Meminimalisir Kecemasan Psikologis Dalam PTM Dengan  Adaptasi Terkontrol

Oleh: Nelson Sihaloho

Abstrak:

Selama masa Pandemi Covid -19 pada akhirnya  banyak memberikan hikmah dan pembelajaran terhadap kita semua. Pandemi menyebabkan sistem pendidikan beralih menggunakan metode daring.

Guna menekan penyebaran virus, kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ)  diberlakukan diseluruh tingkatan mulai dari sekolah dasar  hingga perguruan tinggi. Pola pembelajaran dengan pendampingan penuh semestinya menjadi suatu hal yang wajib dilakukan. Selama pelaksanaan pembelajaran daring banyak muncul permasalahan, diantaranya anak menjadi malas mengikuti pembelajaran yang sudah terjadwal, kesulitan memahami pelajaran, mengeluh dengan tugas pembelajaran yang terlalu banyak, sehingga anak menjadi terbebani, cenderung menunda mengerjakan tugas (prokastinasti) dan mengarah kepada stres akademik. Berpijak pada kondisi tersebut orang tua harus mengondisikan lingkungan sosial anak serta memberikan dukungan, meminimalisir tekanan dalam proses pendampingan pembelajaran tatap muka (PTM) yang kini sedang mulai diterapkan.

Mempersiapkan anak menghadapi PTM, orang tua perlu menyiapkan mental anak, terkait edukasi kesehatanmenjaga jarak sosial selama kegiatan belajar, apa yang boleh dan tidak diizinkan dan dilakukan selama PTM. Orang tua juga perlu menyiapkan diri agar tidak cemas dan tetap tenang melepaskan anak kembali ke sekolah serta membangun komunikasi dengan pihak sekolah.

Sekolah juga dituntut  untuk dapat memberikan sesi-sesi dukungan psikologis pada anak dan meningkatkan kegiatan layanan bimbingan konseling melalui peningkatan fungsi guru BK.  Pengurangan beban belajar anak dan perubahan model belajar juga perlu dipertimbangkan dengan mengedepankan model pembelajaran yang lebih interaktif.

Diantaranya adalah dengan adaptasi terkontrol. Model adaptasi tersebut diharapkan mampu meminimalisir kecemasan psikologis peserta didik dalam PTM.

Kata kunci: kecemasan psikologis, PTM, adaptasi terkontrol

Kecemasan psikologis

Banyak perubahan yang dilakukan oleh warga sekolah mulai dari guru, siswa hingga wali murid harus beradaptasi pada kebiasaan baru. Banyak siswa saat akan ke sekolah tidak luput dari kecemasan menghadapi kegiatan belajar mengajar dengan sistem baru, semua masih dalam tahap pembiasaan dan adaptasi.

Kondisi normal cenderung membuat ketenangan terhadap siapapun. Sangat berbeda dengan kondisi tidak pasti akan menyebabkan ketidakpastian bahkan bisa membuat orang cemas. Kecemasan merupakan suatu respon individu terhadap ancaman yang akan datang baik dari dalam individu maupun lingkungannya.

Respon emosional muncul dari penyebab yang tidak spesifik sehingga individu merasa tidak nyaman dan terancam. Kecemasan merupakan suatu respon normal atau patologis, dan tergantung pada intensitas dari durasi kecemasan serta kemampuan koping individu.

Kecemasan yang normal diperlukan untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan tertentu dalam pekerjaan (perfromace). Namun kecemasan berlebihan akan mengganggu performance dan perlu ditangani. Kecemasan berlebihan dapat berupa kecemasan yang tidak terikat pada bentuk ide, maupun keadaan tertentu. Cemas adalah sebuah emosi dan pengalaman subjektif dari seseorang. Cemas diartikan suatu keadaan yang membuat seseorang tidak nyaman dan terbagi dalam beberapa tingkatan. Cemas berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Kaplan dan Saddock (2010) menyatakan bahwa kecemasan adalah suatu keadaan patologis ditandai oleh perasaan ketakutan disertai tanda somatic pertanda sistem saraf otonom yang hiperaktif.

