oleh

Perubahan Mindset,Membangun Sinergi Pendidikan Lebih Baik

Oleh: Nelson Sihaloho

( Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi)

 

Rasional:

 

Saat ini penggunaan internet of things (IoT) dan artificial intelligence (AI) semakin banyak berperan dalam mengubah kehidupan umat manusia, mulai kelembagaan sosial ekonomi hingga perilaku. Di bidang pendidikan, Indonesia masih berkutat pada tantangan dasar, yakni bagaimana seluruh warga negara mampu memiliki akses memperoleh layanan pendidikan dasar dan menengah. Tantangan besar lainnya adalah bagaimana meningkatkan kualitas, termasuk memperkecil kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Banyak program-program pendidikan telah digulirkan paling terakhir adalah Kurikulum 2013, ada Program Pembelajar, Rumah Belajar, PemBatik, Sekolah Ramah Anak, PPDB Zonasi, Program Merdeka Belajar, Sekolah Penggerak, Guru Penggerak bahkan akan menyusul dibentuk program-program lainnya. Perubahan Mindset dalam bidang pendidikan memang sangat urgen dilakukan. Ekosistem pendidikan saat ini di masa pandemic Covid-19 sangat sulit diukur mutu maupun kualitasnya. Karena itu perubahan Mindset  sangat dibutuhkan untuk membangun sinergi pendidikan kearah yang lebih baik.

Kata kunci: mindset, sinergi , pendidikan

 

Perubahan Mindset

Untuk menjawab tantangan zaman dalam memasuki era industri 4.0 atau Cyber Physical System perubahan mindset dalam pendidikan sangat urgnesial dilakukan. Dunia era sekarang ini menuntut keterbukaan di berbagai bidang. Ekosistem pendidikan yang baik dan ideal adalah bagaimana mengajarkan peserta didik untuk hidup, mengasah talentanya, kompetensinya, karakternya, tanggung jawabnya, kepeduliannya terhadap komunitas sosial di sekitarnya. Karena itu guru perlu mengubah mindset dalam melaksanakan tugas profesionalnya sebagai pendidik. Banyak kalangan pakar ahli menjabarkan defenisi dan pengertian tentang mindset. Gunawan (2007:14) menyatakan bahwa Mindset adalah beliefs that affect somebody’s attitude; a set of beliefs a way of thinking that determine sombebody’s behavior and outlook (Kepercayaan-kepercayaan yang mempengaruhi sikap seseorang;sekumpulan kepercayaan atau suatu cara berfikir yang menentukan perilaku dan pandangan, sikap dan masa depan seseorang. Adapun Mulyadi (2007:14) menyatakan, Minset adalah sikap mental mapan yang dibentuk melalui pendidikan, pengalaman dan prasangka. Sedangkan Adi W Gunawan (2013, dalam Rachmat Soegiharto, 2013) Mindset adalah sekumpulan kepercayaan (belief) atau cara berpikir yang mempengaruhi perilaku dan sikap seseorang, yang akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya.

Mengutip James Artur Ray,  mindset artinya kepercayaan kepercayaan (sekumpulan kepercayaan) yang mempengaruhi sikap seseorang, atau suatu cara berfikir yang menentukan prilaku pandangan, sikap, dan masa depan seseorang. Ibrahim Elfiky di dalam beberapa buku motivasinya, “mindset adalah sekumpulan pikiran yang terjadi berkali-kali di berbagai tempat dan waktu serta diperkuat dengan keyakinan dan proyeksi sehingga menjadi kenyataan yang dapat dipastikan di setiap tempat dan waktu yang sama.” Dengan demikian dari uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa mindset sebenarnya dalah kepercayaan (belief), sekumpulan kepercayaan atau cara berfikir yang mempengaruhi prilaku (behavior) dan sikap (attitude) seseorang, yang pada akhirnya akan menentukan level keberhasilan hidupnya. Menurut Carol S Dweck (2006), mindset terdiri atas 3 (tiga) komponen pokok,yakni paradigma, keyakinan dasar serta nilai dasar. Paradigma adalah cara yang digunakan seseorang dalam memandang sesuatu. Paradigma merupakan sistem keyakinan dasar atau cara memandang dunia yang membimbing peneliti tidak hanya dalam memilih metode tapi juga cara fundamental yang bersifat ontologis dan epistologis. Suatu paradigma bisa dipandang sebagai seperangkat kepercayaan dasar yang bersifat sebagai prinsip utama atau pokok. Suatu paradigma bisa dicirikan oleh respon terhadap 3 pertanyaan mendasar seperti pertanyaan ontologi, epistologi dan metodologi. Sedangkan keyakinan dasar adalah kepercayaan yang dilekatkan seseorang terhadap sesuatu. Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Apabila dalam melakukan sesuatu yang telah diyakini maka kita akan melakukannya sepenuh hati.  Nilai Dasar adalah sikap, sifat dan karakter yang dijunjung tinggi seseorang, sehingga berdasarkan semua itu nilai-nilai tersebut seseorang dibatasi. Carol Dweck (2006) menyatakan bahwa terdapat dua macam mindset yakni fixed mindset (mindset tetap) dan growth mindset (mindset berkembang). Fixed mindset yakni didasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas-kualitas seseorang sudah ditetapkan. Jika seseorang memiliki sejumlah inteligensi tertentu, kepribadian tertentu dan karakter moral tertentu. Adapun ciri-ciri dari orang dengan mindset tetap yakni memiliki keyakinan bahwa inteligensi, bakat, sifat ialah sebagai fungsi hereditas/keturunan. Menghindari adanya tantangan, mudah menyerah, mengganggap usaha tidak ada gunanya, mengabaikan kritik serta merasa terancam dengan kesuksesan orang lain. Growth mindset, yaitu didasarkan pada kepercayaan bahwa kualitas-kualitas dasar seseorang ialah hal-hal yang dapat diolah melalui upaya-upaya tertentu. Meskipun manusia mungkin berbeda dalam segala hal, dalam bakat dan kemampuan awal, minat atau temperamen setiap orang dapat berubah dan berkembang melalui perlakukan dan pengalaman. Adapun ciri-ciri dari orang dengan mindset berkembang yakni memiliki keyakinan bahwa intelegensi, bakat dan sifat bukan merupakan fungsi, hereditas/keturunan. Menerima tantangan dan bersungguh-sungguh menjalankannya, tetap berpandangan ke depan dari kegagalan. Berpandangan positif terhadap usaha, belajar dari kritik serta menemukan pelajaran dan mendapatkan inspirasi dari kesuksesan orang lain.

 

Sinergi Membangun Pendidikan

Perubahan minset atau pola pikir  sangat diperlukan untuk menggerakkan perilaku kita dalam meningkatkan mutu serta kualitas pendidikan. Mengutip William James, ahli psikologi modern, dari Amerika Serikat menyatakan “Yakinlah bahwa hidup Anda berharga, maka keyakinan Anda akan menciptakan faktanya”. Pergeseran pola pikir berarti berubah dari satu pola pikir kepada pola pikir yang lain. Pergeseran pola pikir berarti berubah dari pola pikir negatif ke pola pikir yang lebih positif, dari pola pikir pecundang menjadi pemenang, dari pola pikir statis menjadi kreatif serta dari pola pikir pekerja menjadi pola pikir pencipta pekerjaan. Kebijakan pendidikan saat ini memang diproyeksikan  agar  di masa depan peserta didik  mampu memenuhi kebutuhannya dalam menghadapi modernitas perkembangan Iptek. Peserta didik saat ini membutuhkan kompetensi abad 21 untuk masa depannya. Revolusi Industri 4.0 yang telah membawa implikasi terhadap disrupsi jenis dan bentuk profesi di masa mendatang mengingatkan kita betapa sinerginitas dalam membangun pendidikan sangat dibutuhkan. Pendidikan kita  harus mampu melakukan lompatan yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Generasi milenial sebagai generasi penerus bangsa mindset yang mereka miliki harus benar-benar berorientasi pada tataran global. Mereka harus menjadi bangsa yang cerdas, mandiri, sejahtera, serta berbudi luhur. Mereka harus diberikan bekal bagaimana cara otak dan pikiran bekerja ketika kita melihat atau mendengar informasi salah atau benar. Sektor pendidikan harus mampu memberdayakan pikiran-pikiran generasi manusia menjadi lebih brilian. Perubahan mindset  harus banyak diajarkan di sekolah-sekolah, rumah ibadah, masyarakat, termasuk kepada para buruh/karaywan agar kita dapat mengendalikan pikiran kita untuk hal-hal yang benar dan positif. Perbaikan mindset bangsa selain tanggung jawab pemerintah juga tanggung jawab masyarakat maupun dunia usaha. Contoh lainnya yakni tatkala pola Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) berubah menggunakan sistem zonasi terlihat seperti adanya kekagetan dan kegamangan, baik bagi masyarakat pengguna layanan pendidikan, guru pengelola sekolah, maupun para birokrat pendidikan. Masyarakat yang masih memiliki mindset sekolah favorit khawatir tidak bisa lagi mendapatkan keistimewaan, gengsi, dan prestise. Sistem zonasi tidak memungkinkan masyarakat memilih sekolah negeri yang berada di luar zona yang ditetapkan. Hal ini bisa menjadi masalah bagi mereka yang tinggal di luar zona sekolah favorit yang diinginkan. Sudah menjadi rahasia umum, sebagian guru-guru sekolah favorit berasal dari keluarga pejabat. Keberadaan mereka di sekolah favorit bukan karena prestasi dan kompetensi, melainkan karena diduda adanya unsur nepotisme. Mereka terbiasa dengan perlakuan istimewa, baik dari para birokrat maupun dari masyarakat pengguna layanan pendidikan. Dalam hal ini, sistem zonasi menjadi ancaman bagi kenyamanan kerja mereka. Masih kuatnya mindset sekolah favorit berpotensi terhadap terjadinya modifikasi dalam sistem zonasi sehingga memungkinkan terciptanya zonasi semu. Sistem zonasi perlu didukung sebagai sebuah upaya reformasi pendidikan dalam rangka pemerataan kualitas pendidikan dan pendidikan yang berkeadilan terhadap seluruh rakyat Indonesia.

 

Harus Lebih Baik

 

Mengutip Fasli Jalal (2007:1) mengatakan bahwa pendidikan yang bermutu sangat bergantung pada keberadaan pendidik yang bermutu yakni pendidik yang profesional dan berkarakter. Guru adalah tonggak sejarah panjang dunia pendidikan di Indonesia. Pendidikan tidak pernah lepas dari peranan guru, maka marwah ataupun martabat guru tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat. Pendidik yang baik adalah pendidik yang mampu memperhatikan perkembangan seluruh aspek “ke-diri-an” subjek peserta didik, yakni perkembangan fisik (tubuh), perkembangan aspek psikis (cognitive, afektif, moral, social) dan sekaligus aspek spiritual (ke-Roh-anian) nya, ketiga aspek ini diperhatikan secara integrative dan menyeluruh, karena tidak dapat dipisahkan. Sekolah sebagai wadah pembinaan generasi muda harus mampu menjadi tempat mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan diri peserta didik secara utuh dan menyeluruh (holistic). Sekolah tidak hanya tempat menimba ilmu pengetahuan (aspek mind), melainkan juga tempat berlatih mengolah: emosi, afeksi, hidup social dan kerohanian. Guru yang professional adalah guru yang mampu bersikap netral, dicintai oleh siswanya dan masyarakat, guru yang memiliki wibawa, punya ide-ide kreatif, mampu memunculkan inovasi, dan selalu berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sebagaimana kita ketahui bahwa mutu pendidikan merupakan dua sisi yang sangat penting diperhatikan yaitu proses dan hasil. Mutu dalam proses pendidikan melibatkan berbagai input seperti; bahan ajar (kognitif, afektif, atau psikomotorik), metodologi (bervariasi sesuai kemampuan guru), sarana dan prasarana lembaga pendidikan, dukungan administrasi, berbagai sumber daya dan upaya penciptaan suasana yang fair dan nyaman untuk belajar. Mutu dalam konteks “hasil pendidikan” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh lembaga pendidikan pada setiap kurun waktu tertentu. Dimasa depan persaingan antarbangsa akan semakin kompetitif yang berimplikasi pada tuntutan kesiapan setiap bangsa  untuk menghadapi kompetisi global. Karena itu dalam meningkatkan mutu pendidikan harus dilakukan dengan terpadu.   Mutu terpadu merupakan sebuah gairah dan pandangan hidup terhadap organisasi yang menerapkannya. Unsur utama yang menentukan mutu sebuah institusi adalah kepemimpinan. Mengutip Peter dan Austin, gaya kepemimpinan tertentu dapat mengantarkan institusi pada revolusi mutu (sebuah gaya yang mereka singkat dengan MBWA atau management by walking about (manajemen dengan melaksanakan).  Kualitas manusia suatu negara sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya, karena itu adalah sangat wajar jika mereka berlomba-lomba meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan dalam rangka memajukan kualitas sumber daya manusia yang lebih baik lagi.  Isu tentang peningkatan mutu pendidikan merupakan masalah kontemporer yang akan terus dijadikan dasar pemikiran dan perumusan kebijakan di bidang pendidikan.  Pendidikan Indonesia di masa mendatang diharapkan mampu memenuhi harapan masyarakat  yaitu terealisasinya lulusan  bermutu berdaya saing global. Paradigma belajar dengan melakukan perubahan atau reformasi dalam pembelajaran harus dilakukan .  Dalam era Revolusi Industri 4.0 diperlukan berbagai  pembaharuan maupun pola kerjasama dengan berbagai pihak, terutama untuk mendukung terealisasinya inovasi besar dalam pendidikan. Perbaikan fundamental pendidikan yang selama ini banyak menghambat dalam memperbaiki lembaga pendidikan harus dilakukan. Termasuk dalam upaya meningkatkan standar kompetensi, meningkatkan kualitas pemagangan, meningkatkan sarana dan prasarana, meningkatkan pendanaan. Perbaikan fundamental mutlak diperlukan dalam pendidikan sebab perbaikan mutu harus di mulai dari lembaga pendidikan. Strategin pemerataan pendidikan yang berkualitas, termasuk ke wilayah perbatasan atau daerah tertinggal harus segera dilakukan dengan langkah-langkah strategis.  Lompatan peningkatan kualitas SDM menjadi momentum terhadap perbaikan mutu dan kualitas SDM bangsa. Program akselerasi  peningkatkan mutu dan kualitas SDM memang mahal namun di masa depan SDM yang kompetitif akan menajdi penghasil sumber devisa bernilai tinggi. SDM yang kompetitif dan unggul akan menjadi pilar utama dalam mengembangkan teknologi. Penguatan softskill juga menjadi bagian penting dalam pendidikan termasuk penguatan hardskill. Mengacu pada peningkatan SDM yang kompetitif dan unggul menuntut adaptasi serta modernisasi pendidikan. Mengutip  Samuel Huntington proses modernisasi mengandung beberapa ciri pokok. Yakni merupakan proses bertahap, dari tatanan hidup yang primitif-sederhana menuju kepada tatanan yang lebih maju dan kompleks. Merupakan proses homogenisasi bahwa modernisasi membentuk struktur dan kecenderungan yang serupa pada banyak masyarakat. Penyebab utama proses homogenisasi ini adalah perkembangan teknologi informasi, komunikasi dan transportasi. Modernisasi merupakan proses yang tidak bergerak mundur, tidak dapat dihindarkan dan tidak dapat dihentikan. Selanjutnya modernisasi merupakan proses progresif (ke arah kemajuan), meskipun tidak dapat dihindari adanya dampak (samping). Terakhir modernisasi merupakan proses evolusioner, bukan revolusioner; hanya waktu dan sejarah yang dapat mencatat seluruh proses, hasil maupun akibat-akibat serta dampaknya. Dengan demikian perubahan minset untuk membangun sinergi pendidikan kearah yang lebih baik mutlak dilakukan. Berbagai program-program yang selama ini kurang efektif dalam meningkatkan mutu dan kualitas SDM di Negara kita harus segera dirubah. Sistem harmonisasi yang terkait dengan teknologi maupun aplikasi peningkatkan kualitas SDM harus dilakukan.  Tantangan di masa depan harus menjadi peluang dan motivasi bangsa untuk terus belajar dari ketertinggalan bangsa menjadi bangsa yang memiliki SDM berdaya saing tinggi. Banyak pihak berharap semoga Menteri Pendidikan dan Kebuayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim mampu mewujudkan  perubahan minset dalam membangun sinergi pendidikan khususnya peningkatan SDM bangsa kearah yang lebih baik. Semoga Bermanfaat. (*****).

 

Rujukan:

1.     Fasli, Jalal. (2007). Artikel: Sertifikasi Guru untuk Mewujudkan Pendidikan yang Bermutu. Medan: Universitas Negeri Medan.

2.     Gunawan, Adi W. (2008). The Secret of Mindset. Cet. III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

3.     Hidayatullah, M.Furqon. 2010. Pendidikan Karakter: Membangun Peradaban Bangsa. Surakarta: Yuma Pustaka.

4.     Sagala, Syaiful. 2011. Kemampuan Profesuional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta. Shoimin, Aris. 2014. Guru Berkarakter untuk Implementasi Pendidikan Karakter. Yogyakarta: Gava Media.

5.     Yunus. 2014. Mindset Revolution Optimalisasi Potensi Otak Tanpa Batas. Yogyakarta: Jogja Bangkit Publisher.

6.     Widodo, Suparno Eko. 2011. Manajemen Mutu Pendidikan. Jakarta: Ardadizya Jaya.

7.     https://www.nu.or.id/post/read/124306/ubah-mindset–orientasi-pendidikan-tidak-sekadar-formalitas-administratif

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed