oleh

Inovasi Pembelajaran dan Potret Guru Abad 21

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional:
Di era digital saat ini profesionalisme guru kembali ditantang untuk mampu menjawab persoaln-persoalan pendidikan yang kelak muncul di masa depan. Perkembangan, perubahan ilmu penegtahuan teknologi dan seni (Ipteks) berakibat pada semakin tingginya tuntutan akan semakin pentingnya kualitas sumberdaya manusia (SDM). Pendidikan merupakan penyedia sekaligus penghasil produk SDM yang menuntut guru untuk senantiasa selalu belajar dan belajar meningkatkan kualitas profesionalismenya. Termasuk peningkatan kinerja mutlak dilakukan sebagaimana kriteria guru profesional dimuat dalam Pasal 1, 2 dan 3 Undang-undang Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melalui internet memberi kemudahan terhadap pengiriman berbagai materi pembelajaran dengan waktu yang sangat singkat. Menghadapi kondisi demikian guru senantiasa dituntut untuk selalu kreatif. Dengan kreatifitas seorang guru mampu menampilkan inovasi yakni kemampuannya untuk mengaplikasikan solusi kreatif terhadap masalah maupun peluang. Utamanya adalah meningkatkan maupun mengembangkan pembelajaran lebih menarik dan efektif. Inovasi pembelajaran dengan berbagai program inovatif diharapkan akan melahirkan mental-mental siswa yang lebih kreatif.
Kata kunci: inovasi pembelajaran, potret guru, abad- 21
Inovasi Pembelajaran

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi batasan, inovasi sebagai pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya baik berupa gagasan,metode atau alat (KBBI, 1990 : 330). Inovasi pembelajaran dapat dimaknai sebagai suatu upaya baru dalam proses pembelajaran, dengan menggunakan berbagai metode, pendekatan, sarana dan suasana yang mendukung untuktercapainya tujuan pembelajaran. Menurut Hasbullah, (2001)  berpendapat bahwa “baru”dalam inovasi itu merupakan apa saja yang belum dipahami, diterima atau dilaksanakan oleh si penerima inovasi. Inovasi pembelajaran adalah pembaharuan pembelajaran yang dikemas atas dorongan gagasan barunya yang merupakan produk dari learning how to learn untuk melakukan langkah-langkah belajar, sehingga memperoleh kemajuan hasil belajar. Istilah learning how to learn mengandung ide, gagasan tentang teknik, memfasilitasi peserta didik untuk memperoleh kemajuan dalam proses dan hasil belajar. Hakikat inovasi pembelajaran adalah ide, gagasan baru tentang berbagai faktor yang dapat mendorong terjadinya pembelajaran yang lebih baik dan tepat guna. Inovasi pembelajaran juga dapat disebut pembaharuan pembelajaran. Inovasi pembelajaran merupakan bagian dari inovasi pendidikan, yakni usaha-usaha dengan melakukan perubahan untuk mencapai suatu yang lebih baik dalam bidang pendidikan. Umumnya gagasan pembaharuan muncul akibat adanya masalah atau krisis baik pada paradigma ataupun praktik pendidikan dan pembelajaran, atau bahkan tekanan sosial yang tidak lagi dapat menerima kondisi yang ada. Inovasi harus berorientasi pada pencapaian tujuan belajar oleh siswa dengan aktif dan memberi kemudahan belajar untuk siswa, siapapun fasilitator yang menemani siswa belajar. Keberhasilan suatu inovasi pendidikaan dan pembelajaran bergantung pada sejauh mana pengetahuan dan kecakapan guru dalam melaksanakan tugas-tugasnya di sekolah- termasuk pemahaman terhadap kurikulum. Pembelajaran inovatif mengandung arti pembelajaran yang dikemas oleh instruktur/pengajar atau instruktur lainnya yang merupakan wujud gagasan atau teknik yang dipandang baru agar mampu menfasilitasi peserta didik untuk memperoleh kemajuan dalam proses dan hasil belajar. Dalam konsep kekinian dapat kita lihat dan diamati bahwa pembelajaran yang dikemas inovatif lebih bersifat student centered. Artinya, pembelajaran yang lebih memberikan peluang terhadap siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dengan mandiri (self directed) dan dimediasi oleh teman sebaya (peer mediated instruction). Adapun manfaat diadakannya inovasi diantaranya dapat memperbaiki keadaan sebelumnya ke arah yang lebih baik, memberikan gambaran pada pihak lain tentang pelaksanaan inovasi sehingga orang lain dapat mengujicobakan inovasi yang dilakukan. Selain itu mendorong guru untuk terus mengembangkan pengetahuan dan wawasan, menumbuhkembangkan semangat dalam bekerja.Upaya pemenuhan kebutuhan bidang pendidikan berbasis pengetahuan (knowledge based education), pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economic), pengembangan dan pemberdayaan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based social empowering), dan pengembangan dalam bidang industri pun berbasis pengetahuan (knowledge based industry) akan mewarnai inovasi pembelajaran abad 21.

Kreatifitas dan Inovasi

Guru yang kreatif dan selalu melakukan inovasi dalam menjalankan tugas-tugas profesionalismenya akan mampu bertahan di masa depan. Kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh guru di abad 21 menjadikan potret guru penuh dengan warna warni. Betapa tidak, dalam pembelajaran abad 21 para pendidik dituntut untuk mampu mengajar dan melakukan pengelolaan kegiatan kelas dengan efektif. Mampu membangun hubungan efektif dengan peserta didik dan komunitas di sekolahnya, mampu menggunakan teknologi untuk mendukung pembelajaran serta melakukan refleksi pembelajaran dengan cara berkelanjutan. Profesionalisme pendidik tidak hanya tentang pengetahuan tentang strategi, pendekatan, model pembelajaran di mana hal tersebut dapat dengan mudah diperoleh dari bahan bacaan. Akan tetapi lebih pada pemahaman yang mendalam sehingga dapat mengkonstruksi pembelajaran agar menjadi bermakna untuk peserta didik. Pengembangan profesionalisme pendidik tidak hanya mencakup pengetahuan tentang pendekatan dan strategi belajar mengajar, termasuk juga semua pegetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan kebutuhan pendidik yang mendukung pembelajaran baik itu penguasaan teknologi, pengelolaan emosional, dan keterampilan berkomunikasi. Menurut Zimmerer, Scarborough, & Wilson (2008), menyatakan kreatifitas adalah kemampun untuk mengembangkan ide-ide baru dan untuk menemukan cara-cara baru untuk melihat masalah dan kesempatan. Dengan kreatifitas, seorang Guru mampu menampilkan inovasi, yakni kemampuannya untuk mengaplikasikan solusi kreatif terhadap masalah dan peluang untuk meningkatkan atau mengembangkan pembelajaran lebih menarik dan efektif. Mengutip Theodore Levitt dari Harvard University menyatakan bahwa kreatifitas adalah memikirkan hal-hal baru sedangkan inovasi adalah melakukan hal-hal yang baru. Adapun karakteristik kreatifitas yakni memiliki daya cipta, memiliki kemampuan untuk mencipta serta kreatifitas adalah jantung dari inovasi. Begitu pula inovasi merupakan hasil dari daya cipta, tanpa kreatifitas tidak aka nada inovasi. Itulah sebabnya banyak kalangan menyatakan bahwa semakin tinggi kreatifitas jalan menuju ke arah inovasi semakin terbuka dan lebar bahkan sesuatu yang baru dan mempunyai nilai. Dikatakan baru dicirikan dengan dari yang belum ada menjadi ada. Dari yang lama dimodifikasi menjadi baru, dari yang lama menjadi cepat serta dari sulit menjadi lebih mudah. Guru-guru kreatif adalah orang – orang yang selalu ingin tahu dan yang mempunyai rasa kepedulian yang kuat terhadap keadaan sekeliling, terbuka menerima semua gagasan. Apabila dianalisis lebih mendalam dalam konteks proses belajar dan pengajaran maka program inovatif dapat diartikan sebagai program yang diciptakan/dimodifikasi untuk mencari pemecahan suatu masalah. Beberapa sikap mental guru yang kreatif terlihat dari hasratnya untuk mengubah sesuatu menjadi lebih baik. Sensitif, bersikap terbuka dan tanggap, dorongan minat untuk menggali lebih dalam. Rasa ingin tahu, semangat yang tak pernah mandeg untuk bertanya, mendalam dalam berfikir. Konsentrasi, mampu menekuni suatu permasalahan hingga menguasai seluruh bagiannya. Siap mencoba dan melaksanakan, bersedia mencurahkan waktu dan tenaga untuk mencari dan mengembangkan. Kesabaran untuk memecahkan permasalahan, optimisme, memadukan antusiasme (kegairahan), serta mampu bekerja sama, sanggup berfikir secara produktif bersama orang lain.. Sedangkan Ciri Potret Diri Guru yang menghambat kreatifitas dan inovasi ditunjukkan dengan sikap malas, berpikir negative, pesimistik, tidak berani mengambil resiko. Ragu-ragu dan selalu khawatir, “Nrimo”, egois, merasa paling benar, tidak mau mendengarkan serta cuek/masa bodoh.
Potret Guru Masa Depan?
Seringkali kita bertanya dan berpikir dengan mendalam mengapa ada sekolah yang unggul serta mampu memposisikan diri sesuai selera konsumen?. Mengapa masyarakat rela berkorban dan mengeluarkan dana besar untuk memasukkan anak-anaknya ke sekolah tersebut. Mengapa sekolah yang dekat dengan rumah atau lingkungan sepi peminatnya padahal berada di pemukiman padat? Sejumlah pertanyaan tersebut barangkali betapa pentingnya kita melakukan refleksi diri maupun perbaikan-perbaikan tentang peningkatan kualitas sekolah. Mengutip William G. Ouchi : “Making Schools Work” menyatakan ada strategi Tujuh Kunci Menuju Sekolah Sukses yakni (1) Every Principal is Entrepreneur, (2) Sekolah mengontrol anggaran (3) Semua bertanggung jawab terhadap kinerja peserta didik dan anggarannya. (4) Setiap orang mau mendelegasikan kepada bawahan (5) Fokus pada hasil belajar siswa. (6) Setiap sekolah merupakan komunitas belajar, serta (7) Keluarga mempunyai pilihan yang nyata terhadap sekolah yang diinginkan. Begitu juga dengan potret guru di masa depan sudah barang tentu akan dihadapkan berbagai persoalan-persoalan yang membutuhkan daya pikir serta win-win solution yang lebih baik. Persoalan kecakapan abad 21 menjadi perhatian pemerhati dan praktisi pendidikan. The North Central Regional Education Laboratory  (NCREL) dan The Metiri Grup (2003) mengidentifikasi kerangka kerja untuk ketrampilan abad ke -21, yang dibagi menjadi empat kategori: kemahiran era digital, berpikir inventif, komunikasi yang efektif, dan produktivitas yang tinggi. Adapun ATCS (assesment and teaching for 21st century skills) menyimpulkan empat hal pokok berkaitan dengan kecakapan abad 21 yaitu cara berpikir, cara bekerja, alat kerja dan kecakapan hidup. Cara berpikir mencakup kreativitas, berpikir kritis, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan belajar. Cara kerja mencakup komunikasi dan kolaborasi. Alat untuk bekerja mencakup teknologi informasi dan komunikasi (ICT) dan literasi informasi. Kecakapan hidup mencakup m kewarganegaraan, kehidupan dan karir, dan tanggung jawab pribadi dan sosial. Sedangkan Educational Testing Service (ETS,2007),mendefenisikan ketrampilan abad ke-21 sebagai pembelajaran kemampuan untuk, a) mengumpulkan dan / atau mengambil informasi, b) mengatur dan mengelola informasi, c) mengevaluasi kualitas, relevansi, dan kegunaan informasi, dan d) menghasilkan informasi yang akurat melalui penggunaan sumber daya yang ada. Partnership for 21st Century Skills mengidentifikasi enam elemen kunci untuk abad ke-21 yaitu mendorong pembelajaran: 1) menekankan pelajaran inti, 2) menekankan ketrampilan belajar, 3) menggunakan alat abad ke-21 untuk mengembangkan ketrampilan belajar, 4) mengajar dan belajar dalam konteks abad ke-21, 5) mengajar dan mempelajari isi abad ke-21 dan 6) menggunakan abad le-21 yang mengukur keterampilan abad ke-21
Kang, Kim, Kim & You (2012) memberikan kerangka kecakapan abad 21 dalam domain kognitif, afektif, dan budaya sosial. Sebagaimana kita ketahui bahwa tujuan pendidikan mengalami penyempurnaan pada tahun 2001 (Anderson dan Krathwohl, 2001). Taksonomi pembelajaran dikelompokan dalam dimensi pengetahuan dan dimensi proses kognitif. Dimensi proses pengetahuan terdiri empat bagian yaitu faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Krathwohl (2002), Anderson & Krathwohl (2001). Pengetahuan faktual menyajikan fakta-fakta yang muncul dalam pengetahuan. Pengetahuan konseptual, yaitu pengetahuan yang menunjukkan saling keterkaitan antara unsur-unsur dasar dalam struktur yang lebih besar dan semuanya berfungsi sama-sama, yang mencakup skema, model pemikiran dan teori. Pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan tentang bagaimana mengerjakan sesuatu, baik yang bersifat rutin maupun yang baru, dan Pengetahuan metakognitif, yaitu mencakup pengetahuan tentang kognisi secara umum dan pengetahuan tentang diri sendiri. Proses pembelajaran yang mampu mengakomodir kemampuan berpikir kritis siswa tidak dapat dilakukan dengan proses pembelajaran satu arah. Mengutip Beers menegaskan bahwa strategi pembelajaran yang dapat memfasilitasi siswa dalam mencapai kecakapan abad 21 harus memenuhi kriteria sebagai berikut : kesempatan dan aktivitas belajar yang variatif; menggunakan pemanfaatan teknologi untuk mencapai tujuan pembelajaran; pembelajaran berbasis projek atau masalah; keterhubungan antar kurikulum (cross-curricular connections); fokus pada penyelidikan/inkuiri dan inventigasi yang dilakukan oleh siswa; lingkungan pembelajaran kolaboratif; visualisasi tingkat tinggi dan menggunakan media visual untuk meningkatkan pemahaman; menggunakan penilaian formatif termasuk penilaian diri sendiri. Sumber belajar yang semakin variatif memungkinkan siswa mengekplorasi materi ajar dengan berbagai macam pendekatan sesuai dengan gaya dan minat belajar siswa. Beers,et,al memperjelas bahwa proses pembelajaran untuk menyiapkan siswa memiliki kecakapan abad 21 menuntut kesiapan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Mengutip National Research Council of The National Academies (2010) menganjurkan agar pembelajaran lebih ditekankan pada keterampilan-keterampilan inovatif abad 21 seperti: (1) kemampuan beradaptasi atau penyesuaian diri dengan lingkungan, keterampilan berkomunikasi, (3)kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak rutin, (4) manajemen/pengembangan diri, dan (5) sistem berpikir. Dengan demikian maka jelas bahwa seorang guru harus manjadi manusia yang dinamis dan berfikir ke depan (futuristic). Dengan tanda-tanda dimilikinya sifat informatif, modern, bersemangat, dan komitmen untuk pengembangan individu maupun bersama-sama.  Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan yang modern dan profesional. Profil dan sosok guru di era globalisasi abad 21 guru wajib beradaptasi dengan perubahan digital di semua sendi kehidupan.  Perubahan karakter masyarakat dengan cara fundamental sebagaimana terjadi dalam abad 21 akan berimplikasi terhadap karakteristik guru.  Guru harus menyadari bahwa buku bisa digantikan dengan teknologi, meski peran guru tidak bisa digantikan guru harus memperkuat komitmen profesiinalismenya. Pemanfaatan teknologi digital merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam mendesain pembelajaran yang kreatif.  Kemampuan para guru di era pembelajaran digital perlu dipersiapkan dengan memperkuat pedagogi siber pada diri guru itu sendiri. Sosok guru di abad 21 adalah sebagai fasilitator, motivator dan inspirator. Kemampuan guru dalam posisi sebagai fasilitator, ini berarti harus mengubah cara berpikir bahwa guru adalah pusat (teacher center) menjadi siswa adalah pusat (student center) sebagaimana dituntut dalam kurikulum 13.  Guru perlu memposisikan diri sebagai mitra belajar siswa, sebab sumber belajar dalam era digital sudah banyak dan tersebar, serta mudah diakses oleh siswa melalui jaringan internet yang terkoneksi pada gawai.  Guru dituntut untuk mampu mentrasformasikan diri dalam era pedagogi siber atau era digital dengan meningkatkan minat baca.  Tanpa minat baca tinggi, maka guru pada era pedagogi siber sekarang ini akan ketinggalan dengan pengetahuan siswanya, sehingga akan menurunkan kredibilitas atau kewibawaan guru. Guru pada abad 21 harus memiliki kemampuan untuk menulis dengan menuangkan gagasan- gagasan inovatifnya dalam bentuk buku atau karya ilmiah. Semoga Bermanfaat
Rujukan:
ATC21S (2013) Assessment and Teaching of 21st Century Skills. Official website. Available online at: http://atc21s.org.
Manis, Hilda, Learning is Easy, Tip dan Prosedur Praktis agar Belajar jadi Asyik, Edukatif dan Menyenangkan, (Jakarta:Kompas Gramedia, 2010)
Mulyoto, Strategi Pembelajaran di Era Kurikulum Tahun 2013, (Jakarat:Prestasi Pustaka, 2013), cet. I.
Prawiradilaga, Dewi Salma dan Eveline Siregar, Mozak Teknologi Pendidikan, (Jakarta: Prenada Media dan Universitas Negeri Jakarta, 2004), cet. I.

 

penulis adalah : Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi
Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed