oleh

Marwah Guru Ditengah Perubahan Globalisasi

 

Oleh:Nelson Sihaloho

*).Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi

Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho08@gmail.com

 

Rasional:

 

Marwah lazim dan sering diartikan sebagai kehormatan diri atau harga diri. Profesi guru memiliki marwah sesuai dengan kode etik guru yakni harus menjaga kehormatannya. Marwah profesi zaman dulu dengan sekarang jauh berbeda bahkan terus mengalami perubahan dan pergeseran. Pergeseran tata nilai,norma, etika  guru akibat tuntutan perubahan global menjadikan profesionalisme guru marwahnya pun semakin tergerus. Tatkala kita melihat fakta-fakta dilapangan terjadi kesenjangan yang lebar antara profesi guru umumnya guru honorer di wilayah terpencil dengan perkotaan. Banyak guru-guru honorer diwilayah pedesaan dan terpencil setia menggeluti profesinya kendati dengan gaji minim. Mereka terus bergelut dengan tuntutan profesionalisme dengan tuntutan ekonomi. Tidak jarang mereka para guru dikawasan pedesaan mengisi waktunya dengan bertani. Waktu begitu berharga dan waktu harus dimanfaatkan menjadi peluang untuk meningkatkan derajat, martabat dan ekonomi agar dapat bertahan hidup ditengah persaingan global. Kondisi demikian berbeda kontras dengan kehidupan guru di kawasan perkotaan yang semuanya serba beli. Pemandangan miris dengan gaji yang minim serta kadangkala gaji tidak memenuhi upah minimum provinsi (UMP) mereka tetap bertahan dengan tugasnya. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk tetap menjaga marwah guru agar tugas profesonalisme mendidik generasi penerus bisa berkesinambungan. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi harus menjadi garda terdepan dalam menjaga marwah guru. Guru sejatinya adalah pendidik professional dan nafas marwah guru contoh maupun suri teladannya ada di “Jantung Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi”. Marwah guru tersebut kendati terjadi perubahan di era global harus tetap konsisten berkelanjutan dilaksanakan hingga ke unit-unit terendah sekalipun.

 

Kata kunci : marwah, guru dan perubahan global

 

Marwah Guru

 

Marwah identik dengan kehormatan dan kehormatan seorang terlihat dari marwahnya. Dalam lingkup pendidikan misalnya untuk mencapai suatu akareditas A benar-benar harus dilakukan dengan bekerja keras. Itulah sebabnya pencapaian akreditasi yang excellent merupakan marwah dan kebanggaan. Marwah sering diartikan sebagai suatu kehormatan diri ataupun harga diri. Dengan begitu, maka marwah profesi guru adalah harga diri dan kehormatan yang dimiliki oleh guru. Untuk mempertahankan marwahnya, guru harus mampu menjawab tantangan dari waktu ke waktu dari masa ke masa termasu dalam menghadapi perubahan global. Menurut Undang-Undang, bahwa guru dan dosen wajib memiliki kualitas akademik, kompetensi , sertifikat pendidikan ,sehat jasmani dan rohani, dan memenuhi kualifikasi lain yang dipersyaratkan satuan pendidikan tinggi tempat bertugas, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Profesi guru merupakan profesi yang menuntut seseorang untuk memiliki dedikasi tinggi dalam pendidikan. Sosok Guru merupakan sumberdaya manusia (SDM)  yang mampu dan berusaha menyongsong masa depan pembangunan bangsa. Guru harus menjadi sosok yang mampu melaksanakan knowledge transfer dan knowledge sharing terhadap peserta didik melalui proses pembelajaran yang dilakukannya. Contoh kejadian beberapa tahun silam misalnya ada kasus persekusi terhadap guru yang dilakukan siswa, termasuk orang tuanya. Kondisi tersebut menunjukkan betapa profesi guru tidak lagi dijunjung tinggi sebagaimana era zaman dulu. Ada orang tua tega mempidanakan guru hanya karena masalah sepele yakni untuk mendisiplinkan siswa. Paling ironis sampai-sampai seorang guru dikeroyok oleh siswanya hanya  karena menegur siswa yang berbuat salah. Aneh bin ajaib kisahnyapun sampai viral di media sosial. Tercemarnya profesi guru akibat perilaku segelintir oknum pada akhirnya melengkapi kompleksitas permasalahan dalam dunia pendidikan. Termasuk dalam administrasi banyak bentuk penyimpangan-penyimpangan yang diduga dilakukan oleh oknum membuat oknum juga bangga atas penyimpangan yang dilakukannya. Karena itu marwah guru harus dikembalikan serta diperkuat implementasinya agar tidak menimbulkan stigma negative di masyarakat. Berbagai stigma negatif yang muncul di masyarakat terhadap guru hendaknya menjadi pertanyaan untuk disikapi dengan lebih bijak dengan marwah guru.

 

Fenomena dan Kesenjangan

 

Fenomena pendidikan kita di era pembelajaran abad-21 saat ini adalah tentang prinsip berkeadilan yang  tidak dapat di rasakan oleh mereka yang berada jauh dikawasan terluar dan kawasan terpencil. Jalan berlumpur dikala hujan dan berdebu dikala kemarau bahkan jaringan listrikpun tidak ada. Wilayah pelosok yang jauh dari kota, pulau ditengah laut, atau desa dibawah kaki gunung yang sulit dijangkau oleh jaringan internet. Banyak sekolah di berbagai pelosok negeri yang masih kekurangan tenaga pendidik bahkan statusnya juga honorer dengan gaji seadanya dan tidak memenuhi standar. Kondisi tersebut nampaknya semakin melengkapi derita fenomena tentang kesenjangan pendidikan di negeri ini. Padahal kata pepatah tetua zaman dulu ingatlah hal mendasar yang paling dibutuhkan manusia adalah “urusan perut sejengkal”. Apabila guru bekerja dengan kondisi gaji minim terutama untuk “urusan perut sejengkal” saja tidak bisa dipenuhi,  kita tidak perlu berharap guru tersebut akan sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas profesionalismenya. Paparan tersebut baru segelintir masalah kesenjangan pendidikan yang terhadi dikawasan pedesaan atau wilayah tertentu apabila dibandingkan dengan kawasan perkotaan. Benang kusut yang terjadi dalam pendidikan kita harus diluruskan kembali marwahnya. Marwah guru adalah marwah keadilan yang senantiasa terpatri dalam sendi-sendi kehidupan profesionalismenya. Dimasa pandemic Covid-19 saat ini fenomena dan kesenjangan pendidikan semakin kentara tatkala kita melihat kondisi riil dilapangan. Belajar dalam jaringan (BDR) atau online menjadi tantangan berat guru dalam mempersiapkan SDM bangsa. Tidak usah heran dalam perubahan global saat ini semakin banyak saja seminar-seminar berbentuk Webinar. Webinar selama 6 jam setara 36 jam entah bagaimana proses perhitungannya jam  kesetaraannya. Era zaman dulu seorang guru berstatus gelar Diploma Tiga (D3) bisa mendapatkan pendidikan kesetaraan Diploma Empat (D4) atau Strata Satu (S1) dengan mengikuti kuliah penyetaraan selama dua tahun.  Imbasnya kini publikasi seminar daring dengan mudah ditemukan di media sosial bahkan dalam brosur dan pamletnya tertera nama-nama nara sumber termasuk moderator.

 

 

Langkah Strategis dan Visioner

 

Mengulas tentang marwah guru tidak bisa dipisahkan dari kompetensi guru. Berdasarkan regulasi guru memiliki pijakan strategis yakni kompetensi pedagogi dan professional. Kompetensi pedagogi berkaitan dengan peran guru dalam melayani peserta didiknya. Hal tersebut terlihat dari kualitas perencanaan, pelaksanaan pembelajaran hingga evaluasi yang dilakukan guru. Adapun kompotensi professional merupakan upaya guru mengembangkan kualitas dirinya melalui berbagai cara yang dapat memperkuat wawasan maupun meningkatkan kualitas profesionalismenya. Terjadinya pembaharuan kurikulum dan tuntutan di masa pandemic Covid-19 guru guru juga dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kondisi yang terjadi.  Kemajuan teknologi informasi misalmya telah pula ikut meningkatkan fleksibelitas dalam memperoleh ilmu pengetahuan termasuk dikalangan guru maupun siswa. Berbagai perubahan maupun krisis terhadap lingkungan ikut mewarnai aspek Pendidikan.  Guru professional abad 21 tidak hanya dituntut mampu mengajar dengan baik namun harus diikuti dengan kemampuannya meningkatkan kemampuan SDM peserta didik.Merujuk pada aspek penting yang sangat mempengaruhi dunia pendidikan saat ini ada 3 hal yang perlu kita perhatikan. Pertama adalah era globalisasi dimana kondisi ini telah banyak merubah wajah pendidikan dalam berbagai aspek. Selanjutnya adalah teknologi dan inovasi, pemanfaatan e-mail, search engine, satelit, phod cast, telepon, dan gadget lainnya menjadi alat yang familiar ada di sekitar pembelajaran yang berlangsung di kelas. Kemudian, bagaimana cara siswa belajar, hal ini memberikan konsekuensi terhadap siswa agar pro aktif mencari informasi sumber belajar. Dunia Pendidikan kita wajib terus menerus mengembangkan diri dengan kreatifitas maupun inovasi tinggi tanpa kehilangan jati dirinya. Revolusi dunia kerja yang menuntut calon tenaga kerja (SDM) kreatif, inovatif, cerdas dalam menyelesaikan masalah sangat dibutuhkan di masa depan. Para guru harus memiliki visi yang visioner dalam mempersiapkan  peserta didiknya untuk bisa meraih peluang di masa depan. SDM yang kompetitif dan unggul akan menjadi modal sangat berharga dalam menghadapi era industry 4.0. Pergeseran nilai-nilai sosial dan mulai lunturnya budaya daerah sendiri akibat masuknya budaya Negara lain, merupakan salah satu implikasi yang ditimbulkan abad 21. Perubahan sosial adalah perubahan dalam struktur sosial dan dalam pola-pola hubungan sosial yang mencakup, sistem status, hubungan dalam keluarga, sistem politik dan kekuatan, serta persebaran penduduk. Agar nilai-nilai sosial dan kebudayaan negara kita tidak hilang perlu dilakukan inovasi pendidikan. Inovasi pendidikan adalah perubahan yang dapat menyelesaikan seluruh permasalahan yang ada pada dunia pendidikan. Inovasi pendidikan sasaran utamanya adalah guru, siswa, kurikulum, fasilitas dan masyarakat. Guru yang visioner adalah guru yang berpandangan modern, kreatif dan mampu mengembangkan diri. Produktif dan mampu bekerjasama, taat beragama serta menjunjung tinggi nilai-nilai moral. Inovatif dan mampu bekerja keras, cerdas dan ikhlas dalam bertindak. Mandiri dan mampu mengendalikan diri, hemat dan bersahaja serta mengabdi dan cinta tanah air.Salah satu yang menjadi tolok ukur bahwa keunggulan suatu bangsa tidak hanya diukur dari melimpahnya sumber daya alam yang dimiliki. Melainkan juga dilihat dari ketersediaan dan keunggulan SDM yang berkualitas, yakni tenaga pendidik yang terdidik serta mampu menghadapi tantangan yang timbul seiring dengan perubahan yang terjadi di segala bidang kehidupan. Sekolah merupakan tumpuan awal terbentuknya SDM yang berkualitas dan diperlukan marwah dan kompetensi seorang guru untuk mewujudkannya. Kompetensi merupakan spesifikasi dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap serta penerapan dari pengetahuan dan keterampilan yang dimilikinya.Mengutip pendapat Piirto, adapun keterampilan abad 21 adalah berpikir kreatif, bekerja kreatif dengan orang lain  serta melaksanakan inovasi. Guru yang professional tidak hanya sebagai sumber belajar (teacher center), tetapi merupakan fasilitator, dinamisator, dan katalisator yang membuat siswanya menjadi lebih kreatif.  Karena itu visi harus dijadikan sebagai kekuatan dalam melaksanakan tugas marwah guru.  Visi sering diartikan sebagai rangsangan maupun dorongan penggerak motivasi hidup manusia. Dengan visi, kita mampu membuka suara hati untuk bisa bangkit dan maju, karena visi atau tujuan menentukan hidup kita berbeda dan menjadi lebih baik.
Visi dikatakan efektif dalam motivasi hidup guru, setidaknya mampu membangkitkan semangat, mempengaruhi efek emosional yang kuat serta menjadikan kendala sebagai chalIenge bukan halangan. Guru visioner adalah guru yang senantiasa berorientasi pada tujuan pendidikan. Guru visioner yaitu guru yang selalu bersandar pada landasan filosofis pendidikan yang tersirat dalam Pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru visioner adalah guru yang senantiasa mengembangkan diri dalam meningkatkan kompetensinya sebagai upaya meningkatkan kinerja guru, kualitas pembelajaran dan hasil belajar peserta didik.

 

Marwah Guru Penggerak?

Program Merdeka Belajar yang diluncurkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) urgensinya memang membutuhkan guru-guru penggerak agar dapat membuat perubahan yang signifkan dalam pendidikan Indonesia sebagai proses pembangunan SDM unggul. Langkah awal yang dilakukan pihak Kementrian Pendidikan adalah mengindentifikasi siapa-siapa saja yang memenuhi kriteria guru-guru penggerak. Banyak kalangan menyatakan bahwa untuk menjadi guru penggerak tidak bisa disiapkan dalam konsep learn, melainkan harus unlearn, baru kemudian relearn. Apabila merujuk pada bentuk lokakarya yang selama ini diberikan oleh Kemdikbud akan diterima dengan konsep learn. Agar berubah menjadi guru penggerak, mereka harus di-unlearn dulu konsep pedagoginya. Analoginya seperti membuang isi di dalam gelas. Proses unlearn ini butuh waktu yang cukup panjang karena mengubah suatu kebiasaan atau habitus. Proses unlearn membutuhkan waktu minimum 6 bulan hingga 12 bulan. Setelah unlearn, proses relearn atau mengisi gelas dengan isi baru akan cepat sekali. Tidak menutup kemungkinan model guru penggerak ini diadopsi dari luar negeri juga sehingga menambah daftar panjang marwah yang harus dimiliki oleh guru.  Di masa pandemic Covid-19 guru sebagai sosok yang paling dihormati di dalam dunia pendidikan menjadi salah satu harapan terbesar untuk memberikan perubahan kemajuan bangsa. Peningkatan kualitas SDM marwah guru harus benar-benar ditunjukkan serta dibuktikan dengan kompetensi profesionalismenya.

Upaya dalam pembentukan SDM unggul melaui proses pendidikan memiliki banyak hambatan. Guru sebagai penggerak Pendidikan dituntut untuk menjadi pemimpin pembelajaran yang berpusat pada siswa. Keberhasilan kebijakan dan program di bidang pendidikan seperti merdeka belajar dan guru penggerak akan mampu meningkatkan mutu pendidikan jika guru bermutu, pembelajaran dan penilaian efektif, bermakna, dan bermanfaat. Karena itu peran guru sangat penting dalam memberikan pendidikan terhadap peserta didik sebagai penerus generasi bangsa.Tugas menjadi guru tidak hanya identik dengan mengajar didalam kelas saja akan tetapi guru juga harus dapat mencontohkan perilakunya yang baik dalam kehidupan sehari–hari dilihat dan diikuti oleh anak didiknya. Perlu diingat bahwa marwah guru tidak mampu bertahan lama dalam hati sanubarinya apabila kurang mendapat penghargaan atas pengabdiannya.  Marwah guru ditengah perubahan global akan tergerus apabila semakin direcoki dengan hal-hal politis.  Membangun marwah guru memang membutuhkan aksi nyata dan benar-benar harus memperhatikan hal-hal manusiawi serta humanis.

Sebagaimana diketahui bahwa sekolah penggerak berfokus pada pengembangan hasil belajar siswa secara holistic.  Dalam pelaksanaan program sekolah penggerak terdapat lima intervensi yang saling keterkaitan. Yakni, pendampingan konsultatif dan asimetris, penguatan SDM sekolah, pembelajaran dengan paradigma baru, perencanaan berbasis data serta digitalisasi. Pendampingan konsultatif dan asimetris adalah program kemitraan yang akan diadakan pendampingan untuk sekolah penggerak. Penguatan SDM adalah penguatan kepala sekolah, pengawas, penilik dan guru melalui program pendampingan intensif. Sedangkan pembelajaran dengan paradigma baru, yaitu pembelajaran holistik dengan enam karakter. Adapun perencanaan berbasis data adalah perencanaan berdasarkan refleksi diri sekolah rapor mutu dan pencapaian Standar Nasional Pendidikan (SNP). Sedangkan, digitalisasi yang berfokus pada penggunaan platform oleh sekolah dari semua sisi.

Semoga saja Program Guru Penggerak semakin memperkuat marwah guru dalam meningkatkan mutu dan kualitas Pendidikan. Termasuk dalam mengembangkan dirinya maupun guru lain dengan refleksi, berbagi dan kolaborasi dengan cara mandiri. Guru Penggerak harus memiliki kematangan moral, emosi dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik. Selain mampu merencanakan, menjalankan, merefleksikan dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada murid dengan melibatkan orang tua. Guru Penggerak harus mampu berkolaborasi dengan orang tua dan komunitas untuk mengembangkan sekolah dan menumbuhkan kepemimpinan peserta didik.  Guru Penggerak diharapkan menjadi katalis perubahan pendidikan di daerahnya. Yaitu dengan cara menggerakkan komunitas belajar untuk rekan guru di sekolah dan di wilayahnya; menjadi pendamping untuk para rekan guru lain terkait pengembangan pembelajaran di sekolah. Mendorong peningkatan kepemimpinan peserta didik di sekolah; membuka ruang diskusi positif dan ruang kolaborasi antar guru dan pemangku kepentingan di dalam dan luar sekolah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, dan; menjadi pemimpin pembelajaran yang mendorong well being ekosistem pendidikan di sekolah. Semoga marwah guru semakin kuat dan kokoh dengan program guru penggerak dan merdeka belajar. Semoga Bermanfaat. (****).

 

Rujukan:

  1. Daryanto, & Syaiful, K. (2017). Pembelajaran Abad 21. Yogyakarta: Gava Media.
  2. E, M., Iskandar, D., & Aryani, W. D. (2017). Revolusi dan Inovasi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  3. Hosnan, M. (2014). Pendekatan Saintifik Dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.
  4. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,2016. Pedoman Pengeloaan Penilaian Kinerja
  5. Piirto, J. (2011). Creativity for 21st Century Skills. A W Rotterdam: Sense Publishers.
  6. Ratumanan, T. G. (2015). Inovasi Pembelajaran Mengembangkan Kompetensi Peserta Didik Secara Optimal. Yogyakarta: Ombak.
  7. Rusdiana, A. (2014). Konsep Inovasi Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia.
  8. Tjeerd Plomp, Nienke Nieveen, Anthony E. Kelly, Brenda Bannan, J. van den A. (2013). Educational Design Research. Netherlands: Enschede.

 

penulis: Guru SMP Negeri 11 Kota Jambi

Email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho08@gmail.com

 

 

Facebook Comments

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed