Kurikulum Dinamis Deep Learning

Oleh: Nelson Sihaloho Pemerhati Pendidikan Tinggal di Kota Jambi

RASIONAL:

Sebagaimana kita ketahui bahwa kurikulum merupakan aspek penting dalam dunia pendidikan. Kurikulum yang baik secara signifikan akan dapat membantu meningkatkan kualitas Pendidikan. Termasuk mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan di masa depan. Sejalan dengan hal itu pengembangan kurikulum yang inovatif dan dinamis sanga urgen dilaksanakan. Salah satu diantaranta adalah pengembangan kurikulum pembelajaran mandiri merupakan salah satu bentuk pengembangan kurikulum yang inovatif dan dinamis. Konsep belajar mandiri mengacu pada kemampuan siswa untuk belajar secara otonom, tanpa bergantung pada guru atau institusi pendidikan tertentu. Pengembangan kurikulum belajar mandiri bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan kemandirian belajar.
Kurikulum dikatakan sebagai kurikulum dinamis adalah kurikulum yang fleksibel dan mampu beradaptasi dengan perubahan sosial, teknologi maupunkebutuhan siswa sehingga tetap relevan dengan Pendidikan modern. Kurikulum dinamis dapat juga diartikan sebagai seperangkat rencana dan pengaturan yang tidak hanya mencakup tujuan dari suatu isi pelajaran. Namun juga mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman serta kebutuhan peserta didik. Kurikulum dinamis memang dirancang unyuk menjawab berbagai kemungkinan tantangan yang muncul di era digital. Bahkan memastikan siswa agar siap menghadapi perkembangan dunia global yangterus berubah sebgaimana yang terjadi saat ini. Demikian juga dengan kurikulum yang diterapkan saat ini yaitu Deep Learning merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam melalui kemampua berpikir kritis, perasipatasi aktif serta keterhubungan dengan realitas kehidupan.
Kata kunci:kurikulum dinamis, deep learning

Pandangan Para Ahli

Kurikulum memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakarpakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai sekarang. Tafsiran-tafsiran tersebut berbeda antara satu dengan yang lainnya, sesuai dengan titik berat dan sudut pandang yang digunakan.
Berbagai ragam konsep kurikulum bisa bersumber dari perbedaan aliran filsafat pendidikan bagi pendidik dan pengembang kurikulum yang terefleksi pada pendekatan kurikulum yang digunakan. Dengan kata lain, perbedaan timbul disebabkan adanya variasi pendekatan kurikulum (curriculum approach) yang dianut pendidik, pengembang atau pengambil kebijakan pendidikan.
Menurut pendekatan humanistik, bahwa kurikulum lebih mementingkan belajar kooperatif, belajar mandiri, belajar dalam kelompok kecil, dan tujuan tidak menjadi bagian dominan dalam kurikulum. Hal utama dalam kurikulum humanistik adalah kurikulum harus dapat memberdayakan semua potensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap individu agar bisa mengeksplorasi dirinya menjadi seorang yang mandiri sesuai bakat, minat, potensi kebutuhan dan kepentingan peserta didik (Clute, 2000: 9).
Sedangkan dalam definisi kurikulum secara harfiah, berasal dari bahasa latin yaitu currere yang berarti berlari di lapangan pertandingan (race course). Menurut definisi ini, kurikulum adalah suatu “arena pertandingan” tempat individu “bertanding” untuk menguasai satu atau lebih keahlian guna mencapai “garis finish” yang ditandai pemberian gelar atau ijazah (Robert S Zais dalam Hamalik, 2001: 16). Pengaruh definisi ini sangat besar bahkan masih bertahan dalam praktik pendidikan modern hampir diseluruh negara di dunia. Sedangkan pengertian harfiah modern terkait kurikulum mulai bergeser menjadi program studi (course of study).
Dalam pendekatan behavioral misalnya, lebih menginginkan kurikulum fokus pada perubahan tingkah laku individu atau peserta didik. Kurikulum behavioral harus logis dan bertumpu pada prinsip teknis dan saintifik, sehingga kurikulum perlu diformulasikan berdasarkan paradigma, model, dan strategi (Ornstein & Hunkins, 2013: 2). Adapun Ansyar (2015: 23) menyatakan bahwa, “kurikulum sebagai suatu bidang studi yang dinamis, maka perbedaan tersebut wajar, karena konsep kurikulum berubah dan berkembang mengikuti perubahan zaman dan tututan kemajuan serta perbedaan persepsi atau pandangan filosofis”.
