Meminimalisir Perilaku Peserta Didik “Tidak Biasa” di Lingkungan Sekolah

180

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional:

Seringkali kita melihat tingkahlaku ataupun perilaku peserta didik di lingkungan sekolah menyebalkan atau identik dengan perilaku “tidak biasa”. Hal demikian memang lumrah terjadi dalam tugas-tugas perkembangan peserta didik menuju kematangan. Bahkan kalangan pendidik selalu mengharapkan agar peserta didiknya selalu berperilaku baik-baik saja bahkan terus menunjukkan prestasinya tanpa bersusah payah mereka membimbingnya. Pada sekolah-sekolah berlabel “unggulan” sekolah “favorit” ataupun dengan predikat lainnya yang memang tempat berkumpulnya orang-orang cerdas jelas prestasinya lebih baik. Bandingkan dengan sekolah-sekolah pinggiran atau kawasan sekolahnya dikawasan pemukiman “kumuh” yang masuk kategori ekonomi kurang beruntung dengan segala kompleksitas masalah jelas prestasi dilingkungan seperti itu adalah “mahal”. Dalam menghadapi perilaku peserta didik “tidak biasa” perlu dilakukan identifikasi dan asesmen. Sebagaimana diketahui bahwa asesmen merupakan salah satu komponen terpenting dalam rangkaian proses pengembangan program layanan terhadap peserta didik di sekolah. Menguti Kauffman (1985) mengemukakan pentingnya asesmen dilakukan, antara lain anak hampir tidak pernah merujuk dirinya sendiri untuk mendapat layanan khusus. Masalah yang sebenarnya disandang anak, terutama berhubungan dengan kelainan nonfisik, sering berbeda dengan yang terlihat. Tanpa ada asesmen, masalah yang sebenarnya pada anak tidak akan pernah diketahui. Sebab masalah sebenarnya disandang anak sering berbeda dengan yang terlihat.

Identifikasi Perilaku dan Asesmen

Fakta dilapangan pada umumnya, seringkali guru menentukan titik materi pembelajarannya berdasarkan halaman awal atau pertama yang terdapat dalam buku teks pelajaran. Perlu dikethaui bahwa tidak selamanya pengetahuan siswa itu nol. Bahkan sebuah buku pelajaran tak dapat dijadikan sebagai acuan menebak pengetahuan peserta didik. Biasanya apabila guru menemukan hal demikian maka langkah yang perlu diambil adalah mengidentifikasi kemampuan dan karakteristik awal peserta didik (sumber: Amstrong, 2004:3). Adapun perilaku menurut Wawan dan Dewi (2010:48) adalah respons individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan berbagai faktor yang saling berinteraksi. Sering tidak disadari bahwa interaksi tersebut amat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan perilaku tertentu. Perilaku adalah tindakan atau aktifitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas. Diantaranya berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, sekolah,belajar, menulis, membaca, dan sebagainya. Dengan demikian perilaku manusia adalah semua kegiatan atau aktifitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun yang tidak dapat diamati oleh pihak luar (Notoatmodjo,2003:113). Sedangkan M. Ngalim Purwanto (1990:32) perilaku adalah segala tindakan atau perbuatan manusia yang kelihatan atau tidak kelihatan yang tidak disadari termasuk di dalamnya cara bebicara, berjalan, cara melakukan sesuatu dan cara bereaksi terhadap sesuatu yang datangnya dari luar ataupun dari dalam dirinya. Perilaku diartikan sebagai suatu aksi-reaksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan untuk menimbulkan reaksi, yakni yang disebut rangsangan. Berarti rangsangan tertentu akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu (Notoadmodjo, 2003: 114).
Menurut Syamsu Yusuf (2004:124-125) melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, orang dewasa lainnya maupun teman bermainnya, anak mulai mengembangkan bentuk-bentuk tingkah laku sosial. Pada anak usia anak, bentuk-bentuk tingkah laku sosial itu diantarnya (a) pembangkangan (negativisme), yaitu suatu bentuk tingkah laku melawan. (b) Agresi (agression), yaitu perilaku menyerang baik secara fisik (nonverbal) maupun kata-kata (verbal). Agresi ini merupakan salah satu bentuk reaksi terhadap rasa kecewa karena tidak terpenuhi kebutuhan/keinginannya. (c) berselisih/bertengkar (quarreling), terjadi apabila seorang anak merasa tersinggung atau terganggu oleh sikap dan perilaku anak lain. (d). Menggoda (Teasing), yaitu sebagai bentuk lain dari tingkah laku agresif. Menggoda merupakan serangan mental terhadap orang lain dalam bentuk verbal (kata-kata ejekan atau cemoohan), sehingga menimbulkan reaksi marah pada orang yang digodanya. (e). Persaingan (Rivarly), yaitu keinginan untuk melebihi orang lain dan selalu didorong oleh orang lain. (f). Kerja sama (cooperation), yaitu sikap mau bekerja sama dengan kelompok.(g). Tingkah laku berkuasa (ascendant behavior), yaitu sejenis tingkah laku untuk menguasai situasi sosial, mendominasi atau bersikap “bossiness”. Wujud dari tingkah laku ini, seperti: meminta, menyuruh, dan mengancam atau memaksa orang lain untuk memenuhi kebutuhan dirinya. (h). Mementingkan diri sendiri (selfishness), yaitu sikap egosentris dalam memenuhi interest atau keinginannya. Anak ingin selalu dipenuhi keinginannya dan apabila ditolak, maka dia protes dengan menangis, menjerit atau marah-marah. (i). Simpati (sympaty), yaitu sikap emosional yang mendorong individu untuk menaruh perhatian terhadap orang lain, mau mendekati atau bekerja sama dengannya. seiring dengan bertambahnya usia, anak mulai dapat mengurangi sikap “selfish”-nya dan dia mulai mengembangkan sikap sosialnya, dalam hal ini rasa simpati terhadap orang lain. (sumber:Syamsu Yusuf, 2004:124-125).
Begitu juga dengan asesmen, mengutip The Task Group on Assesment and Testing (TGAT) dalam Griffin & Nix (1991 : 3) mendeskripsikan Assessment sebagai semua cara yang digunakan untuk menilai unjuk kerja individu atau kelompok. Robert M Smith (2002) menyatakan bahwa asesmen adalah suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hsil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran. Adapun Lidz (2003) mengemukakan asesmen adalah proses pengumpulan informasi untuk mendapatkan profil psikologis anak yang meliputi gejala dan intensitasnya, kendala-kendala yang dialami kelebihan dan kelemahannya, serta peran penting yang dibutuhkan anak.  Adapun James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis menyatakan, proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan.

Perilaku Bullying

Bullying berasal dari kata Bully, yaitu suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku), yang menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya (korban disebut bully boy atau bully girl) berupa stress (yang muncul dalam bentuk gangguan fisik atau psikis, atau keduanya; misalnya susah makan, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, cemas, dan lainnya). Menurut Coloroso (2006), bullying adalah tindakan bermusuhan yang dilakukan secara sadar dan disengaja yang bertujuan untuk menyakiti. Seperti menakuti melalui ancaman agresi dan menimbulkan teror termasuk juga tindakan yang direncakan maupun yang spontan, bersifat nyata atau hampir tidak terlihat, di hadapan seseorang atau di belakang seseorang, mudah untuk diidentifikasi atau terselubung dibalik persahabatan, dilakukan oleh seorang anak atau kelompok anak. Sedangkan Wicaksana (2008) bullying adalah kekerasan fisik dan psikologis jangka panjang yang dilakukan seseorang atau kelompok, terhadap seseorang yang tidak mampu mempertahankan dirinya dalam situasi dimana ada hasrat untuk melukai atau menakuti orang dan membuat tertekan.
Randal (Hidayati, 2012), bahwa bullying merupakan perilaku agresif yang disengaja untuk menyebabkan ketidaknyamanan fisik maupun psikologis terhadap orang lain. Menurut Novan (2012:11) menyatakan kata bullying berasal dari bahasa Inggris, yaitu dari kata bull yang berarti banteng yang senang menyeruduk kesana kemari. Adapun menurut Olweus juga mengatakan bahwa bullying adalah perilaku negatif yang mengakibatkan seseorang dalam keadaan tidak nyaman/terluka dan biasanya terjadi berulang-ulang. Novan, et,al, mengungkapkan bullying adalah perilaku agresif dan negatif seseorang atau sekelompok orang secara berulang kali yang menyalahgunakan ketidakseimbangan kekuatan dengan tujuan menyakiti targetnya (korban) secara mental atau secara fisik. M Novan, et,al mengelompokkan perilaku bullying ke dalam lima kategori. (1). Kontak fisik langsung (memukul, mendorong, menggigit, menjambak, menendang, mengunci seseorang dalam ruangan, mencubit, mencakar, memeras, dan merusak barang-barang milik orang lain). (2). Kontak verbal langsung (mengancam, mempermalukan, merendahkan, mengganggu, memberi panggilan [name-calling], sarkasme, merendahkan [putdowns], mencela/mengejek, mengintimidasi, memaki, dan menyebarkan gosip). (3). Perilaku nonverbal langsung (melihat dengan sinis, menjulurkan lidah, menampilkan ekspresi muka yang merendahkan, mengejek, atau mengancam biasanya disertai oleh bullying fisik atau verbal). (4). Perilaku nonverbal tidak langsung (mendiamkan seseorang, memanipulasi persahabatan hingga retak, sengaja mengucilkan atau mengabaikan, mengirim surat kaleng). (5). Pelecehan seksual (kadang dikategorikan perilaku agresif fisik atau verbal).
Upaya dan Solusi

Sebagai upaya untuk meminimalisir perilaku peserta didik “Tidak Biasa” di lingkungan sekolah dapat diminimalisir oleh pihak sekolah dengan berbagai tindakan ( preventif) atau pencegahan. Perilaku kenakalan umumnya “tidak Biasa” yang terjadi di sekolah antara lain, membolos, sering datang terlambat ke sekolah, membolos, berbohong pada orang lain bahkan masih banyak bentuk-bentuk perilaku “Tidak Biasa” lainnya. Di masa pandemi Covid-19 karena sistem pebelajaran berlangsung dengan sistem Belajar Dari Rumah (BDR) atau daring peran orang tua sangat penting. Sebab yang mengetahui perilaku anak maupun sistim control terhadap keberadaan anak mutlak ada pada orang tua. Peran Kepala Sekolah, Guru, Wali Kelas maupun guru bimbingan dan konseling (BK) juga sangat penting dalam upaya pencegahan perilaku peserta didik “Tidak Biasa” tersebut. Dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya selain pihak sekolah, peran guru BK adalah membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi yang ada pada diri peserta didik. Selain itu memberikan bimbingan agar peserta didik tidak salah dalam mengambil keputusan untuk mencapai tujuan serta cita-cita yang mereka inginkan. Guru BK senantiasa bersedia membantu peserta didik dalam meyelesaikan masalah-masalah yang sedang mereka hadapi baik itu masalah akademik ataupun penyimpangan perilaku “Tidak Biasa” yang mereka lakukan. Peserta didik memang menunjukkan perilaku “Tidak Biasa” itu sering dijuluki dengan anak “Tunalaras” yang dikenal sebagai anak nakal, anak yang suka melanggar aturan, dan anak yang suka semaunya sendiri. Istilah Tunalaras sendiri berasal dari kata tuna yang berarti kurang dan laras yang berarti sesuai, sehingga anak tunalaras dapat disebut juga sebagai anak yang kurang sesuai dengan lingkungan sekitarnya. Mengacu pada Undang-Undang Pokok Pendidikan Nomor 12 tahun 1952 (dalam Mohammad Efendi, 2006: 143), anak tunalaras adalah individu yang mempunyai tingkah laku menyimpang atau berkelainan, tidak memiliki sikap positif, melakukan pelanggaran terhadap peraturan dan norma-norma sosial dengan frekuensi yang cukup besar, tidak atau kurang mempunyai toleransi terhadap kelompok dan orang lain, serta mudah terpengaruh oleh suasana, sehingga membuat kesulitan bagi dirinya sendiri maupun orang lain. Salah satu faktor yang mempengaruhi interaksi sosial anak adalah imitasi. Menurut Graham Richards (2010: 138), imitasi berbeda dengan identifikasi karena hanya melibatkan simulasi yang tampak jelas dari perilaku orang lain, tanpa harus mengikutsertakan suatu wawasan atau empati pada mereka. Berperilaku seperti seseorang atau sesuatu yang berpotensi untuk memberikan wawasan mengenai bagaimana rasanya menjadi orang lain tersebut. Mengacu pada teori perkembangan yang ada, anak-anak akan lebih cepat belajar dari proses imitasi (William Crain, 2007:302). Demikian juga dengan anak tunalaras, mereka dengan cepat meniru segala hal yang mereka anggap menarik. Kecenderungan anak belajar melalui peniruan ini menyebabkan proses keteladanan dari lingkungan sekitar menjadi sangat penting artinya dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sesuai dengan teori belajar dan eksperimen yang dilakukan oleh Albert Bandura. Menurut hasil ekperimennya yang terkenal (Bobo Doll), menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang dewasa di sekitarnya (Ormrod, 2009:13). Dikuatkan juga dengan penelitian Gerungan (2004: 63), imitasi memiliki peranan dalam pendidikan dan perkembangan kepribadian individu. Imitasi dapat mendorong individu untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan menyebabkan interaksi sosial yang muncul juga baik. Model perilaku atau keteladanan dari lingkungan sekitar maupun lingkungan sekolah secara tidak langsung memiliki peranan dalam perkembangan kepribadian peserta didik. Adanya keteladanan yang baik dari lingkungan sekolah maupun orang tua dapat mencegah maupun menangani terjadinya perilaku imitasi negative atau “Tidak Biasa”. Penting dicermati bahwa salah satu fungsi dari perilaku bermasalah adalah untuk mendapatkan perhatian (attention). penguatan adalah konsekuensi yang meningkatkan probabilitas terjadinya perilaku. Sekolah diharapkan mampu mengubah perilaku “Tidak Biasa” menjadi perilaku positif. Orang tua diharapkan dapat lebih memberikan contoh atau teladan yang baik terhadap anak. Keteladanan orang tua/keluarga merupakan cermin yang pertama dan paling utama terhadap pembentukan karakter anak. Suatu tindakan atau perilaku nyata yang mencerminkan keteladanan akan selalu menjadi “marwah positif” dalam memebntuk perilaku serta karakter anak menjadi lebih baik. Perilaku anak “Tidak Biasa” hanya dapat diminimalisir apabila lingkungan sekolah ataupun lingkungan sekitar memberikan ikliim yang kondusif terhadap terbentuknya perilaku-perilaku positif. Perilaku positif akan meningkatkan energy keberhasilan dalam membentuk perilaku anak lebih sukses.Termasuk apabila guru melakukan penyusunan soal Higher Order Thingkingh Skill’s (HOTS) dengan asesmen kontekstual yakni peserta didik mengekspresikan respon yang diterimanya. Berorientasi konteks pada dunia nyata (realistis), mengaturvperformansi tugas (berpikir tingkat tinggi). Terintegrasi dengan pembelajaran, pembuktian langsung melalui pengetahuan dan ketrampilan dengan konteks nyata. Asesmen kontekstual merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.  Permasalahan kontekstual yang dihadapai oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi  dalam berbagai aspek kehidupan. Perilaku peserta didik “Tidak Biasa” tak akan muncul ataupun ditiru apabila dilingkungan sekolah atau sekitar tidak ada yang melakukannya. Semoga Bermanfaat. (Penulis: Guru SMPN 11 Kota Jambi)

Rujukan:
Anonim.2010. Konsep Dasar Assessment. http//:dimasamid.tk/2010/12/10 /konsep-dasar-assessment/. Diakses pada tanggal 16 april 2011
Coloroso, Barbara. (2007). Stop Bullying (Memutus Rantai Kekerasan Anak dari Prasekolah Hingga SMU). Jakarta: PT. Ikrar Mandiri Abadi.
Erlangga Deswita. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya
Hallahan, D.P. & Kauffman, J.M. (2009). Exceptional Learners: Introduction to Special Education 11th ed. USA: Pearson.
Krahe, Barbara. (2005). Perilaku Agresif . (Alih Bahasa: Helly P.S & Sri M.S). Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.
Roger A. Kaufman,Fenwick W. English, Needs Assessment: Concept and Application
Wawan .A, M. Dewi . (2010). Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.

Facebook Comments