Pentingnya Membekali Peserta Didik dengan Kecakapan Hidup

146

Oleh: Nelson Sihaloho

*) Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi
Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com.

Rasional:
Kecakapan hidup (lifeskill) sebagaimana dalam Undang Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri. Seiring perkembangan zaman, di era saat ini dan dimasa depan sumberdaya manusia (SDM) yang dibutuhkan saat ini adalah yang memiliki kompetensi dalam pemanfaatan teknologi digital. Abad 21 yang bersamaan dengan era revolusi industri 4.0 menuntut perubahan mendasar dalam pendidikan. Tuntutan dunia mengharuskan bidang pendidikan melakukan berbagai inovasi dan terobosan dalam meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM). Pembelajaran abad 21 perlu mengintegrasikan kemampuan literasi, kecakapan pengetahuan, keterampilan dan sikap, serta penguasaan terhadap teknologi. Sebagaimana ditetapkan oleh UNESCO menetapkan empat pilar pendidikan, yaitu belajar untuk mencari tahu, belajar untuk mengerjakan, belajar untuk menjadi pribadi, dan belajar untuk hidup berdampingan dalam kedamaian. Untuk itu peserta didik perlu diberikan kecakapan hidup (life skills) dalam menghadapi era industry 4.0.
Kata kunci: guru, peserta ddik, kecakapan hidup

Pendidikan Abad 21

Pendidikan Abad 21 mencakup beberapa hal diantaranya key subjects and themes (mata pelajaran kunci dan tema), life and career skills (kecakapan hidup dan kecakapan berkerja). Learning and innovation skills (4C’s) (kecakapan belajar dan berinovasi) serta information, media, and technology skills (kecakapan terkait informasi, media, dan teknologi). Dengan demikian maka dalam pembelajaran Abad 21 penting dilakukan berbagai teronosan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik. Salah satunya adalah kesadaran global (global awareness) dengan melatih siswa memiliki wawasan maupun kesadaran global.
Revolusi industri yang kini telah memasuki babak baru yakni mengombinasikan tiga unsur penting, yakni manusia, mesin/robot, dan big data. Kombinasi tiga unsur ini, akan menggerakkan seluruh produksi menjadi lebih efektif dengan lebih cepat dan masif. Peserta didik dituntut tidak hanya sekadar generasi yang cakap dalam pengetahuan namun juga generasi yang memiliki skill yang tangguh. Agar bisa dihasilkan generasi hebat sebagai modal sebagai antisipasi revolusi industri 4.0 maka dunia pendidikan harus menerapkan pembelajaran abad 21. Pembelajaran abad 21 merupakan suatu pembelajaran yang bercirikan learning skill, skill, dan literasi. Learning skill yaitu kegiatan pembelajaran yang di dalamnya ditandai dengan adanya kerja sama, komunikasi, serta berpikir kritis dan kreatif. Sistem pembelajaran abad 21 merupakan suatu pembelajaran di mana kurikulum yang dikembangkan menuntut sekolah mengubah pendekatan pembelajaran. Yakni yang berpusat pada pendidik (teacher centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peseta didik (student centered learning). Penerapan pembelajaran abad 21, diharapkan menghasilkan lulusan dari generasi produktif yang memiliki kualitas dan skill hebat. Perkembangan teknologi dan informasi yang terjadi demikian cepat ditandai dengan munculnya super komputer, robot pintar, dan peralatan digital lainnya yang super canggih. Bisa diprediksikan dengan perlahan semua kehidupan beralih ke arah digital yakni interaksi antara manusia dengan teknologi. Itulah sebabnya di era industri 4.0 merupakan tantangan berat untuk kalangan guru.

