GURU PENGGERAK DAN PARADIGMA PERKEMBANGAN IPTEK

115

Oleh: Nelson Sihaloho

Abstrak:

Masih segar diigatan kita Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim menggaungkan Guru Penggerak. Salah satu esensi dari pidatonya pada peringatan Hari Guru Nasional 2019 di halaman Gedung Kemdikbud, Senin 25 November 2019.  Nadiem, et.al, dalam pembelajaran yang merdeka, guru disamping berperan sebagai salah satu sumber belajar, juga berperan sebagai fasilitator pembelajaran. Guru harus memacu dirinya mengikuti perkembangan zaman, membimbing peserta didik agar menggunakan smartphone secara bijak. Selanjutnya bagaimana konsep guru penggerak dan merdeka belajar termasuk mengubah paradigma pembelajarannya dalam menghadapi era globalisasi?

Nadeim,et.al, guru penggerak pada era Revolusi Industri 4.0 menjadi kebutuhan mendasar bagi sekolah untuk terus menumbuhkembangkan inovasi dan kreatifitas. Selanjutnya diyakini bisa mendorong cepatnya reformasi pendidikan, menjadi inspirasi bagi guru-guru yang lainnya. Bagaimanakah strategi yang diimplementasikan agar guru dan  kepala sekolah mampu membuat lembaga pendidikan melesat dan menjadi pembeda terhadap sekolah lainnya.

Kata kunci: guru, penggerak, paradigma dan pembelajaran
Tugas Berat
Napas sang guru penggerak adalah mencipta perubahan, perubahan kecil dari ruang-ruang kelas dengan mengajar mendidik. Menghantar peserta didiknya agar mampu mengimbangi tuntutan perkembangan zaman yang semakin kompleks serta kompetitf. Nadiem,et al, setidaknya ada lima perubahan kecil yang bisa dilakukan oleh guru dari dalam kelas. Yakni mengajak lebih sering siswa berdiskusi, memberi ruang lebih luas ke siswa berperan menjadi guru.

Mencetuskan proyek bakti sosial melibatkan semua kelas, menemukan bakat pada murid kurang percaya diri. Menawarkan kepada guru lain pada saat mengalami kesulitan untuk melakukan apa pun (kolaboratif). Ke lima contoh perubahan bisa dilakukan melalui gebrakan dan membutuhkan proses panjang untuk menjadi kebiasaan produktif.

Perubahan paradigma dalam pembelajaran sesungguhnya menjadi faktor kunci dalam meningkatkan mutu pendidikan ke arah lebih baik. Kepala Sekolah sebelumnya memposisikan diri sebagai atasan harus berubah menjadi seorang leader, lebih banyak mendengar. Yakni mendengar apa yang diharapkan masyarakatnya di sekolah dan guru menjadi teman diskusi yang menginspirasi peserta didik.Kita perlu menyadari bahwa Guru Penggerak bukan hanya soal tugas dan peran Guru termasuk keterlibatan stakeholder.

Mengembangkan proses pembelajaran menyenangkan akan mendorong siswa memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan mampu berkolaborasi. Tugas berat guru mengemban visi, misi Pendidikan jauh ke depan adalah meningkatkan mutu dan kualitas Pendidikan. Begitu strategisnya peran guru dalam mempersiapkan SDM Indonesia maka pemerintah mengapresiasi jasa guru.

Berbagai terobosan kebijakan dalam bentuk penghargaan, kesejahteraan, dan perlindungan hukum untuk peningkatan marwah guru terus digulirkan.
Upaya membentuk SDM unggul merupakan tugas berat para pendidik di negeri ini dan harus segudang tantangan yang terus menghadangnya. Tantangan revolusi industri 4.0. ditandai hadirnya empat hal, yaitu komputer super, kecerdasan buatan (artificial intelligency), sistem siber (cyber system), dan kolaborasi manufaktur.

Tentu kesemuanya itu harus juga diimbangi dengan kemampuan sumberdaya manusia (SDM) yang handal dan mumpuni. Memasuki era kemajuan teknologi digital dalam masyarakat informasi, telah memberikan tantangan tersendiri terhadap eksistensi guru.
Paradigma baru
Dalam paradigma baru pendidikan, tujuan pembelajaran bukan hanya untuk merubah perilaku siswa, tetapi membentuk karakter. Sikap mental profesional berorientasi pada global mindset dengan fokus ‘mempelajari cara belajar’ (learning how to learn).
Pendidikan merupakan hal yang amat penting untuk membentuk kepribadian, tidak selalu berasal dari pendidikan formal.

Pendidikan informal dan non formal memiliki peran yang sama dalam membentuk kepribadian peserta didik. Kenyataan, setiap lembaga pendidikan berjalan sendiri-sendiri akibatnya pembentukan pribadi peserta didik menjadi parsial. Ada kecenderungan anak bersikap baik di rumah, ketika ke luar rumah, berada di sekolah melakukan perkelahian antarpelajar. Memiliki “ketertarikan” bergaul dengan lingkungannya atau melakukan perampokan, sikap demikian merupakan bagian dari penyimpangan moralitas, prilaku sosial pelajar (Suyanto, 2012).

Mengutip Sairin, (2014) pembentukan karakter SDM menjadi vital untuk mewujudkan Indonesia baru mampu menghadapi tantangan regional dan global.  Lickona (2012), pendidikan karakter adalah upaya terencana membantu orang untuk memahami, peduli, dan bertindak atas nilai-nilai etika/moral. Upaya mengimplementasikan pendidikan karakter adalah melalui pendekatan holistic dengan mengintegrasikan perkembangan karakter ke dalam setiap aspek kehidupan sekolah.

Pendekatan holistic adalah segala sesuatu di sekolah diatur berdasarkan perkembangan hubungan antara siswa, guru, dan masyarakat.( Elkind dan Sweet, 2014). Sekolah merupakan masyarakat peserta didik yang peduli di mana ada ikatan jelas yang menghubungkan siswa, guru, dan sekolah. Pembelajaran emosional dan sosial setara dengan pembelajaran akademik,  kerjasama dan kolaborasi diantara siswa menjadi hal yang lebih utama dibandingkan persaingan

Nilai-nilai seperti keadilan, rasa hormat, kejujuran menjadi bagian pembelajaran sehari-hari baik di dalam maupun di luar kelas. Siswa-siswa diberikan banyak kesempatan untuk mempraktekkan prilaku moralnya melalui kegiatan pembelajaran memberikan pelayanan. Disiplin maupun pengelolaan kelas hendaknya menjadi fokus dalam memecahkan masalah dibandingkan hadiah dan hukuman. Pembelajaran berpusat pada guru harus ditinggalkan, beralih ke kelas demokrasi guru siswa berkumpul membangun kesatuan, norma dan memecahkan masalah.

Dipahami dengan benar
Banyak orang-orang sering mengumandangkan tentang pendidikan karakter bahkan seringkali lupa hakikat karakter.  Lickona, et.al, karakte rmulia (good character) meliputi pengetahuan tentang kebaikan, lalu menimbulkan komitmen (niat) terhadap kebaikan, dan akhirnya benar-benar melakukan kebaikan.

Dengan kata lain, karakter mengacu kepada serangkaian pengetahuan (cognitives), sikap (attitides), dan motivasi (motivations), serta perilaku (behaviors) dan keterampilan (skills). Bahwa karakter identik dengan akhlak, sehingga karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang universal.
Lickona, et,al. Pendidikan karakter  mengandung tiga unsur pokok, yaitu mengetahui kebaikan (knowing the good), mencintai kebaikan (desiring the good), dan melakukan kebaikan (doing the good). Pendidikan karakter bukan hanya sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak. Namun lebih dari itu pendidikan karakte rmenanamkan kebiasaan (habituation) tentang yang baik sehingga peserta didik paham, mampu merasakan, dan mau melakukan yang baik.

Di lingkungan pendidikan kita sering mendengar tentang pendidikan karakter namun kenyataan dilapangan sering bertolak belakang pelaksanaannya. Apabila hal ini terus dibiarkan berlarut-larut akan menjadi preseden buruk terhadap dunia Pendidikan. Jika ingin pelaksanaan penanaman Pendidikan karakter berjalan dengan baik harus diiringi dengan contoh dan teladan. Terutama dari pembuat kebijakan, pimpinan serta lingkungan kerja harus benar-benar diterapkan dengan baik. Pendidikan karakter merupakan bagian pengejewantahan hakiki hidup manusia dan bagian yang integral dalam pengembangan SDM.

Indonesia juga dikenal dengan kemajemukan budayanya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Bhineka Tunggal Ika. Kita harus menyadari bahwa  kemajemukan budaya ditentukan oleh indicator-indikator genetik-sosial (ras, etnis, suku). Kemudian dari sisi indicator budaya (kultur, nilai, kebiasaan), termasuk bahasa, agama, kasta, ataupun factor wilayah. Kemajemukan sosial ditentukan indikator-indikator seperti kelas, status, lembaga, ataupun power, harus dirawat sebaik-baiknya. Menurut UNESCO, 2009, penggalian kearifan lokal sebagai dasar pendidikan karakter akan mendorong timbulnya sikap saling menghormati antaretnis, suku, bangsa dan agama, sehingga keberagaman terjaga dengan baik

Mengutip Paulo Freire (1970), pendidikan berbasis kearifan lokal adalah pendidikan yang mengajarkan peserta didik untuk selalu konkret dengan apa yang mereka hadapi. Paulo Freire,et.al, dalam bukunya Cultural Action for Freedom (1970), menyebutkan dengan dihadapkannya pada problem dan situasi konkret yang dihadapi, peserta didik akan semakin tertantang untuk menanggapinya secara kritis.

Bergerak Maju
Pada era globalisasi saat ini dapat dilihat semakin terbuka dan cepatnya akses informasi dan komunikasi serta berbagai kemudahan fasilitas manusia sebagai hasil dari kemajuan sains dan teknologi (Blondel, 1998: 13).  Era informasi ini terjadi pada seluruh dunia, ketika umat manusia melakukan komunikasi global dengan perangkat teknologi komunikasi dan informasi.

Kondisi ini disebutnya sebagai kondisi menuju zaman “budaya tunggal” (mono culture) sejagad (2009: 159). Era informasi ini menjadi faktor utama pemicu perkembangan cepat peradaban modern (Karim, 1992: 101). Dalam konteks sekarang, karena desakan modernisme dan globalisasi kearifan lokal berorientasi pada  keseimbangan dan harmoni manusia, alam dan budaya. Kelestarian keragaman alam dan kultur, konservasi sumber daya alam dan warisan budaya, penghematan sumber daya yang bernilai ekonomi dan moralitas dan spiritualitas.

John Naisbit (2002: 25) era global menyebutnya sebagai era high tech high touch yang menjadikan berbagai alat high-technology menjadi bagian penting dalam kehidupannya. Arus besar kemajuan era informasi telah membawa pengaruh terjadinya pergeseran nilai hidup yang dianut oleh umat manusia. Nilai-nilai unik dan khas pada setiap capaian budaya manusia semakin tergerus oleh nilai-nilai baru yang datang dari luar dengan nuansa keseragaman.  Era globalisasi ditandai dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah membawa pengaruh dan perubahan besar pada kehidupan umat manusia.

Fenomena lain terjadi saat ini dalam masyarakat millenial muncul kesadaran tinggi akan pentingnya pendidikan berorientasikan pada penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Penguasaan terhadap hal tersebut dipandang sebagai prasyarat agar mampu bersaing di tengah era globalisasi. Selain itu muncul sikap hidup materialis, pragmatis, hedonis, dan kapitalis pada kehidupan global. Hilangnya nilai-nilai kamanusiaan (dehumanisasi) sebagai akibat dari begitu dominannya teknologi dalam mengatur manusia, ter-alienasi-nya manusia dari kehidupannya akibat dari hilangnya hubungan diantara manusia, terjadinya kehampaan batin atau spiritual (Nesbit, 2002: 25) sebagai akibat kehidupan dikendalikan oleh teknologi.
Fenomena krisis sebagaimana di atas, oleh Fritjof Capra (2000: 3) dikatakan bahwa saat ini tengah terjadi krisis global, suatu krisis kompleks dan multidimensional yang menyentuh setiap aspek kehidupan manusia.

Cara pandang masyarakat juga cenderung memandang institusi tempat bekerja hanya dipandang sebagai tempat mencari uang (earning organization). Secara umum masyarakat diduga masih cenderung memandang keunggulan sebagai kehebatan sesaat-setempat. Keunggulan yang dibangun bernilai jangka pendek, padahal idealnya keunggulan sebagai kehebatan yang terus tumbuh secara konsisten. Tidak pernah berakhir, dan berumur melampaui umur penemu ataupun pelakunya. Sering ditemukan pemimpin yang cenderung menghebatkan dirinya sendiri bukan lembaga dan orang-orang yang dipimpinnya.

Dalam menghadapi berbagai perubahan yang cepat dan seringkali tidak menentu (unpredicable) menuntut tumbuhnya budaya cepat, tepat, dan seringkali tidak harus prosedural-formal dalam menyelesaikan masalah. Guru dalam menghadapi situasi perubahan global tersebut dituntut untuk selalu mengikuti perkembangan Iptek.

Mengutip Marquardt (1996) memasuki abad ke-21 ada empat kecenderungan perubahan yang akan mempengaruhi pola-pola kehidupan. Yakni, perubahan lingkungan ekonomi, social, pengetahuan dan teknologi, perubahan dalam lingkungan, ekonomi, social dan budaya. Perubahan dan harapan pelanggan dan  perubahan para pekerja. Robert B. Tucker (2001) menyatakan ada  sepuluh tantangan di abad 21 yaitu kecepatan (speed), kenyamanan (convinience), gelombang generasi (age wave). Kemudian pilihan (choice), ragam gaya hidup (life style), kompetisi harga (discounting), pertambahan nilai (value added).

Selanjutnya pelayanan pelanggan (customer service), teknologi sebagai andalan (techno age), serta jaminan mutu (quality control/quality insurance). Perubahan-perubahan dalam teknologi, gaya hidup, geoekonomi, geo sosial dan geo politik pada abad  21 akan merubah paradigma baru dalam kehidupan. Mengutip Philip S. Jarvis (2002), ada delapan perubahan paradigma ini yang harus kita hadapi sebagai berikut. Bahwa pekerjaan didefenisikan berdasarkan skill dan value yang dimiliki, bukan berdasarkan pada kedudukan, jabatan atau kategori. Tempat kerja orang tidak membutuhkan “kantor secara  fisik” untuk menjalankan pekerjaan/profesinya atau virtual space akan menjadi trend  orang melakukan pekerjaan atau bisnis. Tolak ukur kesuksesan karir. adalah kenaikan skill atau value yang dimiliki,  sementara ini, tolak ukur yang kerap dipakai adalah kenaikan jabatan.

Kontrak dan  fee, ke depan, adalah system emploimen yang didasarkan pada kontrak, kesepakatan dan pembayaran fee, bukan semata-mata harus ada gaji bulanan, bonus bulanan, atau menjadi karyawan tetap dengan jam masuk keluar yang tetap. Orientasi kerja yang muncul adalah personal freedom and control (career security), yang berubah kebergantungan yang terlalu besar pada pekerjaan dan perusahaan.
Loyalitas yang muncul adalah loyalitas pada profesi atau pekerjaan, yang berubah dari loyalitas pada perusahaan, kantor dan organisasi.

Identitas seseorang itu akan terkait dengan kontribusi yang sanggup diberikan pada pekerjaan/profesi, keluarga, masyarakat klien atau pelanggan, berubah dari indentitas itu terkait dengan kontribusi seseorang pada, posisi, okupasi, atasan atau bos. Hubungan kerja hubungan kerja itu bisa berbentuk tim, mitra usaha atau vendor. Sementara ini, yang berubah dari  hubungan dalam bentuk atasan atau bawahan atau pimpinan-karyawan.
Mengutip Brian Tracy (2007) mengemukakan 7 langkah strategis dan orientasi berpikir menuju performance yang tinggi untuk memiliki daya saing yang tinggi .

Pertama, berpikir tentang masa depan, berpikir tentang sasaran anda, berpikir tentang kesempurnaan dan berpikir tentang solusi. Selanjutnya adalah berpikir tentang hasil, berpikir tentang pertumbuhan dan berpikir untuk bertindak.

Beberapa poin akibat positif yang ditimbulkan dari adanya globalisasi dalam dunia Pendidikan adalah sistem belajar mengajar tidak selalu tatap muka. Mudahnya mengakses informasi pendidikan, meningkatnya kualitas pendidik, meningkatnya kualitas Pendidikan, mendorong siswa menciptakan karya inovatif.
Dengan demikain guru penggerak dalam era globalisasi sekarang ini harus mengoptimalkan kemampuannya dalam membimbing siswa. Paradigma perkembangan  ilmu pengetahuan  dan teknologi (IPTEK) yang tersu berkembang dan dinamis menuntut guru untuk selaluadaptif terhadap perubahan yang terjadi. Guru harus mampu menjadi motor penggerak perubahan terhadap kemajuan peserta didik.

Pola-pola dan model system pembelajaran yang lama sudah saatnya harus ditinggalkan secara bertahan dan wajib di up to date. Perlu disadari bahwa masa depan penuh dengan suatu ketidakpastian, yang pasti adalah zaman dan IPTEK akan terus berubah seiring dengan perkembangan dunia. Semoga.

( dihimpun dari berbagai sumber: penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi).

Facebook Comments