Para individu “bertanding” dengan mengutamakan kapasitas individual agar mampu mengaktualisasi diri di masa lalu, sekarang, dan masa depan. Dari hasil aktualisasi diri, para individu memiliki visi tertentu dalam menapaki kehidupan masa depan (William H Schubert dalam Ansyar, 2015: 25). Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa kurikulum sebagai suatu proses sosial untuk memaknai kurikulum sebagai pengalaman hidup (life experience).
Dapat kita simpulkan bawa kurikulum adalah perangkat mata pelajaran yang diajarkan pada lembaga pendidikan. Pe nting dicermati bahwa Sifat kurikulum adalah konsep yang melibatkan berbagai karakteristik penting yang harus dimiliki oleh kurikulum dalam pendidikan. Sifat dari kurikulum ini penting dipahami oleh para guru untuk melaksanakan pembelajaran yang efektif dan relevan. Selain itu, sifat kurikulum juga menjadi dasar dalam proses pengambilan keputusan dalam perancangan kurikulum belajar. Merujuk buku Sains Lingkungan dan Kurikulum yang Berfokus pada Minat Siswa oleh Kenneth Tobin, dkk,(2021) menyatakan sifat utama dari kurikulum pendidikan adalah dinamis. Artinya, kurikulum harus dapat berkembang dan beradaptasi dengan perubahan zaman, perkembangan ilmu pengetahuan, dan kebutuhan masyarakat.
Kurikulum yang dinamis mampu mengakomodasi perubahan dalam ilmu pengetahuan. Setiap kemajuan baru atau penemuan dalam berbagai disiplin ilmu dapat dimasukkan ke dalam kurikulum, sehingga siswa dapat mengakses pengetahuan yang paling mutakhir. Sifat dinamis kurikulum memungkinkan adanya inovasi-inovasi pendidikan yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Metode pengajaran, teknologi, dan pendekatan baru dapat dengan cepat diimplementasikan untuk membuat pengalaman belajar siswa menjadi lebih menyenangkan.
Selain bersifat dinamis, kurikulum juga dirancang berdasarkan prinsip-prinsip tertentu. Dirangkum dari buku Pengembangan Kurikulum Sekolah Dasar oleh Ahmad Landong, (2022) ada beberapa prinsip-prinsip pembuatan kurikulum yakni (1) Relevansi, prinsip relevansi menekankan pentingnya kurikulum untuk secara langsung berkaitan dengan kebutuhan dan perkembangan setiap siswa. Kurikulum pendidikan yang relevan dapat memastikan bahwa materi pelajaran dapat memberikan manfaat praktis dan membantu siswa menghadapi masalah di kehidupan sehari-hari. (2) Fleksibilitas, prinsip fleksibilitas sebagai prinsip kurikulum menunjukkan bahwa kurikulum dapat beradaptasi dengan perubahan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Kurikulum yang fleksibel memungkinkan guru untuk menyesuaikan metode pengajaran dan materi agar sesuai dengan karakteristik siswa dan perkembangan terkini. (3) Berkelanjutan, prinsip berkelanjutan menekankan pada keberlanjutan dan ketahanan kurikulum dalam menghadapi perubahan zaman. Kurikulum yang berkelanjutan dirancang untuk tetap relevan dan efektif dalam jangka panjang, mengakomodasi perubahan dalam tuntutan masyarakat dan dunia pendidikan. (4). Efesien dan efektif, bahwa prinsip penting dalam perancangan kurikulum adalah efisiensi dan efektivitas. Kurikulum yang efisien memastikan penggunaan sumber daya yang optimal, sementara kurikulum yang efektif mencapai tujuan pendidikan dengan memberikan hasil yang maksimal dalam proses pembelajaran. Dengan demikian menerapkan prinsip-prinsip ini dalam perancangan kurikulum dapat membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang dinamis dan relevan terhadap perkembangan pendidikan dan kebutuhan siswa.
Globalisasi dan Deep Learning
Globalisasi merupakan realitas serta kenyataan yang harus kita hadapi. Pendidikan kita saat ini dihadapkan pada “perang global” betapa semakin majunya teknologi saat ini dengan standar global. Kita dihadapkan bagaimana meningkatkan kemampuan para generasi yang lebih cerdas, kritis serta memiliki daya saing global. Di satu sisi kita terus dituntut untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan budaya lokal yang menjadi identitas kita. Merujuk pendapat Amalia, Lestari, dan Mulyana (2024), menyatakan bahwa globalisasi menuntut sistem pendidikan yang dinamis, berbasis teknologi, dan berorientasi pada mutu sumber daya manusia, tapi tetap berpijak pada nilai-nilai lokal. Intinya kita bisa belajar dari dunia tanpa kehilangan arah sebagai bangsa Indonesia.
Merujuk pada Halo Edukasi,com, 2026 menyatakan ada 6 dimensi kurikulum.
Ada beberapa dimensi di dalam kurikulum, dimensi tersebut menyangkut peran kurikulum dalam pendidikan dan pelajaran. Pertama, kurikulum sebagai ide, bahwa ide dalam kurikulum bersifat dinamis, yang berarti akan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman, kebutuhan dan minat iswa, tuntutan masyarakat, teknologi dan ilmu pengetahuan. Ide dalam kurikulum hanya ada dalam seseorang yang terlibat dalam pendidikan, seperti kepala dinas -pendidikan, kepala sekolah, guru, pengawas, peserta didik, akademis, orang tua, dan sebagainya.Dari sekian banyak ide yang dikumpulkan, akan dipilih ide yang paling menarik, kreatif, inovatif sesuai dengan visi-misi dan tujuan pendidikan. Ide-ide setiap orang tentu berbeda-beda. Perbedaan tersebut harus dianalisis agar dapat menjadi landasan pengembangan kurikulum. Kedua, kurikulum sebagai rencana tertulis. Dimensi kurikulum sebagai rencana akan ditulis dalam suatu dokumen tertulis, sehingga dapat dilihat, dianalisis. Dimensi kurikulum ini pada dasarnya merupakan versi nyata dari dimensi ide kurikulum. Kurikulum sebagai ide harus mengikuti ketentuan dan pola kurikulum, dalam perencanaan kurikulum mengalami kesulitan karena ide yang disampaikan kebanyakan terlalu umum dan susah dimengerti oleh para pelaksana kurikulum. Ketiga, kurikulum sebagai suatu kegiatan. Kurikulum dalam kegiatan merupakan yang sebenarnya terjadi dilapangan. Peserta didik akan mengaggap kurikulum sebagai ide, namun pada kenyataannya berbanding terbalik dengan yang dialaminya. Ide dan pengalaman mungkin sejalan, tetapi tidak menutup kemungkinan akan saling bertentangan.
Kurikulum harus diartikan dalam satu kesatuan yang utuh. Jika suatu kegiatan tidak termasuk dalam kurikulum, maka hasil belajar siswa di sekolah maupun di luar sekolah merupakan refleksi dan kenyataan dari dimensi kurikulum tertulis. Keempat, kurikulum sebagai hasil belajar, hasil merupakan kurikulum, tetapi kurikulum bukan hasil dari belajar. Banyak orang yang keliru tentang hal ini, mereka hanya tau bahwa hasil dari belajar adalah bagian dari kurikulum, tetapi yang tidak banyak orang tau bahwa kurikulum bukan hanya tentang hasil belajar. Ketika melakukan evaluasi tentang kurikulum, umumnya orang akan mengaitkannya dengan hasil belajar. Walaupun pada kenyatannya evaluasi kurikulum jauh lebih luas daripada penilaian hasil belajar. Hasil belajar bukan satu-satunya hal yang ada dalam evaluasi kurikulum,tetapi bisa menjadi salah satu dimensi kurikulum.
Kelima, kurikulum sebagai suatu disiplin ilmu, memiliki konsep, prinsip, asumsi, dan prosedur yang dapat dianalsis oleh pakar kurikulum, guru, kepala sekolah, peneliti kurikulum, tenaga pendidikan lainnya yang ingin mempelajari kurikulum. Semua siswa wajib mempelajari kurikulum. Tujuan kurikulum untuk mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistemnya.Keenam, kurikulum sebagai suatu system. Sistem berasal dari bahasa yunani (systema) dan bahasa yunani (sustema) yang berarti satu kesatuan yang berisi elemen atau komponen yang dihubungkan untuk mempermudah aliran informasi, energi atau materi untuk mencapai tujuan.Sistem kurikulum merupakan salah satu bagian yang penting dan tak terpisahkan dari sistem pendidikan dan sistem persekolahan. Sistem yang ada di sekolah terfokus pada kurikulum apa yang akan di susun dan bagaimana kurikulum dilaksanakan. Sistem kurikulum mencakup tahap-tahap pengembangan dari kurikulum itu sendiri, baik itu dari perencanaan,pelaksanaan, evaluasi, perbaikan dan penyempurnaan kurikulum. Dimensi ini juga menggambarkan tentang komponen-komponen yang terdapat dalam kurikulum.
Kurikulum diharuskan untuk mengikuti perkembangan zaman, itulah sebabnya kurikulum diperlukan dan dituntut untuk sesuai dengan apa yang dibutuhkan saat ini. Selain sebagai sistem di sekolah, kurikulum juga sebagai sistem di dalam masyarakat. Mengacu pada hal tersebut maka dalam mengembangkan kurikulum yang inovatif dan dinamis sebagaimana yang berlaku saat ini pembelajaran deep learning sangat penting dilakukan.
Deep learning atau pembelajaran mendalam menjadi topik yang banyak dibicarakan terkait dengan memasukkan pendekatan ini ke dalam kurikulum. Meski sebenarnya ini bukan metode atau pendekatan baru, melainkan sudah dikenal sejak lama di lingkungan pendidikan.
Merujuk pada beberapa hasil penelitian, banyak yang menyimpulkan bahwa deep learning memberikan pengaruh positif terhadap perkembangan belajar serta sosial-emosional siswa. Secara konseptual, deep learning mendorong siswa untuk tidak hanya memahami informasi, tetapi juga mengaitkannya secara lebih mendalam, yang berujung pada pemahaman yang lebih holistik. Pendekatan deep learning berlawanan dengan apa yang sering disebut surface learning yaitu lebih berfokus pada penghafalan fakta tanpa mendorong keterlibatan kritis, mengurangi kesempatan siswa untuk benar-benar memahami materi dan lebih terfokus pada persiapan ujian semata.
Deep learning atau pembelajaran mendalam merupakan pendekatan yang menekankan pada penciptaan suasana belajar dan proses pembelajaran berkesadaran, (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui olah pikir (intelektual), olah hati (etika), olah rasa (estetika), dan olah raga (kinestetik) secara holistik dan terpadu. Deep learning bukan sekadar metode untuk meningkatkan pemahaman siswa, melainkan sebuah pendekatan yang mengubah cara belajar menjadi lebih aktif, kolaboratif, dan mendalam. Deep learning mengajak siswa untuk menggali lebih dalam tentang materi pelajaran, mengaitkan konsep-konsep yang dipelajari, dan menerapkannya dalam situasi nyata. Metode ini berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir kritis, kemampuan analisis, dan kreativitas, dengan tujuan menciptakan pemahaman yang lebih holistik. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif dalam membangun pengetahuan melalui berbagai pengalaman belajar yang memacu mereka untuk berpikir secara mandiri dan bekerja sama. Pembelajaran berbasis proyek, pembelajaran berbasis inkuiri, studi kasus, dan simulasi kehidupan nyata merupakan metode turunan dari pendekatan ini.