Kecemasan (anxiety) adalah suatu keadaan khawatir mengeluhkan bahwa suatu yang buruk akan segera terjadi. Kecemasan dapat menjadi reaksi emosional yang normal di beberapa situasi, tetapi tidak di situasi lainnya. Kecemasan adalah keadaan sesorang merasa bahaya ditandai dengan jantung berdetak kencang, tidak nyaman bahkan hingga tidak fokus. Survey Centers for Disease Control and Prevention (2020) dan beberapa penelitian melaporkan selama pembelajaran jarak jauh akibat pandemi anak-anak sangat berisiko mengalami gejala cemas, mudah marah, malas, bosan, gangguan pada emosi dan perilaku, stres akademik. Faktor pemicu lainya banyak dikalangan orang tua selama pandemi menjadi over protectif terhadap anak, sehingga banyak anak menjadi terisolasi secara sosial, (Brooks, 2020)

Hal itu semakin menambah deretan efek psikologis negatif pada anak usia sekolah akibat pandemi. Hasil riset beberapa Negara dunia dan di Indonesia dalam kurun waktu selama pandemi menunjukan, dampak psikologis berupa kecemasan, frustasi sampai depresi akibat pandemi dirasakan pula pada orang tua dengan pendapatan ekonomi rendah, dan memiliki anak di usia sekolah (Bao, 2020; Dong, 2020).

Selama pandemi gejala yang sama terjadi tren peningkatan di ikuti dengan gangguan emosi dan perilaku (conduct disorder) yang ditandai seperti mudah mengeluh, menangis, memberontak, tidak mau mengikuti kelas online, menunda dan tidak menyelesaikan tugas sekolahnya..

Adapun pengaruh langsung dampak penyerta lainya dari pembelajaran jarak jauh diantaranya pada perkembangan psikososial anak yang terhambat (Cook, 2009; Chaturvedi, 2021). Selama PJJ anak cenderung tidak dapat berinteraksi secara langsung dengan teman sebaya, guru serta dengan orang lain pada umumnya. Hasil studi Chathuverdi, (2020) menunjukan 51% pemberlakuan pembatasan kegiatan aktivitas diluar rumah dirasa kurang memberikan perubahan yang signifikan.

Waktu yang luang cenderung tidak dimanfaatkan dengan produktif. Selain itu, rutinitas sehari-hari dan interaksi sosial yang tidak terpenuhi dengan optimal mempengaruhi kondisi kesehatan psikologis pada anak. Afiliasi dengan platform digital cenderung tidak digunakan secara tepat, sehingga anak lebih memilih aplikasi dengan konten permainan seperti game online, hiburan, dan hal lainya yang tidak berhubungan dengan konteks pembelajaran sekolah (Aji, 2020; Prima, 2021).

Fenomena ini semakin membentuk anak menjadi individualis, egois, hanya sibuk dengan gawai mereka dan tidak tertarik untuk melakukan interaksi sosial. Hal lainya, kebutuhan akan interaksi sosial yang tidak maksimal selama pandemi menjadi masalah adaptasi psikososial yang perlu dicari alternatif penyelesaianya. Seiring mulai banyaknya desakan dari masyarakat untuk membuka sekolah untuk memulai kembali PTM, pemerintah melalui kementrian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi bersama kementrian dalam negeri mengeluarkan kebijakan izin pembelajaran tatap muka meskipun dengan berbagai syarat yang harus dipatuhi dari satgas covid masing – masing daerah.

Kebijakan ini tidak mudah diterapkan pada anak – anak yang sudah selama hampir satu tahun diliburkan dengan memulai aktivitas kembali. Diperlukan kesiapan mental emosional pada diri anak ketika kembali beraktifitas disekolahnya. Suasana yang berbeda dengan segala konsekuensi yang wajib mereka patuhi seperti penerapan protokol kesehatan, pembatasan jarak dengan orang disekitarnya selama di lingkungan sekolah akan dirasa sangat memberatkan bagi anak.

