oleh

Mengelola Keseimbangan Emosi Siswa Dalam Berinteraksi dengan Teman Sebaya

Oleh: Nelson Sihaloho

Guru SMP negeri 11 Kota Jambi

 

Abstrak:

Umumnya manusia memiliki beberapa kecerdasan dalam dirinya yakni kecerdasan intelektual atau IQ. Bahkan IQ selama ini sering dijadikan tolok ukur kesuksesan seseorang khususnya dalam karir. Kecerdasan lainnya adalah SQ atau kecerdasan spiritual juga memegang peranan penting. Selain kecerdasan tersebut masih ada hal penting lainnya yakni kecerdasan emosional atau EQ. Berbagai hasil penelitian membuktikan bahwa EQ memberikan kontribusi 2 kali lebih penting dalam mempengaruhi kesuksesan apabila dibandingkan dengan IQ. Dalam kehidupan sehari-hari siswa tidak bisa dilepaskan dari pergaulan atau interaksi dengan teman sebaya. Interkasi dengan teman sebaya hal-hal sepele sering menjadi pemicu munculnya masalah emosi dalam diri siswa. Keseimbangan emosi (stabil) sering diidentikkan emotional stabilty, karakteristik seseorang yang memiliki kontrol emosional yang baik. Bahkan sering diidentikkan dengan emotional maturity (kedewasaan emosional), yaitu satu keadaan mencapai tingkat kedewasaan dari perkembangan emosional. Karena itu siswa perlu didorong untuk meningkatkan keseimbangan emosi positif dalam berinteraksi dengan teman sebayanya baik di sekolah maupun  di luar sekolah.

Kata kunci: emosi, interkasi dan teman sebaya

Kecerdasan Emosionil dan Keseimbangan

Sebagaimana kita ketahui bahwa kecerdasan emosi (EQ)  memiliki peranan yang sangat penting. Sebab kecerdasan emosional yang tinggi dan membuat seseorang mampu menguasai 5 soft skill. Yang pertama adalah Self Awareness: Self awareness adalah  kemampuan mengenali emosi, kemampuan, kekuatan, kelemahan dan batasan diri. Seseorang yang memiliki kesadaran pada diri sendiri dapat mudah untuk mendengar, menerima, dan menjalankan kritik dari orang lain. Kemudian Self Regulation, adalah kemampuan mengontrol emosi dan tindakan dengan baik sehingga jauh dari tindakan impulsif yang merugikan. Seseorang dengan self regulation yang tinggi, akan tahu kapan harus mengeluarkan emosinya. Selanjutnya adalah Motivation: Seseorang yang cerdas secara emosional adalah orang yang dapat memotivasi dirinya sendiri. Motivasi dalam melakukan sesuatu akan datang pada sendirinya. Kemudian, Empathy, bahwa dengan empati membuat seseorang memahami dan menumbuhkan koneksi dengan orang lain secara emosional. Terakhir adalah Social Skill: Skill bernegosiasi sangat penting dalam dunia pekerjaan. Dengan memiliki social skill tinggi seseorang atau individu memiliki kemampuan berkomunikasi dan membangun relasi dengan baik.  Romlah, (2010) menyatakan bahwa eEmosi terdiri dari beberapa unsur, antara lain terkejut, khawatir, takut, marah, sedih, dan juga gembira atau bahagia.  Adapun Sobur, (2013), emosi yaitu suatu keadaan yang membuat diri bergejolak terhadap kondisi lingkungan yang dihadapi dan muncul dari dalam diri. Umumnya semua unsur emosi bisa dirasakan oleh manusia, namun ada yang bersifat positif dan bersifat negatif.  Menuurt Namuwali (2016), keseimbangan emosi yang dijaga dan diatur dengan baik akan menyebabkan emosi yang dimiliki seseorang menjadi tidak berlebihan dan tingkat intensitas pada emosi yang terjadi tidak tinggi. Emosi yang bisa dikendalikan atau diredam merupakan kontrol emosi. Dalam kondisi pendemic Covid-19 saat ini emosi anak didik bisa dipicu karena banyaknya beban psikologis. Diantaranya banyak tugas-tugas sekolah yang harus diselesaikan sehingga  menimbulkan penyakit psikologis, seperti stres. Emosi yang seimbang akan membuat diri peserta didik menjadi tenang dan pusat perhatiannya terhadap tugas dan tanggungjawabnya bisa lebih focus. Emosi yang bisa diluapkan dalam hal positif akan memberikan pengaruh berupa tindakan yang positif. Diantaranya kebiasaan siswa yang bisa bergerak dan ber olah raga disekolag dengan bebas bisa menjaga keseimbangan emosionilnya. Itulah sebabnya keseimbangan emosi dapat mempengaruhi mental atau jiwa menjadi lebih sehat sehingga memunculkan afirmasi positif serta bertindak positif kearah yang lebih baik.

 

Hakikat Interaksi Teman Sebaya

 

Menurut Chaplin (1995) mengatakan bahwa interaksi adalah satu pertalian sosial antar individu sehingga individu yang bersangkutan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Bonner (dalam Gerungan, 2003) mendefinisikan interaksi sosial sebagai suatu hubungan antara dua individu atau lebih, didalamnya perilaku individu yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki kelakuan individu yang lain atau sebaliknya. Adapun Soekanto (2003) menjelaskan bahwa interaksi merupakan aktivitas-aktivitas dalam suatu pergaulan, berisikan harapan-harapan individu tentang apa yang sepantasnya dilakukan dalam hubungan sosial. Interaksi akan menimbulkan situasi sosial dimana akan terdapat saling hubungan antara individu karena naluri untuk hidup bersama (greganousness), keinginan untuk menyesuaikan sosial dan menyesuaikan diri. |Menurut Thibaut dan Kelley (dalam Ali dan Asrori, 2004) mendefinisikan interaksi sebagai peristiwa saling mempengaruhi satu sama lain ketika dua orang atau lebih hadir bersama. Mereka menciptakan suatu hasil satu sama lain atau berkomunikasi satu sama lain. Jadi dalam kasus interaksi, tindakan setiap orang bertujuan untuk mempengaruhi individu lain. Shaw (dalam Ali dan Asrori, 2004) mendefinisikan bahwa interaksi adalah suatu pertukaran antar pribadi yang masing- masing orang menunjukkan perilakunya satu sama lain dalam kehadiran mereka, dan masing- masing perilaku mempengaruhi satu sama lain.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nteraksi adalah hubungan timbal balik anatara dua orang atau lebih, serta masing-masing orang yang terlibat di dalamnya memainkan peran secara aktif.

Menurut Mappiare (1982) menyatakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan keluarganya. Lingkungan teman sebaya merupakan suatu kelompok yang baru, nmempunyai ciri, norma dan kebiasaan yang jauh bebeda dengan apa yang ada di keluarganya. Remaja dituntut untuk dapat memliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dan dapat dijadikan sebagai tempat para remaja belajar bersosialisasi dengan orang lain dan belajar bertingkah laku sesuai dengan norma yang ada dalam kelompoknya. Menurut Horlock dan Benimoff (dalam Hurlock, 2002) kelompok teman sebaya merupakan dunia nyata kawula muda yang menyiapkan penggung dimana mereka dapat menguji, merumuskan dan memperbaiki konsep dirinya. Disinilah mereka dinilai oleh orang lain yang sejajar dengan dirinya dan tidak dapat memaksakkan dunia dewasa yang ingin dihindarinya. Kelompok teman sebaya memberikan tempat pada anak untuk melakkan sosialisasi dalam suasana dimana nilai-nilai yang berlaku bukan nilai orang-orang dewasa melainkan teman seusianya. Intinya dalam kelompok teman sebaya inilah anak mendapat dukungan untuk emansipasi dan dapat menemuan dunia yang memungkinkan mereka untuk bertindak sebagai pemimpin apabila ia melakukannnya. Adapun Santrock (2007) menjelaskan bahwa eman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Anak akan menerima umpan balik dari teman sebaya mengenai kemampuan-kemampuan merka. Mereka beljar tentang apakah yang mereka lakukan lebih baik, sama baiknya ata bahkan lebih buruk dari apa yang dilakukan anak atau remaja lain. Dari beberapa pengertian diatas maka dapat diuraikan bahwa teman sebaya merupakan kelompok persahabatan yang mempunyai nilai-nilai dalam suatu kontak sosial. Teman sebaya juga mempraktekkan berbagai prinip kerja sama, tanggungjawab bersama serta persaingan yang sehat. Interksi kelompok teman sebaya adalah kedekatan hubungan pergaulan kelompok teman sebaya serta hubungan antar individu maupun anggota kelompok yang mencakup keterbuaan, kerjasama, dan frekuensi hubungan. Charlesworth dan Hartup (dalam Dagun, 2002) menyatakan bahwa remaja dalam melakukan interaksi teman sebayanya akan mempunyai unsur positif yaitu saling memberikan perhatian dan saling mufakat membagi perasaan, saling menerima diri, dan saling memberikan sesuatu kepada orang lain. Adapun Pierre (2005) menjelaskan bahwa interaksi teman sebaya merupakan hubungan individu pada suatu kelompok kecil dengan rata-rata usia yang hampir sama/sepadan. Masing-masing individu mempunyai tingkatan kemampuan yang berbeda-beda. Mereka menggunakan beberapa cara berbeda untuk memahami satu sama lainnya dengan bertukar pendapat. David, Roger dan Spencet (dalam Pierre,2005) menyatakan bahwa interaksi teman sebaya sebagai suatu pengorganisasian individu pada klompok kecil yang mempunyai kemampuan berbeda-beda dimana individu tersebut mempunyai tujan yang sama.