Deep learning memiliki sejumlah karakteristik yang membedakannya dari pendekatan pembelajaran lainnya. Yaknii,(1) pembelajaran berbasis eksplorasi, belajar aktif, dan berbasis konsep, (2) mendorong kolaborasi, rasa ingin tahun dan berpikir kritis. (3) Buku teks adalah salah satu sumber pengetahuan. Dalam proses pembelajaran deep learning, buku teks hanya berfungsi sebagai salah satu sumber pengetahuan, bukan satu-satunya referensi. (4). Multidisiplin, pembelajarannya bersifat multidisiplin, memungkinkan siswa menghubungkan berbagai mata pelajaran dan memahami kaitannya dalam konteks kehidupan nyata. (5). Dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajar murid. (6).Kelas bersifat heterogeny, dalam kelas yang bersifat heterogen, siswa dengan kemampuan yang berbeda dapat saling mendukung dan belajar bersama, menciptakan lingkungan yang inklusif. (7).Asesmen autentik, berbasis kinerja, asesmen dalam deep learning lebih bersifat autentik, yaitu berbasis pada kinerja dan bukan hanya ujian formal. Evaluasi dilakukan melalui tugas-tugas yang relevan dengan dunia nyata, yang mencerminkan proses belajar secara lebih nyata dan aplikatif. (8). Sekolah adalah tentang perkembangan akademik, sosial, dan emosional Pembelajaran juga dipandang sebagai proses yang berfokus pada perkembangan akademik, sosial, dan emosional siswa, bukan hanya pencapaian akademis semata. (9). Guru mengajar dan merencanakan pembelajaran dalam tim. Guru dalam pendekatan ini tidak hanya mengajar, tetapi juga merencanakan pembelajaran secara kolaboratif dengan rekan sejawat untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih baik. (10). Pembelajaran merupakan aktivitas kolaboratif, pembelajaran deep learning pada dasarnya adalah sebuah aktivitas kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, dan seluruh komunitas sekolah dalam proses pembelajaran yang lebih holistik.
Pendekatan deep learning dalam pendidikan tidak hanya fokus pada metode atau teknik tertentu, tetapi juga melibatkan tiga prinsip yang saling terkait: meaningful learning, mindful learning, dan joyful learning. Meaningful learning atau pembelajaran bermakna adalah pendekatan yang menekankan pentingnya keterkaitan antara pengetahuan baru dengan pengalaman atau pengetahuan yang sudah dimiliki siswa sebelumnya. Mindful learning atau pembelajaran dengan kesadaran penuh menuntut siswa untuk terlibat sepenuhnya dalam proses belajar dengan perhatian yang utuh. Pembelajaran ini tidak hanya menekankan pada hasil akhir, tetapi juga memberi perhatian besar pada proses yang dilalui siswa.
Joyful learning atau pembelajaran yang menyenangkan bertujuan untuk menciptakan pengalaman belajar yang positif dan penuh motivasi. Dalam pendekatan ini, siswa belajar dalam suasana yang tidak menakutkan dan justru menggairahkan mereka untuk lebih aktif terlibat. Dengan mengintegrasikan deep learning dalam Kurikulum Dinamis proses pembelajaran menjadi lebih fleksibel, bermakna, dan menyenangkan, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang tidak hanya dalam hal pengetahuan akademis, tetapi juga dalam keterampilan sosial, emosional, dan profesional yang sangat dibutuhkan di dunia nyata. Dengan kurikulum yang dinamis sertaa disesuaikan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi model pemelajarab deep learning sangat tepat diberikan terhadap siswa. Pemahaman siswa terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan pentingnya ilmu pengetahuan mereka kuasai akan menjadi modal mereka untuk bersaing secara gobal di masa mendatang. Semoga bermanfaat. (*****).

Rujukan:
1. Anas, M. H., Bakti, S., Nasril, Y., & Adawiyah, R. (2025). Analisis Perkembangan Kurikulum Pendidikan Nasional di Indonesia dari Kurikulum 1947 hingga Kurikulum Merdeka: Studi Literatur. Didaktika: Jurnal Kependidikan, 14(1 Februari), 1259-1272.
2. Gifari, M. K., Gunadi, R. A., & Dewi, R. (2025, March). Mindful, Meaningful, dan Joyful Learning di PAUD: Sebuah Tinjauan Literatur Sistematis. In Prosiding Seminar Nasional Pendidikan FKIP Universitas Lampung (pp. 284-296).
3. Santiani, S. (2025). ANALISIS LITERATUR: PENDEKATAN PEMBELAJARAN DEEP LEARNING DALAM PENDIDIKAN. JURNAL ILMIAH NUSANTARA, 2(3), 50-57.
4. Sarosa, S. (2021). Analisis Data Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Kanisius.
5. Wiwita, R., Handayani, R., & Mayeni, R. (2025). PENERAPAN PEMBELAJARAN STEMPROBLEM/BASED LEARNING BERBASIS LESSON STUDY DALAM KURIKULUM MERDEKA. Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah, 10(1), 186-194

Komentar