oleh

Guru Penggerak, Akankah Jadi Spirit Baru Peningkatan Mutu Pendidikan Kita?

Oleh: Nelson Sihaloho

Guru SMPN 11 Kota Jambi Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gamil.com

 

Rasional:

 

Disrupsi pekerjaan di beberapa sektor industry kini bukan lagi isu-isu dan faktanya memang telah  terbukti. Beberapa tahun ke depan permintaan (demand) terhadap pekerja sector industry diprediksi akan semakin meningkat. Kemampuan critical thinking, problem solving, communication, collaboration, dan creativity atau invention justru sangat dibutuhkan di era persaingan global. Sinkronisasi pembelajaran khususnya mata pelajaran juga menuntut untuk beradaptasi terhadap teknologi. Metode yang berkmebang saat ini adalah metode pembelajaran Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics (STEAM). Para pakar ahli pendidikan memprediksi bahwa STEAM akan  menjadi salah satu kunci penting dunia pendidikan dalam menghadapi era 4.0. STEAM diyakini bisa mendorong pengembangan ilmu sains, teknologi, teknik, dan matematika yang semakin kreatif. Tuntutan untuk mengubah Mindset metode pembelajaran oleh guru di masa depan dengan terus berinovasi akan menjadi kunci utama guru  era industry 4.0. Sejalan dengan hal tersebut  Program Medeka Belajar dengan Guru Penggerak yang menjadi Program Kementrian Pendidikan Riset dan Teknologi  diharapkan mampu merealisasikan guru menjadi agen di dalam ekosistem pendidikan. Program ini diharapkan memberikan “atmosfier” baru terhadap peningkatan mutu dan kualitas pendidikan.  Selan itu guru penggerak harus benar-benar memiliki karakter yang baik, memiliki kemauan memimpin, berinovasi untuk melakukan perubahan. Perekruitan Guru Penggerak, Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah maupun Pelatih yang semakin ketat sesuai program Kemristekdikti dengan berjenjang diharapkan akan mampu meminimalisir berbagai penyeimpangan-penyimpangan yang terjadi dalam dunia pendidikan. Semoga Program Merdeka Belajar, Guru Penggerak benar-benar menjadi spirit baru dalam peningkatan mutu dan kualitas pendidikan kita kearah yang lebih baik.

Kata kunci: guru penggerak, spirit, mutu pendidikan

 

Guru Penggerak Jagonya Mengajar?

 

Mendikbud Nadiem Makarim menyampaikan para guru yang tergabung dalam program Guru Penggerak memiliki kesempatan untuk menjadi kepala sekolah, (berita Kompas.com,13/02/2021). Adanya pernyataan Nadiem tersebut mengindikasikan akan terjadi perubahan mendasar dalam perekruitan Kepala Sekolah sebagaimana yang selama ini dilakukan.  Guru penggerak juga dituntut mampu mendorong tumbuh kembang peserta didik, tidak hanya di kelasnya melainkan juga di kelas-kelas lain untuk tumbuh dengan cara holistik. Guru penggerak tidak hanya jago mengajar dan tidak akan hanya berpaku pada kurikulum yang diformalkan. Selain itu seorang guru penggerak akan keluar dan termotivasi untuk menjadi mentor terhadap guru-guru lain, di dalam sekolah bahkan di luar sekolah. Nadiem, et,al, Guru penggerak harus menjadi obor, lilin di masing-masing unit pendidikan, bahkan di luar unit pendidikan dia sendiri. Nadiem,et,al, mengungkapkan bahwa  Guru penggerak nantinya akan terus menciptakan dan mengawal pencapaian profil pelajar Pancasila yang merupakan tujuan dari Merdeka Belajar, yang mempunyai enam sifat. Pertama, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Kedua, kreatif dalam berkarya, menemukan jalan-jalan yang tidak konvensional, beradaptasi terhadap perubahan dan selalu senantiasa berinovasi. Ketiga, bergotong royong, yaitu kemampuan berkolaborasi dan bekerja sama sebagai satu tim dan ini akan menjadi kompetensi terpenting di dunia kerja masa depan. Keempat, Kebhinekaan, yaitu mencintai keberagaman nasional, mempunyai spirit nasionalisme yang tinggi dan mencintai sesama. Kelima, kemampuan bernalar kritis, yaitu mampu memecahkan permasalahan, mampu berpikir secara kritis, mengolah informasi secara kritis, dan mampu berpikir secara terstruktur dan kuantitatif. Keenam kemandirian, yaitu mendorong kemampuan siswa-siswi secara independen mencari ilmu sendiri, proaktif kegiatan bekerja dan belajar, serta mempunyai pemikiran mandiri sehingga tidak mudah goyah, tidak mudah mempercayai informasi. Mencermati hal tersebut diatas bahwa Guru Penggerak harus benar-benar membuktikan diri ”jagonya dalam mengajar” sejak awal rekam jejak guru minimal sudah terpanyau. Apa yang telah dikerjakan dan diperbuatnya selama bertugas menjadi guru dan bisa serta mampu menjadi Guru Penggerak? Sebab Pendidikan guru penggerak dilakukan dengan pendekatan andragogi dan berbasis pengalaman. Intinya yang lulus akan bisa memberikan manfaat besar di lingkungan dan juga menjadi bibit-bibit kepemimpinan untuk menjadi kepala sekolah, pengawas sekolah, dan instruktur pelatihan guru.  Sekadar mengingatkan bahwa pada tahap awal, Mendikbud menargetkan setidaknya 2.800 calon guru penggerak, meningkat hingga 405.000 guru pada tahun 2024.