Menurut Hurlock (2002) menjelakan bahwa dengan berlangsungnya masa remaja, terapat perubahan pada beberapa pengelompokan sosial. Pengelompokan sosial masa remaja antara lain, (a), teman dekat (chums), biasanya terdiri dari 2 atau 3 orang sesama jenis yang mempunyai kemampuan sama atau sering disebut dengan sahabat karib. (b) kelompok sahabat (cliques), biasanya terdiri dari kelompok teman-teman dekat yang meliputi kedua jenis kelamin. (c). Kelompok besar (crowds), kelompok ini terdiri dari beberapa kelompok kecil dan teman dekat. (d). Kelompok yang terorganisasi, kelompok yang dibina oleh orang dewasa, dibentuk oleh lingkungan sekolah, dan organisasi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sosial para remaja yang tidak mempunyai kelompok besar. (e). Kelompok geng, mempunyai anggota yang terdiri dari anak-anak yang sejenis, serta menaruh minat untuk menghadapi penolakan teman-teman melalui perilaku anti sosial. Adapun Santrock (2007) juga menjelaskan bahwa bentuk-bentuk hubungan teman sebaya adalah  (a). perubahan individual, perubahan individual ini mempunyai fungsi kebersamaan, dukungan fisik, dukungan ego, perbandingan sosial, keakraban dan perhatian. (b). Kerumunan (crowd), kerumunan merupakan bentuk interaksi teman sebaya yang terbesar, mereka bertemu karena memuat tujuan yang sama dalam suatu aktifitas. (c). Klik (cliques), jumlah yang lebih kecil, melibatkan keakraban yang lebih besar diantara anggota yang lebih kohesif dari pada kerumunan. Klik mempunyai ukuran yang lebih besar dan tingkat keakraban yang lebih rendah dari persahabatan.

 

Memupuk Kebiasaan Positif

 

Seseorang atau individu yang telah memahami tentang kebiasaan-kebiasaan sosial terutama dikalangan siswa memiliki  kecenderungan untuk memupuk kebiasaan postif dalam kehidupannya.  Pengalaman siswa dalam berinteraksi sosial dengan sesam siswa selain memfasilitasi keterampilan anak dalam berkomunikasi juga perilaku sosialnya. DSelain itu turut mengembangkan aspek-aspek perkembangan baikn perkembangan kognisi, emosi dan moralnya. Pergaulan sosial dalam interaksi sosial teman sebaya merupakan pengalaman hidup yang kaya dan alami terhadap anak anak sehingga dapat mendorong berbagai aspek perkembangan anak lebih terintegrasi dan menyeluruh. Dengan berbagai aktifitas interaksi sosial, anak dapat berlatih memupuk keseimbangan emosinya, mengekspresikan emosinya serta menguji perilaku-perilaku moralnya dengan tepat. Termasuk juga pengenalan siswa terhadap pola pikir orang lain yang akan memperkaya pengalaman kognisinya. Dalam berinteraksi dengan teman sebaya, anak akan memilih anak lain yang usianya hampir sama termasuk dalam berinteraksi dengan teman sebaya lainnya. Dalam penerimaan teman sebaya anak harus mampu menerima persamaan usia, menunjukan minat terhadap permainan, dapat menerima teman lain dari kelompok yang lain. Selain itu  dapat menerima jenis kelamin lain, menerima keadaan fisik anak yang lain. Juga  mampu mandiri atau dapat lepas dari orang tua atau orang dewasa lain serta dapat menerima kelas sosial yang berbeda. Perilaku merupakan respon dari stimulus, namun dalam diri individu itu ada kemampuan untuk menentukan perilaku yang dimanifestasikannya maupun diimplementasikan. Dengan demikian individu dalam keadaan aktif dalam menentukan perilaku yang akan dilakukannya. Perilaku muncul sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus dan organisme. Teman sebaya memiliki serta memberikan implikasi pengaruh yang kuat terhadap kelompok teman sebaya. Anak yang ingin diterima oleh teman-teman sebayanya harus menyesuaikan diri dalam kelompoknya. Dengan demikian  jelas bahwa interaksi antara teman sebaya memiliki kaitan yang kuat dengan perilaku asosial anak. Semakin kuat pengaruh dari interaksi teman sebaya terhadap anak maka semakin besar kemungkinan anak berperilaku asosial karena ingin diakui dalam kelompok sosialnya.  Dalam berinteraksi dengan teman sebaya anak harus dapat beradaptasi dan menyesuaikan diri serta mengontrol perilakunya sehingga perilaku asocial (negative)  tidak akan terjadi dalam kelompok sosial teman sebaya.

