Bungonews.net, Bungo – Fenomena antrian panjang pelansir (pengecer BBM) di sejumlah SPBU di Kabupaten Bungo kembali menjadi sorotan. Hampir setiap hari, pemandangan deretan kendaraan pelansir menumpuk, bahkan kerap mengganggu lalu lintas serta menyulitkan masyarakat umum yang hendak membeli BBM.
Banyak pihak menilai kondisi ini terjadi akibat lemahnya pengawasan dan belum adanya sistem distribusi yang benar-benar berpihak kepada masyarakat. BBM bersubsidi yang semestinya diperuntukkan bagi kendaraan pribadi, angkutan umum dan petani justru diduga banyak diserap oleh pelansir untuk diperjualbelikan kembali.
Dampak yang Ditimbulkan
1. Masyarakat kecil dirugikan – warga yang benar-benar membutuhkan sering kehabisan stok.
2. Kemacetan dan konflik sosial – antrian panjang menimbulkan gesekan antara pelansir dengan masyarakat umum.
3. Kebocoran subsidi – tujuan program BBM subsidi tidak tepat sasaran.
Solusi yang Bisa Ditempuh
1. Pengawasan ketat SPBU
Aparat bersama Pertamina dan Pemda harus aktif mengawasi distribusi BBM agar tidak dikuasai pelansir.
2. Digitalisasi pembelian
Penerapan aplikasi MyPertamina atau sistem barcode berbasis NIK wajib diperluas agar pembelian BBM subsidi tepat sasaran.
3. Sanksi tegas bagi pelanggar
SPBU yang terbukti melayani pelansir nakal harus dikenai sanksi tegas hingga pencabutan izin.
4. Distribusi khusus untuk petani/nelayan
Pemda bersama Pertamina dapat membuka jalur distribusi BBM langsung ke kelompok tani atau nelayan, sehingga tidak bergantung pada pelansir.
5. Pemberdayaan ekonomi alternatif
Pelansir umumnya adalah warga yang mencari penghasilan cepat. Pemda perlu mendorong program padat karya atau usaha mikro agar mereka tidak bergantung pada bisnis ilegal BBM.
( Redaksi )


























Komentar