Aspek Pendukung

Menurut Rahmawati, (2018), Rusmayadi & Herman, (2019) menyatakan bahwa memperhatikan kesiapan emosional anak menjadi bagian pada proses transisi dan adaptasi anak disekolah. Aspek penunjang kesiapan mental emosional pada anak menurut Kirmizi (2015) diantaranya;

1). Kemamuan (willingness), bersedia mengerjakan tugas atau pelajaran sekolah, kesediaan meluangkan waktu untuk belajar, harapan memperoleh nilai baik dan kesadaran secara afektif bahwa belajar adalah tugas yang harus dilakukan

2). Kepercayaan diri (confidence), optimis, mandiri dalam mengerjakan setiap tugas dan tes serta memiliki inisiatif dalam setiap kegiatan belajar.

3). Kemampuan (ability), mempunyai kemampuan pra syarat sebagai dasar untuk mencapai pengetahuan yang lebih tinggi, dan mengingat kembali materi pelajaran yang telah diterangkan.

Hal lainya, mengukur kesiapan mental emosional anak ketika akan kembali bersekolah setelah masa belajar dari rumah perlu dilakukan, mengingat kesiapan mental emosional merupakan faktor utama anak memiliki semangat untuk menghadapi serangkaian tugas yang akan mereka temui disekolah (Veresova, 2013;Karatas,2015; Rizkiah,2020).

Kesiapan mental emosional dan kemampuan adaptasi yang berbeda–beda pada diri anak cenderung akan menimbulkan reaksi berbeda pula, kedua hal tersebut menunjukan respon yang bersifat subjektif. Ciri anak dengan kesiapan secara emosional disertai kemampuan adaptasi psikososial yang berbeda–beda. Kesiapan sekolah disertai pengembangan kemampuan adaptasi psikososial memberikan dampak terhadap penurunan stress akademik.

Kemunculan stress akademik akan cenderung dialami oleh mereka dengan pola adaptasi psikososial yang rendah. Penelitian Leung, Yeung & Wongm (2010) menyebutkan anak dengan pola interaksi sosial yang rendah, seperti dengan orang tua, guru, teman sebaya dan lingkungan mereka tinggal akan cenderung memiliki kecemasan dan berdampak pada kesehatan mental terlebih pada masa usia SD.

Beberapa keterampilan atau kompetensi yang dapat menunjang serta mengoptimalkan perkembangan psikososialnya yakni keterampilan memecahkan masalah dan keberhasilan menyelesaikan tugas–tugas akademik, jika hal tersebut tidak terpenuhi maka kecenderungan anak menjadi rendah diri (inferior).

Tidak kalah penting adalah mempersiapkan mental emosional sekolah anak dalam menghadapi masa kenormalan baru diantaranya; senantiasa mengingatkan anak untuk selalu patuh melaksanakan protokol kesehatan, menerima perubahan dengan cara bersinergi dengan pemanfaatan teknologi didalam menjalankan aktifitas keseharian sehingga lebih mudah dalam adaptasi secara psikososial dan kecenderungan stress akademik akibat tuntutan tugas dapat diminimalisir.  Menurut Gerald (2007:28) di sekolah, banyak faktor-faktor pemicu timbulnya kecemasan pada diri siswa.

Target kurikulum yang terlalu tinggi, iklim pembelajaran yang tidak kondusif, pemberian tugas yang sangat padat, serta sistem penilaian ketat dan kurang adil dapat menjadi faktor penyebab timbulnya kecemasan yang bersumber dari faktor kurikulum. Begitu juga dengan  sikap dan perlakuan guru yang kurang bersahabat, galak, judes dan kurang kompeten merupakan sumber penyebab timbulnya kecemasan pada diri siswa yang bersumber dari faktor guru.

Kecemasan dianggap sebagai salah satu faktor penghambat dalam belajar yang dapat mengganggu kinerja fungsi-fungsi kognitif seseorang, seperti dalam berkonsentrasi, mengingat, pembentukan konsep dan pemecahan masalah.

Adaptasi Diri dan Terkontrol

 

Penyesuaian diri dikenal dengan adjustment atau personal adjustment. Mengutip Schneiders, (2015:173-174) adaptasi (penyesuaian diri) dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yakni;

a). Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation). Pada mulanya penyesuaian diri diartikan sama dengan adaptasi (adaptaion).
Padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Penyesuaian diri cenderung diartikan sebagai usaha mempertahankan diri secara fisik (selfmaintenance atau survival). Penyesuaian diri diri sesungguhnya tidak sekadar penyesuaian fisik, melainkan yang lebih kompleks dan lebih penting lagi adalah adanya keunikan dan keberadaan kepribadian individu dalam hubungannya dengan lingkungan.

b). Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity). Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa disana individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial, maupun emosional. Individu selalu diarahkan kepada tuntutan konformitas dan terancam akan tertolak dirinya manakala perilakunya tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku.

Konsep penyesuaian diri sesungguhnya bersifat dinamis dan tidak dapat disusun berdasarkan konformitas sosial.

c). Penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery). Sudut pandang berikutnya adalah bahwa penyesuaian diri dimaknai sebagai usaha penguasaan (mastery), yaitu kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasikan respon dalam cara-cara tertentu sehingga konflik-konflik, kesulitan, dan frustasi tidak terjadi.

Penyesuaian diri diartikan sebagai kemampuan penguasaan dalam mengembangkan diri sehingga dorongan, emosi, dan kebiasaan menjadi terkendali dan terarah. Pemaknaan penyesuaian diri sebagai penguasaan (mastery) mengandung kelemahan, yaitu menyamaratakan semua individu.

Prinsip-prinsip penting mengenai hakikat penyesuaian diri, yaitu sebagai berikut;

1). Setiap individu memiliki hakikat penyesuaian diri yang berbeda.

2). Penyesuaian diri sebagian besar ditentukan oleh kapasitas internal atau kecenderungan yang telah dicapainya.

3). Penyesuaian diri juga ditentukan oleh faktor internal dalam hubungannya dengan tuntutan lingkungan individu yang bersangkutan. Menurut Schneiders (Agustiani,2009:146) mengemukakan bahwa penyesuaian diri merupakan satu proses yang mencakup respon-respon mental dan tingkah laku, yang merupakan usaha individu agar berhasil mengatasi kebutuhan, ketegangan, konflik dan frustasi yang dialami di dalam dirinya. Penyesuaian diri bukan merupakan suatu yang bersifat absolut atau mutlak.

Tidak ada individu yang dapat melakukan penyesuaian diri dengan sempurna. Penyesuaian diri bersifat relatif, artinya harus dinilai dan dievaluasi sesuai dengan kapasitas individu untuk memenuhi tuntutan terhadap dirinya. Penyesuaian diri merupakan salah satu tugas perkembangan masa remaja yang tersulit (Hurlock,2016:257).

Mengacu pada seberapa jauhnya kepribadian sesorang individu berfungsi secara efisien dalam masyarakat. Tedapat pola perilaku tertentu yang secara karakteristik dikaitkan dengan anak yang berpenyesuaian yang baik dan pola yang dikaitkan dengan mereka yang berpenyesuaian buruk.

Penyesuaian diri yang baik memiliki semacam harmoni dalam, artinya mereka sewaktu-waktu ada kekecewaan dan kegagalan yang mereka berusaha terus untuk mencapai tujuan. Mereka menganggap tujuan  tersebut terlalu tinggi, mereka bersedia memodifikasi tujuan agar cocok dengan kemampuan mereka. Penyesuaian diri adalah suatu proses alamiah dan dinamis yang bertujuan mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungannya. (Fatimah,2008:198). Menurut Sobur (2016:449) penyesuaian diri merupakan faktor yang penting dalam kehidupan manusia. Kelainan-kelainan kepribadian tidak lain adalah kelainan-kelainan penyesuaian. Seseorang yang menunjukan kelainan-kelainan kepribadian sering dikemukakan maladjustment, yang artinya “tidak ada penyesuaian” atau “tidak memiliki kemampuan menyesuaikan diri”. Dalam kaitan ini siswa harus mampu melakukan penyesuaian diri terhadap sekolah (school adjustment).

Sekolah merupakan wadah untuk para peserta didik dalam mengembangkan potensinya, terutama perkembangan intelegensi maupun pribadinya. Sekolah harus menumbuhkan penyesuaian diri yang baik, bersifak konstruktif agar terwujud disiplin dalam sekolah termasuk pelaksanaan peraturan-peraturan yang ada. Pengakuan otoritas guru atau pendidik, Interes terhadap mata pelajaran di sekolah. Selanjutnya situasi dan fasilitas yang cukup, sehingga tujuan sekolah dapat tercapai.

Sedangkan faktor lingkungan sebagai variabel yang berpengaruh terhadap penyesuaian diri meliputi lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan masyarakat. Lingkungan keluarga, merupakan lingkungan utama yang sangat penting bahkan tidak ada yang lebih penting dalam kaitannya dengan penyesuaian diri individu. Unsur-unsur didalam keluarga, seperti konstelasi keluarga, interaksi orang tua dan anak, karakteristik keluarga, kekohesifan keluarga, dan gangguan dalam keluarga akan berpengaruh terhadap penyesuaian diri individu. Lingkungan sekolah, juga dapat menjadi kondisi yang memungkinkan berkembangnya atau terhambatnya proses perkembangan penyesuaian diri. Sekolah dipandang sebagai media yang sangat berguna untuk mempengaruhi kehidupan dan perkembangan intelektual, sosial, nilai-nilai, sikap, dan moral siswa. Lingkungan masyarakat, juga menjadi faktor yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan penyesuaian diri. Konsistensi nilai-nilai, sikap, aturan, norma, moral, dan perilaku masyarakat tersebut sehingga akan berpengaruh terhadap proses perkembangan penyesuaian dirinya.

 Penting dicermati bahwa PTM apalagi PTM terbatas masih membutuhkan proses adaptasi sebelum diberlakukan dengan PTM penuh.  Diantaranya dari adaptasi dengan waktu, program sekolah, protokol kesehatan, hingga kewajiban orangtua melakukan antar-jemput anak saat PTM.

Durasi waktu pelaksanaan PTM yang singkat menyebabkan benturan antara jadwal pekerjaan orangtua dengan sekolah anak. Durasi waktu PTM terbatas dan singkat memang kurang efektif. Untuk mengembalikan fokus belajar siswa dalam kondisi normal membutuhkan penyusunan ulang perencanaan pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran, penggunaan media pembelajaran, hingga pemilihan evaluasi pembelajaran mutlak harus dilakukan penyesuaian oleh sekolah dan guru. Adaptasi PTM juga harus terkontrol bagaimana membiasakan kembali anak bersekolah dalam kondisi normal seperti sediakala. Banyak kalangan menyatakan bahwa kegiatan PTM terbatas dikelas memang lebih baik dimanfaatkan untuk membangun chemistry antara guru dengan siswa dibandingkan dengan mengejar ketuntasan materi.

Apabila  chemistry sudah kembali terbentuk, maka fokus peserta didik dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di dalam kelas bisa berjalan dengan baik. Semoga bermanfaat. (I****)

Rujukan:

1.     Safaria, Triantoro & Nofrans Saputra. 2009. Manajemen Emosi: Sebuah Panduan Cerdas Bagaimana Mengelola Emosi Positif dalam Hidup Anda. Jakarta: Bumi Aksara.

2.     Alvarez, F., Argente, D., and Lippi, F. (2020). A simple planning problem for Covid-19 lockdown. Covid Econ, 14, 1–33.

3.     Bao, Y., Sun, Y., Meng, S., Shi, J., & Lu, L. (2020). 2019-nCoV epidemic: address mental health care to empower society. The Lancet, 395(10224), e37–e38

4.     Brooks, S., Webster, R. S., Woodland, L., Wessely, S., Greenberg, N., et al. (2020). The psychological impact of quarantine and how to reduce it: rapid review of the evidence. Lancet 395:10227.

5.     Mahmudah, S.R. (2020). Pengaruh Pembelajaran Daring terhadap Psikologis Siswa Terdampak Social Distancing Akibat Covid 19.

Komentar