Membumikan NU di Nusantara dan Mengindonesiakan NU di Nusantara

Penulis: Rhonal Febrian,SP, M.Si, Kader Muda NU Nusantara

Bungonews.net-Nahdlatul Ulama adalah rumah besar umat Islam Indonesia. Karena itu, NU harus benar-benar hadir, tumbuh, dan terasa sebagai organisasi milik seluruh Nusantara, bukan hanya milik satu daerah atau satu wilayah tertentu.

Semangat “membumikan NU di Nusantara dan mengindonesiakan NU di Nusantara” bukan sekadar slogan. Ini adalah ikhtiar untuk menghadirkan wajah NU yang semakin mencerminkan wajah Indonesia: beragam, luas, dan kaya akan ulama serta kader dari berbagai penjuru negeri.

Dalam konteks kepemimpinan NU ke depan, figur seperti Gus Kikin dari Jawa Timur dapat menjadi salah satu representasi penting dalam jajaran Tanfidziyah. Sementara KH Said Aqil Siroj dari Jawa Barat, yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, dapat menjadi salah satu figur berpengalaman untuk mengemban amanah sebagai Rais.

Untuk posisi Khatib dari Jawa Tengah, terdapat sejumlah ulama NU yang memiliki kapasitas, pengalaman, jaringan keumatan, dan keteladanan yang layak dipertimbangkan. Di antaranya KH Sholahudin Masruri, KH Muhammad Yusuf Chudlori, dan KH Abdul Ghaffar Rozin.

Ketiga nama tersebut tentu dapat menjadi bagian dari aspirasi kader dan warga NU Jawa Tengah. Siapa pun yang nantinya mendapatkan amanah, yang terpenting adalah kapasitas keulamaan, integritas, pengalaman, keluasan wawasan, serta kemampuan menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang menyejukkan dan relevan dengan kebutuhan umat dan bangsa.

Gagasan ini bukan semata-mata soal asal daerah. Kompetensi, integritas, pengalaman, keteladanan, kapasitas kepemimpinan, dan ketulusan dalam berkhidmat kepada NU tetap harus menjadi pertimbangan utama.

Namun, keterwakilan wilayah juga penting agar seluruh kader dan warga NU dari berbagai penjuru Indonesia merasa memiliki ruang yang sama untuk berkontribusi dalam membangun organisasi.

Jawa memiliki sejarah dan kontribusi yang sangat besar dalam perjalanan Nahdlatul Ulama. Hal tersebut tidak perlu diperdebatkan dan tidak perlu dikurangi. Tetapi NU hari ini telah berkembang jauh melampaui batas geografis Jawa.

Di Sumatra terdapat kader-kader NU yang memiliki kapasitas besar. Di Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua, dan berbagai wilayah lainnya juga tumbuh ulama, intelektual, pengusaha, aktivis, dan generasi muda NU yang memiliki kemampuan serta pengalaman untuk membawa NU semakin maju.

Karena itu, sudah saatnya kita melihat NU bukan hanya sebagai organisasi yang berakar kuat di Jawa, tetapi sebagai organisasi yang berakar di seluruh Indonesia.

Jika Tanfidziyah berasal dari Jawa Timur, misalnya melalui figur seperti Gus Kikin, Rais berasal dari Jawa Barat dengan figur berpengalaman seperti KH Said Aqil Siroj, dan Khatib berasal dari Jawa Tengah dengan mempertimbangkan nama-nama seperti KH Sholahudin Masruri, KH Muhammad Yusuf Chudlori, atau KH Abdul Ghaffar Rozin, maka komposisi tersebut dapat menjadi gambaran bagaimana keberagaman daerah dapat hadir dalam struktur kepemimpinan NU.

Selanjutnya, posisi Sekretaris Jenderal dapat diisi kader terbaik dari Sumatra, sementara Bendahara dapat berasal dari kawasan Indonesia Timur. Bukan karena sekadar membagi-bagi jabatan berdasarkan wilayah, tetapi sebagai ikhtiar menghadirkan representasi Nusantara dalam rumah besar NU.

Keadilan dalam berorganisasi bukan berarti setiap daerah harus mendapatkan jatah jabatan. Keadilan berarti setiap daerah memiliki kesempatan yang sama untuk melahirkan kader terbaiknya dan mempersembahkannya untuk NU.

Dari Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku hingga Papua, seluruh kader memiliki kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi NU.

Dengan kepemimpinan yang semakin representatif dan inklusif, NU akan semakin kuat, semakin luas jangkauannya, dan semakin mampu menjawab tantangan Indonesia masa depan.

Sebab NU bukan hanya milik satu pulau.

NU bukan hanya milik Jawa. NU adalah milik Nusantara.

NU bukan hanya untuk satu daerah. NU adalah untuk Indonesia.

Mari kita bersama-sama membumikan NU di Nusantara dan mengindonesiakan NU di Nusantara.

Karena ketika seluruh Nusantara merasa memiliki NU, maka NU akan semakin kuat sebagai rumah besar umat Islam Indonesia dan salah satu kekuatan penting dalam menjaga persatuan bangsa. ( Ronal )

Komentar