oleh

Pembelajaran Mutakhir Menginspirasi Guru

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional

Di era digital saat ini, para peserta didik bisa mendapatkan berbagai sumber belajar baik melalui media informasi internet, televisi, dan lain sebagainya.

Mengingatsaat ini peserta didik sudah bisa belajar dari berbagai sumber maka gurupun harus beradaptasi dengan pembelajaran mutakhir. Banyak materi pembelajaran dapat diakses cepat dengan membuka situs pencarian google, bing, youtube, wikihow, dan lain sebagainya. Di era digital, pekerjaan bercerita, menjabarkan, dan mendemonstrasikan sudah sangat bisa dilakukan oleh teknologi digital. Berkarya dan berkreasi salah satu indikator pribadi unggulan di era digital ini. Semangat pembaharuan yang ditunjukkan oleh guru akan bisa memicu semangat siswa untuk menciptakan hal baru sesuai dengan potensinya masing-masing. Pada masa sekarang ini juga banyak bermunculan model-model pembelajaran mutakhir diantaranya SPICES dimana konsep pembelajaran inI digagas oleh Harden, dkk (1984) serta telah banyak dipraktikkan dan dikembangkan dalam pendidikan medis. SPICES merupakan akronim dari Student-centered, Problem-based; Integrated; Community-based (Consummer-based); Elective; dan Systematic. Ada Self Directed Learning (SDL), Mastery Learning, pembelajaran bermakna (Meaningfull Learning) serta pembelajaran mutakhir lainnya.

Pembelajaran mutakhir diakui oleh banyak kalangan hadir karena situasi dan tuntutan perkembangan zaman dan teknologi.

SPICES dan SDL

Tidak dapat dipungkiri bahwa model-model pembelajaran berkebangan karena tuntutan dan situasi. Bahkan ada model belajar dikembangkan untuk diterapkan dalah situasi tertentu baik individual maupun kelompok. Begitu juga dengan SPICES.

Pertama, Student centered, bahwa siswa secara aktif mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari, aktif dalam pengelolaan pengetahuan.

Kedua adalah Problem based berarti siswa diberikan trigger masalah atau ilustrasi kasus yang akan digunakan untuk mencari, menggali dan mengumpulkan informasi dan ilmu.

Ke tiga, Integrated berarti perencanaan dan kurikulum lajaran didesain secara terintegrasi, baik secara horisontal maupun vertikal.

Keempat, Community based berarti pembelajaran harus berorientasi pada kebutuhan masyarakat atau pada kepentingan konsumen.

Kelima, Elective, selain menyediakan mata pelajaran yang telah terstruktur dalam kurikulum, sekolah seyogyanya menyediakan program-program pilihan yang dapat diambil siswa, disesuaikan dengan minat, tujuan, bakat, dan keunikan karakteristik mereka masing-masing.

Keenam, Sysematic, bahwa pembelajaran dikembangkan dengan tujuan, materi dan tahapan-tahapan yang jelas, logis dan tertib, sehingga pada gilirannya para siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih baik dan mencapai kompetensi secara utuh. Keunggulan dari SPICES, antara lain, menjadikan siswa lebih termotivasi dan aktif dalam proses belajarnya. Pengembangan keterampilan memecahkan masalah secara komprehensif; pengembangan kemampuan berfikir analistis secara lebih tajam dan luas.

Melatih keterampilan sosial yang benar-benar aplikabel dalam lingkungan sosialnya dan memberikan kesempatan belajar kepada siswa yang sesuai dengan bakat, minat dan keunikan karakteristik. Conradie (dalam Surbakti: 2017: 7) mengemukakan bahwa self-directed learning (SDL) merupakan proses penerapan gagasan yang dimiliki dengan berbagai interprestasi dalam pelaksanaannya.

Individu dengan SDL memiliki kebebasan untuk menentukan pilihan secara mandiri. Individu mampu menentukan kebutuhan belajar, tujuan belajar, sumber belajar, strategi belajar dan menilai hasil belajar. SDL adalah upaya mengembangkan kebebasan kepada siswa dalam mendapat informasi dan pengetahuan yang tidak dikendalikan oleh orang lain, menentukan arah/tujuan belajar, sumber belajar, program belajar, materi yang dipelajarinya, bagaimana mempelajarinya, tanpa diatur secara ketat oleh pembelajar atau peraturan. Mengutip pendapat Gibbons (dalam Azizah, 2012:3-5) , mengemukakan beberapa lima aspek dasar yang menjadi elemen penting self-directed learning (SDL).

Pertama, mengontrol banyaknya pengaaman belajar yang terjadi. Perubahan utama dari teacher directed learning menjadi self-directed learning adalah sebuah perubahan pengaruh dari guru ke siswa. Perkembangan keahlian, bahwa kontrol yang berasal dari dalam tidak akan memiliki tujuan kecuali jika siswa belajar untuk fokus dan menerapkan talenta dan kemampuan mereka. self-directed learning menekankan pada perkembangan keahlian dan proses menuju aktivitas produktif.

Ke tiga, mengubah diri pada kinerja yang paling baik. Bahwa self-directed learning dapat gagal tanpa tantangan yang diberikan kepada siswa.

Ke empat, manajemen diri. Dalam self-directed learning, pilihan dan kebebasan dihubungkan dengan kontrol diri dan tanggungjawab.

Kelima, motivasi dan penilaian diri. Banyak prinsip dari motivasi yang dibangun untuk self-directed

learning, seperti mencapai tujuan minat yang tinggi. Aspek-aspek self-directed learning menurut Azizah (2012: 6) mengacu pada teori Gibbons dan Gueglielmino & Gueglielmino, antara lain: (a). Inisiatif sendiri yang meliputi minat belajar kemudian membentuk pendapat atau ide serta membuat keputusan sendiri. (b). Self planed (perencanaan diri) yang meliputi kemampuan mengatur tujuan pribadi, identifikasi dan pencarian informasi dan deskripsi standart yang akan dicapai.(c). Kebutuhan belajar sendiri yang meliputi berpikir secara mandiri, strategi belajar mandiri serta penyesuaian diri dalam belajar. (d). Self conducted (tindakan sendiri) yang meliputi pelaksanaan aktivitas sendiri, menghadapi kesulitan, menemukan alternatif, dan memecahkan masalah. (e). Evaluation (penilaian hasil belajar) yang penilaian terhadap hasil yang diperoleh dan pengembangan hasil belajar.

Mastery dan Meaningfull

Mastery learning dikembangkan oleh John B. Caroll (1963) dan Benjamin Bloom (1971). Keduanya mengembangkan suatu sistem pembelajaran yang memungkinkan semua siswa dapat mencapai sejumlah tujuan pendidikan. Model belajar tuntas atau mastery learning terdiri atas lima tahap, yaitu orientasi (orientation), penyajian (presentation), latihan terstruktur (structured practice), latihan terbimbing (guided practice) dan latihan mandiri (independent practice).

Tujuan proses belajar mengajar secara ideal adalah agar bahan yang dipelajari dikuasai sepenuhnya oleh peserta didik. Ini disebut mastery learning atau belajar tuntas, artinya penguasaan penuh (Nasution,2011).Suryosubroto (1997), menyatakan ciri-ciri model pembelajaran dengan prinsip belajar tuntas atau mastery learning adalah sebagai berikut.

Pertama, Pengajaran didasarkan atas tujuan-tujuan pendidikan yang telah ditentukan terlebih dahulu.

Ke dua, memperhatikan perbedaan individu.

Ketiga, evaluasi dilakukan secara kontinu dan didasarkan atas kriteria.

Ke empat, menggunakan program perbaikan dan program pengayaan.

Ke lima, menggunakan prinsip siswa belajar aktif.

Keenam, menggunakan satuan pelajaran yang kecil. Terdapat beberapa variabel yang harus diperhatikan dalam penerapan sistem belajar tuntas atau mastery learning.

Diantaranya bakat siswa (aptitude), ketekunan belajar (perseverance). Kualitas pembelajaran (quality of instruction), kesempatan waktu yang tersedia (time allowed for learning). David Ausubel (1963) seorang ahli psikologi pendidikan menyatakan bahwa bahan pelajaran yang dipelajari harus “bermakna’ (meaningfull). Muchlas Samani (2007) mengemukakan bahwa apapun metode pembelajarannya, maka harus bermakna (meaningfull learning).

Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa. Menurut Nana (2005) dalam pembelajaran terdapat syarat-syarat yang dapat menunjang terciptanya pembelajaran bermakna. Diantaranya bahan yang dipelajari harus dihubungkan dengan struktur kognitif secara substansial dan degan beraturan. Peserta didik memiliki konsep yang sesuai dengan bahan yang akan dihubungkan. Peserta didik harus memiliki kemauan untuk menghubungkan konsep tersebut dengan struktur kognitifnya secara substansial dan beraturan pula.

Pembelajaran bermakna erat kaitannya dengan teori konstruktivisme pemikiran Vygotsky (Social and Emancipator Constructivism).

Pahamini berpendapat bahwa siswa mengkonstruksikan pengetahuan atau menciptakan makna sebagai hasil dari pemikiran dan berinteraksi dalam suatu konteks sosial. Selain itu masih ada model Joyful Learning atau pembelajaran menyenangkan. Joyful Learning merupakan suatu proses pembelajaran atau pengalaman belajar yang membuat peserta didik merasakan kenikmatan dalam skenario belajar atau proses pembelajaran. Wei, dkk. (2011: 12) “joyful learning as a kind of learning process or experience which could make learners feel pleasure in a learning scenario/process”. Menurut Sell (2012: 1665) Joyful dapat didefinisikan sebagai emosi yang ditimbulkan oleh kesejahteraan. Joyful Learning merupakan suatu proses pembelajaran yang dalam konteks pendidikan mengacu pada kondisi intelektual dan emosional yang positif dari peserta didik, didalamnya terdapat sebuah kohesi yang kuat antara pendidik dan peserta didik, tanpa ada perasaan terpaksa atau tertekan (not under pressure). Strategi Joyful Learning membuat peserta didik berani berbuat, berani mencoba, berani bertanya, mengemukakan pendapat, dan mempertahankan pendapat sehingga tidak takut salah, ditertawakan, diremehkan, dan tertekan. Kemudian Model Problem Based Learning (PBL)

Model pembelajaran berbasis masalah dikembangkan oleh Barrows sejak tahun 1970-an. Problem Based Learning (PBL)/pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu pendekatan pendidikan dimana masalah adalah sebagai titik awal dari proses pembelajaran (Watson, 2000:1). Pembelajaran berbasis masalah merupakan sebuah pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang siswa untuk belajar. Dalam kelas siswa menerapkan pembelajaran berbasis masalah dan bekerja dalam tim untuk memecahkan masalah. Majid (2014: 162), pembelajaran berbasis masalah merupakan suatu model pembelajaran yang menantang peserta didik untuk “belajar bagaimana belajar”, bekerja secara berkelompok untuk mencari solusi dari permasalahan dunia nyata. Eggen dan Kauchak (2012: 308-310) menyatakan sebelum menerapkan fase (tahap) kegiatan pembelajaran dengan PBL, perencanaan pelajaran untuk PBL yakni

(a) mengidentifikasi topik, (b) menentukan tujuan belajar, (c) mengidentifikasi masalah, dan (d) mengakses materi. Prinsip utama PBL adalah penggunaan masalah nyata sebagai sarana bagi peserta didik untuk mengembangakan pengetahuan dan sekaligus mengembangkan kemampuannya.

Pendidikan Jarak Jauh

Pendidikan jarak jauh seringkali diidentikkan dengan posisi yang unik dalam menciptakan lingkungan belajar untuk mendukung pendekatan pengajaran dan pembelajaran heutagogik. Adapun karakteristik khusus pendidikan jarak jauh yang menyelaraskan diri dengan heutagogi yakni teknologi.

teknolog Hubungan simbiosisi dengan pendidikan jarak jauh mensyaratkan bahwa, dengan setiap teknologi yang muncul, pendidik jarak mempertimbangkan implikasi teknologi pada teori dan praktik pendidikan jarak jauh. Heutagogi telah diidentifikasi sebagai teori potensial untuk diterapkan pada teknologi yang muncul dalam pendidikan jarak jauh (Anderson, 2010; Wheeler,2011). Meskipun penelitian dan diskusi tambahan diperlukan untuk menentukan kredibilitas heutagogy sebagai teori pendidikan jarak jauh. Secara tradisional, pendidikan jarak jauh telah dirancang, dikembangkan, disampaikan, dan ditargetkan untuk pelajar dewasa, biasanya orang dewasa yang bekerja dengan pengalaman hidup yang luas dan lebih dewasa daripada siswa berbasis kampus (Holmberg,2005;Peters,2001;Moore&Kearsley,2012;Richardson,Morgan,&Woodley,1999). Praktek pendidikan jarak jauh secara historis sangat dipengaruhi oleh teori androgogis pengajaran dan pembelajaran Knowles, dan sebagai perluasan andragogi, heutagogi dapat dianggap sebagai teori yang relevan untuk pendidikan jarak jauh orang dewasa. Pendidikan jarak jauh, sebagai bentuk pendidikan yang berbeda, membutuhkan dan mempromosikan otonomi, keterampilan pembelajar yang penting bagi pendekatan pengajaran dan pembelajaran heutagogik (Peters, 2001). Web 2.0 dan media sosial telah memainkan peran penting dalam menghasilkan diskusi baru tentang heutagogi dalam pendidikan tinggi.

Desain Web 2.0 mendukung pendekatan heutagogik dengan memungkinkan peserta didik untuk mengarahkan dan menentukan jalur pembelajaran mereka dan dengan memungkinkan mereka untuk mengambil peran aktif daripada pasif dalam pengalaman belajar masing-masing. Daya kunci media sosial–konektivitas dengan orang lain, penemuan dan berbagi informasi (secara individu dan sebagai kelompok), dan pengumpulan pribadi dan adaptasi informasi sebagaimana diperlukan–juga merupakan kemampuan yang mendukung kegiatan belajar mandiri (McLoughlin&Lee,2007:667).

Selainitu, Web 2.0 mendorong interaksi, refleksi dalam dialog, kolaborasi, dan berbagi informasi, serta mempromosikan otonomi dan mendukung pembuatan konten yang dihasilkan oleh siswa (Lee&McLoughlin, 2007; McLoughlin&Lee, 2008, 2010). Dengan Web 2.0 sebagai kerangka kerja teknologi pendukungnya, heutagogi sekarang dapat dilihat sebagai pengembangan pedagogi 2.0 lebih lanjut (seperti yang didefinisikan oleh McLoughlin&Lee,2007): pembelajar adalah self-directed untuk terus belajar sendiri dan “dapat mempersonalisasikan jalur pembelajaran mereka di cara yang mereka inginkan ”(Kuit & Fell, 2010: 320). Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dapat mendukung pembelajaran yang ditentukan sendiri. Diantaranya Pembelajaran seluler, Penelitian Cochrane dan Bateman (2010) menunjukkan bahwa pembelajaran seluler mendukung kolaborasi, pengumpulan data dan sumber daya dan berbagi, dan praktik reflektif. Penggunaan pembelajaran seluler juga ditemukan untuk meningkatkan interaksi pelajar-pelajar dan interaksi pembelajar-eksternal, serta praktik reflektif (jurnal pembelajaran). Virtual Philosopher : Hornsby dan Maki (2008) melaporkan alat pembelajaran asynchronous yang dimaksudkan untuk membangun keterampilan pembelajar dalam mengembangkan, merefleksikan, dan mengubah proses berpikir dan logika.

Alat online menyediakan kegiatan pembelajaran aktif yang dibangun di sekitar berbagai skenario yang dipelajari oleh pembelajar melalui proses penemuan diri. Melalui skenario ini dan tanggapan yang diberikan oleh siswa, Virtual Philosopher mengidentifikasi kekurangan dalam proses pemikiran pembelajar, memaksa pembelajar untuk mengevaluasi dan mengevaluasi kembali mengapa dia berpikir dalam cara tertentu. Menurut Hornsby dan Maki (2008), lingkungan asynchronous “tampaknya memperkuat pembelajaran yang lebih dalam” dan mempromosikan pemecahan masalah dan analisis kritis. Twitter : Sebuah studi terbaru oleh Junco, Heiberger, dan Loken (2010) menunjukkan bahwa siswa yang menggunakan Twitter (dibandingkan dengan mereka yang tidak) lebih aktif terlibat dalam proses pembelajaran mereka dan memiliki IPK lebih tinggi. Junco dkk. (2010) juga menemukan bahwa penggunaan Twitter mendorong interaksi siswa-siswa dan instruktur-siswa, serta mempromosikan pembelajaran aktif. Konten yang dihasilkan oleh pelajar (penggunaan media aktif): Penggunaan aktif media sosial dalam menciptakan konten yang dihasilkan oleh pembelajar tampaknya berkontribusi pada pengembangan keterampilan mengarahkan diri. Penelitian Blaschke, Porto, dan Kurtz (2010) menunjukkan bahwa penggunaan aktif media sosial, misalnya, pengembangan konten yang dihasilkan oleh pelajar, mendukung pengembangan keterampilan kognitif dan metakognitif, sedangkan penggunaan pasif (konsumsi) kurang efektif dalam mendukung pengembangan keterampilan ini. Semoga.

Rujukan
1. Lisa Marie Blaschke, Oldenburg University and University of Maryland University College (UMUC), dengan judul asli: Heutagogy and Lifelong Learning: A Review of Heutagogical Practice and Self-Determined Learning dan dapat diakses pada: http://www.irrodl.org/index.php/irrodl /article/view/1076/2087
2. Majid, Abdul. 2013. Strategi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
3. Nasution. 2011. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
4. Wena, Made. 2011. Strategi Pembelajaran Inovatif Kontemporer. Jakarta: Bumi Aksara.

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed