Meningkatkan Potensi Anak dengan Kompetisi

360

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional

Albert Einstein pernah berkata “Everybody is a genius. But if you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing it is stupid.”
Yang artinya, ‘setiap orang itu jenius. Namun, jika ikan dinilai dari kemampuan memanjat pohon, maka sepanjang hidupnya ikan itu akan menganggap dirinya bodoh”.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah maupun pihak sekolah untuk menggali potensi peserta didik serta upaya meningkatkan mutu sekolah.

Salah satu tugas yang paling sulit adalah menggali serta mengembangkan potensi peserta didik. Beberapa sekolah saat ini sedang konsentrasi dalam pengembangan potensi peserta didik khusus untuk event kompetisi nasional. Kompetisi seperti Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N, Olympiade Siswa Nasional (OSN), Gala Siswa Nasional, Kompetisi Olah Raga Siswa Nasional (KOSN) serta berbagai kompetisi lainnya. Pengembangan potensi diri peserta didik pihak sekolah umumnya menyediakan beberapa pilihan yang dipusatkan dalam pendidikan ekstrakurikuler. Namun dalam pelaksanaannya dilapangan peserta didik kurang diarahkan untuk memilih ekstrakurikuler yang benar-benar diminati dan sesuai dengan bakatnya.

Bahkan paradigma kompetisi tidak bisa dilepaskan dalam sistem pendidikan yakni harus lulus seleksi. Sebelum Masa Pandemic Covid-19 banyak menjamur kegiatan lomba seperti mewarnai, debat, pidato atau yang menjadi favorit banyak sekolah, guru, murid dan orang tua termasuk OSN. Peserta didik berpacu untuk menjadi yang terbaik dimana kadangkala keberhasilan mencapai target menuai pujian serta mendapatkan berbagai hadiah. Ketidakberhasilan kerap kali berujung pada perasaan telah menjadi peserta didik yang gagal.

Dua Sisi
Dalam kompetisi hanya ada dua sisi yakni menang dan kalah; yang berhasil dan yang gagal. Dalam hal bagaimanapun menjadi pemenang selalu paling membanggakan. Namun kadang-kadang bisa saja menimbulkan hal-hal negative. Menganggap pesaing sebagai pihak yang menghambat keberhasilan dan harus dikalahkan. Hal demikian akan membawa efek buruk terhadap hubungan sosial di antara peserta didik.

Mengejar impian menjadi pemenang juga sering menjadikan seorang peserta didik menjadi egois dan tidak peduli pada keadaan orang lain yang menjadi pesaingnya. Umumnya peserta didik yang kalah dalam sebuah kompetisi apabila tidak diberi arahan dengan benar akan menganggap dirinya telah gagal. Apalagi mereka sudah bekerja keras mempersiapkan diri sebelum perlombaan, namun gagal mencapai target. Maka kecenderungan untuk menganggap bahwa kerja kerasnya menjadi sia-sia saja berpotensi untuk tidak lagi mempercayai nilai-nilai ketekunan dalam belajar.

Seringkalikompetisi akan memperbesar jurang perbedaan kebutuhan belajar peserta didik dan memupuk sikap-sikap individualistis secara negatif. Sering terlihat jelas perlakuan berbeda terhadap peserta didik yang berprestasi di sekolah dengan yang tidak berprestasi. Label “pintar” “cerdas” “hebat” akan disematkan terhadap mereka yang memiliki prestasi bagus. Banyak kalangan mengakui bahwa sistem kompetisi memang masih cukup mendapatkan tempat dalam konteks pendidikan global. Negara-negara yang menganut paham ini sangat menjunjung tinggi ajang kompetisi di kalangan pelajar melalui kegiatan olimpiade. Indonesia adalah salah satunya.

Sedangkan negara Finlandia adalah salah satu yang tidak mendukung sistem ini. Mereka mengadopsi model kooperatif dalam pendidikan. Sistem kooperatif membuka ruang luas terhadap tiap individu untuk mengambil peran dalam setiap kegiatan atau project. Kebersamaan inilah yang pada akhirnya menanamkan nilai kesetaraan. Peserta didik akan sama-sama menganggap setiap orang penting (equally important) dan memiliki peran.

Hakikat Kompetisi

Mengutip Bernstein, Rjkoy, Srull & Wickens (1988) mengatakan bahwa kompetisi terjadi ketika individu berusaha mencapai tujuan untuk diri mereka sendiri dengan cara mengalahkan orang lain. Sacks&Krupat (1988) mendefinisikan kompetisi adalah usaha untuk melawan atau melebihi orang lain. Adapun Hendropuspito (1989) mengatakan bahwa persaingan atau kompetisi ialah suatu proses sosial, di mana beberapa orang atau kelompok berusaha mencapai tujuan yang sama dengan cara yang lebih cepat dan mutu yang lebih tinggi. Intinya secara sederhana kompetisi dimaknai sebagai aktivitas dalam mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Individu atau kelompok yang berkompetisi, tergantung pada struktur reward dalam suatu situasi. Salah satunya adalah competitive reward structure dimana tujuan yang dicapai seseorang memiliki hubungan negative.

Artinya ketika kesuksesan telah dicapai oleh satu pihak maka pihak lain akan mengalami kekalahan. Hal ini disebut Deutsch’s (Wrightsman,1993) sebagai Competitive Interdependence. Prinsip the survival of the fittest (yang bertahan adalah yang bermutu paling baik) kemudian dikembangkan sebagai landasan dari semua bentuk persaingan. Kompetisi dalam memperebutkan sumber daya tidak akan menimbulkan konflik apabila sumberdaya tersedia secara berlimpah sehingga masing-masing sub unit dapat memanfaatkannya sesuai dengan kebutuhannya.

Akan tetapi ketika sumberdaya yang ada tidak cukup untuk memenuhi tuntutan dari masing-masing sub unit atau kelompok, maka masing-masing sub unit atau kelompok berupaya untuk mendapatkan porsi sumberdaya yang langka tersebut lebih besar dari orang lain dan konflik mulai muncul.

Manfaat persaingan tidak hanya berlaku untuk bisnis ataupun pekerjaan termasuk dalam kehidupan pribadi. Diantaranya membuat kita tetap waspada, membantu menilai kekuatan dan kelemahan. Membantu kita untuk lebih kreatif, membantu mengelola kesuksesan dan kegagalan. Meningkatkan kualitas hidup, menjadikan kita lebih tekun termasuk dalam membantu kita melakukan perencanaan jangka panjang.

Bagaimana Menghadapi Kompetisi

Mungkin saja banyak kalangan pendidik memiliki gelar akademik S2 (Magister) atau S3 (Doktor) dari Perguruan Tinggi ternama ditunjuk sebagai pembinan dalam suatu kompetisi. Bahkan selama puluhan tahun membina peserta didik satu kalipun peserta didiknya tidak pernah lolos level (tingkat) nasional.

Sering kali kita kurang mau belajar dengan sekolah-sekolah yang berhasil dalam berkompetisi. Sekolah-sekolah swasta bonafide yang didukung dengan sumber daya finansial seringkali mampu berkiprah dalam kompetisi internasional.Sebuah pembelajaran mengingatkan kita bahwa pada akhirnya sekolah yang benar-benar mempersiapkan peserta didiknya dengan baik akan menuai hasil yang lebih baik. Kompetisi merupakan persaingan yang menunjuk kepada kata sifat siap bersaing dalam kondisi nyata dari setiap hal ataupun aktivitas yang dijalani. Ketika kita bersikap kompetitif, maka berarti kita memiliki sikap siap serta berani bersaing dengan orang lain. Dalam arti positif dan optimis, kompetisi bisa diarahkan kepada kesiapan dan kemampuan untuk mencapai kemajuan dan kesejahteraan kita sebagai umat manusia. Kompetisi seperti ini merupakan motivasi diri sekaligus faktor penggali dan pengembang potensi diri dalam menghadapi bentuk-bentuk kompetisi, sehingga kompetisi tidak semata-mata diarahkan untuk mendapatkan kemenangan dan mengalahkan lawan.

Dengan memaknai kompetisi seperti itu, kita menganggap kompetitor lain sebagai partner (bukan lawan) yang memotivasi diri untuk meraih prestasi. Jika sudah demikian bagaimana cara kita menghadapi persaingan.

Pertama, bersikap dan berjiwa besar dengan berani menerima kenyataan serta mengakui kelebihan orang lain.

Kedua, menghargai dan mengapresiasikan kerja orang lain

ketiga, menghindari kesombongan atas keberhasilan diri.

Keempat, menghindari upaya dan cara yang tidak benar, tidak adil dan merugikan orang lain dalam berkompetisi.

Kelima, menumbuhkan sifat cinta damai, anti kekerasan dalam menyelesaikan masalah.

Ke enam, menjadikan orang lain sebagai partner, bukan lawan yang harus dikalahkan atau dihancurkan, tetapi sebagai motivator dan kompetitor dalam berprestasi.

Gali Potensi ke Kompetisi

Sebelum memasuki kompetisi yang sesunguhnya, potensi peserta didik harus terlebih dahulu digali. Dan hasil penggalian potensi akan tampak hasilnya. Peserta didik yang benar-benar berpotensi harus dibina dan dipoles. Perlu digarusbawahi bahwa hasil penggalian potensi hasilnya tidak ada yang instan dan harus melalui proses yang panjang.

Potensi peserta didik akan semakin dahsyat apabila terus menerus kota poles. Bahwa setiap orang punya potensi masing-masing. Potensi bisa terlihat dari bakat, minat, hobi, dan kecenderungan kita dalam melakukan sesuatu.

Kedua, bersikap positif atas potensi yang dimiliki. Karena di sanalah jalan sukses akan terbentang.

Ketiga, kita harus membuang jauh-jauh prasangka negatif atas kelemahan diri.

Keempat, kembangkanlah potensi diri kita karena kesuksesan selalu berangkat dari hal-hal yang sederhana.

Ke lima, kesuksesan selalu berangkat dari hal-hal yang sederhana yang terus dikembangkan hingga menjadi luar biasa. Seseorang yang mengetahui secara pasti apa yang ingin dicapainya secara umum akan memiliki kemandirian dan self-regulation yang lebih baik.

Peserta didik juga harus dibantu untuk menemukan potensinya. Dengan menemukan potensinya kita baru bisa mengarahkannya untuk memperdalam kemampuannya agar bisa berprestasi dan menjadi profesi di masa depan sekaligus membawa perubahan dalam lingkup yang lebih besar.

Mengikuti kegiatan ekstrakurikuler adalah cara termudah peserta didik untuk mengasah potensinya. Meskipun tampak sederhana, kegiatan ekskul mengajari peserta didik bahwa hobi tidak sekadar bersenang-senang, namun ada ilmunya, ada tujuannya.

Mengikuti kompetisi akan membuka pandangan remaja akan dunia luar rumah dan sekolah yang kelak akan dihadapinya. Melatih kepercayaan diri, belajar menerima kekalahan, mengukur kemampuan, mengetahui pentingnya evaluasi, bisa menjadi poin penting yang diperoleh remaja dari kompetisi.Kemudian bisa mengikuti kursus.

Kursus atau les saat ini tidak hanya mengenai pelajaran di sekolah. Kelas akting, fotografi, klub olahraga, belajar programming untuk anak pun banyak tersedia.

Kemudian membuat karya, apabila remaja terlihat cukup produktif membuat sesuatu berdasarkan hobinya, perlu dimotivasi untuk menjadi produktif selama yang bersangkutan bisa tetap bertanggung jawab dengan aktivitas belajar di sekolah. Bisa juga dilakukan dengan mengunjungi event. Saat ini banyak event yang diadakan untuk menggali potensi peserta didik dan memberi ruang terhadap mereka  untuk berekspresi. Itulah sebabnya mengetahui dengan baik “peta” menuju masa depannya, peserta didik cenderung lebih mudah menggunakan logikanya ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan penting dalam hidupnya.

Karena itu peserta didik perlu mendapatkan gambaran nyata tentang pentingnya mengasah potensi menjadi prestasi. Perlu dicatat dan digarusbawahi bahwa kesalahan utama yang selama ini muncul dalam system kompetisi di sekolah adalah tolak ukur keberhasilan dilihat sebatas dari nilai yang tinggi pada setiap mata pelajaran tanpa mendalami apa sebenarnya yang menjadi keunggulan seorang anak.

Pada akhirnya, kooperatiflah yang harus lebih dikedepankan. Kompetisi hanya boleh dilaksanakan sebagai ajang mengenali kemampuan serta batasan-batasan yang dimiliki. Kompetisi tidak boleh dijadikan sebagai indikator utama dan satu-satunya dalam menilai seorang peserta didik.

Lejitkan Potensi Siswa

Setiap orang mempunyai potensi dan mereka bisa berpotensi menjadi sang juara dan sang idola. Reputasi sekolah pun bisa terangkat apabila mampu mengoptimalkan potensi peserta didiknya. Masalahnya adalah bagaimana cara mengenali dan mengembangkan potensi para peserta didik itu.

Potensi merupakan asesuatu yang sudah melekat pada diri setiap orang sejak dini. Sifatnya abstrak tetapi akan menjadi konkret jika terus dikembangkan. Beberapa psikolog mengartikan potensi sebagai kecerdasan majemuk (multiple intelligence).

Kecerdasan majemuk meliputi kecerdasan logika matematika, verbal, visual, kinestetik, musikal, intrapersonal dan interpersonal. Karena potensi sudah ada sejak dini, maka mengenali potensi peserta didik yang notabene masih termasuk kategori anak sangatlah penting. Ada tiga upaya untuk mengenal potensi peserta didik. Pertama, melakukan observasi (pengamatan) perkembangan peserta didik. Ke dua, memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mencoba segala hal. Ke tiga, mencermati interest (minat) peserta didik terhadap kemampuannya. Ada dua upaya yang bisa dilakukan untuk mengembangkan bahkan melejitkan potensi peserta didik.

Pertama, melibatkan peserta didik dalam kegiatan ekstra kurikuler dan kemasyarakatan. Terutama kegiatan yang melibatkan kecerdasan peserta didik yang lebih dominan. Jika peserta didik mempunyai kecenderungan untuk berhitung lebih dominan, maka anjurkan ia ikut ekstra kurikuler sempoa dan ikutkan dalam lomba-lomba matematika. Jika peserta didik lebih suka menyanyi, maka optimalkan potensinya lewat ekstra kurikuler tarik suara dan ikut lomba menyanyi.

Kedua, dengan mengajak bermain peran. Bermain peran adalah bentuk permainan dimana peserta didik dapat menjadi apa saja dengan perilaku tertentu yang unik, seperti guru, dokter, pedagang, polisi, bahkan menjadi orang tua. Melalui bermain peran, potensi spiritual, emosional, intelektual, sosial, dan fisik peserta didik akan berkembang.

Dengan demikian maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa di masa pandemic Covid-19 peningkatan potensi peserta didik tidak bisa dilakukan dengan maksimal. Kendati demikian peningkatan potensi peserta didik untuk mengikuti sebuah kompetisi membutuhkan suatu metode atau teknik yakni terlebih dahulu menggali potensi mereka.

Setelah itu dilakukan pemolesan agar potensi mereka benar-benar siap menghadapi ajang kompetisi. Selama dalam menghadapi era kompetisi potensi maupun kecerdasan mereka perlu dilejitkan agar mereka benar-benar siap mental dalam berkompetisi. Semoga.

(Penulis: Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi).

Rujukan
1. Mizan. Wijanarko, Jarot (2007). Anak Cerdas: Ceria Berakhlak Multiple Intelligence. Jakarta: PT. Happy Holy Kids.
2. Reni Akbar, dkk. (2001). Keberbakatan Intelektual. Jakarta: Grasindo.
3. Riyanto, Theo., dan Handoko, John Wiley & Sons, Inc. Zohar, Danah., dan Marshall, Ian. (2000). SQ, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai kehidupan. Bandung:
4. Sri Patmah Sukartini dan Mohammad Imam Faisal Baihaqi, 2007, Teori Psikologi Pendidikan dalam Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian I : Ilmu Pendidikan Teoritis, Bandung : IMTIMA

 

Facebook Comments