Meningkatkan Kecerdasan Emosionil Siswa dengan Pembelajaran Variatif di Masa Covid-19

139

Oleh: Nelson Sihaloho

*)Guru SMPN 11 Kota Jambi
email:sihaloho11@yahoo.com.nelsonsihaloho06@gmail.com.

Rasional:

Belajar efektif dan terukur dengan baik sangat sulit diterapkan di masa pandemic Covid 19. Banyak kendala teknis yang mengakibatkan belajar menjadi kurang efektif. Pemberlakuan Kurikulum Darurat sebagaimana instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan di masa pandemic para orangtua maupun siswa dituntut untuk beradaptasi dengan fakta riil. Disatu sisi guru terus dituntut untuk meningkatkan kinerjanya dalam mempersiapkan sumberdaya manusia (SDM) yang lebih berkualitas. Metode-metode pembelajaran pun bertaburan di berbagai media sosial dan termasuk media pembelajaran. Seiring dengan berjalannya waktu program Merdeka Belajar, Program Guru Penggerak juga harus berjalan dan tidak boleh berhenti, Berbagai harapan menanti gebrakan Guru Penggerak yang diharapkan kualitas dan kompetensinya lebih mumpuni dari guru-guru umumnya. Bukti nyata dan konkrit itulah yang sedang dinantikan oleh masyarakat bahwa Program Guru Penggerak kemampuan dan mutunya lebih plus dibandingkan dengan guru-guru lainnya. Mengubah cara mengajar dan belajar agar menjadi lebih efektif dimasa pandemic Covid 19 membutuhkan kajian yang sangat mendalam. Aplikasi-aplikasi pembelajaran digital yang benar-benar mampu meningkatkan kecerdasan emosionil harus diimplementasikan. Perkembangan yang optimal terhadap kecerdasan emosional anak, akan tercapai apabila anak memperoleh stimulasi bervariatif terutama dalam penerapan pembelajaran variatif.
Kata kunci: kecerdasan emosionil, pembelajaran variatif
Kecerdasan Emosionil

Banyak kalangan para ahli menyatakan bahwa kecerdasan emosionil seseorang lebih berpengaruh memberikan kesuksesan dimasa depan. Kecerdasan emosional (EQ) menyumbang kekuatan 80% terhadap kesuksesan, yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama. Dalam memacu perkembangan otak anak banyak kalangan para ahli agar stimulasi lebih dikembangkan. Stimulasi yang dimaksud dalam hal ini adalah bagaimana membuat otak pada anak usia dini memiliki banyak jaringan. Pentingnya stimulasi ini adalah untuk membantu merangsang otak anak sehingga dapat meningkatkan kecerdasannya. Betapa pentingnya peran otak terhadap manusia, sebab semua bersumber dari otak. Ada 2 belahan otak yang dimiliki manusia adalah otak kanan dan otak kiri. Otak kiri berkaitan dengan angka, daya ingat, tata bahasa, logika, dan rasio. Sedangkan otak kanan berkaitan dengan kreatifitas, irama musik, warna, imajinasi dan lamunan.Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan otak adalah nutrisi, literalisasi, genetik, dan stimulasi. Memang untuk mencapai suatu perkembangan optimal akan sulit dicapai apabila anak lebih banyak menghabiskan waktu hanya dengan bermain games di gawai ataupun hanya menonton. Perkembangan yang optimal, akan tercapai apabila anak memperoleh stimulasi yang bervariatif, diantaranya stimulasi yang bersifat motorik, emosi, sosial, serta pengamatan. Pakar psikologi dari Amerika Serikat Howard Gardner PhD menyebut kecerdasan anak bukan hanya pada aspek kecerdasan kognitif saja. Gardner menyebut ada sembilan bentuk kecerdasan yang dikenal dengan istilah kecerdasan majemuk. Kesembilan kecerdasan majemuk tersebut adalah kecerdasan musikal, naturalis, linguistik, interpersonal, intrapersonal, visual atau spasial, logika matematika, kinestetik, dan kecerdasan moral. Adapun kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk mengenali dan mengekspresikan emosi, mengasimilasi emosi dengan pikiran, berpikir dan menalar dengan emosi, dan meregulasi emosi diri sendiri dan orang lain. Anak yang memiliki kecerdasan emosional rendah biasanya mudah marah dan cemas tanpa mengetahui sebabnya. Tidak memahami perasaan orang lain, kesulitan dalam menanggapi perilaku dan perasaan orang lain, sulit mengontrol emosi, terutama ketika stres, dan tidak memahami hubungan antara emosi, pikiran, dan perilaku. Rendahnya kecerdasan emosional berimplikasi terhadap perkembangan diri anak di masa depan. Anak di masa depan akan lebih mudah pesimistis dalam menghadapi segala sesuatu, Berbeda halnya dengan anak yang cakap mengelola emosi atau memiliki tingkat kecerdasan emosional tinggi, akan memiliki mental yang sehat dan selalu optimistis. Kecerdasan emosional harus terus diasah, dilatih sejak dini dengan melakukan kegiatan positif yang dilakukan bersama keluarga. Seperti dalam pembelajaran inklusif, pembelajaran yang berbasis pada masalah dan kolaboratif, serta pembelajaran seumur hidup sesuai dengan kebutuhan siswa (lifelong and student-driven learning). Para pendidik, harus mulai menyiapkan peserta didik untuk menghadapi perkembangan teknologi yang begitu cepat berubah. Selain itu, siswa juga dituntut mampu berpikir analitis dan kolaboratif.

Impikasi dari Covid-19

Pandemic corona virus disease bukan hanya berdampak pada dunia kesehatan dan ekonomi. Termasuk juga dirasakan oleh dunia pendidikan yang berpacu dalam meningkatkan kualitas SDM. Kegiatan pembelajaran tatap muka di sekolah banyak yang resmi dihentikan sementara, diganti dengan School from Home (SFH). Menurut World Health Organization WHO pandemic adalah situasi ketika populasi seluruh dunia ada kemungkinan akan terkena infeksi corona virus disease (Covid-19) dan berpotensi sebagian dari masyarakat dunia jatuh sakit. WHO (2020) pandemic corona virus disease bukan hanya berdampak pada dunia kesehatan dan ekonomi, tetapi juga dirasakan oleh dunia pendidikan. Penutupan dan pembelajaran yang di alokasikan ke rumah menimbulkan implikasi terhadap kecerdasan emosional dan spiritual peserta didik seperti motivasi belajar rendah, frustasi, kebosanan, tidak mampu mengendalikan emosi, marah, melebih-lebihkan kesenangan, tidak mampu mengatur suasana hati, dan stres (Goleman, 2003). Kecerdasan emosional bertumpu pada hubungan antara perasaan, watak, dan naluri moral yang mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, kemampuan menyesuaikan diri, kemampuan memecahkan masalah pribadi, mengendalikan amarah serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Anak-anak yang mampu menguasai emosinya akan menjadi lebih percaya diri, optimis, memiliki semangat dan cita-cita. Selain itu mereka akan memiliki kemampuan beradaptasi sekaligus akan lebih baik prestasinya di sekolah yang mampu memahami, sekaligus menguasai permasalahan-permasalahan yang ada. Menurut Goleman,et,al (Kadeni, 2014) kecerdasan emosional (EQ) menyumbang kekuatan 80% terhadap kesuksesan, yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama. Sebagaimana penelitian (Daud, 2012) menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan siginifikan antar kecerdasan emosional terhadap hasil belajar. Kadeni,et.al, menyatakan bahwa kecerdasan emosional sangat penting dalam pembelajaran karena bagaimana upaya mengembangkan seorang anak agar memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi dan sekaligus juga seorang yang sangat manusiawi memiliki kecerdasan emosi yang tinggi pula. Peserta didik dengan keterampilan emosional yang berkembang baik kemungkinan besar akan berhasil dalam pelajaran, menguasai kebiasaan pikiran yang mendorong produktifitas mereka. Tingginya kecerdasan emosional siswa tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan emosionalnya. Kecerdasan emosional dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor internal (faktor pembawaan yang bersifat genetik) dan faktor eksternal (faktor yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan seseorang secara akumulatif sejak kecil seperti pendidikan dan pengalaman yang dimiliki seseorang). Kecerdasan emosional merupakan kemampuan individu untuk beradaptasi secara efektif (Indriyani & Supriyadi, 2013). Adapun Anitha & Jebaseelan,(2014)T menyatakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk berfikir serta melakukan tindakan dan juga gambaran kemampuan mental seseorang baik dalam melakukan pertimbangan, melakukan analisis, sintesis, melakukan evaluasi, dan menyelesaikan permasalahan. Kecerdasan emosional juga merupakan situasi dimana individu mampu mengenali dan mengendalikan perasaan diri sendiri dan orang lain. Termasuk kemampuan mengelola emosi yang dialami atau yang dirasakan dalam menghadapi stressor atau tuntutan. Kecerdasan emosi yang baik akan menyebabkan peserta didik memiliki emosi yang stabil. Emosi yang stabil diwujudkan dengan adanya kemampuan anak untuk mengatasi masalah dengan baik dengan cara menunggu waktu yang tepat untuk mengekspresikan emosi tanpa melanggar moral. Tercapainya kecerdasan emosi yang baik pada anak karena terjadi proses pematangan menuju dewasa. Sehingga anak sudah dapat memilih sesuatu yang menjadi kepentingan pribadinya dan kepentingan umum.

Pembelajaran Variatif

Pada dasarnya dalam kegiatan pembelajaran, pengertian variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan guru, yang disengaja ataupun secara spontan. Yang dimaksudkan dalam hal ini adalah untuk memacu dan mengikat perhatian siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Dalam Kamus Bahasa Indonesia variasi adalah “bentuk lain” atau “selang seling”. Mengutip pendapat Wuest dan Bucher (1995:214) “Learning can be defined as a change in internal state of learner as a result of instruction, experiences, study, and/or practice.” Belajar dapat didefinisikan sebagai suatu perubahan internal yang merupakan hasil pembelajaran, pengalaman, studi, dan praktek. Gage & Berliner (dalam Dimyati dan Mudjiono, 2006:116) menyatakan secara sederhana mengungkapkan bahwa belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang membuat seseorang mengalami perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman yang diperolehnya. Dalam proses belajar mengajar guru sebagai fasilitator harus memiliki strategi yang efektif dan efisien, agar dapat mengoptimalkan kualitas pembelajaran. Salah satu cara untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar. Singer dan Dick (Suherman,2003:34), strategi pembelajaran merupakan sebuah resep yang menerangkan hal-hal yang akan terjadi, dan tahapan-tahapan kejadian, dan lokasinya.
Mengacu pada hal diatas maka ada dua hal yang panting dicermati. Pertama, strategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) termasuk penggunaan metode dan pemanfaatan berbagai sumber daya/kekuatan dalam pembelajaran. Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Bahwa tidak semua strategi pembelajaran cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. Setiap strategi memiliki kekhasan masing-masing. Menurut Sanjaya ( 2009:131-133), pendidik perlu memahami prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran. Yakni 1) Berorientasi pada tujuan, dalam sistem pembelajaran tujuan merupakan komponen yang utama. Segala aktivitas pembelajaran, mestilah diupayakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. 2) Aktivitas, strategi pembelajaran harus dapat mendorong aktifitas peserta didik. Aktivitas tidak dimaksudkan terbatas pada akifitas fisik, akan tetapi juga meliputi aktifitas yang bersifat psikis seperti aktifitas mental. 3) Individualitas, mengajar adalah usaha mengembangkan setiap individu peserta didik. Pada hakikatnya yang ingin dicapai oleh pendidik adalah perubahan perilaku setiap peserta didik 4) Integritas, mengajar bukan hanya mengembangkan kemampuan kognitif saja, akan tetapi juga meliputi pengembangan aspek afektif dan psikomotor. Sehingga, strategi pembelajaran harus dapat mengembangkan seluruh aspek kepribadian peserta didik dengan cara terintegrasi.Selain itu guru perlu memahami bahwa informasi yang dipelajari siswa dari membaca (10%), melihat (30%), melihat dan dengar (50%), mengatakan (70%), mengatakan dan melakukan (90%). Untuk meningkatkan kecerdasan emosionil umumnya para ahli menyarakan belajar berbuat atau berkarya (learning to do). Maksudnya agar seseorang mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka seseorang perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi UNESCO, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah belajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Seiring dengan tuntutan perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks. Artinya menuntut pengembangan SDM dengan cara utuh. Karena itu siswa perlu didorong untuk selalu menggunakan pikirannya dengan baik. Orang yang terbiasa menggunakan pikirannya untuk membangun suatu ide, atau berupaya untuk memecahkan masalah dengan mempertimbangkan sebab akibat atau berpandangan futuristik, biasanya memiliki keterampilan untuk berpikir sistematis. Proses pembelajaran dalam jaringan pada masa covid 19 ini akan membentuk potensi diri seorang siswa juga dipengaruhi oleh banyak hal. Diantaranya kemampuan atau kecerdasan yang berpengaruh dalam membentuk karakter dan potensi yang ada dalam diri setiap siswa. Kecerdasan emosional termasuk potensi yang cukup penting dalam kehidupan seseorang dengan memiliki kecerdasan emosional yang cukup baik, siswa akan menjadi pribadi yang cerdas menghadapi berbagai persoalan dan permasalahan dalam kehidupan. Kecerdasan emosional merupakan perkembangan kecerdasan yang dimiliki oleh seseorang dan sangat perlu diperhatikan. Bentuk perhatian dalam kecerdasan emosional dapat dilakukan oleh guru dengan menerapkan pembelajaran variatif. UNICEF menyampaikan bahwa “seluruh generasi siswa dapat mengalami kerugian pembelajaran dan potensi siswa.” Aktivitas pembelajaran yang dilakukan di kondisi darurat saat ini banyak kalangan mengakui kurang optimal. Dengan demikian, proses pembelajaran masa Covid 19 akan menimbulkan kepribadian yang baru pada siswa. Pada masa ini menyebabkan terganggunya kecerdasan emosional atau bahkan psikologi siswa. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan kecerdasan emosionil siswa dapat dilakukan dengan pembelajaran variatif. Di masa Covid-19 guru dapat melakukan dengan metode zoom meteng, youtibe, Project Based Learning, Daring Method, Luring Method, Home Visit Method, Integrated Curriculum serta Blended Learning Metode blended learning adalah metode yang menggunakan dua pendekatan sekaligus. Mengingat wabah pandemi yang belum tahu pasti kapan berakhir, metode pembelajaran variatif mungkin bisa dijalankan oleh guru sebagi opsi untuk meningkatkan kecerdasan emosinil peserta didik. Menjadi sangat penting dan relevan untuk para guru untuk membekali diri mereka dengan teori dan prinsip pembelajaran daring variatof sebelum melaksanakannya. Guru wajib terus belajar meningkatkan pemahaman dan kompetensinya baik dari sisi media, metode serta materinya. Media adalah terkait dengan platform apa saja yang bisa digunakan guru untuk memastikan pembelajaran daring bisa berjalan dengan baik. Contoh sederhana, maupun platform yang lebih canggih yakni what’sapp, blog, zoom, webex, google meet, messengger, instagram live, youtube live, g suite, moodle, edmudo, dan banyak lagi model yang lain. Berbagai macam platform itu, hanyalah media atau alat untuk memfasilitasi pembelajaran dan bukan penentu keberhasilan utamanya kecerdasan emosiinil. Semoga bermanfaat.(****).

Rujukan:
Aji, R.H. (2020). Dampak Covid-19 Pada Pendidikan di Indonesia: Sekolah, Keterampilan dan Proses Pembelajaran.Journal Sosial dan Budaa. 7(5),395–402
Goleman, D., 2016, Emotional Intelligence Mengapa EL lebih penting daripada IQ. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Kemendikbud. (2020). 68 Juta Siswa Terdampak Pandemi Covid-19. Retrived agustus 12, 2020. From Republika.co.id. http://republika.co.id/berita/gejb7r428 /kemendikbud-68-juta-siswaterdampak-pandemi-covid19
Pink, Daniel H.,2020, Otak Kanan Manusia, Yogyakarta: Think.
Rose, Colin dan Malcolm J. Nicholl,2003, Cara Belajar Cepat Abad XXI, Jakarta: Nuansa.
Sari, Farida Yunita dan Mukhlis, 2011, Hypno Learning: 1 Menit Bikin Gila Belajar dan Siap Jadi Juara, Jakarta: Visimedia, 2011.

Facebook Comments