Life Skill

Dalam buku Panduan Implementasi Kecakapan Abad 21 Kurikulum 2013 pada jenjang SMA (Kemendikbud, 2017) disebutkan, kompetensi abad 21 meliputi kecakapan berpikir kritis dan pemecahan masalah, kecakapan berkomunikasi, kreativitas dan inovasi, serta kolaborasi.Pembelajaran lifeskill pada hakikatnya adalah pembelajaran yang menempatkan anak sebagai pelaku belajar. Penguatan karakter tidak cukup sampai pada pemahaman dengan cara kognitif tentang pengertian karakter dan nilai-nilai karakter saja.  Diperlukan  adanya inovasi untuk mengembangkan pendidikan karakter.
Menurut Brolin (1989), Life Skills is constitute a continuum of knowledge and aptitude that are necessary for a person to a function effectively and avoid interruptions of employment experience. Dalam definisi ini Brolin menjelaskan bahwa kecakapan hidup adalah sebuah rangkaian pengetahuan dan keterampilan yang penting bagi seseorang untuk dapat menjalankan fungsinya secara efektif dan menghindari gangguan pengalaman kerja. Dirjen PLSP (2003) mendefinisikan life skills sebagai kecakapan yang dimiliki seseorang untuk mau dan berani menghadapi problema hidup dan penghidupan secara wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi sehingga akhirnya mampu mengatasinya. Dari definisi tersebut tergambar program ini merupakan program yang memiliki fokus pemberdayaan yang bertujuan untuk meningkatkan keberfungsian seseorang dalam kehidupannya. Sedangkan Sutisna (2010), menjelaskan bahwa pendidikan kecakapan hidup memiliki spektrum yang sangat luas subjek dan objeknya, untuk itu pembatasan kelompok sasaran peserta program untuk masyarakat miskin, tidak sekolah dan masyarakat marginal lainnya untuk memfokuskan output nya, yaitu memberikan keterampilan kerja, mendorong peserta berusaha mandiri, dimana tujuan akhir dari keduanya adalah peningkatan pendapatan, kesejahteraan dan produktivitas. Adapun Sutisna, et,al, menyatakan bahwa Konsep Pendidikan Kecakapan Hidup (Life Skills) mencakup: Kecakapan Mengenal Diri (Self Awareness/ personnal skill) kecakapan ini terkait dengan kemampuan seseorang untuk mengenali dirinya, mengenali potensinya secara menyeluruh. Kecakapan berpikir rasional (rational skill) adalah kecakapan terkait dengan kemampuan akademik , Kecakapan sosial (social skill) yaitu kecakapan terkait dengan kemampuannya bersosialisasi dengan lingkungannya. Kecakapan vokasional (vocational skill) yaitu kecakapan terkait penguasaan terhadap keterampilan untuk satu jenis pekerjaan tertentu dan bersifat spesifik atau biasa disebut juga dengan keterampilan teknikal (technical skills). Kecakapan- kecakapan itu dapat mengantarkan seseorang eksis dalam menghadapi era yang serbacepat, kompleks, digital, majemuk dan sebagainya. Kegiatan berpikir kritis bersifat mandiri, berdisiplin diri, memantau diri sendiri dan memperbaiki proses berpikir sendiri. Kegiatan berpikir kritis bukan digunakan untuk menimbulkan masalah dalam masyarakat, tetapi untuk menggali, menemukan, memahami, dan mengatasi masalah.

Jenis Kecakapan Hidup

Departemen Pendidikan Nasional membagi life skill (kecakapan hidup) menjadi empat jenis, yaitu: a) Kecakapan personal (personal skill) yang mencakup kecakapan mengenal diri (self awarenes) dan kecakapan berpikir rasional (thinking skill) b) Kecakapan sosial (social skill) c) Kecakapan akademik (academic skill), dan d) Kecakapan vokasional (vocational skill) (Anwar, 2006:28). Adapun menurut Tim BBE (2003:31-32) ada lima bidang kecakapan hidup yakni a. Kecakapan Mengenal Diri (self awareness) Semakin tinggi kesadaran seseorang terhadap dirinya, maka orang tersebut akan cenderung mematuhi hukum dan norma-norma masyarakat, tingkah lakunya strategis dan biasanya bisa diterima oleh masyarakat. Pendapat lain dari (Astuti, 2003:26) menyatakan bahwa kecakapan mengenal diri (self awarness) atau kecakapan personal (personal skill) .
b. Kecakapan Sosial, mencakup kecakapan komunikasi dengan empati dan kecakapan bekerja sama. c. Kecakapan berfikir, meliputi kecakapan menggali dan menemukan informasi, kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan serta kecakapan memecahkan masalah secara kreatif. d. Kecakapan Akademik, merupakan kecakapan dalam berfikir yang terkait dengan sifat akademik atau keilmuan yang mencakup antara lain kecakapan melakukan identifikasi variabel, merumuskan hipotesis, dan kemampuan merancang dan melaksanakan penelitian. e. Kecakapan vokasional, kecakapan yang terkait dengan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat. Pengembangan kecakapan vokasional dalam perspektif pendidikan pekerjaan dapat dibagi beberapa tahap yaitu, kesadaran terhadap pekerjaan , orientasi pekerjaan, persiapan pekerjaan, perencanaan pekerjaan dan pengembangan pekerjaan. Mengacu pada tantangan pendidikan nasional yang kita hadapi seiring perjalanan waktu meliputi empat hal, yakni pemerataan kesempatan, kualitas, efisiensi, dan relevansi. Pendidikan kecakapan hidup (life skill education) pada semua jenis dan jenjang pendidikan pada dasarnya didorong adanya anggapan bahwa relevansi antara pendidikan dengan kehidupan nyata kurang erat. Suatu pendidikan dikatakan relevan dengan kehidupan nyata apabila pendidikan tersebut berpijak pada kehidupan nyata.Mengutip Brolin (1989) menyataan bahwa kecakapan hidup adalah merupakan kontinum pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan oleh seseorang untuk berfungsi secara independen dalam kehidupan.

Tingkatkan Daya Saing Bangsa

Membekali peserta didik dengan kecakapan hidup memiliki relevansi dengan peningkatan daya saing suatu bangsa. Sesai tren yang berkembang pengembangan kecakapan kerja dalam program pendidikan dan pelatihan harus mengacu pada kebutuhan masayarakat dan industri. Hasil dari proses pembelajaran tidak hanya cukup membuat siswa menguasai sebuah ilmu pengetahuan ( transfer knowledge) tetapi juga bagaimana memanfaatkan dan mengimplementasikan ilmu pengetahuan tersebut untuk mengatasi berbagai problema hidup setelah terjun di masyarakat. Terdapat banyak rincian tentang apa yang disebut dengan kecakapan hidup. Mengutip Dalin dan Rust (1996) menyatakan bahwa the essential skills terdiri dari: (1) communication skills, (2) numeracy skills, (3) information skills, (4) problem solving skills, (5) self management and competitive skills, (6) social dan co-operation skills, (7) physical skills dan (8) work and study skills, serta (9) attitude and values. Sedangkan pada Curriculum Reform di Hongkong (2002) rincian tersebut disebut dengan: (1) communication, (2) critical thinking, (3) creativity, (4) collaboration, (5) information technology skills, (6) numeracy, (7) problem solving, (8) self management, dan (9) study skills, kemudian ditambah yang bersifat attitude, yaitu: (10) perseverance, (11) respect to others, (12) responsibility, (13) national identity, dan (14) commitment. Korea Selatan membagi life skills menjadi: (1) basic literacy, (2) key skills, (3) citizenship, dan (4) job specific skills (Eun-Soon Baik & Namhee Kim, 2003). Philippines (dalam Muchlas Samani, 2004) membagi life skills menjadi: (1) self awareness, (2) empathy, (3) effective communication, (4) interpersonal relationship skills, (5) decision making and problem solving skills, (6) creative thinking, (7) critical thinking, (8) dealing/managing/coping with emotions, (9) dealing/managing/coping with stress, dan (10) production (entrepreneurship) skills). Daya saing suatu bangsa ditentukan oleh kualitas SDM-nya. Pembentukan kualitas SDM sangat ditentukan oleh sistem pendidikan baik di jalur formal, infornal dan non formal pada semua jenjang pendidikan dari dasar, menengah hingga tinggi. Kualitas SDM dapat diukur dari aspek-aspek kecakapan hidup. Pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup sangat penting untuk diimplementasikan guna meningkatkan daya saing suatu bangsa. Pentingnya peserta didik diberikan bekal pembelajaran life skills agar mereka mampu menghadapi tantangan yang terjadi di masa depan. Dengan kondisi tersebut maka guru dituntut untuk membekali siswa dengan life skills. Adapun ciri pembelajaran life skills ditandai dengan terjadi proses identifikasi kebutuhan belajar. Terjadi proses penyadaran untuk belajar bersama, terjadi keselarasan kegiatan belajar untuk mengembangkan diri,belajar,usaha mandiri,usaha bersama, Selanjutnya adalah terjadi proses penguasaan kecakapan personal, sosial, vokasional, akademik, manajerial, kewirausahaan, terjadi pemberian pengalaman  dalam melakukan pekerjaan dengan benar, menghasilkan produk bermutu. Terjadi proses interaksi saling belajar dari ahli, terjadi penilaian kompotensi, dan terjadi pendampingan teknis untuk bekerja atau membentuk usaha bersama.Karena itu masyarakat di masa depan adalah masyarakat kompetitif. Masyarakat yang terbuka dimana manusia ber SDM unggulah dapat bertahan serta memanfaatkan kesempatan yang terbuka. Manusia unggul adalah manusia yang dapat berfikir kreatif dan produktf, tidak menerima status quo dan selalu menginginkan sesuatu yang baru dan lebih baik. Inovasi-inovasi sebagai modal kecakapan hidup akan terus berkembang. Pada prinsipnya inovasi memerlukan analisis berbagai kesempatan dan kemungkinan terbuka, inovasi sifat yang inseptual dan konseptual. Kemudian inovasi harus bersifat simpel dan focus, inovasi harus dimulai dari yang kecil serta inovasi diarahkan pada kepeloporan atau selalu diarahkan pada hasil yang akan menjadi suatu pelopor dari suatu perubahan yang diperlukan. Berbagai negara di dunia saat ini sedang mengembangkan pendidikan berorientasi kecakapan hidup dengan bertumpu pada kebutuhan masyarakat luas. Pengembangan pendidikan kecakapan hidup dengan menggunakan paradigma pendidikan berbasis masyarakat luas saat ini memiliki relevansi yang sangat urgen. Pendidikan kecakapan hidup adalah memfungsikan pendidikan sesuai dengan fitrahnya. Yakni mengembangkan potensi manusiawi peserta didik untuk menghadapi era di masa datang. Tujuan khususnya adalah mengaktualisasikan potensi peserta didik sehingga dapat digunakan untuk memecahkan problema yang dihadapi. Memberikan kesempatan kepada sekolah untuk mengembangkan pembelajaran yang fleksibel, sesuai dengan prinsip pendidikan berbasis luas. Mengoptimalisasikan pemanfaatan sumberdaya di lingkungan sekolah, dengan memberikan peluang pemanfaatan sumberdaya yang ada di masyarakat, sesuai dengan prinsip manajemen berbasis sekolah (sumber: Depdiknas, 2002). Perlu dicermati bahwa tiga prinsip mendasar dalam pengembangan pendidikan kecakapan hidup. Yakni tidak mengubah sistem pendidikan yang berlaku saat ini, tidak harus dengan mengubah kurikulum, sebab yang justru diperlukan adalah pensiasatan kurikulum untuk diorientasikan pada kecakapan hidup. Etika sosio religius bangsa dapat diintegrasikan dalam proses pendidikan. Menghadapi kondisi yang demikian itu dibutuhkan revolusi belajar untuk mengimbangi revolusi informasi yang berkembang dengan massif serta dinamis. Revolusi belajar akan membantu peserta didik untuk mempelajari segala sesuatu dengan lebih cepat dan lebih baik. Dunia pendidikan perlu melakukan revolusi cara belajar, sebab perubahan sosial yang spetakuler sudah masuk ke semua lini kehidupan. Revolusi belajar penting menjadi wacana bau dunia pendidikan kita, jika kita ingin melakukan perbaikan terhadap mutu pendidikan. Perubahan paradigma mutu pendidikan memerlukan kerjasama dan komitmen yang tinggi utamanya dalam membekalai peserta didik dengan kecakapan hidup yang lebih baik. Semoga bermanfaat. (*****)

Rujukan:
Bell, S. 2010. Project-Based Learning for the 21st Century: Skills for the Future. The Clearing House, 83 (2): 39-43.
Depdiknas. 2002. Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kecakapan Hidup. Buku I, II, dan III. Jakarta: Depdiknas.
Dryden, G., dkk. (2000). Revolusl Cara Belajar. Bandung: Mizan Media Utama.
PLSP, D. (2003). Program Lifeskills Melalui Pendekatan Broad Based Education (BBE). Ditjen PLSP.
Sutisna, N. (2010). Pemberdayaan Penca Pasca Sekolah Melalui Kecakapan Hidup. JASSI ANAKKU, Volume 2 Nomor 9 Tahun 2010.
WHO. (2004). Promoting Mental Health: Concepts, Emerging Evidence, Practice. Geneva: World Health Organization.

Facebook Comments