oleh

Tantangan Berat Mewujudkan Pendidikan Berkualitas dan SDGs 2030

Oleh: Nelson Sihaloho

*)Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi

Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

 

Abstrak:

 

Sebagaimana diketahui bahwa sejak tahun tahun 2016, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2015–2030 dengan resmi menggantikan Tujuan Pembangunan Millennium (MDGs) 2000–2015. SDGs berisi seperangkat tujuan transformatif yang disepakati dan berlaku untuk seluruh bangsa tanpa terkecuali. SDGs berisi 17 tujuan (World Health Organization, 2015). Diantaranya tanpa kemiskinan (no poverty): pengentasan segala bentuk kemiskinan di semua tempat. Kemudian tanpa kelaparan (zero hunger): mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan perbaikan nutrisi, serta menggalakkan pertanian yang berkelanjutan. Kesehatan yang baik dan kesejahteraan (good health and well being): menggalakkan hidup sehat dan mendukung kesejahteraan untuk semua usia. Pendidikan berkualitas (quality education): memastikan pendidikan berkualitas yang layak dan inklusif serta mendorong kesempatan belajar seumur hidup untuk semua orang serta sejumlah program lainnya.Perlu dicermati bahwa agar bisa mewujudkan pembanguanan yang lain, diperlukan suatu kualitas sumberdaya manusia (SDM) dan SDM berkualitas hanya bisa diperoleh melalui Pendidikan. Apabila dicermati dari sisi dunia pendidikan di indonesia, masih banyak kendala yang dihadapi berkaitan dengan mutu Pendidikan. Banyak hal yang perlu diperbaiki dalam dunia Pendidikan kita bukan hanya program sebagaimana tujuan yang diinginkan oleh pemerintah, termasuk pengajaran, kehidupan sosial disekolah sebab titik fokus kegiatan dari Pendidikan berada dalam lingkungan Pendidikan itu sendiri. Untuk mewujudkan Pendidikan berkualitas  dan SDGs 2030 tantangannya sangat berat dan memerlukan perhatian yang ekstra kerja keras. Dengan sisa waktu kurang lebih sektar  8,5 tahun kita dituntut untuk menggalang seluruh kemampuan bangsa untuk mewjudkan Pendidikan berkualitas.

Kata kunci: Pendidikan berkualitas, SDGs 2030

 

Tantangan Berat

 

Mengutip Brundtland, (1987)  menyatakan bahwa “…development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs” Artinya, konsep pembangunan berkelanjutan didefinisikan sebagai “pembangunan yang mencukupi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri”.Defenisi tersebut menunjukan bahwa selama pemenuhan kebutuhan hidup dan meningkatkan kualitas hidup di masa sekarang, kita sangat dilarang untuk menghabiskan kapasitas lingkungan alam dan harus selalu berfikir tentang kelestarian alam untuk generasi di masa datang. Gerakan pembangunan berkelanjutan selalu menyerukan tentang melindungi kepentingan generasi masa depan dan kapasitas bumi untuk beregenerasi. Adapun visi Pendidikan Indonesia adalah mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila yang bernalar kritis, kreatif, mandiri, beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, bergotong royong, dan berkebinekaan global. Hingga saat ini terdapat lima kelompok tantangan dunia pendidikan yang perlu dihadapi (Kemdikbud, 2020). Untuk kategori ekosistem Pendidikan situasi saat ini bahwa sekolah sebagai tugas, pimpinan sebagai pengatur, manajemen sekolah terlalu administrative, masih ada PAUD yg belum melibatkan orang tua. Adapun situasi yang diharapkan di masa depan yakni, sekolah sebagai kegiatan yang menyenangkan, pimpinan memberikan pelayanan, manajemen  sekolah yang kolaboratif dan kompeten serta keselarasan pendidikan di rumah dan keluarga. Untuk kategori guru, situasi saat ini Guru sebagai pelaksana kurikulum, guru sebagai sumber pengetahuan satu-satunya, pelatihan guru berdasarkan teori serta PAUD: Metode drilling dan  teacher-centered. Situasi yang diharapkan di masa depan Guru sebagai pemilik dan pembuat kurikulum, Guru sebagai fasilitator dari berbagai sumber pengetahuan. Pelatihan guru berdasarkan praktik, PAUD: Kompetensi meliputi pedagogik dan sosio emosional. Kategori: Pedagogi, situasi sekarang, siswa sebagai penerima pengetahuan, fokus kepada kegiatan tatap muka, pendekatan: Bermain vs Calistung serta pengajaran berdasarkan pembagian umur. Sedangkan situasi yang diharapkan di masa depan, pembelajaran berorientasi pada siswa, pembelajaran memanfaatkan teknologi. Pendekatan: bermain adalah belajar, bermakna dan  sesuai konteks serta pengajaran berdasarkan level kemampuan siswa. Untuk kategori: Kurikulum, situasi saat ini  adalah perkembangan linear, kurikulum berdasarkan konten. Fokus kepada kegiatan akademik serta patahan antara kurikulum PAUD dan SD. Situasi yang diharapkan di masa depan perkembangannya fleksibel, kurikulum berdasarkan kompetensi. Fokus kepada soft skill dan pengembangan karakter serta transisi yang mulus dari PAUD ke SD. Adapun untuk kategori penilaianm situasi sekarang penilaian bersifat sumatif atau menghukum dan situasi yang diharapkan di masa depan penilaian bersifat formatif atau mendukung. Diharapkan tantangan Pendidikan berkualitas  dapat dilakukan dengan Program Sekolah Penggerak (PSP). PSP terdiri dari lima intervensi yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Yakni pendampingan konsultatif dan asimetris, Penguatan SDM Sekolah Penguatan Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, Penilik, dan Guru melalui program pelatihan dan pendampingan intensif (coaching) one to one dengan pelatih ahli yang disediakan oleh Kemdikbud.Pembelajaran dengan paradigma baru, perencanaan berbasis data Manajemen berbasis sekolah serta digitalisasi sekolah. Sebagaimana kita ketahui bahwa PSP merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya. PSP akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju. Program dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi PSP. Diharapkan melalui program Merdeka Belajar dan PSP  program SDGs tahun 2030 yang tantangan sangat berat dapat terwujud.  Sesungguhnya bila dikaji dengan mendalam  bahwa intisari dari Sustainable Development Goals (SDGs)  untuk peningkatan kulitas pendidikan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Bahwa pendidikan sebagai barang publik, barang umum global, hak asasi manusia yang mendasar dan landasan untuk menjamin realisasi hak-hak lain. Agenda Pendidikan 2030, dan studi kasus yang inovatif dan sukses dari seluruh dunia. Termasuk relevansi pendidikan yang inklusif dan berkeadilan dan kesempatan belajar seumur hidup untuk semua (pembelajaran formal, non-formal dan informal, termasuk penggunaan TIK) dan di semua tingkatan untuk meningkatkan kualitas manusia kehidupan dan pembangunan berkelanjutan. Alasan kurangnya akses ke Pendidikan seperti  kemiskinan, konflik, bencana, ketidaksetaraan jender, kurangnya masyarakat. Pembiayaan pendidikan, privatisasi yang berkembang, pencapaian global keterampilan melek huruf, berhitung dan dasar. Keanekaragaman dan pendidikan inklusif, keterampilan dan kompetensi dasar dibutuhkan di abad ke-21. Pengetahuan, nilai, keterampilan, dan perilaku diperlukan untuk mendorong pembangunan berkelanjutan. Konsep pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, pendekatan seluruh institusi sebagai kunci strategi untuk meningkatkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan, dan pedagogi untuk mengembangkan keberlanjutan kompetensi. Termasuk Pemberdayaan pemuda dan pemberdayaan kelompok-kelompok yang terpinggirkan

 

Target 2030

 

Dengan adanya SDGs maka tujuan pendidikan akan menjadi tumpuan upaya pemerintah untuk mendorong pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan berkelanjutan hingga 2030. Sebagaimana arahan dari Forum PBB pada tanggal 2 Agustus 2015 ada beberapa poin penting kesepakatana. Peningkatan pendidikan untuk masyarakat Indonesia akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran lainnya dalam 17 poin SDGs, terutama untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia Indonesia. Sehingga diharapkan peran pendidikan mampu meningkatkan daya saing Indonesia dalam mendukung SDGs 2030. Adapun target diantaranya, pada tahun 2030, menjamin bahwa semua anak perempuan dan laki-laki menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah tanpa dipungut biaya, setara, dan berkualitas, yang mengarah pada capaian pembelajaran yang relevan dan efektif.  Pada tahun 2030, menjamin bahwa semua anak perempuan dan laki-laki memiliki akses terhadap perkembangan dan pengasuhan anak usia dini, pengasuhan, pendidikan pra-sekolah dasar yang berkualitas, sehingga mereka siap untuk menempuh pendidikan dasar.  Pada tahun 2030, menjamin akses yang sama bagi semua perempuan dan laki-laki, terhadap pendidikan teknik, kejuruan dan pendidikan tinggi, termasuk universitas, yang terjangkau dan berkualitas. Pada tahun 2030, meningkatkan secara signifikan jumlah pemuda dan orang dewasa yang memiliki keterampilan yang relevan, termasuk keterampilan teknik dan kejuruan, untuk pekerjaan, pekerjaan yang layak dan kewirausahaan. Pada tahun 2030, menghilangkan disparitas gender dalam pendidikan, dan menjamin akses yang sama untuk semua tingkat pendidikan dan pelatihan kejuruan, bagi masyarakat rentan termasuk penyandang cacat, masyarakat penduduk asli, dan anak-anak dalam kondisi rentan. Pada tahun 2030, menjamin bahwa semua remaja dan proporsi kelompok dewasa tertentu, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kemampuan literasi dan numerasi.  Pada tahun 2030, menjamin semua peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk meningkatkan pembangunan berkelanjutan, termasuk antara lain, melalui pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan gaya hidup yang berkelanjutan, hak asasi manusia, kesetaraan gender, promosi budaya damai dan non kekerasan, kewarganegaraan global dan penghargaan terhadap keanekaragaman budaya dan kontribusi budaya terhadap pembangunan berkelanjutan.Untuk saat ini tantangannya cukup berat apabila suasana pandemic Covid-19 juga belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Apabila kondisi masih berlanjut diprediksikan target pencapaian Pendidikan berkualitas dan SDGs 2030 membutuhkan waktu yang lebih lama lagi untuk mencapainya. Padahal  pendidikan yang berkualitas dan merata menjadi impian semua negara termasuk Indonesia. Pandemic  Covid-19 juga menambah tantangan baru dalam mewujudkan pendidikan berkualitas dan inklusif di Indonesia. UNESCO  (2020) menyebut 1,6 miliar pelajar atau 90% dari seluruh populasi pelajar di dunia diliburkan untuk mencegah penyebaran virus ini. Hal yang sama juga diutarakan oleh Save The Children (2020), bahwa pandemi berpotensi mengakibatkan 9,7 juta anak yang terkena dampak penutupan sekolah beresiko putus sekolah secara permanen.

 

Saling Terkait

 

SDGs diterjemahkan secara resmi ke dalam bahasa Indonesia sebagai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Dan SDGs memiliki 17 tujuan , 169 target, dan 244 indikator terukur. Tujuan-tujuan itu dikelompokkan ke dalam 4 pilar yaitu pembangunan sosial, ekonomi, lingkungan serta hukum dan tata kelola.  Di masa depan generasi baru diharapkan mampu memahami isu-isu yang sedang berkembang.  Karena itu Pendidikan kita memerlukan suatu pembenahan berkelanjutan terutama untuk penguatan serta peningkatan kualitas Pendidikan. Pendidikan berkualitas merupakan faktor yang sangat penting untuk mencapai Indonesia Emas 2045. Kemajuan berbagai sector terkait baik itu perrtanian, peikanan, sumber daya, teknologi, ekonomi, budaya, pertahanan dan lain-lain diawali dengan semakin majunya kualitas pendidikan di bidang tersebut.Karena itu bidang Pendidikan harus menjadi yang paling pertama terlebih dahulu diperbaiki, baik itu pendidikan akademik maupun pendidikan moral yang mengimbanginya. Karena itu perlu dikaji dengan lebih komprehensif permasalahan-permasalahan yang menghambat peningkatan mutu serta kualitas Pendidikan kita. Kita harus berjuang keras

