Bungonews.net,Tebo- Proyek rekonstruksi Jalan Nasional-Alai Ilir Blok E dengan nilai mencapai sekitar Rp46 miliar kembali menjadi sorotan. Bukan hanya karena besarnya anggaran yang digelontorkan, tetapi karena nilai penghematan dalam proses tender terbilang sangat tipis.
Dari nilai sekitar Rp46 miliar, kontrak proyek tersebut berada di kisaran Rp45,9 miliar. Artinya, selisihnya hanya sekitar Rp70 juta.
Angka ini tentu tidak serta-merta menunjukkan adanya pelanggaran. Namun, dengan nilai proyek yang sangat besar, minimnya selisih antara pagu/HPS dan harga kontrak patut menjadi perhatian publik, terutama terkait seberapa kuat persaingan dalam proses tender.
Sebab, tujuan pengadaan barang dan jasa pemerintah bukan hanya mendapatkan penyedia, tetapi juga memastikan proses berlangsung kompetitif, transparan, efisien dan menghasilkan pekerjaan dengan kualitas terbaik.
Pertanyaan publik pun menjadi relevan: apakah harga Rp45,9 miliar tersebut benar-benar merupakan harga paling efisien karena persaingan tender yang sehat, atau ruang kompetisinya memang sangat terbatas?
Sorotan terhadap proyek ini semakin menarik karena pekerjaan tersebut dipercayakan kepada PT Selaras Restu Abadi, perusahaan yang sebelumnya juga tercatat mengerjakan pekerjaan jalan di kawasan Alai Ilir.
Dalam pekerjaan sebelumnya, terdapat catatan terkait volume dan mutu pekerjaan yang menjadi bagian dari pemeriksaan. Meski persoalan tersebut dapat saja telah ditindaklanjuti sesuai ketentuan, rekam jejak penyedia tetap menjadi salah satu aspek yang layak diperhatikan dalam proses pengadaan berikutnya.
Kini, perusahaan tersebut kembali mendapat kepercayaan mengerjakan proyek bernilai puluhan miliar.
Karena itu, publik layak mendapatkan penjelasan secara terbuka mengenai jumlah peserta tender, nilai penawaran masing-masing peserta, proses evaluasi, hingga alasan penetapan pemenang.
Sebab, ketika proyek hampir Rp46 miliar hanya menghasilkan penghematan sekitar Rp70 juta, persoalannya bukan semata-mata besar atau kecilnya angka penghematan.
Yang jauh lebih penting adalah apakah uang negara benar-benar dibelanjakan melalui proses yang paling kompetitif dan menghasilkan pekerjaan dengan mutu terbaik.
Diharapkan jalan yang dibangun bukan hanya selesai secara administrasi, tetapi juga kuat, berkualitas dan mampu bertahan sesuai umur rencana.
Pada akhirnya, Rp46 miliar bukan angka kecil. Itu uang negara yang berasal dari rakyat. Setiap rupiahnya layak dipertanggungjawabkan, baik dari sisi harga, proses maupun kualitas pekerjaan.( BN )

































Komentar