Karena itu pengalaman teman sebaya memilikii pengaruh yang sangat penting terhadap perkembangan anak. Hubungan teman sebaya yang baik sangat dibutuhkan dalam perkembangan sosial yang normal. Hubungan teman sebaya yang positif berhubungan dengan pandangan sosial yang positif. Hubungan teman sebaya yang harmonis pada saat remaja berhubungan signifikan dengan kesehatan mental yang positif. Umumnya anak di usia remaja memiliki motivasi yang tinggi untuk bersama dengan teman sebaya dalam meraih kesuksesan. Anak pada usia remaja yang mendapatkan kasih sayang dan rasa aman dari orang tua mereka juga memiliki signifikansi membangun hubungan dengan dasar kasih sayang dan rasa aman dengan teman sebaya mereka. Sebaliknua  remaja yang kurang mendapatkan kasih sayang dan rasa aman dari orang tua mereka cenderung akan membangun hubungan yang kurang didasari rasa aman dengan teman sebaya mereka. Karena itu keseimbangan emosinil dalam membina hubungan sosial terutama dalam berinteraksi dengan teman sebaya mereka perlu dibuina dan dipupuk dengan baik.  Keterampilan dalam kognisi sosial dan pengetahuan sosial merupakan aspek yang sangat penting agar hubungan dalam kelompok teman sebaya berhasil. Tatkala anak-anak memasuki masa remaja, mereka memperoleh pengetahuan social yang lebih dan terdapat variasi individu tentang bagaimana mereka berteman dan menjadikan dirinya seseorang yang disukai oleh teman-temanya.  Anak-anak pada masa ini akan  melewati beberapa tahap dalam proses informasi tentang dunia sosial mereka, memecahkan masalah isyarat sosial, mampu memberi keterangan, penyelidikan terhadap respon, memilih respon yang optimal dan memainkan peran. Tidak hanya kognisi yang memainkan peran penting dalam hubungan antar teman sebaya, termasuk keseimbangan emosi juga turut berperan. Kemampuan untuk meregulasi emosi terkait dengan kesuksesan individu dalam hubungan antar teman sebaya. Karena itu meneglola keseimbangan emosi siswa dalam lingkungan perlu terus dilakukan dengan berkelanjutan. Dalam hal berinterasi dengan teman sebaya interaksi sosial sangat dibutuhkan terutama strategi dalam meningatkan ketrampilan sosial. Ketrampilan sosial sangat dibutuhkan agar mereka mampu memiliki hubungan yang harmonis dalam kelompok teman sebaya merteka. Semoga bermanfaat. (****).

 

Rujukan:

1.      Alden, L. E., & Taylor, C. T. (2004). Interpersonal processes in social phobia. Clinical Psychology Review, 24, 857–882.

2.      Alfano, C. A., Beidel, D. C., dan Turner, S. M. (2006). Cognitive correlates of social phobia among children and adolescents. Journal of Abnormal Child Psychology, 34, 189–201.

3.      Durand, V Mark. 2006. Intisari Psikologi Abnormal. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

4.      Gerungan, 2004. Psikologi Sosial. Bandung: Refika Aditama

5.      Hurlock, E.B.1999. Psikologi perkembangan suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan. Erlangga. Jakarta.

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed