Pentingnya Peserta Didik Menghargai Proses Belajar di Era Digital

206

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional:

Teknologi terus berubah, menjadi lebih cepat bahkan semakin lebih murah. Dalam dunia pendidikan saat ini bertebaran berbagai teknologi pembelajaran yang bisa diakse dengan cepat. Para generasi digital yang lebih cepat mahir dan gandrung terhadap teknologi informasi termasuk dalam menguasai berbagai aplikasi komputer.

Dalam keseharian para generasi milenial lebih suka berkomunikasi melalui jejaring sosial seperti twitter, WA, facebook maupun berbagai medsos lainnya. Salah satu tanda perkembangan peradaban manusia yakni perkembangan teknologi. Perkembangan Iptek akan berpengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan manusia termasuk dunia pendidikan. Ciri khusus peserta didik generasi Z yakni selalu menginginkan segala sesuatu secara cepat, tanpa bertele-tele ataupun berbelit-belit.

Mereka cenderung kurang dalam berkomunikasi secara verbal, cenderung egosentris dan individualis bahkan cenderung ingin serba instan, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses. Kondisi demikian menunjukkan bahwa peserta didik di era digital saat ini lebih memiliki akses lebih besar terjadap informasi seiring dengan perkembangan teknologi.

Berkaitan dengan hal tersebut maka sector pendidikan juga harus mengikuti tren pendidikan era digital.Tren pendidikan sumberdaya manusia (SDM) sesungguhnya berada pada otak. Pembaruan pendidikan era digital agar benar-benar berjalan dengan baik betapa pentingnya penguatan diberikan terhadap peserta didik untuk mrnghargai proses hasil belajar di era digital. Sebab proses penciptaan teknologi era digital saat ini merupakan hasil dari proses pengembangan teknologi sebelumnya.

Transformasi Digital

Merujuk pada hasil penelitian Quality of Live and Education Ranking 2020 yang dilakukan USNEWS.com bekerjasama dengan BAV Group dan Wharton School University of Pennsylvania, negara dengan rangking pendidikan bagus cenderung mempunya kualitas hidup yang bagus.

Masihmenurut sumber tersebut, Kanada misalnya, sebagai negara dengan kualitas hidup terbaik, kualitas pendidikan mereka ada di peringkat ketiga diantara 73 negara yang diteliti. Indonesia sendiri untuk pendidikan berada pada ranking 55, dengan ranking quality of live di peringkat 32. (sumber: Seminar Nasional Tren Edutech 2020 di Balai Kartini, Jakarta (20/02). Di era revolusi 4.0 akan semakin banyak teknologi yang akan kita temui, seperti cloud computing, kecerdasan buatan, internet of things, 5G, digitalisasi dan big data. Kesemua teknologi tersebut memiliki potensi besar di dunia pendidikan untuk dikembangkan. Begitu juga dengan guru yang bermutu, ada beberapa hal yang harus dilakukan seorang guru. Diantaranya, Pupil Centered (berorientasi pada siswa), Dynamics (dinamis), dan Democratic (demokratis). Dengan melakukan ketiga hal itu, guru tak hanya menjadi seorang pengajar di kelas namun juga bisa menjadi seorang pendidik yang mampu menginspirasi. Mengutip Nzai, Feng, dan ReYna, (2014) menyatakan ada kesenjangan generasi antara guru dari generasi Y sebagai digital immigrant dengan siswa generasi Z sebagai digital native. Siswa gererasi Z tidak sama dengan siswa generasi sebelumnya, dan mereka merespons instruksi secara berbeda.

Sejalan dengan itu Levin & Nolan, (2014) menyatakan bahwa guru yang efektif adalah yang membangun hubungan positif saat mereka terlibat dalam proses pembelajaran serta memiliki keyakinan terhadap kemampuan siswanya. Selain itu perkembangan teknologi informasi dan komunikasi serta digitalisasi yang luar biasa saat ini melahirkan sebuah kelompok generasi digital (digital native), yaitu internet generation (IGen), atau generasi internet. Guru di era digital dituntut memiliki fleksibilitas yang tinggi yakni pendekatan dedikatif dan gaya manajemen kelas yang selalu disesuaikan dengan keadaan, situasi kelas yang diberi pelajaran, sehingga dapat menunjang tingkat prestasi siswa semaksimal mungkin.

Guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran juga harus mempertimbangkan cara-cara terbaru dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan memproses informasi siswa generasi digital. Karakteristik siswa generasi Z lebih menyukai gaya belajar mengunakan pendekatan eksperimen (learning by doing), mengunakan media pembelajaran yang berupa audio visual (visual learning), senang bekerja dalam tim dengan rekan, menggunakan alat kolaboratif seperti Google Apps, sulit untuk konsentrasi atau fokus pada satu kegiatan dalam waktu yang lama. Menurut Mohr & Mohr, (2017) siswa generasin Z lebih senang belajar dengan santai dan enjoy pembelajaran yang menyenangkan dan menghibur atau yang disebut dengan edutainment.

Era digital menjadi sebuah tonggak revolusi baru di berbagai sektor, termasuk pada sektor pendidikan. Para guru dituntut untuk lebih membiasakan diri dengan perkembangan teknologi yang ada. Dunia saat ini tengah memasuki revolusi digital atau industrialisasi ke empat. Penggunaan Internet of Things (IoT), big data, cloud database, blockchain, dan lain-lain akan mengubah pola kehidupan manusia. Peserta didik akan dengan mudah bisa menemukan informasi melalui internet untuk menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya.

Melindungi Sekaligus Menggali Potensi

Dalam perkembangannya, makna sekolah berubah menjadi lembaga tempat berprosesnya ajar antara murid dan guru yang memerlukan tempat dan dukungan berbagai alat bantu pembelajaran dalam suasana birokratis. Di masa depan, dengan perkembangan teknologi, anak dapat belajar di mana saja dan guru pun dapat menjadi fasilitator dan moderator pembelajaran tanpa terikat ruang fisik.

Begitu juga dengan Classroom membantu siswa dan pengajar mengorganisir tugas, meningkatkan kolaborasi, dan menumbuhkan komunikasi yang lebih baik. Melalui Classroom, pengajar dapat membuat kelas, mendistribusikan tugas, memberi nilai, mengirim masukan, dan melihat semuanya di satu tempat. Classroom bisa menyederhanakan tugas yang berulang dan membantu pengajar untuk lebih berfokus pada tugas terpentingnya, yaitu mengajar. Pengajar dapat melacak progres siswa untuk mengetahui di mana dan kapan harus memberikan masukan tambahan.

Meski Iptek terus berkembang pendidikan harus tetap berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan juga harus benar-benar diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan berdaya saing. Mampu mempersiapkan peserta didik agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, disiplin, bermoral tinggi, demokratis, dan toleran yang mengutamakan persatuan dan bukan perpecahan. Empat pilar pendidikan sekarang dan masa depan sebagaimana dipaparkan UNESCO yakni learning to know (belajar untuk mengetahui), learning to do (belajar untuk terampil melakukan sesuatu), learning to be (belajar untuk menjadi seseorang), dan learning to live together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

Learning to do, akan bisa berjalan apabila lembaga pendidikan memfasilitasi para peserta didik untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Learning to be berklaitan erat dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi peserta didik serta kondisi lingkungannya. Learning to live together, peserta didik sudah harus dibiasakan untuk hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima, perlu ditumbuhkembangkan.

Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses belajar untuk menjalani kehidupan bersama. Penerapan keempat pilar ini dirasakan sangat penting dalam menghadapi era globalisasi dan era industri 4.0. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal sebagaimana diuraikan diatas.

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah perilaku manusia. Tanpa disadari manusia mengalami ketergantungan dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Manusia sudah memasuki apa yang disebut sebagai era digital. Internet telah merambah semua lapisan kehidupan masyarakat, mulai dari transaksi bisnis, pendidikan, kesehatan, sosial dan agama. Dengan teknologi informasi yang berkembang pesat, manusia tidak lagi dipisahkan ruang dan waktu. Semua aktivitas bisa dilaksanakan dengan mudah. Namun tak dapat dipungkiri inovasi yang dikembangkan dalam teknologi internet juga memiliki dampak negatif.

Internet bisa mengakibatkan efek adiksi atau kecanduan. Ini yang dialami oleh banyak peserta didik maupun remaja. Bahkan orang dewasa pun tidak luput dari kecanduan internet. Teknologi internet telah menciptakan media sosial yang menjadi kegandrungan peserta didik dan remaja. Kemudahan berinteraksi dengan orang lain di berbagai belahan dunia memang sangat menarik hati bahkan perlu dikaji serta dianalisis lebih mendalam.

Menghargai Proses

Dalam era globalisasi sekarang ini sebuah proses untuk mendapatkan hasil memang mahal. Letak mahalnya berada dalam “proses”. Teknologi yang rumit misalnya membutuhkan suatu proses yang lama untuk mewujudkannya. Bahkan harus dilakukan eksperiemnnya berulang-ulang untuk menguji proses kerjanya. Itulah sebabnya mengapa begitu mahalnya sebuah kata yang namanya “proses”. Mengutip John C. Maxwell dalam bukunya “Success One Day At A Time”, setidaknya terdapat tujuh fakta dibalik orang yang sukses dalam karir. Salah satunya ialah menghargai proses. Tidak ada kesuksesan tanpa proses.

Di dalam proseslah, segala sesuatu dibentuk, dikurangi, ditambahkan sesuai keinginan si pembuat. Begitu juga dengan guru dan pendidik agar terus menerus melakukan penguatan terhadap peserta didik untuk menghargai yang namanya sebuah proses. Dimana mereka saat ini berada dalam masa era digital berkemungkinan besar para peserta didik juga tidak tahun bagaimana proses menghasilkan sebuah produk teknologi. Persoalannya mengapa miliaran orang bisa menggunakan dan mengoperasikannya dengan mudah?

Banyak orang mengambil jalan pintas untuk mendapatkan hasil yang memuaskan tanpa proses yang benar, maka kelak akan menimbulkan masalah baru akibat ketidakjujurannya. Hasil akhir sangat penting yang membutuhkan perjuangan dan proses yang benar. Tatkala kita melakukan sesuatu dengan jujur, maka kepercayaan, harga diri, dan kehormatanlah yang akan kita dapatkan dari orang lain.

Untuk itu perlu ditekankan terhadap peserta didik untuk lebih menghargai proses dari pada hasil. Banyak kalangan menyatakan bahwa proses dan hasil adalah dua hal yang saling berkaitan erat satu sama lain. Banyak manfaat tatkala apabila peserta didik lebih menghargai proses dari pada hasil. Diantaranya membentuk karakter yang optimis dan gigih.

Memperoleh pengalaman berharga dan ketrampilan baru. Peserta didik lebih terbuka dan fleksibel pada target keberhasilan. Selanjutnya berkemungkinan besar hasil yang diperoleh lauh lebih baik dari harapan. Orang-orang yang telah berhasil tidak akan berhenti meski telah mencapai target. Banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai puncak kesuksesan.

Mereka hanya ingin memetik hasil dengan cara-cara instan, tanpa mau melewati proses yang panjang dan sulit. Padahal, kesuksesan lahir dari kerja keras. Bahkan, kesuksesan sejatinya adalah proses kerja keras itu sendiri. Ibarat meniti deretan anak tangga, kesuksesan yang diraih seseorang bukanlah saat ia mencapai anak tangga terakhir.

Dengan berpikir kreatif mengajarkan kita untuk melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Berpikir kreatif selalu mengajarkan kita untuk menciptakan sesuatu yang baru, namun menciptakan sesuatu yang baru bukanlah harus dari yang tidak ada menjadi ada. Meski demikian setiap orang tentu memiliki prinsip yang berbeda dalam hidupnya. Tidak ada yang lebih baik atau buruk, karena hal itu memang tergantung sesuai dengan kebutuhan dan pilihan masing-masing. Dalam implementasinya orang menghargai proses akan membuat peserta didik akan mampu berpikir sesuai dengan porsinya.

Memiliki keyakinan saat mengerjakan sesuatu. Dengan menghargai proses melatih peserta didik untuk selalu berpikiran positif. Mengajarkan pada mereka untuk mengabaikan hala-hal yang tidak perlu. Menekankan pada peserta didik untuk selalu bersyukur atas apa yang mereka miliki.

Melatih mental dan pendirian peserta didik serta mereka lebih mengenali diri dan mampu mengambil setiap pelajaran yang terjadi. Seringkali guru melakukan penilaian berbasis hasil bahkan pola demikian seringkali membuat perkembangan diri peserta didik menjadi stagnan. Proses memiliki andil yang cukup besar dalam sebuah pencapaian. Bahkan tidak jarang waktu yang dihabiskan dalam berproses cukup lama. Sehingga tidak berlebihan apabila proses adalah yang sebenarnya patut dihargai. Karena melalui proseslah kemampuan pribadi kita terasah, pengalaman kita bertambah, dan pembelajaran-pembelajaran lain kita dapatkan.

Berbicara mengenai proses segala sesuatu itu terjadi karena sebuah proses. Seperti indahnya kupu-kupu merupakan proses dari fase-fase yang dilaluinya, yaitu mulai dari fase ulat, kemudian menjadi kepongpong, hingga akhirnya kupu-kupu. Semua melalui proses dengan durasi waktu tertentu. Proses yang belum matang biasanya akan menghasilkan sesuatu yang kurang maksimal, bahkan mungkin kegagalan. Sebaliknya, proses yang berkualitas akan menjadikan sesuatu itu menjadi bahkan sebelum waktu yang telah ditentukan. Harus diingat sebagai proses pembelajaran bahwa biasanya yang mencari jalan pintas ini adalah orang-orang malas,pengeluh, dan tidak jujur, tidak jujur akan dirinya sendiri dan juga tidak jujur terhadap orang lain. Orang-orang yang tidak jujur ini, yang memilih jalur pintas untuk menggapai hasil tanpa mau berpikir bagaimana caranya.

Biasanya pada orang-orang malas, akan bermunculan ide-ide tidak jujur untuk segera mencapai ke sana. Minimal ciri-cirinya bisa diendus dan diduga seperti kolusi, adalah cara-cara yang digunakan oleh kaum malas untuk mempercepat pencapaian target yang mereka inginkan. Proses dengan usaha keras dan juga jujur memang tampak lambat, namun sifatnya konstruktif.

Berproses dan menghargainya tidak hanya semata bekerja keras saja, namun bagaimana caranya setiap tahapan proses tersebut berkualitas. Intinya bahwa betapa pentingnya ditekankan teradap peserta didik untuk selalu menghargai sebuah yang namanya proses.

Belajar akan berhasil jika melalui proses yang benar. Terutama di era digital dibutuhkan berbagai strategi dalam proses mendapatkan hasil yang lebih baik sebagai modal SDM di masa depan. Semoga bermanfaat.

(Penulis: Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi).

RUJUKAN
1. Bowman, T. Barbara, Suzanne, Donovan, and Burns, Susan, M. (editors). 2010.Eager to Learn: Educating Our Preschoolers. Washington DC: National Academy Press.
2. BSNP. 2010. Paradigma Pendidikan Nasional Abad XXI. Jakarta: BSNP
3. Brown-Martin, G. (2017). Education and the fourth industrial revolution. Report for Groupe Media TFO. https:// www.groupemediatfo.org/wpcontent/uploads /2017/ 12/FINAL. diakses pada 30 April 2019.
4. Febryani, Yoeyhan. 2012. “Guru Abad 21”. Dalam (http://yoeyhanfebryani. blogspot. com/ 2012/11/guru-abad-21.html)
5. Greenstein, L. (2012). Assessing 21 st Century skills: A guide to evaluating mastery and authentic learning. Thousand Oaks, CA: Corwin.
6. Lahamuddin, Basri. 2011. “Guru Abad 21”. Dalam (http://edukasi.kompasiana. com/2011/ 10/04/guru-abad-21/)
7. Sutamto. 2010. “Tantangan Guru pada Abad Ke-21”. Dalam (http://sutamto.wordpress.com/ 2010/04/10/tantangan-guru-pada-abad-ke-21/),
8. Sumber:https://gizmologi.id/news/tantangan-transformasi-digital-dunia-pendidik an-di-indonesia/

 

 

 

Facebook Comments