Pahlawan Tanpa Tanda Jasa, Guru Profesional Hingga Guru Penggerak

130

Oleh: Nelson Sihaloho

*)Guru SMPN 11 Kota Jambi
email:sihaloho11@yahoo.com.nelsonsihaloho06@gmail.com

Rasional:

Di era sebelum tahun 2005 profesi guru identik dengan julukan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” bahkan sering melekat dengan sebutan “Oemar Bakrie”. Keikhlasan guru mendidik serta mencerdaskan anak-anak bangsa menjadikan perjuangan guru tidak terlihat seperti para pejuang kemerdekaan. Seiring perjalanan waktu sejak digulirkannya program sertifikasi Guru maka tanda jasa Guru adalah Sertifikat Pendidik dengan Jabatan Guru Profesional. Sejalan dengan hal itu berkembang pula bentuk-bentuk penghargaan seperti Guru Berprestasi, Kepala Sekolah Berprestasi, Pengawas Berprestasi serta Guru Berdedikasi. Seiring berjalannya waktu hingga kompleksnya masalah pendidikan dan guru serta tuntutan peningkatan mutu dan kualitas sumberdaya manusia (SDM) maka peran guru pun semakin berat. Beberapa tahun silam Guru mogok mengajar menuntut hak-haknya karena upahnya minim hingga perekruitan guru dengan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Perkembangan zaman ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) yang makin dinamis menuntut sinkronisasi dan harmonisasi tentang profesionalisme guru.
Program “Merdeka Belajar”, Penilaian dengan Asesmen Nasional, Asesmen Kompetensi Minimum (AKM), Program Sekolah Penggerak hingga Guru Penggerak diharapkan mampu mengubah iklim pendidikan menjadi lebih baik. Semoga Tema Hari Pendidikan Nasional “Serentak Bergerak Mewujudkan Merdeka Belajar” dapat serentak dipraktikkan dan diimplementasikan dengan baik dilapangan.
Kata kunci:tanda jasa, guru professional dan guru penggerak

Tanpa Tanda Jasa, Profesional dan Guru Penggerak

Sebutan Guru sebagai “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa” selama tiga dasawarsa sangat akrab ditelinga setiap orang. Terutama para anak didik Dengan sederhana, pahlawan tanpa tanda jasa adalah orang yang berani dan rela berkorban demi kecerdasan anak didiknya. Guru merupakan pribadi yang sangat berjasa dalam menuntun seseorang sejak masa kecil hingga  usia sekolah agar terbebas dari kebodohan. Guru mengajar dan mendidik hingga siswanya menjadi mengerti, memahami hal-hal yang sebelumnya belum diketahui. Guru juga berupaya dalam memanusiakan seseorang sehingga benar-benar menjadi manusia yang cerdas, berakhlak dan sukses. Menjadi seorang guru dituntut untuk memiliki kesabaran serta berupaya terus menerus menjadi seorng pendidik yang baik. Guru adalah pejuang keras, ketika pulang dari tempat kerjanya masih terus berupaya menyediakan waktu membaca, memperdala materi yang akan diajarkan pada siswanya. Memeriksa tugas-tugas siswa, hasil ujian, melakukan remedial (perbaikan), membimbing serta membina siswa dalam kegiatan ekstra kurikuler telah menjadi bagian hidup profesi seorang guru. Begitu juga dengan sebutan guru professional. Banyak tulisan yang membahas tentang hal ini. Kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru menjadi modal penting dalam mengelola pendidikan atau pengajaran yang begitu banyak jenisnya. Terdapat 2 (dua) pandangan terhadap guru yakni kompetensi pribadi dan kompetensi guru professional. Guru profesional harus mampu mengembangkan kepribadian, berinteraksi serta berkomunikasi, dapat melaksanakan bimbingan, melaksanakan administrasi sekolah, menjalankan penelitian sederhana sebagai keperluan pengajaran, menguasai landasan kependidikan, memahami bahan pengajaran, menyusun program pengajaran, melaksanakan program pengajaran serta mengevaluasi hasil proses belajar mengajar yang telah dijalankan. Mengacu pada UU RI No. 14/2005 Pasal 1 ayat 4, profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. Professional berarti persyaratan yang memadai sebagai suatu profesi. Pekerjaan profesional berbeda dengan pekerjaan lainnya karena suatu profesi memerlukan keahlian dan keterampilan khusus dalam melaksanakan profesinya.
Guru merupakan suatu profesi yang berarti suatu jabatan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang pendidikan. Kata profesi dapat diartikan dengan pekerjaan, dengan mata pencaharian atau okupasi (occupation). Volmer dan Mills (1996) sebagaimana dikutip Sagala (2000) mengartikan profesi sebagai spesialisasi dari jabatan intelektual yang diperoleh melalui studi dan training, bertujuan menciptakan keterampilan, pekerjaan yang bernilai tinggi, sehingga keterampilan dan pekerjaan itu diminati, disenangi oleh orang lain, dan dia dapat melakukan pekerjaan itu dengan mendapat imbalan berupa bayaran, upa dan gaji (payment). Sedangkan Bochari. (2001:104) bahwa profesi juga bisa berarti suatu pekerjaan atau jabatan yang menutut pendidikan khusus yang tinggi dan rangkaian latihan yang intensif dan panjang. Good’s dictionary of education sebagaimana dikutip Yamin (2006:30) mendefinisikan sebagai “suatu pekerjaan yang meminta persiapan spesialisasi yang relative lama di perguruan tinggi dan harus dikuasai serta memiliki suatu kode etik yang khusus”. Ahmad Tafsir (2004: 112) mengemukakan ada dua kriteria pokok profesi, yaitu: (1) merupakan panggilan hidup, (2) keahlian. Kriteria panggilan hidup sebenarnya mengacu kepada pengabdian/dedikasi. Kriteria keahlian mengacu pada mutu layanan. Dengan demikian pekerjaan profesi sangat didukung oleh teori yang telah dipelajari, Suparno (2004:47-50), guru profesional itu adalah memiliki kepribadian yang utuh, yaitu : (1) guru harus bermoral dan beriman; (2) guru harus mempunya aktualisasi diri yang tinggi, (3) guru mampu berkomunikasi dengan baik. (4) guru harus disiplin. (5) guru dituntut untuk belajar terus agar pengetahuannya tetap segar. Bagaimana dengan guru penggerak? Pendidikan Guru Penggerak merupakan program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi, dan Pendampingan selama 9 bulan bagi calon Guru Penggerak. Selama program, guru tetap menjalankan tugas mengajarnya sebagai guru. Program Sekolah Penggerak adalah upaya untuk mewujudkan visi Pendidikan Indonesia dalam mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Program Sekolah Penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistik yang mencakup kompetensi (literasi dan numerasi) dan karakter, diawali dengan SDM yang unggul (kepala sekolah dan guru). Program Sekolah Penggerak merupakan penyempurnaan program transformasi sekolah sebelumnya. Program Sekolah Penggerak akan mengakselerasi sekolah negeri/swasta di seluruh kondisi sekolah untuk bergerak 1-2 tahap lebih maju. Program dilakukan bertahap dan terintegrasi dengan ekosistem hingga seluruh sekolah di Indonesia menjadi Program Sekolah Penggerak. Komunitas di Indonesia biasanya terdiri dari orang tua, tokoh masyarakat dan adat, organisasi, cendekiawan, relawan, dan pemangku kepentingan lainnya. Untuk mewujudkan pendidikan terbaik bagi seluruh murid Indonesia, semua pemangku kepentingan bersama Kemendikbud perlu berkomitmen untuk bergotong royong menciptakan inovasi-inovasi pembelajaran. Inovasi-inovasi ini harus relevan dan berdampak baik untuk mencapai tujuan utama kita semua, yaitu peningkatan kualitas belajar murid Indonesia. Program Guru Penggerak berfokus pada pedagogi serta berpusat pada murid dan pengembangan holistik, pelatihan yang menekankan pada kepemimpinan instruksional melalui on-the-job coaching, pendekatan formatif dan berbasis pengembangan, serta kolaboratif dengan pendekatan sekolah menyeluruh. Proses pendidikan dan penilaian Guru Penggerak berbasis akan dampak dan bukti. Guru Penggerak diharapkan dapat mencetak sebanyak mungkin agen-agen transformasi dalam ekosistem pendidikan yang mampu menghasilkan murid-murid berkompetensi global dan berkarakter Pancasila, mampu mendorong transformasi pendidikan Indonesia, mendorong peningkatan prestasi akademik murid, mengajar dengan kreatif, dan mengembangkan diri secara aktif. Guru Penggerak merupakan bentuk kolaborasi dari seluruh pihak dengan fokus pada murid, sehingga Guru Penggerak bisa berperan lebih dari peran guru saat ini.

