Pendidikan Dimasa Covid-19 Menyemai Harapan dengan Positif Thinking

111

Oleh:Nelson Sihaloho

*)Guru SMPN 11 Kota Jambi

email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

Rasional:

Salah satu poin dalam tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia yang berakhlak mulia. Dalam pendidikan karakter, pemerintah menekankan pentingnya menjadi pelajar Pancasila, yang memiliki karakteristik beriman, bertakwa kepada Tuhan YME dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, kebinekaan global, gotong-royong, dan kreatif. Sebagaimana kita ketahui Bersama bahwa kompleksitas masalah dalam dunia Pendidikan kita membutuhkan kerja ekstra keras. Termasuk itu pemikiran-pemikiran, tenaga maupun sumberdaya  strategis lainnya. Dimasa pandemic Covid-19 saat ini yang belum menujukkan kapan akan berakhir seiring dengandilaksanakannya kegiatan Vaksinasi massal. Kita berharap dari kegiatan Vaksinasi yang dilakukan oleh pemerintah setidaknya bisa menyemai harapan dengan positif thinking. Sebuah harapan agar generasi epnerus bangsa kembalin mampu menyemai nilai-nilai harmoni Pendidikan karakter yang telah lama tidak terdengar kirahnya. Pendidikan harmoni adalah konsep Pendidikan yang dibangun dengan menggali warisan budaya dan kearifan local yang menjadi contoh kehidupan yang rukun dan damai.

Kata kunci: pendidikan, Covid-19, harapan dan positif thinking

 

Corona Implikasi Terhadap Pendidikan

 

Pandemi corona memberikan implikasi yang sangat luar biasa  terhadap polaperubahan hubungan manusia dengan alam, negara dengan rakyat maupun terhadap sains serta agama. Konsekuensinya masyarakat dituntut untuk kembali pada jati dirinya agar kehidupan bisa berjalan sebagaimana mestinya. Masa pandemic Covid-19 yang telah berjalan lebih dari satu tahun itu akan menjadi catatan sejarah bukan hanya Indonesia tetapi seluruh negara-negara di dunia juga akan mencatatnya.

Pendidikan misalnya masa pandemic Covid-19 akan mencatat rekor paling lama dilaksanakannya sistim Work From Home (WFH) atau belajar dari rumah (BDR) dengan sistem daring. Kesempatan belajar (learning loss) terhadap para peserta didik merupakan sebuah kenyataan yang trealitanya harus kita hadapi bersama. Peristiwa-peristiwa banyaknya angka kematian akibat Virus Corona mengingatkan kita bahwa kualitas sumberdaya manusia (SDM) adalah kunci utama untuk mengakhiri wabah Covid-19 tersebut. SDM bermutu dan berkualitas hanya bisa diperoleh dengan mengimplementasikan sistem Pendidikan bermutu. Pendidikan,  kesehatan, SDM, Lingkungan,  ekonomi maupun bidang-bidang lainnya harus direposisi Kembali agar dimasa depan bangs ini mampu tampil sebagai bangsa yang Tangguh. Ketangguhan suatu bangsa dapat diukur dari kemampuannya dalam memecahkan setiap masalah yang muncul termasuk wabah.  Bangs aini harus sadar  bahwa letak geografis negara kita “Cincin Api” yang rentan dengan berbagai bencana alam. Seperti gunung meletus, tsunami, gempa bumi, banjir serta bentuk becana lainnya. Pandemi Covid-19 menyadarkan kita tentang adanya krisis diluar prediksi.

