Sentuh Kekuatan Peserta Didik dengan “Growth Mindset”

747

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional

Guru merupakan orang yang langsung bersentuhan dengan pendidikan. Sebagai manusia guru memiliki pola pikir dan cara pandang berbeda terhadap inovasi, perubahan dalam pendidikan.Upaya pemerintah untuk mewujudkan sistem pendidikan yang lebih berkualitas telah banyak dilakukan.

Dukungan anggaran untuk kepentingan pendidikanpun semakin ditingkatkan. Kreatifitas yang dibekali dengan kemampuan literasi dan numerasi yang tepat akan menghasilkan peserta didik yang dapat bertahan (survive) di tengah kompleksitas persoalan yang semakin besar. Menurut UNESCO (2015), kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru dan pelajaran. Pendidikan di Indonesia berjalan di tempat, masih bergerak memberantas warganya dari ketidaktahuan, tetapi berputar pada wilayah yang itu-itu saja.

Era disrupsi dan masa pandemic saat ini kondisi pendidikan diperkirakan akan berjalan stagnan.  Dengan kondisi demikian dibutuhkan guru yang lebih berfungsi sebagai motivator, menjadi role model, menginspirasi, serta mampu membangun karakter anak didiknya. Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ikut terdampak dengan adanya pandemi Covid-19.

Hingga saat ini, sekolah belum menyelenggarakan kegiatan pendidikan berjalan normal seperti sedia kala. Perubahan mindset merupakan faktor pertama yang harus disentuh sebelum sebuah kebijakan diberlakukan dalam menumbuhkan kekuatan peserta didik menghadapi masa depan.
“Growth Mindset”
Carol Dweck (2012) menyatakan bahwa pola pikir merupakan sumber kekuatan kemampuan seseorang. Mengenai kekuatan dibedakan dalam dua pandangan.

Pertama menyatakan bahwa pola pikir itu tetap pixed mindset atau karakteristiknya dibawa sejak lahir.

Pandangan kedua pola pikir dipandang sebagai sesuatu yang tumbuh growth mindset.

Bahwa mindset itu bisa dibentuk sesuai dengan tujuan dan orientasi yang diharapkan. Carol Dweck,et.al menggambarkan sebagai “mindset berkembang” atau “pikiran yang berkembang”.  Sebagaimana dikemukakan oleh Carol ada lima faktor kunci bagi guru dan siswa untuk dapat menciptakan sinergi yang kuat untuk meningkatkan keterlibatan, motivasi, dan belajar.
Pertama, menjaga plasitias otak dari pada pikiran.
Ke dua, menyetir otak kita dengan strategi belajar yang efektif.
Ke tiga, meminta bantuan saat dibutuhkan.
Ke empat, mengembangkan kekuatan untuk menyelesaikan.
Ke lima investasikan usaha dan waktu yang diperlukan. Penelitian Dweck menunjukkan bahwa memuji siswa bahwa dia pintar dapat menjadi tidak efektif karena dapat mempromosikan mindset tetap. Ide-ide bersama di atas dapat memberikan spektrum cara untuk pujian yang dapat mempromosikan mindset berkembang.

Saat ini pengembangan potensi peserta didik tidak bisa dilakukan dengan optimal. Pasalnya untuk melindungi segenap warga sekolah dari bahaya penyebaran virus Covid-19, sekolah memfasilitasi siswanya belajar dari rumah (BDR). Pada skala makro, fakta dan kenyataan menunjukkan bahwa pendidikan telah mengalami suatu transformasi. Mochtar Buchori (2001), dalam bukunya “Pendidikan Antisipatoris” menyebutkan bahwa sistem pendidikan yang sehat selayaknya dapat memahami zamannya dan berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada pada zaman tersebut termasuk juga perubahan zaman yang akan datang

. Artinya, pendidikan dewasa ini harus dapat beradaptasi dengan perubahan-perubahan yang ada, termasuk adanya perubahan kebiasaan karena keadaan dunia yang mengalami pandemi Covid-19.

Selain kreatifitas guru, faktor yang tidak kalah penting adalah resiliensi guru dalam proses transformasi pembelajaran. Resiliensi merupakan suatu sikap adaptif positif untuk mengatasi segala bentuk perubahan yang terjadi dalam kehidupan.

Dengan memperkaya ilmu pengetahuan dan mempraktikannya dalam proses pembelajaran, guru berada pada pola pikir yang berkembang (growth mindset), bukan pola pikir statis (fixed mindset). Semakin berkembang pola pikirnya, semakin resilien guru dalam menghadapi perubahan zaman, tidak terkecuali di zaman pandemi sebagaimana saat ini. Karakter guru dan peserta didik yang memiliki pola pikir growth mindset adalah orang-orang yang tidak begitu saja putus asa saat menemukan tantangan.

  Growth mindset bisa diterapkan dalam berbagai masalah dan menyiapkan peserta didik untuk memiliki growth mindset.

Mencermati Perubahan

Teknologi  komunikasi  dan informasi  hanya  sedikit  memberikan  kontribusi  terhadap persamaan  dan  demokrasi. Revolusi  informasi  dan  teknologi  komunikasi  dan informasi  hanya  menyengsarakan kaum miskin, menyebabkan ketidakadilan sosial. Dalam  melihat  proses  belajar  mengajar  pun  ilmu  pendidikan  di  Indonesia  masih kurang   melihatnya   dari   sudut   pandang   sosiologis, terutama   dari   perspektif   kritis. Dalam  kawasan  perspektif teoretik, ilmu sosial telah memberikan sumbangan   teori kritis  untuk kemudianmelahirkan pedagogi kritis. Dalam aspek   metodologi,   ilmu   pendidikan   banyak mengadopsi metode yang digunakan ilmu sosial baik kuantitatif maupun kualitatif.

Pendidikan kita seolah dihadapkan pada persoalan yang kompleks di mana Pemerintah setiap lima tahun sekali mencoba menawarkan konsep melalui kebijakan-kebijakan yang dipandang dapat meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu implikasinya yaitu kurikulum terus berganti sampai muncul adegium, “Ganti menteri ganti kurikulum”. Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi bagai pedang bermata dua yang pada satu sisi mendatangkan kemudahan namun pada sisi yang lain menawarkan bisa yang mematikan. Kemudahan dan kepraktisan yang ditawarkan oleh teknologi saat ini justru malah menciptakan pribadi-pribadi yang menggampangkan masalah. Bahkan, produk teknologi yang digadang-gadang sebagai produk kemajuan ini mengarahkan peserta didik pada situasi yang membentuk kepribadian yang apatis dan egois.

Pemahaman keliru tentang urgensi pendidikan di masyarakat juga harus segera dijernihkan. Terkait dengan masalah kecerdasan misalnya, sebagian masyarakat cenderung memaksa anak-anaknya untuk menguasai satu bidang yang mungkin tidak sesuai dengan kecerdasan yang dimilikinya. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa, pendidikan yang selama ini dijalankan belum menyentuh core atau inti dari makna pendidikan itu sendiri.

Ada berbagai perombakan yang harus dilakukan dalam menanganani krisis pendidikan saat ini. Permasalahan lain yang tak kalah pelik adalah adanya kesalahan-kesalahan yang terjadi di sekolah. Kesalahan ini cenderung dipahami sebagai suatu kewajaran. Menuut Diana Ravith dalam bukunya berjudul Left Back: A Century of Failed School Reforms (dalam Gutek: 2004) menyatakan ada beberapa kesalahan di sekolah selama ini.

Tiga kesalahan besar tersebut adalah: pertama, kepercayaan bahwa sekolah harus diharapkan mengatasi semua masalah social.
Kedua, kepercayaan bahwa ada porsi kebutuhan anak-anak untuk mengakses pendidikan berkualitas tinggi
Ke tiga, kepercayaan bahwa sekolah harus membatasi pengalaman siswa dengan segera dan meminimalisasi atau bahkan menghindari transfer pengetahuan.

Pendidikan seharusnya mensinergikan tiga kecerdasan dalam proses pembelajarannya, yaitu kecerdasan intelegensi (IQ), kecerdasan emosional ((EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ).

Jika ketiga kecerdasan tersebut dikelola dengan baik maka akan berpotensi membangun kecerdasan sosial (SocQ). Kecerdasan sosial penting peranannya dalam membentengi diri terhadap perubahan dan gempuran budaya luar yang destruktif.

Pendidikan tidak diarahkan untuk memanusiaan manusia secara utuh, lahir dan batin, tetapi lebih diorientasikan pada hal-hal yang bercorak materialistis, ekonomis, dan teknokratis; kering dari sentuhan nilai moral, kemanusiaan, dan kemuliaan budi.

Pendidikan lebih mementingkan kecerdasan intelektual, akal, dan penalaran, tanpa diimbangi dengan intensifnya pengembangan kecerdasan hati nurani, emosi, dan spiritual. Imbasnya, apresiasi keluaran pendidikan terhadap keagungan nilai humanistik, keluhuran dan kemuliaan budi jadi nihil. Mereka jadi kehilangan kepekaan nurani, cenderung bar-bar anarkhis, besar kepala, dan mau menang sendiri. Iklim pendidikan kita yang kering dari sentuhan nilai kemanusiaan semacam itu, disadari atau tidak, telah melahirkan manusia-manusia berkarakter hedonis, penjilat, hipokrit, arogan, dan miskin kearifan. Tidak berlebihan kalau (alm.) Rama Mangunwijaya dengan nada sinis pernah menyatakan bahwa angkatan sekarang mengalami kemunduran yang sangat parah dalam pendidikan berpikir nalar eksploratif dan kreatif, sehingga menumbuhkan kultur pikir dan cita rasa yang sempit dan dangkal yang memperlambat pendewasaan diri.

Generasi Global

Pendidikan kita memasuki industry 4.0 identik dengan pembelajaran abad 21, digitalisasi lahirnya generasi baru (generasi Y).

Guru-guru dengan visi dunia global, sejalan trend pendidikan dunia. Sumber belajar bersifat global karena guru dan siswa bisa memperoleh bahan dari manapun melalui situs internet. Teknologi belum cukup untuk guru dalam berinovasi, menyamai trend dunia internasional, bersaing di tingkat dunia, mengakses berbagai sumber belajar dan pedagogi.

Di era sekarang ini perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) semakin canggih dan terus mengglobal sehingga berdampak pada hampir semua kehidupan umat manusia. Dengan memiliki mindset, orang mengubah realitas, melakukan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin, sebab mindset dapat mengondisikan, mempengaruhi, dan mendorong orang melakukan sesuatu (Jensen, 2010:78). Mindset dapat mendorong orang untuk berprestasi tinggi (high achiever). Menurut David Mac Clalend sebagaimana disarikan Aryanto (2008), pribadi yang high achiever memiliki tujuh ciri utama, yakni:
pertama, dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin,
Ke dua, menyukai pekerjaan yang serba mungkin
Ke tiga, senang akan tantangan
Ke empat,   hidup realistis,
ke lima, berorientasi pada sukses.
Ke enam, belajar dari pengalaman, dan ke tujuh, senang bekerja sama dan kerja tim (teamwork).
Ketujuh ciri ini sekaligus imperatif bagi setiap komponen sekolah untuk memperjuangkan mutu secara kontinyu. Sebagaimana laporan Secretry’s Commission on Achieving Necessary Skills di Amerikan Serikat sebagaimana dikutip Dryden dan Vos (1999:276) menemukan tiga kunci menuju masa depan sekolah yang bermutu yakni: (1) pikiran yang berkembang baik, (2) gairah belajar yang tinggi, dan (3) kemampuan memadukan pengetahuan dengan kerja (a well develop mind, a passion to lean, and the ability to put knowledge to work).  Sekolah yang berorientasi ke masa depan dimulai dengan perumusan visi, misi, dan tujuan. Menurut Iryanto (2008) hidup yang berorientasi ke masa depan dimiliki oleh peribadi yang memiliki ciri-ciri seperti proaktif terhadap perubahan, memiliki visi hidup yang smart, akrab dengan pengetahuan dan teknologi, memiliki tiga prinsip dasar kehidupan, yakni ada (being), aktualisasi (actualization), menjadi (becoming), memiliki motivasi menjadi yang terbaik, kreatif, dan terbesar.

Sekolah ini mempertahankan mutu karena menjalankan manajemen pendidikan modern dengan mendasarkan diri pada duabelas keyakinan . Dryden dan Vos, (1999:406) menyatakan pertama, hubungan antarmanusia merupakan fondasi bagi semua perkembangan kualitas, ke dua, seluruh komponen dalam organisasi kami dapat terus ditingkatkan. Ke tiga, menyelesaikan sumber masalah di dalam sistem pasti akan mengarah pada perbaikan sistem, ke empat, orang yang melakukan suatu pekerjaan adalah yang paling tahu tentang pekerjaan tersebut. Ke lima, setiap orang ingin dilibatkan dan ingin melakukan tugasnya dengan baik, ke enam, setiap orang ingin perannya dihargai. Ke tujuh, bekerja dalam tim lebih dapat mengembangkan sistem daripada bekerja secara individual, ke delapan, proses pemecahan masalah yang terstruktur dengan teknik pemecahan masalah melalui grafik statistik memungkinkan anda mengetahui posisi anda, letak variasinya, prioritas masalah yang harus dipecahkan, dan apakah perubahan yang dilakukan telah memberikan pengaruh yang dihendaki. Ke Sembilan, hubungan tak sehat adalah tidak produktif dan ketinggalam zaman, ke sepuluh, setiap organisasi memiliki permata tersembunyi yang harus digali dan ditemukan.  Ke sebelas, menghilangkan rintangan menuju kebanggaan kerja dan keasikan belajar adalah kunci sejati untuk membuka potensi organisasi yang selama ini belum tersentuh, ke dua belas, pelatihan, pembelajaran dan eksperimen terus-menerus adalah kunci menuju pertumbuhan yang berkelanjutan.

Lebih lanjut Dryden dan Vos,et.al, menyebut duabelas langkah menuju sistem sekolah unggul yakni, rencanakan sekolah sebagai pusat sumber daya masyarakat sepanjang hayat, tanyailah pelanggan anda, terutama peserta didik dan orangtuanya. Jaminlah keberhasilan dan kepuasan pelanggan, layani semua ragam kecerdasan dan gaya belajar peserta didik. Gunakan metode mengajar yang terbaik, berinvestasilah pada sumber utama anda, guru sebagai fasilitator.

Jadilah semua orang guru dan sekaligus murid, rencanakan sebuah kurikulum empat bagian (personal growth curriculum, lifeskills curriculum, learning tolearn and learnig to think curriculum, content curriculum). Ubah sistem penilaian (50% penilaian diri sendiri, 30% penilaian teman, 20% penilaian guru/atasan), gunakan teknologi masa depan. Manfaatkan anggota masyarakat sebagai sumber daya, dan  beri setiap orang hak untuk memilih.

  Menurut Iryanto (2008) ada tiga jenis mata dalam melihat, yakni  mata persepsi, mata yang melihat hal-hal yang kasat mata, mata kebanyakan manusia yang dibatasi oleh fenomena yang tampak pada panca indera. Mata probability, mata yang mampu melihat berbagai kemungkinan, jenis mata yang dimiliki para analis.

Mata posibility, mata yang mampu melihat segala sesuatu menjadi mungkin, mata yang dimiliki para pemimpin perubahan. Seorang pemimpin perubahan, memiliki ketiga jenis mata tersebut.

Kemampuan melakukan perubahan didasarkan pada kemampuan untuk melihat berbagai kemungkinan yang dapat dilakukan di waktu yang akan datang. Kemungkinan itu dapat dilakukan bila orang telah melakukan pengamatan cermat terhadap fenomena dan fakta yang ada.  Widarso (2002) menganjurkan sepuluh tangga untuk meraih kesuksesan, yakni berpikirlah positif tentang sesuatu atau terhadap seseorang, mengikuti jalan pikiran sendiri, jangan membeo. Lakukan yang menjadi kelebihan kita sendiri, miliki komitmen yang kuat, berbangga terhadap apa yang kita lakukan. Capailah keberhasilan, jangan kesempurnaan, bersainglah dengan diri sendiri, hitunglah berkah anda.

Sisihkanlah satu jam sehari, ibaratkan baterai yang hampir habis dayanya dan di-charge kembali sehingga kekuatannya menjadi penuh, dan  tanamkanlah kehendak untuk membuat hidup lebih berarti.

Menyentuh kekuatan peserta didik dengan “Growth Mindset” di masa pandemic Covid-19 maka akan memunculkan kjekuatan mereka untuk selalu sukses dan berhasil di masa depan.  Semoga.

(Penulis: Guru SMPN 11 Kota Jambi).

Rujukan:
1. Anderson, Orin W. and Krathwohl David R. (eds.). 2001. A Taxonomy For Learning, Teaching, and Assessing: Arevision of Bloom’s Taxonomy of Educational Ocjectives. New York: Longman.
2. Danim, S., (2002). Inovasi pendidikan: Dalam Upaya Peningkatan Profesionalisme Tenaga Kependidikan. Bandung: Pustaka Setia. Hasibuan, M., (2002), Manajemen Sumber Daya Manusia, Cet V., Jakarta: Bumi Aksara.
3. Dryden, Gordon dan Jeannette Vos. 1999. The Learning Revolution. US: The Learning Web.
4. Eggan, Paul D. and Kauchak Donald P. 2006. Strategies and Models for Teachers: Teaching Content and Thingking Skills (Fifth Edition). New York: Pearson.
5. Gutek, G. L. 2004. Philosophical and Ideological Voices in Education. New York: Pearson.

Facebook Comments