Puluhan Gelondong PETI Bebas Beroperasi Di Limbur Lubuk Mengkuang, APH Dimana ?

Oleh : Azwari

Bungonews.net-Puluhan Unit Gelondong PETI bebas beroperasi di wilayah kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang kabupaten Bungo – Jambi namun aktifitas ilegal yang jelas merusak lingkungan ini seolah-olah tidak tersentuh hukum. parahnya lagi pemilik yang juga pelaku ilegal ini justeru dengan bangga mengatakan mereka tidak peduli kalau dipublikasikan,sebagaimana pemberitaan sebelumnya dengan judul ” Puluhan Unit Gelondong PETI Milik Budi dan Rio Bebas Beroperasi di Limbur Lubuk Mengkuang tanpa Tersentuh Hukum “hal ini membuktikan tidak ada rasa takut sedikit pun karena mereka beranggapan seolah-olah ada oknum yang membackingi.Fakta ini jauh sebelum adanya pengakuan tersebut diketahui ada oknum perangkat, pemerintahan desa, perangkat yang pasang badan dengan komitmen fee alias jatah bulanan yang disepakati

“Kami Tidak Peduli,” Itu Artinya Mereka Tidak Takut
Kalimat ini bukan sekadar ucapan. Ini adalah pesan.
Pesan bahwa mereka merasa aman.
Pesan bahwa mereka merasa tidak akan disentuh hukum.
Pesan bahwa keberadaan mereka selama bertahun-tahun bukan kebetulan.

Tidak ada pelaku kejahatan yang berbicara seperti itu jika negara hadir.
Pembiaran yang Terlihat Terlalu Nyata
Puluhan mesin gelondong PETI bukan aktivitas kecil.
Tidak mungkin tidak terdengar.
Tidak mungkin tidak terlihat.
Tidak mungkin tidak tercium aktivitas ilegalnya.
Jika masyarakat biasa tahu, jika tokoh masyarakat tahu, jika pekerja tahu, bahkan media bisa menemukan lokasi tanpa kendala, maka tidak mungkin aparat tidak tahu.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah aparat tahu?”.
Pertanyaannya adalah:
Mengapa mereka diam?

Anak-cucu akan menjadi korban dari kelalaian hari ini.
Ironi terbesar: kerusakan seperti ini sering lebih cepat dihentikan oleh alam banjir, longsor, air beracun daripada oleh hukum.

Masyarakat Sudah Berteriak, Tapi Siapa yang Mendengar?
Ketika warga meminta aparat turun, itu artinya kepercayaan mereka pada negara sudah mulai rapuh.
Masyarakat tidak menuntut banyak.
Mereka hanya meminta hal paling dasar dari sebuah negara: penegakan hukum.
Jika hal sesederhana ini pun tidak terpenuhi, maka yang tergerus bukan hanya tanah dan sungai, tapi wibawa hukum itu sendiri.
Apa yang Negara Takutkan? Atau Siapa yang Negara Layani?

Editorial ini harus mengajukan pertanyaan yang tidak ingin diucapkan banyak orang:
Apakah ada kepentingan yang membuat aparat enggan turun?
Apakah ada pihak yang menikmati keuntungan dari pembiaran ini?
Siapa yang sebenarnya dilayani? Pengusaha PETI atau masyarakat?
Selama pertanyaan-pertanyaan ini tidak dijawab, pembiaran akan menjadi preseden berbahaya:
bahwa hukum bisa ditekuk, dan negara bisa dibeli.
Akhir Kata: Jika Aparat Tidak Bertindak, Jangan Salahkan Rakyat Kehilangan Kepercayaan
Tidak ada negara yang kuat jika rakyatnya merasa hukum hanya berlaku pada yang lemah, sementara yang kuat dan dekat dengan kekuasaan melenggang bebas.
Puluhan gelondong PETI adalah bukti nyata.
Bukti bahwa hukum sedang kalah.
Bukti bahwa negara sedang tidak hadir.
Dan editorial ini ditulis untuk mengingatkan:
Ketika negara diam, kejahatan tumbuh menjadi budaya. (Redaksi )

Komentar