Merujuk laporan UNESCO (2020), sebagai akibat dari wabah covid-19, sebanyak 1.543.446.152 siswa atau 89% dari total siswa di 188 negara, termasuk Indonesia, terpaksa belajar dari rumah. Di masa Pandemi Covid-19 ini juga kita harus sadar bahwa apabila pendidikan terlalu fokus menyiapkan peserta didik untuk menguasai keterampilan tertentu, maka kecepatan dan kedatangan teknologi baru akan segera mengkedaluwarsakan keterampilan yang diberikan. Daya sintas dunia pendidikan tidak bisa mengandalkan pendekatan berbasis tantangan dan ancaman (threat based), tetapi harus dikembangkan berbasis penguatan kapabilitas (capability based). Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah sebelum pandemi, orangtua cenderung menyerahkan begitu saja pendidikan anak-anak mereka ke sekolah. Era sekarang ini hampir semua pihak memiliki peran penting untuk mencapai keberhasilan pendidikan peserta didik. Komunikasi yang intens dan terbuka, antara orangtua dan guru menjadi sangat penting dilakukan untuk membantu anak-anaknya menyiapkan sarapan bersama, menyiapkan pembelajaran daring, memulai video conference, presensi mengunakan share location, mengikuti pelajaran guru melalui daring. Kegiatan ini menjadi salah satu disiplin dan daya kreatif dikembangkan saat BDR. Dalam menumbuhkan manusia peserta didik yang kreatif, tugas dunia pendidikan adalah menumbuhkan mental kreatif (creative mind). Mengutip Peter H Diamandis, MD (2018), menyatakan setidaknya ada lima karakteristik mentalitas yang perlu dibudayakan peserta didik. Jiwa sungguh mencintai (passion) terhadap apa yang dirasa sebagai bakat, minat, pilihan, dan impian seseorang. Rasa ingin tahu (curiosity) dengan memfasilitasi proses eksperimentasi dan penemuan. Pikiran kritis (critical thinking) sebagai pelita hidup. Untuk bisa mengarungi kehidupan era baru, dengan beragam ide yang saling bertentangan, berebut klaim, misinformasi, berita negatif dan bohong, belajar terampil berfikir kritis dapat membantu mengurangi kesesatan, kegaduhan, dan pembodohan. Keteguhan hati (persistence) untuk mengarungi percobaan dan tantangan, bahwa segala percobaan dan impian itu memerlukan keuletan perjuangan jangka panjang. Pendidikan karakter diperlukan untuk menempa siswa menjadi pribadi baik (karakter pribadi) sekaligus warga negara baik (karakter kolektif).

 

Covid-19 dan Pendidikan Harmoni

 

Di masa pandemic Covid-19, banyak harmoni-harmoni kehidupan yang hilang. Ibarat seni musik antara harmoni kehidupan dan nada-nada music instrumental seakan tidak bisa lagi berkolaborasi. Kenyataan dan realita kehidupan menuntut guru untuk mampu menemukan tema-tema pembelajaran kontekstual dalam menjalankan aktifitas kegiatan pembelajaran agar harmoni pendidikan bisa berjalan dengan baik.  Agar harmoni Pendidikan dapat berjalan di masa pandemic Covid 19 memerlukan suatu komunikasi  yang baik antara apa yang sedang dilakukan pihak sekolah dengan apa yang harus dipraktikan siswa selama belajar dirumah. Hal ini sejalan dengan prinsi konsistensi dan keberlanjutan pengembangan karakter di rumah dan di sekolah serta mendrong siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab menurut banyak kalangan bahwa dalam konteks pendidikan harmoni, suasana harmoni hanya dapat dibangun apabila semua anggota kelompok sadar, mau terlibat dan bekerjasama. Karena itu guru harus mengembangkan  pola berpikir positif (positive thinking) saat BDR. Nilai-nilai yang dikembangkan pada pembelajaran pendidikan harmoni adalah cinta terhadap diri, sesama umat manusia dan lingkungan; membangun kesadaran akan pentingnya hidup dalam harmoni diri, harmoni sesama, dan harmoni dengan alam. Kearifan budaya lokal dan kesadaran terhadap kondisi alam setempat sebagai modal sosial (social capital) dan bahan yang dapat dipilih menjadi tema pembelajarannya. Kearifan lokal merupakan asset dan modal bangsa untuk memperteguh ikatan sosial diantara anak bangsa, warga masyarakat dan warga negara.

Dalam pembangunan nilai dan jati diri bangsa memerlukan adanya reformulasi nilai sejalan dengan berkembanganya teknologi, reformulasi nilai toleransi kehidupan bermasyarakat bercermin dari nilai global yang dianut di muka bumi, reformulasi nilai toleransi kehidupan beragama, penguatan budaya dan kearifan lokal dan penguatan peraturan perundangan mengarahkan setiap umat manusia saling menghormati, menghargai perbedaan. Pembentukan mindset siswa misalnya sangat penting dilakukan ketika siswa langsung berhadapan pada permasalahan di lingkungan sehingga siswa dapat langsung menyerap informasi yang berbentuk sebab akibat dan dapat membentuk karakter peduli dan menghargai lingkungan.

Mengutip Gollwitzer (2008) yang menyatakan bahwa jika individu dibimbing untuk menerapkan penilaian dengan pembentukan pola pikir (mindset) secara spontan maka mereka akan mengalami peningkatan yang kuat pada sikap. Penghargaan terhadap nilai cinta kepada alam, hal itu terlihat dari proses belajar langsung dengan alam merupakan bukti bahwa mereka mempunyai nilai penghargaan terhadap alam.  Jonathan Haidt (2012), menyatakan ada 6 nilai inti moral publik sebagai basis karakter kolektif kewargaan: peduli terhadap bahaya yang mengancam keselamatan bersama (care), rasa keadilan dan kepantasan (fairness), kebebasan dengan menjunjung tinggi hak-hak dasar manusia (liberty). Lalu, kesetiaan pada institusi, tradisi dan konsensus bersama (loyalty), respek terhadap otoritas yang disepakati bersama (authority), serta menghormati nilai-nilai yang dipandang paling ‘mulia’ (santinctity). Selama masa pandemic banyak terjadi pergeseran dalam kegiatan pembelajaran termasuk pendekatn dan metodenya. Semua pergeseran dalam pendekatan dan metodologi pendidikan seiring dengan transformasi pendidikan karakter. Pendidikan merupakan benih harapan dan wajib memprioritaskan pengembangkan manusia kearah yang kreatif dan berkarakter. Termasuk harus mampu mengembangkan kreatifitas berbasis keragaman kecerdasan insani dengan panduan maupun petunjuk nilai yang dapat menjaga keselarasannya harmoni dunia dengan tertib.

Menyemai Harapan dengan Positif Thinking

 

Dimasa pandemic Covid-19 semua kegiatan selain dibatasi untuk meredam lajunya wabah menuntut kita untuk berpikir positif (positif thinking).

Berpikir positif merupaka suatu cara berpikir dengan memikirkan yang baik-baik. Berpikir positif juga sering diartikan sebagai proses memilih emosi positif dari rangsangan di lingkungan dan menerapkannya terhadap persepsi maupun keyakinan. Tujuannya adalah untuk menciptakan sebuah pandangan yang lebih baik untuk kehidupan yang lebih baik. Berpikir positif akan membuat hidup menjadi terasa lebih mudah. Orang yang berpikir positif tidak takut akan kegagalan. Berani mengambil resiko untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik dan menjadikan kegagalan sebagai sebuah pelajaran hidup. Berpikir positif dapat mempengaruhi tubuh termasuk imun tubuh menjadi semakin kuat. Berpikir positif juga bisa membebaskan diri kiita dari depresi, stres, maupun pikiran negatif lainnya.

Mengutip Elfiky, (2008: 269), menyatakan bahwa berpikir positif dapat dideskripsikan sebagai suatu cara berpikir yang lebih menekankan pada sudut pandang dan emosi yang positif, baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun situasi yang di hadapi.  Berpikir positif merupakan suatu kesatuan yang terdiri dari tiga komponen, yaitu muatan pikiran, penggunaan pikiran, dan pengawasan pikiran. Begitu juga dengan harapan bisa menumbuhkan kearah yang lebih baik. Suatu harapan mampu mendorong kita untuk mewujudkan cita-cita kearah yang lebih baik. Begitu juga dengan perkembangan teknologi dalam Pendidikan semakin banyak aplikasi-aplikasi yang dikembangkan oleh para pakar teknologi Pendidikan. Harus diakui bahwa reformasi dalam teknologi pendidikan saat ini semakin cepat dan dinamis Kemajuan teknologi dan perubahan yang terjadi menyadarkan kita bahwasanya kita tengah di dunia terbuka. Sebagaimana kita ketahui bahwa teknologi pendidikan berpegangan pada enam pendekatan dalam menjalankan fungsinya. Yakni pendekatan isomeristik berupa penggabungan berbagai kajian/bidang keilmuan (teori sistem, psikologi, komunikasi, informatika, ekonomi, manajemen, rekayasa teknik dsb.) ke dalam suatu kebulatan tersendiri. Pendekatan bersistem dan mensistem, dengan memandang sesuatu secara menyeluruh serta berurutan dan terarah dalam usaha memecahkan persoalan. Pendekatan sinergistik yang menjamin adanya nilai tambah dari keseluruhan kegiatan dibandingkan dengan bila kegiatan itu dijalankan sendiri-sendiri. Pendekatan efektivitas dan efisiensi dengan jalan mendayagunakan sumber yang sengaja dikembangkan dan sumber yang tersedia. Pendekatan produktivitas dengan memberikan masukan tambahan atau masukan baru menggantikan yang lama dengan hasil yang meningkat. Pendekatan inovatif dengan mengkaji permasalahan secara holistik dan kemudian mencari jawaban baru yang belum ada sebelumnya.