 

Spirit Baru

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia perlu melakukan perubahan terutama di dalam lingkungan sekolah. Perubahan di sekolah bisa dimulai dari sekolah-sekolah penggerak yang bisa menjadi teladan bagi sekolah-sekolah lainnya. Sekolah penggerak adalah sekolah yang dapat menggerakkan sekolah-sekolah lain. Sekolah penggerak bisa menjadi panutan, tempat pelatihan dan juga inspirasi terhadap para kepala sekolah dan guru-guru lainnya.

Mengutip Nadiem (2020) adapun ciri-ciri dari sekolah penggerak yakni memiliki kepala sekolah yang mengerti proses pembelajaran siswa dan mampu mengembangkan guru. Kepala sekolah di sekolah penggerak tidak hanya bisa mengatur operasional suatu sekolah, melainkan juga bisa mengerti proses pembelaharan siswa dan menjadi mentor untuk guru-guru di sekolah. Sekolah penggerak memiliki guru yang berpihak kepada anak. Sekolah penggerak memiliki guru yang mengerti bahwa setiap anak berbeda dan memiliki cara pengajaran yang berbeda. Sekolah penggerak mampu menghasilkan profil siswa yang berakhlak mulia, independen dan mandiri, punya kemampuan bernalar kritis, kreatif, gotong royong dan punya rasa kebinekaan dalam negara dan global. Sekolah penggerak memiliki komunitas di sekeliling sekolah yang mendukung proses pembelajaran di dalam kelas.  Sebagaimana paparan Mendikbud pada tanggal 03 September 2021 bahwa anggaran untuk Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak pada program pioritas Kemendikbud tahun 2021 diusulkan sebanyak Rp2,6 triliun. Anggaran ini terbagi untuk sertifikasi guru dan tenaga kependidikan, peningkatan kompetensi dan kualifikasi guru dan tenaga kependidikan, penjaminan mutu, advokasi daerah dan sekolah serta pembinaan peserta didik. Diharapkan anggaran yang dialokasikan untuk Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak menjadi spirit baru dalam peningkatan mutu serta kualitas pendidikan. Sangat penting dicermati bahwa dunia pendidikan di Indonesia saat ini memasuki masa pelik. Bukan saja karena masa pandemic Covid-19 yang tak kunjung usai. Pola pembelajaran dan proses belajar juga mengalami pergeseran. Pergeseran model belajar, alat belajar hingga karakter belajar termasuk pembentukan sikap anak menjadi beradab pun mengalami perubahan mendasar.  Sistem belajar tidak ada yang baku, sehingga perubahan kurikulum dan atau model belajar dapat berubah pada setiap masa. Itulah sebabnya dinamisnya model belajar tidak boleh menghilangkan esensi mendidik. Esensi belajar adalah memanusiakan manusia, mengembangkan potensi siswa sebagai manusia muda serta energik yang perlu didorong menjadi paripurna. Dengan demikian melalui sistem pendidikan yang dapat digunakan dengan terbuka atau merdeka belajar, dapat diterapkan kurikulum dan program yang meningkatkan spirit pendidikan lebih berkualitas.  Pendidikan sebagai sistem memiliki dua dimensi, yaitu dimensi entitas dan metode dimensi. Dimensi entitas, diartikan bahwa pendidikan memiliki beberapa komponen yang saling berkait satu sama lain, saling terkait untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Komponen-komponen tersebut adalah filosofi dan tujuan, kurikulum dan sistem pembelajaran, motode dan alat, peserta didik, pendidik, organisasi atau lembaga, serta lingkungan pendidikan. Kehadiran teknologi dalam pendidikan harus dimanfaatkan sebagai upaya untuk membantu meningkatkan peran guru dalam proses pembelajaran. Begitu juga dengan pendidikan tinggi dimasa depan akan terjadi perubahan kurikulum. Termasuk untuk Lembaga Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (LPTK) akan disinkronkan dengan kebutuhan dunia kerja. Terhadap kurikulum prodi pendidikan tersebut harus dilakukan reorientasi dan restrukturisasi. Kurikulum tidak bisa hanya dimaknai sebagai muatan serangkaian substansi kajian dalam rentang waktu tertentu. Tapi juga mengatur proses pembelajaran, bagaimana mengevaluasi hasil belajar dan program pembelajaran keseluruhan, serta seluruh aktivitas keprodian.

 

Peningkatan Mutu Pendidikan

Dalam pemingkatan mutu serta kualitas pendidikan peran kepala sekolah sangat penting. Pentingnya manajemen dalam penyelenggaraan sebuah organisasi merupakan hal yang mutlak diperlukan. Mengutip Hoy, Jardine and Wood (2005:11-12) quality in education is an evaluation of the process of educating which enhances the need to achieve and develop the talents of the customers of the process, and at the same time meets the accountability standards set by the clients who pay for the process or the outputs from the process of educating. Pendapat tersebut diatas menjelaskan bahwa mutu dalam pendidikan adalah evaluasi proses pendidikan yang meningkatkan kebutuhan untuk mencapai dan proses mengembangkan bakat para pelanggan (peserta didik), dan pada saat yang sama memenuhi standar akuntabilitas yang ditetapkan oleh klien (stakeholder) yang membayar untuk proses atau output dari proses pendidikan. Untuk mengukur pendidikan yang berkualitas tentunya diperlukan kriteria/ indikator. Mengutip Sallis (2005: 1-2) mengungkapkan ada banyak indikator mutu yang baik di lembaga pendidikan. Antara lain: 1) high moral values; 2) excellent examination results; 3) the support of parents, business and the local community; 4) plentiful resources; 5) the application of the latest technology; 6) strong and purposeful leadership; 7) the care and concern for pupils and students; 8) a well-balanced and challenging curriculum. Bahwa sekolah yang bermutu dan baik harus memiliki: 1) nilai-nilai moral/ karakter yang tinggi; 2) hasil ujian yang sangat baik; 3) dukungan orang tua, dunia usaha dan masyarakat setempat; 4) sumber daya berlimpah; 5) implementasi teknologi terbaru; 6) kepemimpinan yang kuat dan memiliki tujuan (visi); 7) keperdulian dan perhatian bagi siswa; 8) kurikulum yang seimbang dan relevan. Untuk meningkatkan mutu pendidikan perlu dilihat dari berbagai sisi.

Mutu lulusan berkaitan dengan lulusan dengan nilai yang baik (kognitid, apektif, dan psikomotorik) diterima melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi yang berkualitas dan memiliki kepribadian yang baik. Sedangkan mutu pelayanan berkaitan dengan aktivitas melayani keperluan peserta didik, guru dan pegawai serta masyarakat secara tepat dan tepat sehingga semua merasa puas atas layanan yang diberikan oleh pihak sekolah. Sebagaimana diungkapkan oleh Taylor, West dan Smith (2006) pada lembaga CSF ( Central for the School of the Future ) Utah State University mengungkapkan indikator sekolah bermutu adalah: 1) dukungan orang tua, 2) kualitas pendidik, 3) komitmen peserta didik, 4) kepemimpinan sekolah, 5) kualitas pembelajaran, 6) manajemen sumber daya di sekolah 7) kenyamanan sekolah. Sejalan dengan Sitompul (2006:57) menambahkan kualitas pendidikan yang berhasil ditandai dari: 1) Tingginya rasa kepuasan pengajaran, termasuk tingginya pengharapan murid, 2) Tercapainya target kurikulum pengajaran, 3) Pembinaan yang sangat baik terhadap spiritual, moral, social dan pengembangan budaya pengajar, 4) Tidak ada murid yang bermasalah dalam kejiwaan atau resiko emosional 5) Tidak ada pertentangan antara hubungan murid dengan para guru/staf. Sebagaimana kita ketahui baersama bahwa, hasil belajar siswa Indonesia seperti ditunjukkan oleh hasil PISA, TIMMS, UN dan AKSI masih kurang dan tidak ada peningkatan yang signifikan selama 10 tahun terakhir. Sebab investasi yang dikucurkan untuk meningkatkan mutu guru masih belum menunjukkan hasilnya. Kemudian sistem akreditasi dan penjaminan mutu pendidikan belum menunjukkan dampak pada peningkatan mutu pembelajaran Peningkatan mutu Pendidikan membutuhkan perubahan serta pola pikir. Kualitas hasil pendidikan bergantung kepada bagaimana sekolah  mengelola pembelajaran secara efektif  yang menyadarkan setiap peserta didik akan perannya sebagai manusia. Contoh kecil, apabila mindset para guru belum benar, maka pelatihan-pelatihan teknis menjadi sia-sia. Sebaliknya, apabila mindset guru telah benar, pelatihan-pelatihan teknis akan mudah, dan sifatnya hanya mendukung peningkatan mutu pendidikan. Karena itu, peningkatan kemampuan, mutu dan mengembangkan  tenaga profesional di dunia pendidikan dirasakan perlu untuk memenuhi tuntutan perkembangan zaman. Kalangan pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Mengakomodasi hal tersebut diperlukan upaya untuk selalu mengembangkan diri bagi setiap dosen baik secara mandiri maupun secara kelembagaan. Peningkatan mutu pendidikan merupakan urgensi yang mendesak untuk segera dilakukan perbaikan khususnya di era pembelajaran Abad 21 yang semakin kompetitif. Membangun spirit education sangat  memerlukan kesungguhan yang mendalam betapa pentingnya transformasi perubahan dilakukan dalam dunia pendidikan.  Pemberdayaan (empowerment) peserta didik merupakan upaya meningkatkan kemampuan maupun menguatkan potensinya kearah yang lebih berdaya guna. Spirit membangun nilai-nilai kemanusiaan yang terpendam di dalam diri manusia khususnya pesertab didik harus terus digelorakan.

Karena itu diperlukan kemajuan penyelenggaraan pendidikan, program-program pembelajaran yang kolaboratif, partisipatoris serta mutu lulusan yang akuntabel. Akreditasi menjadi sebuah tolok ukur kela­yakan terhadap penye­leng­garaan pendidikan dan menjadi bahan evaluasi dalam kaitannya dengan pengembangan program pendidikan. Akreditasi sekolah harus menjadi langkah konkrot bahwa proses pendidikan yang lebih berkualitas benar-benar diterapkan serta mutunya berbanding lurus dengan nilai akreditasi sekolah. Karena itu menjadi guru penggerak berarti mengajarnya lebih jago dari guru-guru sebelumnya. Baik itu jejak rekam, prestasi,keteladanan, panutan sebagai Guru Penggerak juga harus teruji. Sebagai Guru Penggerak diharapkan mampu menjadi spirit perubahan dalam memeningkatkan mutu dan kualitas pendidikan. Semoga bermanfaat. (*****).

 

Rujukan:

 

  1. Hadis, A. dan Nurhayati, B. (2010). Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: Alfa Beta.
  2. Jossey-Bass Hoy, C. Jardine, C. B. and Wood, M. (2005). Improving Quality in Education. London and New York: Falmer Press.
  3. Sagala, S. (2011). Manajemen Strategik Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
  4. Sallis, E. (2005). Total Quality Management in Education. London: Kogan Page Limited.
  5. Sitompul, H. (2006). Pendidikan Bermutu di Sekolah. Dalam Syafaruddin dan Mesiono (Ed.), Pendidikan Bermutu Unggul (hlm. 51-64). Bandung. Ciptapustaka Media.
  6. Taylor, M. J., West, R. P dan Smith, T. G. Indicator of School Quality. (http://www.csf.usu.edu/) diakses pada Maret 2016
  7. https://mediaindonesia.com/humaniora/311146/merdeka-belajar-jadi-spirit- bersama
  8. https://mediaindonesia.com/humaniora/326296/guru-penggerak-kunci-sukses-pendidikan – indonesia

 

 

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed