Bungonews.net,Bungo-Harapan ribuan petani di Kecamatan Tanah Tumbuh, Tanah Sepenggal, dan Bungo Dani untuk kembali menikmati aliran air irigasi yang layak akhirnya mendapat jawaban. Pemerintah Kabupaten Bungo melalui dukungan APBN pada DIPA BWS Sumatera VI Jambi menggelontorkan anggaran puluhan miliar untuk rehabilitasi Irigasi Dam Batang Uleh dan Dam Pulau Pekan di Sungai Arang.

Di bawah komando Bupati Bungo H. Dedy Putra, SH, M.Kn, proyek besar ini digadang–gadang menjadi pemutus dahaga panjang para petani. Bertahun-tahun mereka bersandar pada irigasi yang mengalami kerusakan, sementara lahan sawah terus menjerit kekeringan pada musim kemarau.

PT WIKA Turun ke Lapangan, Subkon Lokal Dilibatkan
Proyek yang dikontrak sejak April 2025 dengan target rampung Desember 2025 itu dikerjakan oleh perusahaan BUMN, PT Wijaya Karya (WIKA). Meski waktu tinggal menghitung pekan, pantauan lapangan menunjukkan pergerakan konstruksi mulai terlihat.

Untuk mengejar target yang sangat ketat, PT WIKA menggandeng sejumlah subkontraktor lokal dan regional. Tercatat 9 subkon mengerjakan titik–titik irigasi berikut:
1. DI Semagi – CV Roqib Anugerah
2. DI Pulau Pekan (Sungai Arang) – CV Riau Bumi Adil
3. DI Talang Cabuk – CV Cemerlang Utama Sentosa
4. DI Terantam Besar – Putri Kembar
5. DI Terantam Besar – CV Tristan
6. DI Teluk Pandak – CV Bungo Mitra Mandiri
7. DI Sungai Kembang – CV Graha Riau Mandiri
8. DI Jentayo – CV Roqib Anugerah
9. DI Jentayo – CV Roqib Anugerah
10. Daerah Batang Uleh – PT WIKA
Daftar ini memunculkan ekspektasi sekaligus pertanyaan publik: mampukah pekerjaan besar dengan banyak subkon ini menjaga standar mutu yang diharapkan? Mengurus irigasi bukan pekerjaan tambal-sulam, melainkan urat nadi ekonomi petani.
Bupati: “Tolong Dipantau. Ini untuk Kepentingan Masyarakat.”
Dalam obrolannya bersama Bungonews, Bupati Bungo menyampaikan rasa syukurnya.
“Alhamdulillah, tahun ini irigasi Dam Batang Uleh dan Sungai Arang direhab oleh perusahaan BUMN. Ini kebanggaan kita semua. Insya Allah tahun depan bukan hanya irigasinya, tapi dam atau waduknya yang diperbaiki,” ujarnya.
Bupati juga meminta seluruh pihak tetap waspada dan tidak memberi ruang untuk pekerjaan asal jadi.
“Harapan kita, kontraktor dan subkonnya bekerja profesional, menjaga mutu dan kualitas pekerjaan agar bisa dimanfaatkan masyarakat jangka panjang. Mohon dibantu dipantau dan dikoordinasikan,” tegasnya.
Di tengah pengalaman lama publik tentang proyek yang molor atau tak sesuai mutu, seruan bupati menjadi sinyal kuat: pemerintah ingin hasil, bukan alasan.
PUPR Bungo: “Kami Hanya Mengawasi dan Koordinasi. Ini Proyek Balai.”
Ketika ditanya soal peran Kabupaten Bungo dalam proyek besar tersebut, Kabid SDA PUPR memberikan penjelasan seperlunya.
“Kami hanya membantu mengawasi dan sebatas koordinasi saja, Bang. Ini kegiatan balai,” ucapnya singkat.
Jawaban itu menjelaskan garis batas kewenangan, namun sekaligus menegaskan bahwa pengawasan tetap perlu diperketat. Proyek puluhan miliar dengan tenggat mepet adalah medan rawan: rawan mutu turun, rawan dikerjakan terburu-buru, rawan tidak sesuai harapan.
Dengan waktu yang kian menipis jelang Desember, masyarakat berharap tidak ada lagi pekerjaan yang berjalan “kejar tayang” seperti tradisi proyek akhir tahun.
Petani tidak butuh seremonial.
Mereka butuh air mengalir.
Mereka butuh irigasi berfungsi.
Mereka butuh janji ditepati, bukan sekadar tercetak dalam kontrak.
Proyek ini menjadi pertaruhan: antara manfaat besar bagi petani atau sekadar catatan perjalanan anggaran tanpa jejak kualitas yang berarti.
Belum diketahui secara pasti apakah proyek ini memiliki perlakuan khusus terkait waktu pelaksanaan karena disebut- sebut Proyek Inpres ( BN- war )


























Komentar