Karena itu sekolah maupun lembaga pendidikan sebagai suatu sistem terbuka, tidak bisa menutup diri dari perubahan. Sekolah harus adaptif terhadap perubahan, mengelola perubahan, dan memberdayakan potensi internal untuk terus meningkatkan kapasitas dirinya sehingga keunggulan sekolah atau lembaga sebagai cita-cita bersama dapat terwujud. Mengutip Salisbury (1996) menyatakan ada enam strategi atau pendekatan yang disebutnya sebagai Five Technologies untuk perubahan pendidikan. Teknologi ini sudah banyak diterapkan dalam dunia bisnis dan menjadikan kegiatan bisnis menjadi lebih kompetitif dan siap terhadap perubahan. Teknologi tersebut adalah; system thinking (berpikir serba sistem); system design (perancangan sistem); quality science (ilmu kualitas); change management (manajemen perubahan) serta instructional technology (teknologi pembelajaran)

Efek demand positif terhadap sistem pendidikan kita dengan kemajuan perkembangan teknologi Pendidikan dianrtarnya informasi yang dibutuhkan akan semakin cepat dan mudah di akses untuk kepentingan pendidikan. Inovasi dalam pembelajaran semakin berkembang dengan adanya inovasi e-learning yang semakin memudahkan proses pendidikan. Kemajuan teknologi pendidikan juga akan memungkinkan berkembangnya kelas virtual atau kelas yang berbasis teleconference yang tidak mengharuskan pendidik dan peserta didik berada dalam satu ruangan.  Sistem administrasi pada sebuah lembaga pendidikan akan semakin mudah dan lancar karena penerapan sistem TIK. Dengan perkembangan teknologi pendidikan bisa dibuat program-program evaluasi dengan cara cepat dan efisen. Rosenberg (2006; 28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria. Pertama, e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbaharui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi. Kedua, pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar. Ketiga memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional. Inovasi Pendidikan dengan teknologi Pendidikan  merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahan. Inovasi merupakan obyek dan teknologi Pendidikan merupakan subyeknya. Dengan demikain maka Pendidikan dimasa Covid-19 kita harus bisa menyemai harapan dengan positif thinking. Kita harus menyadari bahwa Peningkatan mutu pendidikan semakin diarahkan pada perluasan inovasi pembelajaran terutama di masa pandemic Covid-19 kita harus tetap optimis dan berpikir positif bahwa wabah yang ada akan bisa berakhir. Kendati lamban dan perlahan dengan semangat serta keyakinan yang teguh kita semai harapan dengan langkah pasti.  Pendidikan merupakan investasi yang paling utama setiap bangsa untuk meningkatkan kualitas SDM-nya. Pendidikan merupakan cermin peradaban suatu bangsa maka membangun karakter bangsa yang tangguh merupakan tugas kita dalam mewujudkan harmoni pendidikan. Semoga bermanfaat (******).

 

Rujukan:

  1. 2008. The Effects of an Implemental Mind-Set on Attitude Strength. Journal of Personality and Social Psychology. 94(3): 396–411.
  2. Hasan SH. 2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Jakarta: Depdiknas.
  3. Miarso, Yusufhadi. (2005). Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Pustekkom-Kencana
  4. Nyoman S. Degeng. 2004. Pembelajaran konstruktivistik Vs Behaviouristik. Malang : Universitas Negeri Malang
  5. Sutomo & Sugito M.Pd. 2005. Kapita Selekta & Problematika Teknologi pendidikan. Surabaya UNIPA.
  6. Marc J. (2006). Beyond E-Learning – Approaches and Technologies to Enhance Organizational Knowledge, Learning, and Performance. Pteiffer. Amerika.
  7. https://mediaindonesia.com/opini/278423/arah-transformasi-pendidikan
  8. https://mediaindonesia.com/opini/380173/pendidikan-karakter-di-masa-pandemi
Facebook Comments