Distorsi Pendidikan, Merdeka Belajar Solusinya Era Abad-21

118

Oleh: Nelson Sihaloho

*) Guru SMPN 11 Kota Jambi
email:sihaloho11@yahoo.com, nelsonsihaloho06@gmail.com

AbstraK:

Setiap tahun pada tanggal 2 Mei akan diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Sebuah moment yang paling tepat untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi pendidikan kita. Baik yang telah dicapai, belum terealisasi dan seperti apa arah maupun gambaran pendidikan kita serta diharapkan di masa depan. Saat pandemic Covid-19 saat ini semakin banyak saja penyimpangan-penyimpangan yang terjadi termasuk dalam pendidikan. Penyimpangan itu sendiri merupakan suatu proses, cara perbuatan yang menyimpang atau penyimpangan, sikap tindak diluar ukuran (kaidah) yang berlaku. Distorsi diartikan yaitu semua tindakan atau aktifitas yang dilakukan bertentangan dengan nilai-nilai, norma-norma, atau aturan, dan hukum yang berlaku di suatu sistem sosial kemasyarakatan. Distorsi mampu menyebabkan krisis nilai-nilai luhur dari suatu bangsa yaitu distorsi moral. Moral sama dengan etika, yaitu nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Di masa lalu guru mendapat gelar pahlawan tanda jasa, karena perjuangan dan loyalitasnya dalam mendidik siswanya. Kemudian pada tahun 2005, muncul program sertifikasi guru yang digulirkan oleh pemerintah membuat guru di Indonesia berlomba-lomba untuk mendapatkan predikat guru profesional yang notabene berhubungan dengan tunjangan profesi yang menjanjikan dari sisi kesejahteraan guru. Paradigma guru pun berubah.Sejalan dengan perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dan Program Kementrian Pendidikan Riset dan Teknologi saat ini yaitu “Merdeka Belajar” . Banyak kalangan berharap semoga Program Merdeka Belajar bisa meminimalisir Distorsi Pendidikan kita yang saat sedang gencar ingin mensukseska Program Sekolah Penggerak, Guru Penggerak dan Program Penggerak-Penggerak lainnya.
Kata kunci:distorsi pendidikan, merdeka belajar.

Distorsi Pendidikan

Jika merujuk ke belakang, Ki Hajar Dewantara merupakan bapak pendidikan Indonesia. Itulah cikal bakal lahirnya hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei. Setiap tahun rutin dilakukan peringatan dan perayaannya. Untuk tahun ini perayaannya bertepatan dengan bulan Ramadhan mungkin hanya sebatas upacara Zoom Meeting. Kendati kondisinya terbatas karena masih dalam masa Covid-19 harus disyukuri serta kita wajib memaknai kembali makna maupun hakikat pendidikan itu sendiri. Memaknai pendidikan merupakan upaya memajukan budi pekerti, pikiran, jasmani anak didik, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yakni kehidupan anak selaras dengan alam ataupun masyarakatnya. Mengutip Frederick J. Mc Donald salah seorang pakar pendidikan memandang pendidikan sebagai suatu proses atau kegiatan yang diarahkan untuk mengubah tabiat. Makna hampir sama dapat diperoleh dari terminologi Jawa yang menempatkan pendidikan sebagai panggulawenthah (pengolahan), yakni mengolah atau mengubah kejiwaan, mematangkan perasaan, pikiran, kemauan, dan watak, serta mengubah kepribadian sang anak. Distorsi berasal dari Bahasa Inggris yaitu penyimpangan. Istilah distorsi dalam kamus Bahasa Indonesia (KBBI) terdapat satu makna yaitu pemutarbalikan suatu fakta, aturan atau penyimpangan. Penyimpangan itu sendiri yaitu proses, cara perbuatan yang menyimpang atau penyimpangan, sikap tindak diluar ukuran (kaidah) yang berlaku. Distorsi juga diartikan adalah semua tindakan atau aktifitas yang dilakukan bertentangan dengan nilai-nilai, norma-norma, atau aturan, dan hukum yang berlaku di suatu sistem sosial kemasyarakatan. Distorsi yang mampu menyebabkan krisis nilai-nilai luhur dari suatu bangsa yaitu distorsi moral. Moral sama dengan etika, yaitu nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Prilaku penyimpangan merupakan sisi negatif dari bentuk prilaku positif, dalam hal ini merupakan bentuk prilaku yang dilakukan oleh seseorang yang tidak sesuai dengan norma atau nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat. Penyimpangan suatu tindakan yang menyimpang dari norma-norma yang berlaku dalam suatu sistem sosial. Prilaku penyimpangan pada umumnya dikaitkan dengan hal-hal yang negatif, yang tidak baik yang merugikan diri sendiri, dan masyarakat yang ada disekitar individu yang melakukan prilaku penyimpangan tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa di era digital sebagaimana terjadi sekarang ini arus informasi begitu mudah dan cepat kita peroleh, tidak terkecuali juga terhadap anak-anak yang rentan terhadap distorsi informasi. Teknologi masa kini menghadirkan fitur-fitur yang memudahkan penggunanya dalam mengakses beberapa platform yang sudah disediakan. Gadget saat ini sudah menjadi kebutuhan primer untuk masyarakat dewasa ini. Implikasi dari pemakaian gadget yang belum siap dikalangan anak-anak secara psikis merupakan sebuah masalah yang urgent untuk ditangani. Dari beberapa kasus yang muncul terhadap anak-anak yang menggunakan gadget, mayoritas mereka memakai gadget hanya untuk bermain game online maupun game offline. Saban hari kita melihat anak-anak terus bermain game. Akses untuk mendapatkan game online saat ini sangat mudah. Kemajuan teknologi yang begitu pesat memudahkan anak-anak untuk mengakses game yang digemarinya.

Merdeka Belajar dan Perubahan
Pendidikan selalu mengalami perubahan yang sangat fenomenal, mulai dari orientasi, strategi, pendekatan, manajemen pendidikan, Bahkan terus berkembang dinamis seiring waktu dan kemudian praktik pendidikan banyak dikritik oleh para ahli. Salah satunya adalah Paulo Freire (2000), menyatakan kegiatan pendidikan merupakan kegiatan memahami makna atas realitas yang dipelajari. Dengan bantuan pembimbingan dan pendampingan oleh pendidik, peserta didik dituntut secara aktif memahami makna dari realitas dunia untuk perbaikan kehidupannya. Freire,et,al terdapat tiga unsur dasar di dalam proses pendidikan, yaitu pendidik, subyek didik, dan realitas dunia. Pendidik dan peserta didik adalah subyek yang sadar (cognitive), sedangkan realitas dunia adalah obyek yang tersadari atau disadari (cognizable). Maka pendidikan menuntut kesadaran dari peserta didik untuk terlibat dengan penuh dalam memahami realitas dunia, tidak sekadar mengumpulkan pengetahuan dan menghafalkannya, yang diilustrasikan sebagai pembelajaran model bank (banking concept of learning). Untuk menghindari praktik-praktik pendidikan yang tidak diharapkan dan kurang sesuai dari cita-cita masyarakat, maka pendidikan perlu dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah ilmiah pendidikan yang selalu berkembang dan berubah sesuai dengan tuntutan perkembangan. Pendidikan inklusif merupakan perkembangan terkini dari model pendidikan bagi semua anak (education for all). Kondisi masa pandemi Covid-19 yang saat ini masih belaum bisa dipastikan kapan berakhir bisa menimbulkan munculnya distorsi Informasi atas apa yang terjadi dimasyarakat. Banyak informasi yang di terima oleh masyarakat tidak di cek kebenarannya terlebih dahulu, justru disebarkan tanpa sumber yang jelas. Hal ini, dapat memicu penyebaran informasi yang salah (misinformasi) dan/atau penyebaran informasi yang sengaja dibuat salah (disinformasi). Distorsi infomasi ini menyebabkan kegaduhan dimasyarakat bahkan sampai pada hilangnya kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang disampaikan pemerintah dalam upaya melakukan pencegahan Covid-19. Banyak kalangan menyatakan bahwa perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan termasuk dalam merdeka belajar. Pentingnya memiliki SDM unggul merupakan solusi dalam menyelesaikan permasalah bangsa. Program Merdeka Belajar menurut Mendikbud (2020) akan menjadi arah pembelajaran ke depan yang fokus pada meningkatkan kualitas SDM. Merdeka Belajar menjadi salah satu program untuk menciptakan suasana belajar di sekolah yang bahagia suasana yang happy, bahagia untuk peserta didik maupun para guru. Program Merdeka Belajar merupakan bentuk penyesuaian kebijakan untuk mengembalikan esensi dari asesmen yang semakin dilupakan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Merdeka memiliki tiga pengertian: (1) bebas (dari perhambatan, penjajahan dan sebagainya), berdiri sendiri; (2) tidak terkena atau lepas dari tuntutan; (3) tidak terikat, tidak oleh tergantung kepada orang atau pihak tertentu. Perubahan budaya yang terjadi di kalangan masyarakat saat ini dituntut untuk beradaptasi dalam situasi pandemic. Masalah yang terjadi di masyarakat akibat perubahan besar ke arah digital sebagai bentuk adaptasi di masa pandemic. Yakni tertuju pada suatu akar masalah yakni ketidakmampuan masyarakat dalam mencapai perubahan yang serba digital baik di sektor pendidikan,ekonomi,sosial-budaya maupun hal lainnya. Prinsip “Merdeka belajar” diharapkan siswa mampu mencari sumber atau referensi mengenai pelajaran yang sedang dipelajari serta tidak terlalu bergantung pada guru. Peran guru adalah sebagai fasilitator, pengarah dan sebagai orang yang memberi sosialisasi serta pengarahan terhadap siswa. Termasuk memilikin pola pikir kritis agar mereka mampu menyeleksi dan memilah informasi dengan baik. Sebagaimana sekarang ini banyak berkembang informasi-informasi salah satu diataranya adalah Big Data. Para siswa dapat memanfaatkan Big data tersebut dengan baik dan benar untuk meningkatkan mutu serta kualitas SDM nya. Big data, teknologi canggih yang memiliki kapasitas lebih besar dan kumpulan data yang lebih kompleks. Umumnya Big data menyatukan data dari banyak sumber dan aplikasi yang berbeda. Dunia teknologi mengalami perubahan yang sangat pesat dan cepat, dan solusi big data memainkan peran yang besar dalam otomatisasi dan pengembangan teknologi AI (Artificial Intelligence).

