sailah, 2006) terdapat 23 atribut soft skills yang mendominasi lapangan kerja. Dengan mempunyai Soft skill membuat keberadaan seseorang akan semakin terasa di tengah masyarakat, keterampilan akan berkomunikasi, keterampilan emosional, keterampilan berbahasa, keterampilan berkelompok, memiliki etika dan moral, santun dan keterampilan spiritual (Elfindri 2010). Menurut Agus Wibowo dan Hamrin (2012) menjelaskan bahwa soft skill merupakan kemampuan di luar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan pada kemampuan intrapersonal dan interpersonal.

Konsep definisi tentang Soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional yang berkaitan dengan kurikulum karakter kepribadian, rahmat sosial, komunikasi, bahasa, kebiasaan pribadi, keramahan, dan optimism yang menjadi ciri hubungan dengan orang lain. Soft skill adalah suatu perkembangan dari EQ, dan berhubungan dengan kemampuan untuk bersosialisasi.

Kemampuan bersosialisasi atau berhubungan dengan orang lain ini dapat dikembangan agar lebih maksimal. Selain kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, soft skill juga berbicara tentang bagaimana berhubungan dengan dirinya sendiri.

Pembelajaran Reflektif

Banyak kalangan pakar dan para ahli memberikan defenisi serta hakikat dari pembelajaran reflektif. Prasetyo, Santosa, & Marjono, (2014:2), menyatakan bahwa model pembelajaran reflektif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk memaknai sendiri dari pengalaman yang dilakukan. Adapun Aprilia, (2016:28), mengungkapkan bahwa model pembelajaran reflektif memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan analisis atau pengalaman individual yang dialami dan memfasilitasi pembelajaran dari pengalaman tersebut dan pembelajaran ini juga mendorong peserta didik untuk berpikir kritis, mempertanyakan sikap dan mendorong kemandirian siswa. Pembelajaran reflektif terdiri dua kata yakni belajar dan reflektif. Belajar merupakan suatu proses berfikir dengan tujuan untuk mencapai berbagai macam kompetensi, keterampilan beserta sikap.

Proses berpikir ini dapat terjadi secara sengaja, yang hendaknya terjadi sampai tuntas. Reflektif atau refleksi merupakan suatu tanggapan kritis siswa terhadap apa yang diberikan atau apa yang dilaluinya dalam pembelajaran.

Peserta didik harus dilatih agar memiliki kemampuan berpikir (Sani, 2016: 63-64). Pembelajaran reflektif dapat diterapkan pada semua kurikulum sebagai suatu sikap, mentalitas, serta pendekatan konsisten yang mewarnai seluruh pembelajaran. Model pembelajaran reflektif juga dapat diterapkan tidak hanya pada beberapa disiplin akademis, akan tetapi juga pada ranah non akademis seperti kegiatan ekstrakulikuler, program pelayanan masyarakat, maupun olah raga. (J. Drost, 2001). Model pembelajaran reflektif merupakan pembelajaran dengan melibatkan kegiatan berpikir reflektif pada prosesnya.

Refleksi merupakan kegiatan intelektual dan afektif yang melibatkan siswa dalam upaya mengekplorasi pengalaman siswa untuk memperoleh pemahaman serta beberapa apresiasi baru. (Putra, 2016). Menurut Given (Dharma, 2007:301) menjelaskan sistem pembelajaran reflektif merupakan sistem paling canggih, meskipun sistem ini paling akhir berkembang.

Sistem ini merupakan yang terakhir berkembang sempurna dalam masa hidup seseorang. Pembelajaran reflektif berurusan dengan fungsi otak dan tubuh seperti pemikiran tingkat tinggi dan pemecahan masalah. Pada saat ini sistem reflektif secara mental menghidupkan kembali masa lalu sambil memikirkan masa depan. Perkins (Dharma, 2007:302) sistem reflektif memungkinkan kita menjadi apapun yang kita mampu jika kecerdasan reflektif dipupuk dan dikembangkan dengan serius. Sparrow, Tim and Jo Maddock dalam artikel nya reflective lerning menyatakan:  The practice of reflective learning is part of a continuous process of learning and developing: I become aware of my next experience, reflect upon it and evaluate it in relation to my other experiences and reinforce or revise my self knowledge. (Sparrow, Tim and Jo Maddock, 2006).

Makna yang terkandung pada i kalimat diatas adalah, Praktek pembelajaran reflektif adalah bagian dari proses pembelajaran dan perkembangan: Saya menjadi sadar dari pengalaman saya berikutnya, merefleksikan dan mengevaluasi ini dalam kaitannya dengan pengalaman saya yang lain dan memperkuat atau merevisi pengetahuan diri saya.

Dengan demikian dapat disimpilkan abhwa sistem pembelajaran reflektif (reflective learning) adalah sistem pembelajaran dimana guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan analisis atau pengalaman individual yang dialaminya dan memfasilitasi pembelajaran dari pengalaman tersebut.

Pembelajaran reflektif juga mendorong peserta didik untuk berpikir kreatif dan reflektif, mempertanyakan sikap dan mendorong kemandirian pembelajar. Pembelajaran reflektif melihat bahwa proses adalah produk dari berpikir dan berpikir adalah produk dari sebuah proses Given (Dharma, 2007:304) menyatakan bahwa ”sistem pembelajaran reflektif berfungsi terbaik ketika diajarkan strategi reflektif . Menurut Perkins (Dharma, 2007:304) menyatakan bahwa upaya meningkatkan pemikiran dan pembelajaran reflektif dengan menghindari lubang-lubang kognisi. Yakni
1). Luangkan waktu secukupnya untuk memecahkan masalah, kumpulkan bukti yang lengkap, hindari penilaian tergesa-gesa.
2). Kembangkan keterbukaan pikiran agar dapat melihat ke luar dari posisi keyakinan diri yang menumbuhkan egoisme.
3). Pertimbangkan setiap tujuan dan pandangan altrernatif secara obyektif. 4). Buat beberapa interpretasi dan sudut pandang sebelum mengambil keputusan.
5). Hentikan prilaku-prilaku otomatis dan pikirkan kembali tindakan yang sudah menjadi kebiasaan.
6). Ingat, setiap orang melihat hal yang sama melalui lensa pengalamannya sendiri.
7). Tarik kesimpulan dari bacaan.
8). Kembangkan argumen tertulis yang meyakinkan dan tersusun dengan baik.
9).Cobalah membuat parafrase dari berbagai konsep kunci sains dan matematika.
10).Carilah dan berpikirlah dalam bentuk pola.
11). Kenali upaya untuk merasionalkan pikiran dan perilaku.
12). Pertimbangkan pandangan alternatif dari pemikiran yang sempit.
13). Perjelas pemikiran yang ruwet, tidak tepat dan tidak jelas.
14). Kenali pemikiran yang bertele-tele dan tidak perlu.
15). Pertahankan sikap positif terhadaf pemikiran, pemantauan, dan pengelolaan diri, penggunaan strategi dalam pengambilan keputusan dan penjajakan berbagai kemungkinan. Menurut Tebo (2008) ada enam langkah proses pembelajaran reflektif. Langkah
1: Sebuah rasa ketidaknyamanan batin. Langkah
2: Identifikas dan klarifikasi dari perhatian. Langkah
3: Keterbukaan terhadap informasi baru. Langkah
4: Resolusi, Langkah 5: Menetapkan kesinambungan diri dengan masa sekarang, dan masa depan.
Langkah 6: pengambilan keputusan.
Memutuskan apakah akan bertindak berdasarkan hasil dari proses reflektif. Ini adalah langkah pengambilan keputusan dari proses pembelajaran reflektif.

Implementasi Pembelajaran Reflektif
Proses penggunaan sistem pembelajaran reflektif dalam sebuah kelas dapat dilakukan serta diimplementasikan dilapangan dengan berbagai cara. Diantaranya belajar Jurnal, belajar mitra (kelompok atau kerjasama), dan belajar kontrak. Dalam belajar jurnal, para peserta didik diminta untuk membuat jurnal mingguan di mana mereka merekam dan berkomentar tentang pengalaman mereka sebagai pelajar dalam kelas tersebut.

Minimal dibutuhkan waktu lima menit untuk siswa menulis jurnal tersebut. Pada akhir  pelajaran jurnal tersebut di kumpulkan kepada guru untuk diberi komentar. Belajar Mitra (kelompok atau kerjasama) berguna untuk mendiskusikan ide-ide yang dibangkitkan, mengeksplorasi kepentingan mereka sendiri, bertukar pikiran untuk memberikan komentar satu sama lainnya. Sedangkan penggunaan belajar kontrak pada pembelajaran reflektif ada tiga tahap yang harus dipahami. Sebelum penyusunan sebuah draft awal untuk disampaikan kepada  siswa harus fokus pada pengalaman mereka, kebutuhan mereka belajar dan bagaimana mereka bisa belajar dengan baik.
Dalam dialog dengan siswa, konsepsi pembelajaran ini didiskusikan dan kontrak yang direvisi dihasilkan.  Sebelum penyerahan hasil ahir belajar mereka, siswa diminta dalam kontrak untuk meninjau pembelajaran mereka dan bagaimana mereka dapat menyampaikannya kepada orang lain. Tebow, (2008) juga menegaskan bahwa jadwal penilaian diri digunakan sebagai sarana memungkinkan siswa untuk menyatukan berbagai pembelajaran mereka dalam suatu kelas, untuk merefleksikan prestasi mereka dan mengkaji implikasinya untuk pembelajaran lebih lanjut. Model pembelajaran reflektif merupakan pembelajaran yang berlandaskan pada pengalaman peserta didik untuk membentuk pemahaman yang baru. Reflektif dalam pembelajaran menerangkan cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Reflektif merupakan respon terhadap kejadian, aktifitas atau pengalaman yang baru diterima.

Pengetahuan diperoleh melalui proses dan pengetahuan dimiliki peserta didik diperluas melalui konteks pembelajaran yang kemudian diperluas sedikit demi sedikit. Guru membantu peserta didik membuat hubungan-hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. Dengan begitu peserta didik merasa memperoleh sesuatu yang berguna untuk dirinya tentang apa yang baru dipelajarinya.

Melalui proses reflektif, pengalaman belajar akan dimasukkan dalam struktur kognitif peserta didik serta akan menjadi bagian dari pengembangan pengetahuan soft skills yang dimilikinya. Semoga bermanfaat. (*****).

Rujukan:
Dharma, Lala Herawati. 2007. Brain Based Teaching: Merancang Kegiatan Belajar Mengajar Yang Melibatkan Otak, Emosional, Sosial, Kognitif, Kinestetik dan Reflektif.  Bandung: Kaifa.
Harsanto, Radno. 2005. Melatih Anak Berpikir Analitis Kritis dan Kreatif. Jakarta: Grasindo.
Patrick S. O’Brien, 2001, Making College Count: a Real Wolrd Look at How to Succeed in and After College, Monster.Com, USA.
Tebow, Fall Melinda. 2008. “Reflective Learning in Adult Education”. Dalam  Artikel [online].Tersedia: http://adulteducation.wikibook.us/index.php? Title = Reflective LearninginAdult_Education. [26 Desember 2010].

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed