Berpikir Realitas Kunci Asesmen Kompetensi Minimum?

306

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional

Pada tahun 2021 Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menyelenggarakan model penilaian baru sebagai pengganti Ujian Nasional (UN).

PenggantiUN itu adalah Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) dan Survei Karakter. Sebagaimana diketahui bahwa asesmen tidak dilakukan berdasarkan mata pelajaran atau penguasaan materi kurikulum seperti yang selama ini diterapkan dalam UN. Melainkan melakukan pemetaan terhadap dua kompetensi minimum siswa, yakni dalam hal literasi dan numerasi.

Salah satu indikator yang menjadi acuan di Kemendikbud adalah Programme for International Student Assessment (PISA). PISA sebagai metode penilaian internasional merupakan indikator untuk mengukur kompetensi siswa Indonesia di tingkat global. Data organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) mencatat, peringkat nilai PISA Indonesia berdasarkan survei tahun 2018 yakni membaca (peringkat 72 dari 77 negara), matematika (peringkat 72 dari 78 negara), dan sains (peringkat 70 dari 78 negara). Nilai PISA Indonesia juga cenderung stagnan dalam 10-15 tahun terakhir. Akankah model penilaian baru AKM tersebut kelak akan benar-benar difokuskan pada literasi, numerasi, pendidikan karakter?. Akankah penilaian AKM akan mampu menjawab tantangan zaman serta mempersiapkan peserta didik menghadapi masa depan?.

Literasi Global

Kini dunia dilanda berbagai gelombang besar dibidang literasi digital. Dunia digital mengajarkan kita untuk berhati-hati dalam memanfaat sumber informasi-informasi yang tiap detik masuk dalam jaringan internet. Banyaknya informasi-informasi teknologi digital menggambarkan bahwa masyarakat dunia kini berhadapan dengan digital global.

Teknologi digital juga merambah sector pendidikan termasuk dalam penilaian yakni Asesmen Komptensi Minimum (AKM). Sebuah model penilaian baru bahwa asesmen tidak dilakukan berdasarkan mata pelajaran atau penguasaan materi kurikulum sebagaimana selama ini diterapkan pada UN. Bila benar penilaiannya dilakukan melalui pemetaan terhadap dua kompetensi minimum siswa, yakni dalam hal literasi dan numerasi berkemungkinan besar siswa dihadapkan untuk menyerap informasi yang berkembang. Secara etimologis istilah literasi sendiri berasal dari bahasa Latin “literatus” artinya adalah orang yang belajar. Literasi sangat berhubungan dengan proses membaca dan menulis, yakni kemampuan seseorang dalam mengolah dan memahami informasi saat melakukan proses membaca dan menulis. Dalam perkembangannya, definisi literasi selalu berevolusi sesuai dengan tantangan zaman. Jika dulu definisi literasi adalah kemampuan membaca dan menulis. Saat ini, istilah literasi sudah mulai digunakan dalam arti yang lebih luas. Dan sudah merambah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan sosial dan politik.

Perlu dipahami bahwa literasi tidak hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis. Literasi bisa diartikan melek teknologi, politik, berpikir kritis, dan sensitif terhadapi lingkungan sekitar. Mengutip Kirsch&Jungeblut dalam buku Literacy: Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Intinya bahwa kesadaran berliterasi akan mendukung secara signifikan keberhasilan seseorang dalam menangani berbagai persoalan.

Dengan kemampuan literasi yang dimilikinya, seseorang tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan tetapi juga bisa mendokumentasikan sepenggal pengalaman yang menjadi rujukan di masa yang akan datang. Menurut May (2017: 640-647) dalam sebuah tulisannya di Harian Kompas (edisi 1 Juni 2016) menyatakan bahwa baca tulis termasuk kemampuan strategis yang harus dimiliki apabila ingin menjadi bangsa yang maju. Adapun Wells sebagaimana dikutip Heryati, dkk (2010:46) menyatakan terdapat empat tingkatan literasi yakni performative, functional, informational, dan epistemic.

Literasi tingkatan pertama adalah sekadar mampu membaca dan menulis. Literasi tingkatan ke dua adalah menunjukkan kemampuan menggunakan bahasa untuk keperluan hidup atau skill for survival (seperti membaca manual, mengisi formulir, dan sebagainya). Literasi tingkatan ke tiga adalah menunjukkan kemampuan untuk mengakses pengetahuan. Literasi tingkatan ke empat menunjukkan kemampuan mentransformasikan pengetahuan. Literasi merupakan kecakapan hidup yang menjadikan manusia berfungsi maksimal dalam masyarakat. Kecakapan hidup bersumber dari kemampuan memecahkan masalah melalui kegiatan berpikir kritis.

Numerasi Dalam Pembelajaran
Secara sederhana, numerasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk mengaplikasikan konsep bilangan dan keterampilan operasi hitung di dalam kehidupan sehari-hari. Contoh kecil saat berada di rumah, pekerjaan, dan partisipasi dalam kehidupan masyarakat juga sebagai warga negara.

Atau kemampuan untuk menginterpretasi informasi kuantitatif yang terdapat di sekeliling kita. Kemampuan ini ditunjukkan dengan kenyamanan terhadap bilangan dan cakap menggunakan keterampilan matematika secara praktis untuk memenuhi tuntutan kehidupan.Jika ketiga hal ini dilakukan dengan baik maka ke depan pendidikan kita semakin berkembang dan menjadi lebih bermutu.

Banyak kalangan menyatakan bahwa kemampuan numerasi tidak lepas kemampuan matematika dan berhitung yang dimiliki seseorang. Dan pemikiran numerasi ini diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan kontekstual sehari-hari karena pada hakikatnya persoalan matematika memang berguna untuk melatih kreatifitas dalam menemukan strategi pemecahan problematika yang tepat, menstimulasi kognisi manusia dalam mengeksplorasi ide-ide, serta memperkuat daya nalar yang dikaitkan dengan konsep data dan fakta.

Rendahnya keinginan untuk belajar matematika masih menghantui para siswa dan siswi. Matematika dianggap tidak dibutuhkan dalam kehidupan dan sangat minim peminatnya. Penerapan dalam memahami banyak dianggap sulit oleh sebagian kalangan, padahal sangat besar manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari. Sebenarnya penanaman pemahaman literasi dapat diterapkan ke dalam 3 aspek yakni pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Keluarga harus mampu mengawal, mendidik, dan membimbing anaknya agar tumbuh menjadi pribadi yang unggul dalam proses pendidikan.

Lingkungan keluarga sebagai pendidikan pertama yang dienyam oleh anak dapat dianalogikan seperti lahan kosong dimana anak sebagai bibit yang hendak ditanam pada suatu lahan. Contoh penerapan literasi numerasi di lingkungan keluarga dapat ditanamkan pada anak dalam kehidupan sehari-hari. Melibatkan anak dalam melakukan transaksi jual beli, memperhatikan jarak dan waktu tempuh saat bepergian seta membaca resep masakan dan pengukuran bahan. Sekolah sebagai lembaga pendidikan baik formal maupun informal dirancang untuk memberikan pengajaran dan pendidikan terhadap anak

Lingkungan sekolah memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan pribadi maupun pola pikir anak. Beberapa penerapan literasi numerasi di lingkungan sekolah dapat ditanamkan pada anak dalam kehidupan sehari-hari. Diantaranya mengaplikasikan mental aritmetika dan jarimatika dalam menghitung,

mengaplikasikanpermainan tradisional dalam mengajarkan numerasi seperti dakon, ular tangga, monopoli, bola bekel, engklek. Untuk menghitung tinggi badan, berat badan, dan umur siswa, membuat gambar denah sekolah atau desa serta membuat miniatur rumah atau jembatan dengan hitungan angka.

Lingkungan masyarakat merupakan tempat kita untuk bersosialisasi dengan orang lain karena hakikatnya manusia merupakan mahluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Lingkungan masyarakat juga menjadi wadah untuk menerapkan ilmu-ilmu yang sudah dipelajari di lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah.

Beberapa penerapan dan pembelajaran literasi numerasi di dalam lingkungan masyarakat dapat kita lihat dalam kehidupan sehari-hari. Contoh Rapat Anggota Koperasi, Pembentukan Ronda Malam Sistem Keamanan Lingkungan.

Pendidikan Karakter dan Literasi Digital

Pendidikan karakter adalah suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu terhadap peserta didik. Dimana indicator di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut.

Pendidikan karakter adalah suatu usaha manusia secara sadar dan terencana untuk mendidik dan memberdayakan potensi peserta didik guna membangun karakter pribadinya sehingga dapat menjadi individu yang bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungannya.

Begitu juga dengan literasi digital, kini semakin maju dan berkembang lebih dinamis. Semua Negara berupaya menjadi yang terbaik menjadi terdepan dalam literasi digital. Adalah Paul Gilster pertama kali mengemukakan istilah literasi digital (digital literacy) dalam bukunya yang berjudul sama (Gilster, 1997 dalam Riel, et. al. 2012:3). Riel, et.al, mengemukakan literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi dan informasi dari piranti digital secara efektif dan efisien dalam berbagai konteks seperti akademik, karir dan kehidupan sehari-hari. Gilster seolah-olah menyederhanakan media digital yang sebenarnya terdiri dari berbagai bentuk informasi sekaligus seperti suara, tulisan dan gambar. Eshet (2002) menekankan bahwa literasi digital seharusnya lebih dari sekadar kemampuan menggunakan berbagai sumber digital secara efektif.

Literasi digital juga merupakan sebentuk cara berpikir tertentu. Adapun Bawden (2001) menawarkan pemahaman baru mengenai literasi digital yang berakar pada literasi komputer dan literasi informasi.

Literasi komputer berkembang pada dekade 1980-an ketika komputer mikro semakin luas dipergunakan tidak saja di lingkungan bisnis namun juga masyarakat. Sedangkan literasi informasi menyebarluas pada dekade 1990-an tatkala informasi semakin mudah disusun, diakses, disebarluaskan melalui teknologi informasi berjejaring.

Dengan sederhana literasi komputer diartikan sebagai alat bagi organisasi, komunikasi, penelitian dan pemecahan masalah. Mengutip Shapiro dan Hughes (1996) mengemukakan bahwa literasi komputer terdiri dari tujuh komponen. Pertama, literasi alat yakni kompetensi menggunakan piranti lunak dan keras.    Ke  dua, literasi sumber yakni pemahaman tentang berbagai sumber bentuk, akses dan informasi. Ke tiga, literasi sosial-struktural merupakan pemahaman mengenai cara produksi dan manfaat informasi secara social. Ke empat, literasi penelitian merupakan penggunaan teknologi informasi untuk penelitian dan pengetahuan. Ke lima literasi penerbitan yakni kemampuan berkomunikasi dan menerbitkan informasi. Ke enam, literasi teknologi baru merupakan pemahaman mengenai perkembangan teknologi informasi. Ke tujuh, literasi kritis merupakan kemampuan untuk mengevaluasi manfaat teknologi baru.
Adapun literasi informasi dipelopori oleh para pustakawan untuk merumuskan penggunaan baru perpustakaan. Society of College, National, and University Libraries di UK (SCONUL: 2006 dalam Martin, 2008), menyebutkan literasi informasi menyangkut tujuh aspek.

Ketujuh aspek tersebut yakni pertama, mengenali informasi yang dibutuhkan. Ke dua, menentukan cara untuk menyelesaikan kesenjangan informasi. Ke tiga, mengkonstruksi strategi untuk mendapatkan informasi. Ke empat, mencari dan mengakses, ke lima, membandingkan dan mengevaluasi. Ke enam, mengorganisir, melaksanakan dan berkomunikasi serta ke tujuh, meringkas dan menciptakan.

Bawden, et.al, menyebutkan bahwa digital literasi menyangkut beberapa aspek. Yakni pertama, perakitan pengetahuan yaitu kemampuan membangun informasi dari berbagai sumber yang terpercaya. Ke dua, kemampuan menyajikan informasi termasuk di dalamnya berpikir kritis dalam memahami informasi dengan kewaspadaan terhadap validitas dan kelengkapan sumber dari internet.

Ketiga, kemampuan membaca dan memahami materi informasi yang tidak berurutan (non sequential) dan dinamis. Ke empat, kesadaran tentang arti penting media konvensional dan menghubungkannya dengan media berjaringan (internet).

Ke lima, kesadaran terhadap akses jaringan orang yang dapat digunakan sebagai sumber rujukan dan pertolongan. Ke enam, penggunaan saringan terhadap informasi yang datang serta ke tujub, merasa nyaman dan memiliki akses untuk mengkomunikasikan dan mempublikasikan informasi.
Buckingham (2007) menyatakan bahwa digital literasi juga berkaitan dengan empat komponen penting yakni representasi, bahasa, produksi dan khalayak. Representasi, sebagaimana media lain, media digital merepresentasikan dunia bukan semata-mata merefleksikan dunia itu sendiri. Bahasa, individu tidak saja dituntut mampu berbahasa namun juga memahami aneka kode dan konvensi pada berbagai genre konten.

Produksi, literasi juga berkaitan dengan pemahaman mengenai siapa yang berkomunikasi kepada siapa dan mengapa. Khalayak, hal ini terkait dengan posisi khalayak yaitu pemahaman tentang bagaimana media menempatkan, menarget dan merespon khalayak termasuk di dalamnya cara-cara media digital mendapatkan informasi dari khalayak berkaitan dengan isu privasi dan keamanan pengguna. Buckingham,et.al menekankan pemahaman konten digital dan kemampuan khalayak memeriksa keamanan dan privasi penggunaan media digital.

Bila merujuk pada hal diatas maka literasi memiliki tujuh dimensi yang berurusan dengan penggunaan bahasa. Dimensi geografis meliputi daerah lokal, nasional, regional, dan internasional. Literasi ini bergantung pada tingkat pendidikan dan jejaring sosial.

Kemudian dimensi bidang meliputi pendidikan, komunikasi, administrasi, hiburan, militer, dan lain sebagainya. Literasi ini mencirikan tingkat kualitas bangsa dibidang pendidikan, komunikasi, militer, dan lain sebagainya.

Dimensiketrampilan meliputi membaca, menulis, menghitung, dan berbicara. Literasi ini bersifat individu dilihat dari tampaknya kegiatan membaca, menulis, menghitung, dan berbicara. Dalam teradisi orang barat, ada tiga ketrampilan 3R yang lazim diutamakan seperti reading, writing, dan arithmetic. Selanjutnya adalah dimensi fungsi, literasi untuk memecahkan persoalan, mendapatkan pekerjaan, mencapai tujuan, mengembangkan pengetahuan, dan mengembangkan potensi diri. Kemudian dimensi media, (teks, cetak, visual, digital) sesuai dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat, begitu juga teknologi dalam media literasi.

Dimensi jumlah, kemampuan ini tumbuh karena proses pendidikanyang berkualitas tinggi. literasi seperti halnya kemampuan berkomunikasi bersifat relatif. Dimensi bahasa, (etnis, lokal, internasional) literasi singular dan plural, hal ini yang menjadikan monolingual, bilingual, dan multilingual. Ketika seseorang menulis dan berlitersi dengan bahasa dearah, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, maka ia disebut seseorang yang multilingual.

Dengan demikian jelas bahwa Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) meski merupakan bentuk penilaian model baru yang akan diberlakukan pada tahun 2021 kunci utamanya adalah berpikir realitis. Apabila soal yang diujikan kelak dalam bentuk asesmen karakter peserta didik harus mampu melakukan dan menjalankan karakternya di masyarakat.

Jika benar jujur di masyarakat juga harus benar-benar mempraktekkan kejujuran dalam segala hal. Termasuk apabila suvey karakter dilakukan diam-diam tanpa sepengetahuan peserta didik ternyata karakternya bertolak belakang dengan fakta sesungguhnya.

Bisa jadi AKM peserta didik yang bersangkutan meskipun tinggi bisa hasil survey karakternya rendah. Semoga sistim AKM dan survey karakter mampu meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan kita kea raj yang lebih baik. Selamat Hari Guru Nasional (HGN) dan HUT PGRI ke 75 Tahun 2020. Semoga Bermanfaat.

 

(Penulis: Guru SMPN 11 Kota Jambi)

Rujukan:
1. Bawden, D. (2001). Information and digital literacies: a review of concepts. Journal of documentation, 57(2), 218-259.
2. Buckingham, D. (2007). Digital Media Literacies: rethinking media education in the age of the Internet. Research in Comparative and International Education,2(1), 43-55.
3. Riel, J., Christian, S., & Hinson, B. (2012). Charting digital literacy: A framework for information technology and digital skills education in the community college.
4.http://www.unesco.org/new/en/education/themes/education-building-blocks/literacy/
5.http://www.unesco.org/education/GMR2006/full/chapt6_eng.pdf
6.https://www.edc.org/newsroom/articles/what_literacy
7. http://ezinearticles.com/?The-Need-For-Literacy&id=6945882

Facebook Comments