Model Pembelajaran Multiliterasi dan Tuntutan Abad-21.

OPINI DAN ARTIKEL1317 Dilihat

Oleh: Nelson Sihaloho

Abstrak:

Seiring dengan perkembangan dan tuntutan paradigma pendidikan pada abad ke-21 maka kurikulum yang dikembangkan adalah merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher centered) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Dimana siswa dilibatkan dalam proses pembelajaran, dan lebih aktif mencari serta menemukan konsep dengan cara mandiri. Mengacu pada hal tersebut maka pembelajaran harus disesuaikan dengan tuntutan masa depan. Peserta didik dituntut  untuk memiliki kecakapan dan kompetensi dalam abad ke-21. Salah satu upaya untuk membekali peserta didik adalah dengan pembelajaran multiliterasi. Termasuk dalam penilaiannya dimana terdapat tiga terminologi yakni penilaian sebagai belajar, penilaian untuk pembelajaran serta penilaian dalam pembelajaran.

Sebagaimana kita ketahui bahwa konsep pendidikan Abad-21 pada dasarnya menekankan pada empat aspek yakni Knowledge Work, Thinking Tools, Learning Research, dan Digital Lifestyle (Trilling & Fadel, 2009: 23). Keempat aspek itulah yang nantinya melahirkan prinsip-prinsip pembelajaran, menyediakan alat-alat belajar, dan menciptakan lingkungan belajar yang harus dipersiapkan dunia pendidikan saat ini (Abidin, Y., 2015: 96). Pembelajaran multiliterasi ini diyakini oleh banyak kalangan akan dapat memenuhi tuntutan perkembangan zaman dan tantangan pendidikan. Penerapan pembelajaran multiliterasi diyakini memiliki penuingkatan yang signifikan terhadap pembentukan multitalent guru maupun siswa.

Kata kunci: Pembelajaran, Multiliterasi, Abad-21

 

Pembelajaran Multiliterasi

 

Penggunaan model pembelajaran merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan dari suatu proses pembelajaran. Model pembelajaran yang memenuhi kriteria baik akan melahirkan sebuah proses pembelajaran efektif dan efisien. Sebaliknya, apabila model pembelajaran kurang sesuai dengan kriteria maka cenderung akan memunculkan berbagai permasalahan dalam proses pembelajaran. Model pembelajaran multiliterasi merupakan paradigma baru dalam pembelajaran literasi. Literasi sendiri sudah berkembang dan tidak hanya  terbatas pada kegiatan baca-tulis. Namun lebih kompleks pada praktik akuturasi sosial dan budaya yang mengarahkan pembelajar untuk mengenal, memahami, mengpalikasikan, dan membudayakan nilai-nilai sosial budaya tersebut kearah yang lebih baik. Saat ini, literasi memunculkan dimensi beragam seperti literasi lingkungan, literasi sastra, literasi media, literasi teknologi, bahkan literasi moral. Pembelajaran literasi berimplikasi pada munculnya konsep multiliterasi. Menurut Tomskin (dalam Resmini, 2008: 7) literasi adalah kemampuan menggunakan membaca dan menulis dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran baik di sekolah maupun di luar sekolah. Morocco (2008: 10) keterampilan yang harus dikuasai agar tercipta pembelajaran multiliterasi adalah kemampuan membaca pemahaman yang tinggi, kemampuan menulis yang baik, keterampilan berbicara, dan keterampilan menguasai berbagai media digital. Keempat keterampilan itu tidak akan lepas dari penguasaan literasi dan integrasi bahasa dengan ilmu lain untuk memperoleh pengetahuan dan dapat mengkomunikasikan pengetahuan tersebut pada orang lain.  Kimble dan Garmezy (Pringgawidagda, 2002 : 20), pembelajaran adalah suatu perubahan perilaku yang relatif tetap dan merupakan hasil praktik yang diulang-ulang. Adapun Brown (2007:8) merinci karakteristik pembelajaran sebagai berikut. a) Belajar adalah menguasai atau memperoleh, b).    Belajar adalah mengingat-ingat informasi atau keterampilan, c). Proses mengingat-ingat melibatkan sistem penyimpanan, memori, dan organisasi kognitif, d). Belajar melibatkan perhatian aktif sadar dan bertindak menurut peristiwa–peristiwa di luar serta di dalam organisme. e).   Belajar itu bersifat permanen, tetapi tunduk pada lupa, f). Belajar melibatkan berbagai bentuk latihan, mungkin latihan yang ditopang dengan imbalan dan hukum dan g). Belajar adalah suatu perubahan dalam perilaku.

Sebagaimana Baguley, Pullen, dan Short (Wijayani,2016) memandang multiliterasi sebagai cara untuk memahami secara luas kurikulum literasi yang dipelajari di sekolah formal yang mendorong siswa agar mampu berpartisipasi secara produktif di dalam komunitas masyarakat. The New London Group (Wijayani,2016) menyatakan bahwa paedagogik multiliterasi dibangun oleh empat komponen atau proses pengetahuan yakni situasi praktis, pembelajaran yang jelas, bingkai kritis dan transformasi praktis. Apabila ditinjau dalam sebuah pembelajaran, pembelajaran multiliterasi dilaksanakan berdasarkan kondisi awal siswa, bukan berdasarkan apa yang harus dicapai oleh siswa. guru harus memahami bahwa setiap siswa memiliki kecepatan belajar yang berbeda, pengetahuan awal yang beragam, kelebihan dan minat yang beraneka, dan cara mendapatkan pengetahuan yang bervariasi. Pembelajaran multiliterasi merupakan pembelajaran yang memang dikembangkan dengan berbasis ilmiah. The New London Group (2005) menyatakan bahwa pembelajaran multiliterasi terdiri dari empat komponen atau proses pengetahuan, yaitu situasi praktis, pembelajaran jelas, kerangka kerja kritis, dan transformasi praktis. Ivanic dalam Abidin, (2014: 186) mengemukakan “Pembelajaran multiliterasi merupakan pebelajaran yang bersifat menantang agar siswa mampu mengkaji dan menerapkan literasi praktis, hal ini memiliki peranan sebagai penghubung untuk mempelajari berbagai konsep lintas kurikulum.

Morocco dalam Yunus Abidin (2014:193) mengemukakan bahwa pembelajaran multiliterasi dapat dilaksanakan jika memiliki kerangka yang jelas. Berdasarkan keyakinan tersebut, diketahui bahwa kerangka pembelajaran multiliterasi memiliki beberapa komponen. Komponen-komponen tersebut antara lain tujuan, pertanyaan penting, siklus belajar, sumber belajar, penilaian pembelajaran dan komponen keluaran.

McQuiggan, Mobile Learning: A Handbook for Developer, Educators, and Learnes (New Jersey: John Wiley & Sons, 2015) berpendapat bahwa pembelajaran multiliterasi bersifat multimodal dalam berbagai bentuk dan format literasi yang ada dalam kehidupan nyata yang digunakan sebagai model pembangkit, pembentuk, pemerkaya, maupun penyalur keterampilan dan pengetahuan. Sehingga model pembelajaran multiliterasi bisa mencakup model tekstual hingga model digital. Hal ini sesuai dengan pendapat M. Hoechsmann & S. R. Poynz, Model Literacies: A Critical Introduction (Oxford: Blackwell Publishing, 2012:155), bahwa peran guru berkenaan dengan berkembangnya model literasi digital yang bersesuaian dengan perkembangan anak-anak masa kini. Konsep multiliterasi dirancang untuk menjawab kebutuhan keterampilan yang diperlukan di abad 21. Pembelajaran multiliterasi didesain untuk mampu menghubungkan 4 keterampilan multiliterasi (membaca, menulis, berbahasa lisan, dan ber-IT) dengan 10 kompetensi belajar secara khusus abad ke 21. Kesepuluh kompetensi tersebut Binkley, dkk, dalam Abidin, (2015: 229) yakni : (1) kreativitas dan inovasi, (2) berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pembuatan keputusan, (3) metakognisi, (4) komunikasi, (5) kolaborasi, (6) literasi informasi, (7) literasi teknologi informasi dan komunikasi, (8) sikap berkewarganegaraan, (9) berkehidupan dan berkarier, dan (10) responsibilitas personal dan sosial, termasuk kesadaran atas kompetensi dan budaya.

 

Strategi Pembelajaran

Pembelajaran multiliterasi adalah pembelajaran yang menyediakan berbagai strategi pembelajaran untuk membantu peserta didik memperoleh berbagai pemahaman yang mendalam tentang ide dan konsep penting dalam berbagai mata pelajaran. Strategi pembelajarannya difokuskan sebagai alat dan teknik intelektual yang memungkinkan siswa mengakses, memproses, mengkomunikasikan informasi dan ide penting untuk membina dan memperkaya kemampuan inkuiri kritis (Morocco dalam Abidin, 2013: 186). Pembelajaran multiliterasi ini diawali dengan proses pelibatan siswa dalam kelompok heterogen untuk menentukan materi dan tujuan pembelajaran serta diakhiri dengan presentasi di depan kelas. Salah satu faktor yang mendorong setiap siswa dalam suatu kelompok terlibat lebih aktif dalam mengelaborasi materi adalah adanya presentasi di depan kelas. Namun fakta dilapangan banyak sekolah kurang mempersiapkan alat infocus media pembelajaran dikelas sehingga hasilnya kurang maksimal. Presentasi di depan kelas dapay dilakukan dalam beberapa kali tatap muka agar siswa memahami cara meningkatkan literasi digital. Dimasa Pandemi Covid-19 pemanfaatan teknologi Informasi dan komunikasi (TIK) yang cepat seharusnya diimbangi dengan literasi digital oleh peserta didik. Literasi digital misalnya, adalah pengetahuan dan kecakapan menggunakan media digital, alat-alat komunikasi, atau jaringan dalam menemukan, mengevaluasi, menggunakan, membuat informasi, dan memanfaatkannya secara sehat, bijak, cerdas, cermat, tepat, dan patuh hukum dalam rangka membina komunikasi dan interaksi dalam kehidupan sehari-hari. Kaitannya dengan pembelajaran multiliterasi merupakan pembelajaran yang menyediakan berbagai strategi untuk membantu peserta didik memperoleh berbagai pemahaman yang mendalam tentang ide dan konsep penting dalam berbagai mata pelajaran. Itulah sebabnya pembelajaran multiliterasi menitiberatkan pada keberagaman media, keberagaman budaya, keberagaman konteks keilmuan, keberagaman kecerdasan, keberagaman gaya belajar, keberagaman modal serta modus belajar. Pembelajaran multiliterasi sangat urgensial untuk diterapkan serta memiliki relevansi dalam memenuhi perkembangan zaman dan teknologi khususnya tantangan pendidikan.  Termasuk diantaranya adalah dimensi-dimensi literasi. Menurut UNESCO sebagaimana  dikutip Nasution (2013: 12-13), memasukkan enam kategori dimensi kebutuhan literasi khususnya di abad 21. Yakni a). Basic Literacy atau Literasi Fungsional (Functional Literacy), merupakan kemampuan dasar literasi atau sistem belajar konvensional seperti bagaimana membaca, menulis, dan melakukan perhitungan numerik dan mengoperasikan sehingga setiap individu dapat berfungsi dan memperoleh kesempatan untuk berpartisipasi di masyarakat, di rumah, di kantor maupun sekolah. b). Computer literacy, merupakan seperangkat keterampilan, sikap dan pengetahuan yang diperlukan untuk memahami dan mengoperasikan fungsi dasar teknologi informasi dan komunikasi, termasuk perangkat dan alat-alat seperti komputer pribadi (PC), laptop, ponsel, iPod, BlackBerry, dan sebagainya, literasi komputer biasanya dibagi menjadi hardware dan software literasi. c). Media Literacy, merupakan seperangkat keterampilan, sikap dan pengetahuan yang diperlukan untuk memahami dan memanfaatkan berbagai jenis media dan format di mana informasi di komunikasikan dari pengirim ke penerima, seperti gambar, suara, dan video, dan apakah sebagai transaksi antara individu, atau sebagai transaksi massal antara pengirim tunggal dan banyak penerima, atau, sebaliknya. d). Distance Learning dan E-Learning adalah istilah yang merujuk pada modalitas pendidikan dan pelatihan yang menggunakan jaringan telekomunikasi, khususnya world wide web dan internet, sebagai ruang kelas virtual bukan ruang kelas fisik. Dalam distance learning dan elearning, baik guru dan siswa berinteraksi secara online, sehingga siswa dapat menyelesaikan penelitian dan tugas dari rumah, atau di mana saja di mana mereka dapat memperoleh akses ke komputer dan saluran telepon. e). Cultural Literacy merupakan literasi budaya yang berarti pengetahuan, dan pemahaman, tentang bagaimana suatu negara, agama, sebuah kelompok etnis atau suatu suku, keyakinan, simbol, perayaan, dan cara komunikasi tradisional, penciptaan, penyimpanan, penanganan, komunikasi, pelestarian dan pengarsipan data, informasi dan pengetahuan, menggunakan teknologi. Sebuah elemen penting dari pemahaman literasi informasi adalah kesadaran tentang bagaimana faktor budaya berdampak secara positif maupun negatif dalam hal penggunaan informasi modern dan teknologi komunikasi. f). Information literacy, erat kaitannya dengan pembelajaran untuk belajar, dan berpikir kritis, yang menjadi tujuan pendidikan formal, tapi sering tidak terintegrasi ke dalam kurikulum, silabus dan rencana pelajaran, kadang-kadang dibeberapa negara lebih sering menggunkan istilah information competencies atau information fluency atau bahkan istilah lain.

 

Prospek Pengembangan

Proses pembelajaran berkaitan erat dengan cara guru menggunakan suatu  pendekatan, strategi,  teknik,  serta  model pembelajaran  yang  diaplikasikan dalam  pembelajaran  untuk menghantarkan  peserta  didik mencapai  kompetensi  yang  harus dicapai. Model  pembelajaran yang diaplikasikan guru dalam  pembelajaran  mempunyai peran  penting  dalam menghantarkan peserta didik untuk menguasai materi yang disampaikan. Salah  satu  faktor  yang  dapat  meningkatkan segi kualitas, kuantitas, dan mutu pendidikan saat ini dengan diterapkan model-model pembelajaran yang  dapat  dibutuhkan  oleh  peserta didik (Isno, 2017:8). Hingga saat ini dalam perkembangannya model pembelajaran  dalam dunia pendidikan semakin beragam.  Model pembelajaran efektif yang dapat  mempermudah  peserta  didik menguasai  keterampilan  baik itu menulis maupun ketrampilan lainnya adalah model  pembelajaran multiliterasi digital. Menurut  Cope  &  Kalantzis  sebagaimana  dikutip  oleh Sulaiman,  dkk.  (2017:2),  contoh penerapan  multiliterasi  digital  adalah mencari informasi melalui situs web di internet, radio, berita di televisi, kamus elektronik, CD, kaset audio, dan video. Pemanfaatan  blog sebagai media pembelajaran tidak terlepas  dari penggunaan  internet didalamnya. Bates sebagaimana dikutip oleh Munir (2017:47),  mengidentifikasi empat keuntungan atau manfaat kegiatan pembelajaran menggunakan internet. Pertama,  dapat  meningkatkan  kadar interaksi  pembelajaran  antara pembelajar  dengan  pengajar  (enhance  interactivity). Kedua, memungkinkan  terjadinya  interaksi pembelajaran  dari  mana  dan  kapan saja  (time  and  place  flexibility). Ketiga, menjangkau  pembelajar  dalam  cakupan yang luas (potential to reach a global audience). Keempat, mempermudah penyempurnaan dan  penyimpanan  materi pembelajaran (easy updating of content  as  well  as  archivable capabilities).  Dengan demikian pengembangan model pembelajaran multiliterasi memiliki prospek yang lebih baik untuk dikembangkan karena sesuai dengan perkembangan ilmu penegtahuan dan teknologi (IPTEK). Diantaranya adalah model  pembelajaran  multiliterasi digital yang merupakan hasil pengembangan model pembelajaran multiliterasi. Model pembelajaran multiliterasi  berorientasi  pada  kompetensi  belajar  abad-21 yang  dipadukan  secara  serasi  dengan empat  literasi  dasar (Abidin, 2015:110). Pemanfaatan multiliterasi  digital diyakini mampu memberikan  inovasi yang signifikan terhadap pembelajaran inovatif, kreatif, kekinian serta multidimensi.  Intinya model pembelajaran mulyiliterasi memiliki urgensi dan relevansi terhadap tuntutan pembelajaran abad-21. Semoga bermanfaat. (****)

 

Rujukan:

 

Abidin,   2015.  Pembelajaran Multiliterasi.  Bandung  : Refika  Aditama.

2017.  Pembelajaran  Digital. Bandung: Alfabeta. 

Morocco, C.C. 2008. Supported Literacy for Adolescents: Transforming Teaching and Content Learning for The Twenty-First Century. San Fransisco: Jossey-Bass Wiley Inprint.

Tomlison, Brian. 2000. Introduction: In Materials Development in Language Teaching. Ed. Brian Tomlinson 1-24. Cambridge: Cambridge University Press.

Triling, B. & Fadel, C. (2009). 21st Century Skills: Learning for Life in Our Time. San Francisco: Josses-Bass A Wiley Imprint.

Santosa, Made  2007. Pemanfaatan Blog  (Jurnal Online) dalam Pembelajaran Menulis. Artikel Ilmiah. http://blog.umy.ac.id/topik/files/2012 /01/contoh-jurnal-pendidikan-pemanfaatan-blog.pdf.

Komentar