Mengingat tekanan global saat ini  diprediksikan beberapa SDGs tidak akan tercapai  dan kita dituntut untuk berjuang keras mewujudkannya. Kendati Covid-19 saat ini  menjadi tantangan besar yang kita hadapi kita haris memiliki semangat optimisme. Belajar dari sejarah perjalanan bangsa yang pernah kita hadapi sejak 2008 hingga 2020 kita harus lebih kuatmenghadapinya. Tahun 2008 kita menghadapi gangguan keuangan global, industri 4.0 pada 2009, politik pada 2016 serta kesehatan pada 2020 akibat pandemic Covid-19.  Abad ke-21 merupakan abad yang menuntut kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja manusia. Abad 21 ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi yang sangat pesat serta perkembangan otomatiisasi dimana banyak pekerjaan yang sifatnya pekerjaan rutin dan berulang-ulang mulai digantikan oleh mesin, baik mesin produksi maupun komputer. Abad ke-21 baru berjalan satu dekade, namun dalam dunia pendidikan sudah dirasakan adanya pergeseran, dan bahkan perubahan yang bersifat mendasar pada tataran filsafat, arah serta tujuannya. Proses industrialisasi terus berjalan mengakibatkan jenis jabatan dan pekerjaan semakin beragam dan profesionalisasi semakin terwujud. Pemilihan karier seseorang lebih ditentukan oleh kemampuan, keahlian serta minatnya, bukan ditentukan semata-mata oleh ijazah.  Pada akhirnya perkembangan teknologi telah mengubah trend pekerjaan dari berbasis teknis ke berbasis pengetahuan. Teknologi, pengetahuan serta inovasi menjadi faktor kunci dari kualitas SDM. Kelak di masa depan akan berkembang pula jenis pekerjaan dan skill yang dibutuhkan oleh industry. Kompetensi dan keterampilan abad 21 muncul karena revolusi informasi dan teknologi. Ciri khas dari pembelajaran bad 21 adalah pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam segala segi kehidupan termasuk dalam bidang pendidikan. Paradigma pembelajaran abad 21 ditekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Dengan demikian bahwa Abad 21 berpusat pada perkembangan Era Revolusi Industri 4.0 yang mengedepankan pengetahuan sebagai ujung tombak utama. Dengan pengetahuan saja tidak cukup untuk mewujudkan Era Revolusi Industri 4.0, karena perlu adanya keseimbangan antara pengetahuan dengan keterampilan sebagai dasar dari SDM berkualitas. Pembelajaran abad 21 berfokus pada student center dengan tujuan untuk memberikan serta membekali peserta didik keterampilan berpikir.  Baik itu berpikir kritis, memecahkan masalah, metakognisi, berkomunikasi, berkolaborasi, inovasi dan kreatif serta literasi informasi.Karena itu semakin  maju  suatu  negara,  maka  semakin  banyak  pula SDM  berkualitas  yang  dimilikinya. Pendidikan merupakan fondasi utama seseorang dalam memiliki   pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang  baik. Abad  21 menuntut  kualitas  SDM yang  lebih  baik  dari sebelumnya dan diharapkan mampu mengurangi pengangguran. Selain profesionalisme, guru di masa depan juga akan menuntut lebih tinggi lagi kualitasnya. Sebab dinamika perkembangan Iptek selalu bergerak ke arah dinamis. Tantangan berat dalam mewujudkan Pendidikan berkualitas dan menuju SDGs 2030 harus dilakukan dengan kerja keras. Bidang Pendidikan yang dituntut menciptakan generasi abad  21 yang memiliki  kecakapan  dalam  berpikir  kritis, kolaborasi, kreativitas, dan  komunikasi. Dengan prinsip bahwa  engan kerja keras bidang    Pendidikan mampu menghasilkan  sumber  daya manusia yang berkualitas, unggul, dan dapat berdaya saing. Semoga Bermanfaat.

 

 

Rujukan:

  1. Ajaps, S., & McLellan, R. (2015). “We don’t know enough”: Environmental education and pro-environmental behaviour perceptions. Cogent education, 2(1), 1124490.
  2. , Heiss, J., & Byun, W. J. (2018). Issues and trends in education for sustainable development (Vol. 5). UNESCO Publishing.
  3. Brundtland, G. H. (1987). What is sustainable development. Our common future, 8-9. Leal Filho, W., & Zint, M. (Eds.). (2016). The contribution of social sciences to sustainable development at universities. Springer International Publishing. Leicht,
  4. Hariyanto,   B.,  &  Jannah,  U.  R.  (2020).  Revolusi  Guru  Dalam  Pembelajaran Abad 21. Sigma
  5. Hasibuan, Prastowo. (2019).  Konsep Pendidikan Abad 21: Kepemimpinan dan   Pengembangan   Sumber   Daya  Manusia SD/MI.
  6. Listiawati, N. (2013). Pelaksanaan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan Oleh Beberapa Lembaga. Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 19(3), 430-450.
  7. (2019). Pembelajaran Inovatif Abad Ke- 21. Penelitian dan   Pengkajian Ilmu   Pendidikan:   e-Saintika
  8. Nevin, E. (2008). Education and sustainable development. Policy & Practice-A Development Education Review, (6). Org, U. N. (2016). Secretary-General’s remarks to the press at COP22.
  9. Rieckmann, M. (2017). Education for Sustainable Development Goals: Learning Objectives. UNESCO Publishing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed