Bungonews.net,Bungo-Perjalanan SMK Titian Teras Jambi di Dusun Babeko, Kecamatan Bathin II, Kabupaten Bungo, bukan sekadar cerita tentang perubahan nama dan nomenklatur sekolah. Di balik perjalanan panjang itu, tersimpan harapan besar agar sekolah yang pernah menjadi salah satu kebanggaan pendidikan vokasi di wilayah Bungo-Tebo tersebut kembali menjadi sekolah unggulan di Jambi wilayah barat.
Sebelum dikenal sebagai SMK Titian Teras Jambi, sekolah ini merupakan Sekolah Menengah Teknologi Pertanian (SMTP) Bungo-Tebo. Pada masanya, SMTP dikenal sebagai sekolah favorit dengan dukungan sarana, gedung dan peralatan praktik yang relatif lengkap.
Seiring perjalanan waktu, SMTP kemudian berubah menjadi SMKN 2 Bungo. Pada 24 Mei 2019, sekolah tersebut kembali mengalami perubahan menjadi SMAN Titian Teras Jambi. Saat itu dilaporkan terdapat sekitar 186 siswa, 28 guru dan seorang kepala sekolah.
Namun, perubahan tersebut tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan. Salah satu persoalannya karena sekolah masih menginduk kepada SMA Titian Teras Jambi di Pijoan. Kondisi tersebut membuat operasional sekolah tidak berjalan optimal dan akhirnya nomenklaturnya kembali menjadi SMKN 2 Bungo.
Harapan baru kemudian muncul ketika dukungan sarana dan prasarana serta perhatian Pemerintah Provinsi Jambi mulai diberikan. Memasuki tahun ajaran 2024/2025, SMKN 2 Bungo kembali diresmikan menjadi SMKN Titian Teras Jambi.
Di bawah kepemimpinan Ir. B. Arief, sekolah tersebut perlahan mulai berbenah. Targetnya jelas, menjadikan SMKN Titian Teras Jambi sebagai sekolah kejuruan yang diminati masyarakat, khususnya di wilayah Jambi bagian barat.
Namun, harapan besar itu berhadapan dengan persoalan klasik: kemampuan anggaran.
Dengan keterbatasan anggaran dan masih mengandalkan dana BOS serta dukungan Pemerintah Provinsi Jambi, pihak sekolah terus berusaha memenuhi kebutuhan pendidikan dan asrama.
“Alhamdulillah, SMKN 2 Bungo resmi menjadi SMKN Titian Teras Jambi. Siswa yang menginap di asrama mendapatkan fasilitas gratis, mulai dari pakaian, makan hingga tempat tinggal. Pembiayaannya sementara ditopang melalui dana BOS dan bantuan Pemerintah Provinsi Jambi,” ujar Ir. B. Arief.
Minat Tinggi, Daya Tampung Terbatas
Memasuki tahun ajaran 2026/2027, seluruh siswa diwajibkan tinggal di asrama. Secara ideal, fasilitas sekolah tersebut mampu menampung sekitar 200 hingga 400 siswa.
Persoalannya, daya tampung asrama dan kemampuan anggaran belum sejalan dengan tingginya minat masyarakat.
Keterbatasan tempat tidur dan anggaran operasional akhirnya membuat penerimaan peserta didik baru harus dibatasi.
“Untuk tahun ajaran 2026/2027, minat masyarakat untuk sekolah di SMKN Titian Teras Jambi ini sangat luar biasa. Namun, penerimaan siswa dibatasi karena anggaran dari Pemerintah Provinsi Jambi masih sangat minim untuk membiayai kebutuhan siswa dan operasional sekolah,” tambahnya.
Di sinilah persoalan sebenarnya berada.
Ketika minat masyarakat tinggi tetapi sekolah justru harus membatasi penerimaan karena keterbatasan anggaran, tentu pemerintah perlu mengevaluasi kembali pola pembiayaan sekolah tersebut.
Sebab, membangun sekolah unggulan tidak cukup hanya dengan membangun gedung dan menyediakan fasilitas. Sekolah juga membutuhkan biaya operasional yang berkelanjutan, terutama sekolah berasrama yang harus menyediakan makan, tempat tinggal, pakaian dan kebutuhan siswa lainnya.
Puluhan Hektare Lahan, Mengapa Tidak Dijadikan Sumber Pendapatan?
SMKN Titian Teras Jambi Babeko memiliki potensi yang sebenarnya tidak dimiliki semua sekolah: lahan yang luas.
Puluhan hektare lahan kosong tersebut jangan sampai hanya menjadi hamparan tanpa nilai ekonomi. Lahan itu bisa dikembangkan menjadi bagian dari konsep sekolah mandiri dan produktif.
Misalnya, sekitar 30 hektare dikembangkan menjadi kebun kelapa sawit, sedangkan 20 hektare lainnya dimanfaatkan untuk tanaman palawija dan sayur-sayuran.
Konsep tersebut bukan sekadar mengejar keuntungan. Justru dapat menjadi laboratorium hidup bagi pendidikan vokasi pertanian.
Siswa dapat belajar langsung mengenai pembibitan, penanaman, pemeliharaan, pemupukan, pengelolaan hasil produksi hingga pemasaran. Di sisi lain, hasil pengelolaan lahan dapat menjadi sumber pendapatan tambahan untuk mendukung operasional sekolah.
Jika dirancang secara profesional dan dikelola dengan tata kelola yang transparan, bukan tidak mungkin beberapa tahun ke depan lahan produktif tersebut mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap kebutuhan sekolah.
Dengan begitu, sekolah tidak sepenuhnya bergantung kepada besarnya alokasi anggaran pemerintah setiap tahun.
Dari Mana Modalnya?
Pertanyaan berikutnya tentu muncul: dari mana biaya untuk membuka dan mengembangkan kebun tersebut?
Pemerintah sebenarnya memiliki banyak pilihan.
Bisa melalui pola bapak angkat, kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri, program pertanian daerah, maupun program pengembangan perkebunan rakyat yang memungkinkan sekolah mendapatkan dukungan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pemerintah Kabupaten Bungo juga dapat menjembatani kerja sama dengan pelaku usaha perkebunan dan pertanian sehingga lahan sekolah tidak menjadi aset tidur.
Namun, tentu saja seluruh kerja sama harus dilakukan dengan prinsip transparansi, akuntabilitas dan tidak menghilangkan fungsi pendidikan.
Sebab, tujuan utamanya bukan menjadikan sekolah sebagai perusahaan. Tujuannya adalah menciptakan sekolah produktif yang mampu membiayai sebagian kebutuhannya sendiri sekaligus menjadi tempat praktik nyata bagi siswa.
Jangan Sampai Bangunan Megah Menjadi Bangunan Tua
SMKN Titian Teras Jambi Babeko seharusnya menjadi momentum bagi Pemerintah Provinsi Jambi dan Pemerintah Kabupaten Bungo untuk melihat persoalan pendidikan secara lebih menyeluruh.
Kehadiran berbagai gagasan sekolah unggulan, seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda maupun madrasah unggulan, harus diikuti dengan perencanaan ekosistem pendidikan yang matang.
Jangan sampai pembangunan berbagai fasilitas pendidikan hari ini justru meninggalkan persoalan baru di kemudian hari.
Bangunan sekolah bisa megah, tetapi jika tidak didukung jumlah siswa yang memadai, tenaga pendidik, anggaran operasional dan kebijakan pendidikan yang berkelanjutan, bukan tidak mungkin beberapa tahun mendatang fasilitas tersebut hanya menjadi bangunan tua yang sepi penghuni.
SMK Titian Teras Jambi Babeko memiliki sejarah, lahan, fasilitas dan minat masyarakat. Yang dibutuhkan sekarang adalah keberanian pemerintah untuk melihatnya sebagai investasi pendidikan jangka panjang, bukan sekadar satu lagi sekolah yang harus menunggu alokasi anggaran setiap tahun.
Jika pemerintah serius, lahan puluhan hektare bisa menjadi kekuatan. Sekolah berasrama bisa menjadi pusat pendidikan vokasi pertanian. Siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga menghasilkan sesuatu.
Dan yang paling penting, jangan membatasi mimpi anak-anak Bungo dan Jambi wilayah barat hanya karena keterbatasan anggaran.
Justru di situlah pemerintah dituntut hadir: mencari solusi, membuka peluang dan memastikan sekolah yang telah dibangun dengan harapan besar tidak kehilangan masa depannya.
SMK Titian Teras Jambi bukan hanya tentang gedung dan nama baru. Ia adalah pertaruhan apakah pemerintah mampu mengubah potensi menjadi kekuatan dan harapan menjadi kenyataan.
(Redaksi )






























Komentar