Dinamika Pembelajaran

Kebijakan pendidikan saat ini terlihat dari upaya pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikan terutama pada penanaman pendidikan karakter terhadap peserta didik. Kebijakan tersebut kemudian melahirkan adanya revisi dan perubahan pada kurikulum termasuk Merdeka Belajar. Ciri abad 21 menurut Kemendikbud (2018) adalah tersedianya informasi di mana saja  dan kapan saja (informasi), adanya implementasi penggunaan mesin (komputasi}, mampu menjangkau segala pekerjaan rutin (otomatisasi) dan bisa dilakukan dari mana  saja  dan kemana saja (komunikasi). Soderstrom, From, Lovqvist, & Tornquist, (2011) menyatakan ditemukan bahwa dalam kurun waktu 20  tahun  terakhir  telah terjadi pergeseran pembangunan pendidikan ke arah ICT sebagai salah satu strategi manajemen pendidikan abad 21 yang didalamnya meliputi  tata  kelola  kelembagaan  dan sumber daya manusia. Abad ini memerlukan transformasi pendidikan dengan cara menyeluruh sehingga terbangun kualitas guru yang mampu memajukan pengetahuan, pelatihan, ekuitas siswa dan prestasi siswa  (Darling-Hammond, 2006; Azam&Kingdon,2014). Kebutuhan pendidikan abad 21 menurut Patrick Sletterydalam bukunya yang berjudul “Curiculum Development  In The  Postmodern” yakni, pertama, Pendidikan harus diarahkan pada perubahan sosial, pemberdayaan kom, Kedua, unitas, pembebasan pikiran, tubuh dan spirit (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Dorothy}. Ketiga, Pendidikan harus berlandaskan pada 7 hal utama (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Thich Nhat Hanh), yaitu tidak terikat pada teori, ideology, dan agama; jangan berpikir sempit bahwa pengetahuan yang dimiliki adalah yang paling benar; tidak memaksakan kehendak pada orang lain baik dengan kekuasaan, ancaman, Keempat. propaganda maupun pendidik an; peduli terhadap sesame; jangan memelihara kebencian dan amarah; jangan kehilangan jatidiri; jangan bekerja di tempat yang menghancurkan manusia dan alam. Kelima, Konteks pembelajaran, pengembangan kurikulum dan penelitian diterapkan sebagai kesempatan untuk menghubungkan siswa dengan alam semesta (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh David Ort) Keenam, Membuat guru merasa sejahtera dalam kegiatan pembelajaran (mengacu pada konsep yang dikembangkan oleh Dietrich Bonhoeffer) hal ini senada dengan falsafah Jawa bahwa jer basuki mowo beo yaitu semakin besar kegiatan yang direncanakan maka semakin besar pula biaya yang diperlukan. Konsekuensinya di Abad-21 ditantang untuk mampu menciptakan pendidikan yang dapat ikut menghasilkan sumber daya pemikir yang mampu ikut membangun tatanan sosial dan ekonomi sadar pengetahuan sebagaimana layaknya warga dunia di Abad-21. Guru di abad 21 dituntut untuk terus bisa beradaptasi terhadap tuntutan perkembangan kurikulum. Sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan, guru tentu telah mendapat perlakuan berupa beasiswa biaya pendidikan S2 hingga S3, pelatihan dari berbagai pihak baik pemerintah ataupun lembaga swasta (dalam ataupun luar negeri) yang peduli terhadap dunia pendidikan untuk peningkatan kompetensi dan kualitas guru. Buku bisa digantikan dengan tekhnologi, tetapi peran guru tidak bisa digantikan, bahkan harus diperkuat, guru harus bisa memanfaatkan tekhnologi digital untuk mendesain pembelajaran yang kreatif. Siswa wajib mendapatkan kemerdekaan belajar dan guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Guru abad 21 adalah guru yang mampu menciptakan hubungan erat dengan siswanya, harus menempatkan dirinya sebagai mitra dalam belajar. Kemajuan teknologi komunikasi abad ini telah memungkinkan berita dan cerita segera menyebar ke seluruh pelosok, menyapa siapa saja, tak peduli penerima pesannya siap atau tidak. Masalah pendidikan anak yang mewarnai abad 21 perlu disikapi sungguh-sungguh sejak sekarang. Kemampuan mengantisipasi masa depan dengan berbagai alternatif untuk mengatasi permasalahannya menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam proses pendidikan anak. Perlu diskikapi bahwa Kecenderungan mengikuti gaya hidup yang baru, yang “trendy” dan menempatkan nilai-nilai baru dalam ukuran keberhasilan telah merusak dan menghancurkan nilai-nilai tradisional yang sebelumnya dipegang teguh dan diyakini sebagai kebenaran. Nilai yang mementingkan kebersamaan dan menumbuhkan sikap gotong royong tergerus oleh nilai individualistis. Nilai yang meletakkan unsur spiritual berganti dengan unsur materi. Sikap yang mementingkan keselarasan dalam kehidupan bersama, sebagaimana yang telah mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, diubah menjadi sikap yang selalu mau bersaing dan memenangkan persaingan, tak peduli apapun caranya dan siapapun yang dihadapi. Tindakan yang lebih suka memilih jalan pintas untuk mencapai tujuan, tidak tepat waktu, unjuk kerja seadanya, lebih menuntut fasilitas daripada tanggung jawab adalah melunturnya etos kerja yang diamati anak didik dengan leluasa, di dalam maupun di luar rumah. Era globalisasi yang menandai abad 21 seyogianya tidak hanya dilihat sebagai hal yang mengancam. Era globalisasi justru bisa dimanfaatkan untuk membangun sosok-sosok pribadi yang tangguh dan mandiri, antara lain karena terbiasa menghadapi persaingan yang ketat dan mampu memanfaatkan fasilitas dan peluang yang disebut pintu globalisasi. Era abad 21 memerlukan manusia yang tangguh, harus menampilkan tingkah laku yang diwarnai dengan etos kerja, prestatif, religius, sensitive terhadap lingkungan, inovatif dan mandiri. Pemahaman yang luas terhadap kehidupan bersama akan menjadi dasar yang kuat dalam upaya membantu manusia memasuki abad 21 dengan sikap optimis. Dengan demikian distorsi pendidikan dengan program merdeka belajar menjadi salah satu solusi dalam menghadapi era Abad 21. Penguatan pendidikan karakter harus lebih diperkuat dengan melakukan terobosan baru dengan mengembangkan nilai-nilai luhur bangsa. Sistem pembelajaran yang berfokus pada kebutuhan siswa hendaknya lebih diutamakan agar mereka mampu menghadapi masa depan dengan kesiapan mental yang tangguh. Meski Masa Pandemic Covid-19 Semangat untuk lebih maju dan optimis untuk meraih masa depan yang lebih baik harus ditanamkan pada peserta didik. Selamat Hari Penddikan Nasional Tahun 2021, (****)

Rujukan:
FOPI (1998): Kerangka Acuan “Curah Pikir” Manusia Indonesia Abad 21 Yang Berkualitas Tinggi. FOPI. Jakarta, Agustus 1998
Freire, P. 1984. Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan. Jakarta: Gramedia.
Setiawan, D., J. Sitorus. 2017. Urgensi Tuntutan Profesionalisme dan Harapan Menjadi Guru Berkarakter (Studi Kasus: Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama di Kabupaten Batubara). Cakrawala Pendidikan. Vol 1, No. 1. 122-129.
Uno, H.B. 2009. Profesi Kependidikan: Problema, Solusi, dan Reformasi Pendidikan di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Facebook Comments