Ibu ini Nyaris Jadi Korban Penipuan dan prilaku Nakal Oknum Perbankan

336

Bungonews.net – BUNGO- “NH ” ibu rumah tangga yang bertempat tinggal di komplek perumahan BTN Lintas Asri kelurahan Sungai Kerjan kecamatan Bungo Dani Kabupaten Bungo –Jambi nyaris jadi korban prilaku nakal salah satu perbankan di kawasan kota Bungo .

Selain rumah yang terancam di sita tanpa prosedural korban juga diduga dikelabui dengan modus pengalihan pinjaman dari produk kompensioanal keproduk kredit lunak ( KUR ), menariknya pengalihan pinjaman justeru tidak meringankan bahkan sisa pinjaman pun diduga di embat oleh oknum dengan modus untuk menutupi biaya administrasi , biaya notaris dan biaya fee /jasa kepada nasabah lain dengan alasan kredit pinjaman nasabah tersebut digunakan untuk menutup pinjaman korban sebelumnya , sedangkan nasabah /debitur yang di masud tidak pernah di pertemukan dengan korban .

Berikut ini sekilas kronologisnya pada tahun 2015 yang lalu korban mendapat persetujuan kredit sebesar Rp. 100 juta dengan kontrak kredit selama 48 bulan dengan angsuran sebesar Rp. 3.333.333,-setiap bulan nya

Pada angsuran ke 21 NH ( korban ) pokok utang nya sebesar Rp.68.082.498.- dinilai oleh pihak bank tidak mampu membayar angsuran di sarankan agar mengalih pinjaman ( produk ) tepat nya pada tanggal 02 Maret 2017 korban di panggil untuk menanda tangani kontrak kredit sebesar Rp. 80.000.000,-(Delapan puluh juta rupiah ) dengan masa angsuran selama 60 bulan ( 5 tahun ) dengan besar angsuran setiap bulannya Rp. 1.660.668,-

Menurut pengakuan korban dan suaminya Abdul Rahman bahwa pinjaman produk KUR sebesar Rp.80.000.000,- tidak pernah di terima oleh Debitur dengan alasan untuk menutup pokok utang pada pinjaman pertama padahal pokok utang yang di maksud hanya Rp.68.082.498 ,-sehingga terdapat selisih sebesar maka terdapat selisih Rp. 11.917.502,- yang semestiya menjadi hak dari NH

” Selisih uang tersebut petugas bank mengaku untuk biaya administrasi , niotaris dan fee atau jasa debitur yang pinjaman kredit nya untuk menutup utang kami sebelumnya ,sementara kami tidak pernah di pertremukan ” Tutur korban yang dibenarkan oleh suami nya sembari mengatakan ada kejanggalan yang di lakukan oleh petugas bank yang dimaksud nya .

Seiring berjalan nya waktu pinjaman kredit sebesar Rp. 80 juta di bayar oleh NH dengan cara mencicil setiap bulanya namun pada angsuran ke 22 bulan ( 02 Januari 2019 ) pokok utang nya sebesar Rp. 54.732.472 disuruh di lunasi oleh petugas bank padahal kontrak akan berkahir pada tahun 2022 jika tidak aset rumah milik nya akan disita oleh bank dan akan di lelang

Beberapa bulan kemudian petugas bank kembali mendatangi saudari NH dan memberitahukan bahwa asset rumahnya sudah di lelang tahap pertama di kantor pelayanan kekayaan Negara dan dan lelang Jambi ( KPKNL ) dan akan di lakukan lelang kedua ,jika tidak mau rumah nya di eksekusi oleh bank saudari Nurhuda harus membayar Rp. 60.000.000,-( enam puluh juta rupiah )dan harus di bayar pada tanggal 26 Pebruari 2021

Menariknya sebelum nya saudari NH didatangi oleh petugas bank bahwa sisa utang sebesar Rp. 54.732.476 ,- dan di bayar oleh asuransi sebesar Rp.38.313.723,- sehingga sisa hutang /out standing sebesar Rp. 16.419.744,- aneh nya disuruh bayar Rp. 60 jutaan

Setelah memberikan kuasa kepada Bungo news konfirmasi disampaikan kepada Bank yang dimaksud sayang nya tidak ada jawaban .menurut penuturan Rahman Suami korban bahwa pihaknya didatangi oleh petugas Bank menyampaikan bahwa selisih pinjaman sebesar Rp.80 juta ke sisa utang sebesar Rp. 68 jutaan selain digunakan untuk biaya adminitrasi,notaris dan fee nasabah yang uang nya di pakai utuk menutup utang korban ,uang tersebut juga di sudah diambil oleh isterinya ” Isteri saya sedang kerja di luar daerah , ada petugas bank datang kerumah menjelaskan bahwa selisih jumlah pinjaman dengan pokok utang tersebut katanya juga sudah di serahkan kepada isteri saya ” Tutur Rahman

Dikedaman nya NH didampingi suaminya mengatakan kepada Bungo news , ” Satu rupiah pun saya tidak pernah menerima uang selisih antara pokok utang dengan jumlah pinjaman yang kedua ,disaat itu katanya uang tersebut sudah habis untuk biaya adminitrsi ,notaris dan fee kepada nasbah yang uang nya untuk menutup pokok utang saya ” Tutur korban minta kepada pihak bank untuk meluruskan jika tidak akan dilaporkan nya kepada pihak yang berwajib karena merasa ditipu

Selanjutnya pihak Bank pun kembali mendatangi korban agar menanda tangani surat pernyataan yang isi nya persetujuan lelang aset ” Kami tidak mau menanda tangani nya karena kami sudah menyerahkan kuasa kepada pihak lain untuk pengurusan nya, dalam surat pernyataan tersebut di bunyikan bahwa saya mensetujui bahwa aset rumah kami disita dan di lelang ,padahal sebelumnya di akui sudah di lelang dan bahkan sudah dipasang spanduk dan kami di paksa harus meelunasi nya sebesar Rp.60 juta pada akhir bulan pebruari 2021 yang lalu , ketika saya bilang urusan nya adalah kepada yang menerima kuasa saja ,oknum petugas bank tidak resfon dan memilih pergi begitu saja ” Tutur Rahman kepada Bungo news ( 13/03)

Kuat dugaan telah terjadi pelanggaran Peraturan jasa otoritas keuangan ( POJK ) nomor 42 tahun 2007 tentang penyusunan dalam pelaksanaan kebijakan perkreditan pembiayaan bank
Pojk nomor 01 tahun 2013 tentang perlindungan konsumen pada sektor keuangan ,Pasal 46,47.A pasal 48 ayat (1)pasal 49 dan pasal 50.A UU RI nomor 10 tahun 1998, Pasal 6 dan pasal 20 UU RI No 4 tahun 1996 tentang hak tanggungan akan melakukan lelang jaminan debitur

Tunggu khabar selanjutnya di Edisi berikut nya (BN.R.001)

Facebook Comments