Tuntutan Pengembangan Diri

Pola pengajaran dengan metode STEAM (Science Technology Engineering Arts Mathematics) di Abad-21 menuntut guru untuk terus mengembangkan dirinya. Di masa depam akan bermunculan teknologi-teknologi baru dibidang pendidikan. Dengan kondisi demikian, semakin canggih teknologi, maka akan semakin berat juga tuntutan profesionalisme guru terhadap penguasaan system IT. Sesungguhnya, teknologi akan membuat guru lebih percaya diri dan lebih mudah dalam mengajar siswanya sehingga mampu mengubah ruang kelas menjadi ruang belajar yang kreatif, inovatif dan menyenangkan. Perlu disadari bahwa tantangan guru tidak akan pernah berhenti untuk terus meningkatkan kompetensi profesionalismenya. Guru era 4.0 yang identic dengan pembelajaran Abad-21 harus melakukan revolusi mental terhadap peningkatan mutu serta kualitas SDM bangsa. Kualitas adalah kesesuaian dengan yang dipersyaratkan atau distandarkan. Mutu pendidikan adalah kemampuan sekolah dalam mengelola dengan operasional dan efisien terhadap komponenkomponen yang berkaitan dengan sekolah. Termasuk menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma atau standar yang berlaku. Tantangan era digital yang semakin kompleks betapa pentingnya guru untuk terus menerus melakukan pengembangan diri. Perubahan dalam sistem pendidikan seiring tuntutan era digital akan mewarnai profesionalisme guru di masa depan. Melimpahnya informasi, media dan sumber belajar di media internet menyadarkan bahwa guru untuk senantiasa terus mengembangkan kompetensinya.Hal demikian mengindikasikan vagwa pengembangan kompetensi guru harus berkelanjutan berbasis dengan kehidupan. Pendidikan harus mampu mendorong pengembangaan skills abad 21 yang dibutuhkan.  Guru dituntut untuk kreatif dan inovatif agar dapat mengelola pembelajaran abad 21 dengan baik. Itulah sebabnya, pola pengembangan kompetensi guru saat ini bersifat bottom to up. Dalam konteks pembelajaran abad 21, seorang guru harus mampu mengajar dengan mendorong kemandirian dalam mengkonstruk pengetahuan melalui pengalaman nyata. Pemanfaatan E-Literasi juga perlu ditingkatkan sebagai salah satu metode yang dapat digunakan untuk pengembangan pengetahuan dan wawasan guru. Di era abad-21 setiap bangsa akan mendapatkan tantangan kehidupan yang semakin berat dengan tuntutan harus memiliki daya saing yang tinggi. Ciri masyarakat yang memiliki daya saing tinggi yakni masyarakatnya terbangun dari manusia yang berwawasan global, menguasai iptek, berkompentensi, kreatif dan produktif. Kemudian masyarakatnya terbangun dari manusia yang mampu berkinerja dalam tim kerja yang kreatif. Masyarakat yang menghargai manusia berdasarkan kemampuannya dan bukan asal usulnya, serta masyarakat dengan kehidupan religius dalam suasana demokratis dan keterbukaan. Intinya abad 21 menuntut peran guru yang semakin tinggi dan optimal. Untuk dapat berperilaku profesional dalam mengemban tugas dan menjalankan profesi maka guru senantiasa mampu mewujudkan kinerjanya dengan baik. Selain itu mutlak memelihara citra profesi, (memiliki keinginan untuk mengejar kesempatan profesionalisme. Sikap mental selalu ingin mengejar kualitas cita-cita profesi, serta sikap mental yang mempunyai kebanggaan profesi. Menurut Susanto (2010), terdapat 7 tantangan guru di abad 21, yakni (1) Teaching in multicultural society, mengajar di masyarakat yang memiliki beragam budaya dengan kompetensi multi bahasa. (2) Teaching for the construction of meaning, mengajar untuk mengkonstruksi makna (konsep).(3) Teaching for active learning, mengajar untuk pembelajaran aktif.(4) Teaching and technology, mengajar dan teknologi.(5) Teaching with new view about abilities, mengajar dengan pandangan baru mengenai kemampuan.(6) Teaching and choice, mengajar dan pilihan.(7) Teaching and accountability, mengajar dan akuntabilitas. Menurut International Society for Technology in Education karakteristik keterampilan guru abad 21 dimana era informasi menjadi ciri utamanya, membagi keterampilan guru abad 21 kedalam lima kategori. Yakni mampu memfasilitasi dan menginspirasi belajar dan kreatifitas siswa. Mampu merancang dan mengembangkan pengalaman belajar dan asessmen era digital. Menjadi model cara belajar dan bekerja di era digital. Mendorong dan menjadi model tanggung jawab dan masyarakat digital. Berpartisipasi dalam pengembangan dan kepemimpinan professional.

Refleksi

Apabila mengacu pada uraian diatas maka guru di era tahun 2005 ke bawah guru disebut dengan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Sedangkan tahun 2005 hingga 2019, guru naik kelas menjadi Guru Profesional. Sedangkan di era kepemimpinan Nadiem Anwar Makarim dengan Merdeka Belajar dan Guru Penggerak. Dunia pendidikan makin kita dihadapkan pada tantangan besar. Terlalu banyak batu sandungan, membuat dunia pendidikan terus-menerus menjadi polemik. Di Hari Penddikan Nasional merupakan momentum yang paling tepat untuk melakukan refleksi terhadap kondisi pendidikan kita. Pendidikan harus dipandang sebagai ikhtiar kolektif seluruh bangsa. Semua elemen masyarakat harus terlibat untuk membenahi dan memajukan dunia pendidikan. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 02 Mei 2021 merupakan   momen yang tepat  untuk merefleksikan kembali apa saja yang sudah dikerjakan dengan baik dan apa saja yang perlu diperbaiki. Sebagaimana pidato Nadiem Anwar Makarim berharap agar anak-anak Indonesia menjadi pelajar yang menggenggam teguh falsafah Pancasila. Pelajar yang merdeka sepanjang hayatnya, dan pelajar yang mampu menyongsong masa depan dengan percaya diri. Dengan konsisten terus melakukan transformasi pendidikan melalui berbagai terobosan Merdeka Belajar. Nadiem (2021) menyebut adaempat upaya perbaikan yang terus dikerjakan bersama berbagai elemen masyarakat. Pertama, perbaikan pada infrastruktur dan teknologi. Kedua, perbaikan kebijakan, prosedur, dan pendanaan, serta pemberian otonomi lebih bagi satuan pendidikan. Ketiga, perbaikan kepemimpinan, masyarakat, dan budaya. Keempat, perbaikan kurikulum, pedagogi, dan asesmen. Semoga tema Hardiknas Tahun 2021 “Serentak Bergerak Mewujudkan Merdeka Belajar dapat terwujud. Selamat Hari Pendidikan Nasional Tahun 3021. Semoga Bermanfaat. (****).

Rujukan
Brown-Martin, G. (2017).Education and the fourth industrial revolution. Report for Groupe Media TFO. https://www.groupemediatfo.org/wp content/uploads/ 2017/12/FINAL. diakses pada 10 Januari 2020.
Detik Com (2019) “Mengkritisi Kompetensi Guru”,https://news.detik.com /kolom/d3741162/mengkritisi-kompetensi-guru, diakses 10 Januari 2020.
Febryani,Yoeyhan.2012. GuruAbad21,(Online),(http://yoey hanfebryani.blogspo t.com/2012/11/guru-abad-21.html),diakses 15 Desember 2012.
Investor.id dengan judul “Nadiem : Peringatan Hardiknas 2021 Jadi Momen Tepat untuk Refleksi dan Transformasi
Lahamuddin, Basri. 2011. Guru Abad 21, (Online), (http://edukasi. kompasiana.com /2011/10/04/guru-abad-21/), diakses 15 Desember 2012.
Rosda Yamin, M. 2006. Sertifikasi Profesi Keguruan di Indonesia. Jakarta: GP Zamroni. 2003. Paradigma Pendidikan Masa Depan.Jakarta; Proyek PPM SMU
Sutamto. 2010. Tantangan Guru pada Abad Ke-21, (Online), (http://sutamto.wordpress.com/2010/04/10/tantangan-guru-pada-abad-ke-21/), diakses 15 Desember 2012.

Facebook Comments