Diakui, Pembangunan 400 Unit WC Senilai Rp4 Miliar di Bungo Hampir Rampung

BUNGO163 Dilihat

Bungonews.net, Bungo – Pemerintah pusat melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Bungo pada tahun 2025 lalu menggelontorkan anggaran sebesar Rp4 miliar untuk pembangunan 400 unit jamban sehat (WC) bagi masyarakat kurang mampu.
Program sanitasi ini dilaksanakan melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dengan sasaran utama warga miskin, sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan serta menekan praktik buang air besar sembarangan (BABS) di Kabupaten Bungo.
Sebanyak 400 unit WC tersebut tersebar di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Bathin III, Kecamatan Pelepat, dan Kecamatan Limbur Lubuk Mengkuang.
Meski belum seluruhnya rampung 100 persen pada akhir tahun 2025, pembangunan WC tersebut tetap dilanjutkan hingga kini dan telah memasuki tahap akhir. Hal itu diakui Kepala Bidang Sarana, Prasarana, dan Utilitas Disperkim Kabupaten Bungo, Yendra, ST.
“Hampir selesai, tinggal perapian saja lagi,” ujar Yendra saat dikonfirmasi Bungonews melalui WhatsApp, Selasa (13/1/2026).
Yendra menjelaskan, keterlambatan penyelesaian pembangunan disebabkan oleh sejumlah kendala teknis di lapangan. Faktor cuaca menjadi salah satu penghambat utama, ditambah adanya permintaan dari sebagian penerima bantuan untuk memperluas bangunan WC dari spesifikasi standar.
“Kendalanya cuaca, lalu ada juga permintaan penerima bantuan untuk memperluas bangunan dari ukuran standar. Itu yang menyebabkan pekerjaan sedikit molor, termasuk sulitnya mendapatkan tukang bangunan,” jelasnya.
Saat ditanya mengenai kebutuhan sanitasi ke depan, Yendra menegaskan bahwa program jamban sehat masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat. “Untuk kegiatan sanitasi, kebutuhannya masih cukup banyak,” imbuhnya.
Hal senada disampaikan Haris, selaku pendamping kegiatan swakelola KSM. Ia menyebutkan bahwa keterlambatan penyelesaian pembangunan tidak signifikan dan hanya menyisakan beberapa unit saja.
“Insya Allah dalam minggu ini selesai semua, bang. Tinggal beberapa unit lagi, progresnya sudah sekitar 96 persen,” ujarnya optimistis.
Menurut Haris, kendala teknis di lapangan juga dipengaruhi oleh sulitnya mendapatkan material bangunan, khususnya pasir, akibat kondisi air yang dalam sehingga berdampak pada ketersediaan batako.
“Itu saja kendalanya,” pungkasnya. (BN)

Komentar