Esensi Pendidikan dan Anak Belajar dari Kehidupannya

112

Oleh: Nelson Sihaloho

(Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi)

Rasional:

Dorothy Law Nolte, Ph.D, penulis puisi pendidikan menyatakan: Jika anak dibesarkan dengan celaan, Ia belajar memaki. Jika anak dibesarkan dengan permusuhan Ia belajar berkelahi. Jika anak dibesarkan dengan cemoohan Ia belajar rendah diri. Jika anak dibesarkan dengan penghinaan Ia belajar menyesali diri. Jika anak dibesarkan dengan toleransi Ia belajar menahan diri. Jika anak dibesarkan dengan dorongan Ia belajar percaya diri. Jika anak dibesarkan dengan pujian Ia belajar menghargai. Jika anak dibesarkan dengan sebaik–baik perlakuan Ia belajar keadilan. Jika anak dibesarkan dengan rasa aman Ia belajar menaruh kepercayaan Jika anak dibesarkan dengan dukungan Ia belajar menyenangi dirinya. Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan. Jika anak belajar dengan ketentrama Ia belajar berdamai dengan pikiran. Itulah symbol pemikiran Dorothy Law Nolte, yang identik dengan Anak Belajar dari Kehidupannya. Sebagaimana kita ketahui bahwa pendidikan merupakan transformasi nilai yang terintegrasi menjadi karakter (kepribadian). Esensi pendidikan dalam perpektif kajian filosofis, berarti mendasar dan menyeluruh serta transendental. Yang mendasar, menyeluruh, dan transendental dalam pendidikan adalah pembentukan karakter sebagai individu, dalam keluarga, masyarakat, bangsa dan masyarakat global. Tiga sentra pendidikan, yakni keluarga, sekolah dan masyarakat. Interaksi seseorang dengan lingkungan selama hidupnya merupakan proses pendidikan jika mendorong perubahan ke arah pembentukan karakter yang semakin lebih baik. Sehingga pendidikan untuk sebuah bangsa adalah roh atau jiwa yang mampu membangun karakter bangsa itu sendiri.
Kata kunci: esensi pendidikan, belajar dan kehidupan

Sekilas Tentang Dorothy

Dorothy Law Nolte, Ph.D, adalah penulis puisi pendidikan, merupakan seorang pendidik dan ahli konseling keluarga. Nama aslinya adalah Dorothy Louise. Dalam kebudayaan Barat pada umumnya, apabila seorang perempuan menikah maka ia akan menggunakan nama belakang dari nama keluarga sang suami. Dalam kisah Dorothy, Law adalah nama keluarga dari suami pertamanya, Durwood Law. Sedangkan, Nolte adalah nama keluarga dari suami kedua, Claude Nolte. Di Amerika, memakai nama keluarga milik suami pertama dan kedua sekaligus sebenarnya kurang lazim. Namun demikian jugalah cara Dorothy mempertahankan kejelasan sejarah hidupnya. Puisi tulisan Dorothy itu, setelah kemunculan pertamanya di koran pada tahun 1954, menjadi sangat terkenal dan direproduksi di berbagai belahan penjuru dunia. Paling spektakuler adalah tatkala salah satu divisi Abbott Laboratories, Inc., sebuah perusahaan multinasional, mencantumkan puisi itu (serta 10 macam terjemahannya untuk 10 negara tujuan pemasaran yang berbeda) di kemasan produk nutrisi bayi yang terdistribusikan di seluruh dunia tanpa memberi royalti apa-apa kepada sang penulisnya. Dorothy baru mengurus hak intelektual atas puisinya itu pada tahun 1972 namun tetap mengizinkan Abbott untuk terus menggunakan puisi itu dengan cuma-cuma. Dalam sejarah perjalanannya, puisi tersebut sempat direvisi dua kali oleh penulisnya. Pertama, pada awal tahun 1980-an, Dorothy mengubah pronomina tunggal menjadi jamak agar netral, karena bahasa Inggris termasuk bahasa yang berjender (membedakan nomina-pronomina feminin dan maskulin). Pada awalnya, nomina “anak” dan pronominanya dalam puisi ini berbentuk tunggal: “If a child lives with …, he learns ….”.Untuk menetralisir isu gender dalam puisi tersebut, maka akhirnya digantilah pronomina untuk proposisi dasar puisi itu dengan keseluruhan menjadi plural (jamak): “If children live with…, they learn… .”. Perubahan kedua adalah dengan memecah baris tertentu yang terlalu panjang dan kompleks menjadi dua baris, serta menambahkan baris baru seiring perkembangan yang membawa situasi-situasi baru yang perlu direspon. Demikianlah, puisi yang awalnya terdiri dari 14 baris itu kini menjadi 19 baris. Selanjutnya pada tahun 1998 Dorothy menjabarkan puisi itu menjadi sebuah buku yang terdiri dari 19 bab (sesuai jumlah baris dalam puisi). Buku ini ditulis bersama Rachel Harris, dan diberi judul Children Learn What They Live: parenting to inspire values, diterbitkan oleh Workman Publishing Company, New York. Buku tersebut diberi kata pengantar oleh penulis buku Chicken Soup for the Soul, Jack Canfield, yang –menurut pengakuannya sendiri– ternyata sangat dipengaruhi oleh puisi Dorothy tersebut. Sebelum berpulang pada tahun 2005 pada usia 81 tahun, Dorothy Law Nolte telah merampungkan buku yang kedua tentang pendidikan dan pengasuhan remaja, yang juga disusun berdasarkan pola buku pertama. Buku tersebut diberi judul Teenagers Learn What They Live: parenting to inspire integrity and independence, terbit tahun 2002. Sumber searching di google terdapat 6.080.000 results ditemukan tentang Anak Belajar Dari Kehidupannya dengan kecepatan (0,44 seconds). Sebagaimana diposting oleh oleh Antin Soetjipto di 19.51.00 pada Senin, 20 Maret 2017 “Anak-anak Belajar dari Kehidupannya: Nilai-nilai Parenting Klasik Dunia”.Diuraikan bahwa dalam Children Learn What TheyLive Dorothy Law Nolte menggunakan setiap baris puisi klasiknya untuk mengajari kita semua –melalui anekdot dan contoh spesifik–tentang bagaimana cara menerapkan ajaran-ajarannya dalam tindakan sehari-hari.

Esensi Pendidikan

Esensi pendidikan sesungguhnya adalah pembentukan karakter dan seluruh sentra pendidikan harus memilikinya. Pemahaman tentang konsep pendidikan terkadang semakin kabur bahkan esensinya pun seakan hilang. Hal tersebut ditandai dengan adanya kecenderungan makna pendidikan direduksi menjadi pembelajaran. Membicarakan tentang esensi berarti mencari kebenaran yang paling hakiki. Pendidikan merupakan transformasi nilai yang terintegrasi menjadi karakter (kepribadian). Mereka yang memiliki karakter cenderung menampakkan perilaku tingkat normatif yang semakin lebih baik. Esensi pendidikan dalam perpektif kajian filosofis, berarti mendasar dan menyeluruh dan transendental. Pendidikan yang masih memiliki esensinya merupakan kekuatan yang bisa mendorong pemberdayaan seluruh potensi sumberdaya manusia (SDM). Kegagalan pendidikan terjadi karena ada reduksi makna pendidikan menjadi sebatas pembelajaran. Pemaknaan pendidikan harus dikembalikan kepada esensinya. Artinya, pendidik dan tenaga kependidikan harus memelihara agar suasana pendidikan tetap relevan membangun karakter. Kebijakan Merdeka Belajar saat ini memberi kemerdekaan pada setiap unit pendidikan berinovasi dengan menyesuaikan kondisi di mana proses belajar mengajar berjalan, baik sisi budaya, kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infrastruktur. Selain itu kita harus menyiapkan strategi yang tidak akan keluar dari esensi pendidikan, yakni kualitas guru. Teknologi hanya menjadi alat bantu guru untuk meningkatkan potensi mereka, mencari guru-guru penggerak terbaik serta memastikan mereka bisa menjadi pemimpin pembelajaran. Esensi pendidikan harus mengubah konsep pelatihan guru dari model seminar atau lokakarya menjadi pelatihan yang lebih praktis. Esensi merdeka belajar harus dipahami sebagai upaya untuk menggali potensi para guru dalam berinovasi. Teknologi pendidikan sesungguhnya memiliki potensi pemerataan akses atau kesempatan mendapat akses yang setara terhadap materi dan pembelajaran yang sama. Guru juga dituntut untuk mencari materi yang sesuai tingkat kompetensi siswanya. Keberagaman minat maupun kemampuan peserta didik merupakan alasan paling kuat agar pengukuran kinerja siswa tidak boleh dinilai hanya menggunakan angka-angka pencapaian akademik, tetapi juga berbagai macam aktifitas lain termasuk ekstrakurikuler. Kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti oleh siswa hendaknya bisa memuluskan niatnya untuk berprestasi pada event nasioanl. Sebagaimana saat ini prestasi yang diraih oleh siswa pada event nasional akan tercatat di Pusat Prestasi Nasional Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Esensi pembinaan kegiatan ekstrakurikuler harus disinkronkan dengan kebutuhan era industry di masa mendatang. Budaya dan nilai-nilai kearifan local harus digali untuk mendukung serta memperkaya khasanah budaya nasional yang siap go international. Karena itu guru harus memahami dengan mendalam esensi pendidikan dan tetap berkomitmen pada tugas-tugas profesionalismenya. Tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi setiap siswa dan membentuk karakter mereka. Guru harus lebih banyak focus pada pengembangan potensi siswa sebagai bekal mereka menghadapi masa depan. Pendidikan berfungsi tidak hanya mengantarkan siswa menjadi pintar, namun juga harus memiliki budi pekerti. Itulah sebabnya membicarakan pendidikan tak bisa dilepaskan dari peradaban. Siswa juga dihadapkan berbagai kondisi dalam menghadapi tantangan yang berkaitan dengan pendidikan. Diantaranya bagaimana mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan global yang semakin kompetitif. Karena itu di era digital esensi dan makna pendidikan tidak harus berubah, yang berubah adalah pemikiran kita dalam konteks yang dinamis. Sebab dalam pendidikan telah memiliki landasan hukum yang jelas yaitu undang-undang tentang pendidikan nasional. Guru harus bisa memanfaatkan teknologi informasi dalam membangun suasana pembelajaran yang menyenangkan dengan mendorong para peserta didik untuk mencapai prestasi serta kualitas SDM yang lebih bermutu. Perkembangan digitalisasi telah memberikan implikasi yang luas di berbagai bidang termasuk pendidikan. Pada saat teknologi informasi dan komunikasi akan digunakan dalam pendidikan, maka yang akan dikembangkan adalah kecakapan hidup dan cara berfikir. Abad 21 ditandai dengan berkembangnya teknologi informasi yang sangat pesat serta perkembangan otomatisasi dimana banyak pekerjaan yang sifatnya pekerjaan rutin dan berulang-ulang mulai digantikan oleh mesin, baik mesin produksi maupun komputer. Abad ke-21 juga dikenal dengan masa pengetahuan (knowledge age), dalam era ini, semua alternatif upaya pemenuhan kebutuhan hidup dalam berbagai konteks lebih berbasis pengetahuan. Upaya pemenuhan kebutuhan bidang pendidikan berbasis pengetahuan (knowledge based education), pengembangan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge based economic), pengembangan dan pemberdayaan masyarakat berbasis pengetahuan (knowledge based social empowering), dan pengembangan dalam bidang industri pun berbasis pengetahuan (knowledge based industry). Implikasinya bisa kemungkinan bahwa perekonomian global abad ke-21 dikendalikan oleh jaringan teknologi informasi, di mana semua transaksi dilakukan secara online, investasi dan pasar modal dilakukan tanpa melihat gejolak kehidupan nyata, kecuali dengan cara melihat angka-angka di monitor.

Peningkatan Skills

Menghadapi beragam tantangan yang mengemuka di abad 21 peserta didik harus bisa memakani kondisi tersebut sebagai kondisi nyata bagaimana mereka belajar dari kehidupannya. Di abad ke 21, pendidikan menjadi semakin penting untuk menjamin peserta didik memiliki keterampilan belajar dan berinovasi, keterampilan menggunakan teknologi dan media informasi, serta dapat bekerja, dan bertahan dengan menggunakan keterampilan untuk hidup (life skills). Fakta dan kondisi nyata di abad 21 ditandai dengan banyaknya 1) informasi yang tersedia dimana saja dan dapat diakses kapan saja; 2) komputasi yang semakin cepat; 3) otomasi yang menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin; dan 4) komunikasi yang dapat dilakukan dari mana saja dan kemana saja (sumber: Litbang Kemdikbud, 2013). Pemanfaatan TIK di dunia pendidikan, telah membuktikan bahwa semakin menyempitnya dan meleburnya faktor “ruang dan waktu” yang selama ini menjadi aspek penentu kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu pengetahuan oleh umat manusia (sumber: BSNP:2010). Tuntutan perubahan mindset manusia abad 21 menuntut suatu perubahan besar dalam pendidikan nasional. Kemdikbud (2013) menyatakan bahwa, paradigma pembelajaran abad 21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah. Dalam menghadapi pembelajaran di abad 21, setiap orang harus memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi (sumber: Frydenberg & Andone, 2011). Perlu dicermati bahwa kemajuan teknologi telah mempersingkat siklus produksi dan peningkatan produktivitas dengan dramatis. Dalam menghadapi era globalisasi yang menuntut SDM berkualitas maka peran pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah, perlu mendapat perhatian seksama. Gerakan reformasi memberi pengaruh sesungguhnya terhadap kehidupan demokrasi dalam bentuk participating democracy; masyarakat terbuka (open society); masyarakat madani (civil society); pemerintahan yang bersih (clean government); serta kesatuan bangsa. Globalisasi memberi pengaruh terhadap persaingan dalam kerja sama regional dan internasional yang mengharuskan adanya SDM unggul guna menghadapi persaingan kompetitif. Berkaitan dengan hal tersebut aspek yang perlu diperhatikan adalah bagaimana agar kurikulum yang diterapkan tidak terlampau berat (overloaded), proses belajar mengajar yang tidak demokratis; pendidikan yang terlepas dari kebudayaan, sehingga menghasilkan peserta didik yang tidak memahami kebudayaannya sendiri. Identitas bangsa perlu dipertahankan, karena global culture terjadi dari adanya local culture; dan (5) peningkatan profesionalisme guru, mengingat era globalisasi dan era industry 4.0 adalah era profesionalisme. Paradigma baru pendidikan harus didasarkan atas asumsi bahwa manusia memiliki kemampuan tidak terbatas untuk belajar (limitless capacity to learn) dan dengan demikian memiliki kemampuan luar biasa untuk mencipta dan produktif. Kerangka pikir bahwa dengan harapan tiada terbatasnya bakat setiap orang, setiap orang memiliki keunikan keragaman yang seharusnya dipandang sebagai kekuatan, bukan suatu deficit. Karena itu harus dirancang integritas belajar (integrity of learning) sebagai proses pembelajaran yang holistik sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Intinya peningkatan ketrampilan (skills) merupakan hal yang paling utama dan mendasar dilakukan sehingga kemampuan peserta didik dalam menghadapi Abad 21 semakin lebih baik.
Era revolusi industri 4.0 memiliki tantangan sekaligus peluang terhadap lembaga pendidikan. Syarat maju dan berkembang lembaga pendidikan harus memiliki daya inovasi serta dapat berkolaborasi. Di era Revolusi Industri 4.0, sistem pendidikan diharapkan dapat mewujudkan perserta didik memiliki keterampilan yang mampu berfikir kritis dan memecahkan masalah, kreatif dan inovatif serta ketrampilan komunikasi dan kolaborasi. Juga keterampilan mencari, mengelola dan menyampaikan informasi serta trampil menggunakan informasi dan teknologi sangat dibutuhkan (sumber: Eko Risdianto, 2019:4).

Kreatifitas dan Kecakapan Hidup

Optimalisasi pengembangan kecerdasan peserta didik tidak akan terjadi apabila sekolah tidak mengubah proses pembelajaran dan pendidikan. Perubahan paradigma mutu pendidikan memerlukan kerjasama dan komitmen yang tinggi terhadap mereka yang terlibat secara langsung dalam proses pendidikan baik sekolah, siswa, guru dan orangtua. Sekolah perlu mengkondisikan sesuai dengan tuntutan perubahan sehingga upaya untuk menghasilkan generasi mendatang yang lebih kompetitif, mampu berjuang serta dapat bertahan di tengah arus global dapat terwujud. Pergeseran proses pembelajaran sangat sulit dilakukan apabila gurunya tidak kreatif. Membudayakan kreatifitas dengan cara operasional berarti membangun masyarakat kearah yang lebih baik serta menjadikan kreativitas sebagai kebiasan. Guru yang kreatif mampu membentuk kreatifitas pada siswa dengan menumbuhkan kemampuan siswa untuk membangun masa depan yang lebih baik. Mampu menumbuhkan rasa percaya diri, menumbuhkan rasa mampu mengubah keadaan. Mampu meminta kreatifitas siswa, menyediakan peluang berbuat kreatif, menumbuhkan semangat belajar dan mengetahui serta mencoba hal-hal baru sertavtoleran terhadap kesalahan. Csikszentmihalyi (dalam Munandar, 2000: 51) menyatakan orang-orang yang kreatif adalah mereka yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk menyesuaikan diri ter- .hadap hampir situasi dan untuk melakukan apa yang perlu untuk mencapai tujuannya. Karena itu pengembangan kreatifitas merupakan modal penting untuk seseorang agar mampu beradaptasi harus segera diupayakan untuk dikembangkan oleh semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan dan pembelajaran anak bangsa. Studi Gray sebagaimana dikutip oleh Arieti (Munnandar, 1999:176-181) mengemukakan sembilan faktor sosioku1tural yang creativogenic, (I) tersedianya sarana kebudayaan, (2) keterbukaan dan ransangan, (3) penekanan pada “becoming”, (4) memberi kesempatan untuk bebas terhadap mediakebudayaan bagi semua warga tanpa diskriminasi, (5) timbulnya kebebasan atau paling tidak hanya ada diskriminasi ringan setelah pengalarnan tekanan dan tindakan yang keras, merupakan tantangan terhadap pertumbuhan kreativitas, (6) keterbukaan terhadap ransangan kebudayaan yang berbeda, bahkan yang kontras, (7) toleransi dan minat terhadap pandangan yang divergen, (8) interaksi antar pribadipribadi yang berarti, dan (9) insentif, penghargaan dan hadiah. Mengutip Brolin (1989) menyatakan kecakapan hidup sebagai kontinum pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk berfungsi secara independen dalam kehidupan. Tim Broad-Based Education (2002) menafsirkan kecakapan hidup sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan kehidupan secara wajar tanpa tertekan, kemudian proaktif dan kreatif serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya Kecakapan hidup dapat dipilah menjadi lima yaitu: pertama, kecakapan mengenal diri (self awarness) atau kecakapan personal (personal skill). Kedua, kecakapan berpikir rasional (thinking skill), Ketiga, kecakapan sosial atau kecakapan interpersonal (social skill). Keempat, kecakapan akademik (academic skill atau AS) yang seringkali juga disebut kemampuan berpikir ilmiah (scientific method) serta kelima, kecakapan vokasional (vocational skill atau VS) disebut pula dengan keterampilan kejuruan, artinya keterampilan yang dikaitkan dengan bidang pekeIjaan tertentu yang terdapat di masyarakat (Depdiknas, 2002). Dengan memiliki kecapakan hidup, peserta didikn tidak hanya mampu dan siap menghadapi berbagai persoalan kehidupan, tetapi juga mampu memberdayakan dirinya secara maksimal. Disimpulkan, meski transformasi teknologi dalam pendidikan semakin mencuat dan mengemukan esensi pendidikan tidak harus berubah. Biarkanlah anak belajar dari kehidupannya dengan kreatifitas yang mereka miliki serta berkembang sesuai dengan kecakapan hidup yang mereka miliki. Semoga Bermanfaat.

Rujukan:
Dryden, G., dkk. (2000). Revolusl Cara Belajar. Bandung: Mizan Media Utama
Munandar, U. (1999). Kreatlvltas dan Keberbakatan. Jakarta: Gramedia
Poxon, B., Coupar, W., Findlay, J., Luckhurst, D., Stevens, R., & Webster, J. 2007. Using Soft People Sills to Improve Worker Involvement in Health and Safety. Prepared by the Involvement and Participation Association for the Health and Savety Executive.
Suyanto, M. 2005, Smart in Leadership; Belajar dari Kesuksesan Pemimpin Top Dunia, Yogyakarta
Trilling, Bernie and Hood, Paul. 1999. Learning, Technology, and Education Reform In The Knowledge Age, (Online), (https://www.wested.org/online_pubs/ learning _technology.pdf.), diakses tanggal 11 Mei 2016

Facebook Comments