oleh

COVID -19 ,TEORI SIKLUS CLEMENT JUGLAR DAN KRISIS GANDA

Oleh: Nelson Sihaloho

Abstrak:
Wabah penyakit Virus Corona (Covid-19) saat ini  menjadi sesuatu ancaman  yang sangat luar biasa. Hal itu tidak terlepas dari peran teknologi komunikasi dengan cepat mengakses informasi dan perubahan penyebarannya.  Informasi yang demikian cepat menimbulkan kepanikan dahsyat di kalangan masyarakat serta membuat perilaku masyarakatpun berubah.

Kepanikan itu juga mengakibatkan ketimpangan terhadap keseimbangan permintaan dan penawaran barang, jasa terutama kebutuhan pokok.
Pertumbuhan ekonomi global mengalami penurunan beberapa bulan terakhir, dituntut bekerja sigap  menangani pandemi Covid -19. Indonesia menyadari wabah Covid-19 tidak hanya sekadar penyakit yang mempengaruhi kesehatan juga berdampak terhadap ekonomi. Secara riil, semakin banyak pekerja terinfeksi, semakin besar biaya perawatan yang dikeluarkan untuk tertanggung.

Kata kunci: Covid-19, krisis ekonomi, global
Belajar dari Konjungtur
Pertumbuhan ekonomi adalah proses kenaikan output  per kapita dalam jangka panjang, memperhatikan output total (Gross National Product) maupun jumlah penduduk. Upaya memaksimalkan pertumbuhan ekonomi bahwa perekonomian tidak selalu berkembang secara teratur serta mengalami naik dan turun.). Konjungtur adalah kenyataan yang berlaku dalam perekonomian dan menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi tidak berkembang secara teratur.  Bahkan mengalami kenaikan maupun kemunduran yang selalu berubah-ubah dari suatu waktu ke waktu lainnya. Gambaran mengenai konjungtur yaitu suatu grafik yang menunjukkan perubahan pendapatan nasional, kegiatan ekonomi dari satu waktu ke waktu lain.

Siklus eknomi dapat digambarkan sebagai gelombang naik-turun aktivitas ekonomi, terdiri atas empat elemen. Pertama, gerakan menaik (upturn atau expansion), pemulihan ekonomi (recovery) ditandai gerakan perekonomian yang menaik

Ke dua adalah titik puncak atau kulminasi (peak)  yaitu ekspansi ekonomi tidak akan terjadi selamanya. Suatu ketika gerakan menaik ini mencapai titik tertinggi dan disebut titik puncak atau kulminasi (peak).  Ke tiga, gerakan menurun (downturn atau recession) menurunnya output yang dilihat dari menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi. Ke empat, titik terendah (trough)  gerakan menurun akan berlanjut hingga mencapai titik paling rendah atau titik nadir (trough). Pada umumnya setelah mencapai titik terendah, perekonomian akan pulih kembali dilihat dari adanya gerakan menaik.
Banyak ahli ekonomi yang menyatakan teori dan penyebab maupun factor megakibatkan terjadinya gelombang konjungtur. Jevons dan Moore (1923) menyatakan fluktuasi kegiatan ekonomi terjadi karena adanya perubahan alam. Pigou (1927), fluktuasi kegiatan ekonomi terjadi karena adanya faktor psikologis para pelaku bisnis (harapan pesimistis atau optimistis). Malthus (1936), penyebab munculnya krisis ekonomi karena adanya kekurangan konsumsi (under consumption). Alasan: sektor industri manufaktur makin berkembang dan masyarakat lebih banyak melakukan kegiatan ekonomi pada sektor tersebut. Mitchell (1951), bahwa fluktuasi kegiatan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalis-liberalis.

Hawtrey (1928) dan Friedman (1957) bahwa fluktuasi ekonomi disebabkan oleh system moneter dan sistem kredit. Shcumpeter (1934) menyebut penyebab utama tidak stabilnya inovasi teknologi. Lucas dan Barro (1976), Fisher (1979), dan Phelps (1997), ekspektasi masyarakat yang rasional sebagai penyebab fluktuasi ekonomi. Mengutip pendapat Keynes menyatakan sistem moneter dan kredit bukan penyebab, tetapi merupakan akibat. Penyebab utama adalah tidak stabilnya investasi. Siklus konjungtur sebagai kegiatan ekonomi menurut Ellis (1991) berbeda-beda. Kondratif adalah setiap 50 tahun sekali. Sedangkan  Juglar lamanya 11 tahun sekali , Kitchin dengan lama 4 tahun sekali,   Batra (1990) dengan lama 60 tahun sekali . Adapun Mubyarto dengan 7 tahun sekali untuk perekonomian Indonesia (jawa: pitu-lungan). Usaha pemerintah Indonesia untuk menanggulangi akibat adanya konjungtur adalah melalui beberapa kebijaksanaan fiskal dan moneter seperti deregulasi, diberlakukannya undang-undang perpajakan yang baru, dan menjaga kestabilan nilai rupiah terhadap mata uang asing. Realita yang terjadi selama 20 tahun belakangan ini menunjukkan ada tren periodik setiap 5 tahunan terjadi wabah penyakit. SARS pada tahun 2000-an, flu burung pada 2004-2005, flu babi pada 2009-2010. Kemudian ebola pada 2014-2015, dan saat ini yaitu Corona Virus Disease tahun 2019-2020 (Covid-19).

Wabah penyakit Covid-19 ini menjadi sesuatu yang luar biasa,  tidak terlepas dari peran teknologi komunikasi. Tingkat persebaran informasi demikian cepat menimbulkan kepanikan dahsyat di masyarakat, mengakibatkan ketimpangan keseimbangan permintaan maupun penawaran. Internasional Monetary Fund (IMF) menyatakan saat ini ekonomi global mengalami krisis akibat pandemi virus corona. Indeks bursa saham di sejumlah negara pun ikut rontok bahkan rupiah terperosok terhadap dolar  AS menembus angka 15.000. Diprediksi perekonomian Indonesia turun signifikan hingga semester pertama dan akan mengalami pertumbuhan yang signifikan pada awal semester ke dua  2020.

Covid-19 dan Teori Clement Juglar
Wabah Covid-19 tidak lagi sekadar wabah jenis penyakit, namun juga menjadi masalah kemanusiaan. Social distancing mempunyai akibat tidak sekadar menjauhkan hubungan fisik manusia juga mengganggu perilaku ekonomi masyarakat. Pilihan social distancing dinilai lebih baik daripada keputusan untuk lockdown dan kebijakan herd immunity.  Dampak wabah virus corona (Covid-19) terhadap perekonomian Indonesia dan global diprediksi akan bisa diatasi dengan bekerja ekstra keras.  Wabah Covid-19 telah memukul pasar keuangan, harga minyak, sektor manufaktur dan investor melarikan investasi mereka.

Perekonomian suatu negara akan semakin suram, melemahnya mata uang negara apabila tidak ditangani dengan baik. Wabah Covid-19, mengakibatkan negara harus membayar lebih mahal untuk mengimpor bahan kebutuhan dasar dan perlatanan medis. Gelombang baru krisis ekonomi bisa mengakibatkan ekonomi semakin terpuruk, terlilit hutang, daya beli menurun. Akibat lainnya adalah terjadi perlambatan ekonomi di berbagai negara yaitu perlambatan terhadap ekonomi global.Clement Juglar ilmuwan Perancis membeberkan secara empiris sistematis sifat, corak krisis komersial berulang secara periodik. Juglar merupakan orang dan pengarang pertama kali menunjukkan panjang-pendeknya gelombang suatu siklus kegiatan ekonomi.

Dari titik terendah sampai titik terendah menggunakan siklus (cycle), kegiatan ekonomi di antara peristiwa dua krisis. Clement Juglar, juga dianggap pakar perintis yang meletakkan dasar pengembangan teori siklus ekonomi selanjutnya. Sebagaimana kita ketahui siklus jangka menengah, meliputi masa waktu 7-11 tahun (rata-rata berkisar 9 tahun), disebut Siklus Juglar. Bila merujuk pada kegiatan ekonomi masyarakat senantiasa bergerak menurut pola yang secara periodik menunjukkan pentahapan gelombang menaik dan menurun. Fenomena pasang-surut dalam gerak gelombang kegiatan ekonomi itu dalam dunia ilmu ekonomi di Eropa barat lazim disebut konjungtur ekonomi. Wesley C. Mitchell dan Arthur F. Burns dalam Ricardo (2007) disebut sebagai definisi business cycle atau trade cycle (siklus perekonomian atau siklus perdagangan. “Business cycles area type of fluctuation found in the aggregate economic activity of nations that organize their work mainly in business enterprise ; a cycle consists of expansion occuring at about the same time in many economic activities, followed by similarly general recessions, contractions, and revival which merge into the expansion phaze of the nextcycle ; this sequence of changes is recurrent but not periodic ; in duration business cycle vary from more than one year to ten or twelve years ; they are not divisible into shorter cycles of similar character with amplitudes approximating their own”. Salah satu peran utama pemerintah adalah unuk mengatasi business cycle dan mengurangi fluktuasi yang terjadi (Ricardo, 2007).

Beban Ekonomi
Menkeu Sri Mulyani dilansir dari laman Setkab, Jumat (27/3/2020) menyatakan Covid-19 menjadi beban bagi ekonomi Indonesia. Sri Mulyani, et.el, banyak negara emerging dan low income country akan dihadapkan pada likuiditas foreign exchange. Solusinya, meningkatkan kemampuan mendukung direct swap line dari IMF kepada semua negara yang mengalami capital flight. Seluruh negara G-20 mencari cara agar pandemik corona tidak menimbulkan dampak lebih dalam pada perekonomian. Dampaknya, sudah terasa terhadap perekonomian dalam negeri, terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap USD. Bahkan IMF memprediksi jika ekonomi global tumbuh negatif 2020, jauh di bawah angka proyeksi sebelumnya.

Untuk meminimalkan risiko perlambatan ekonomi langkah responsive telah dilakukan Presiden RI. Joko Widodo dengan mengalikasikan anggaran 410,5 T. Langkah tersebut patut diapresiasi untuk menekan laju transmisi virus dan angka kematian akibat wabah. Instruksi Presiden H. Joko Widodo diharapkan mampu memberikan langkah antisipatif untuk menekan Covid-19 dan stimulus ekonomi tetap stabil. Kita harus berkeyakinan bahwa stimulus yang sudah dipersiapkan pemerintah efektif untuk meminimalisir wabah corona. Ditengah ketidakpastian kondisi ekonomi dan di masa depan bangsa ini harus bersatu padu untuk melawan Covid-19. Pemerintah perlu menyiapkan strategi terbaik melakukan karantina pasien di wilayah yang sedang dilanda wabah. Melarang aktivitas di luar rumah terhadap seluruh warga kecualiunyuk keperluan yang sangat sangat penting dilakukan. Menjaga ketersediaan kebutuhan pokok, menyiapkan strategi penditribusian bahan kebutuhan pokok termasuk anggaran untuk jaring pengaman social. Masyarakat dan pelaku usaha bisa kehilangan pendapatan seperti pegawai harian lepas yang diberhentikan, pedagang kecil yang kehilangan penghasilan.

Termasuk perlindungan untuk tenaga medis yang berhadapan langsung menangani pasien Covid-19 juga perlu dipikirkan akibatnya. Selain itu dibutuhkan lebih banyak stimulus untuk memperkuat pemulihan pada tahun 2021 mendatang. Kombinasi dari krisis kesehatan mengakibatkan banyaknya aliran modal asing keluar dan beban utang semakin tinggi.
Butuh Komitmen Kuat
Komitmen adalah gambaran atau wujud dari komitmen sering diidentikan dengan ikrar atau ikatan atas suatu tindakan yang tertentu (Long; 2000:219).

Hal ini sesuai hasil penelitian terhadap  perilaku konsumen yang dilakukannya dalam berbagai industri di Amerika pada tahun 2000. Mengutip Schuster (1998) dalam Suliman (2000:72) menyatakan, bahwa dalam era globalisasi organisasi dituntut untuk mampu melakukan berbagai perubahan dengan cepat. Maka pegawai yang memiliki komitmen tinggi pada organisasi menjadi sumber daya bagi organisasi yang tidak ternilai harganya. Sebagai fasilitator dalam melakukan adaptasi secara cepat atas perubahan kondisi yang terjadi saat ini dampak ganda dari Covid-19. Dessler (1999:65) bahwa komitmen yang tinggi hanya dapat dicapai melalui suatu pendekatan yang komprehensif. Melibatkan berbagai pendekatan dan sistem manajemen “multifaceted” yang terintegrasi serta didukung kebijakan serta program aksi yang kongkrit. Steers (1985:145) bahwa komitmen membantu memberikan sekurangnya empat hasil yang berpautan dengan efektifitas penanganan Covid-19. Pertama, para pekerja yang benar-benar menunjukkan komitmen tinggi terhadap organisasi mempunyai kemungkinan yang jauh lebih besar untuk menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dalam organisasi, … Kedua, memiliki keinginan yang lebih kuat untuk tetap bekerja pada organisasi yang sekarang dan dapat terus memberikan sumbangan bagi pencapaian tujuan, … Ketiga, sepenuhnya melibatkan diri pada pekerjaan mereka, karena pekerjaan tersebut adalah mekanisme kunci dan saluran individu untuk memberikan sumbangannya bagi pencapaian tujuan organisasi. Mengutip Subanegara (2005) bahwa  komitmen terdiri dari tiga dimensi yakni  komitmen afektif (Affective Commitment), komitmen kontinuans (Continuance Commitment) dan komitmen normatif (Normative Commitment).

Komitmen afektif adalah melibatkan rasa memiliki dan terlibat didalam organisasi. Seseorang yang telah berada lama dalam organisasi seharusnya memiliki komitmen yang tinggi, jika diberikan penghargaan oleh organisasinya. Komitmen kontinuans  adalah dimensi komitmen atas dasar besar kecilnya pembiayaan yang akan ditanggung oleh karyawan jika meninggalkan organisasi. Komitmen Normatif adalah komitmen yang lebih menekankan kepada keterlibatan perasaan dan menggambarkan dedikasi seseorang untuk tetap tinggal dan bekerja pada organisasinya. Dalam menangani Covid-19 dengan dampak ganda yang ditimbulkannya diperlukan komitmen yang kuat agar berhasil dengan efektif. Bangsa ini harus bersatu padu serta memiliki keinginan yang kuat untuk tampil sebagai pemenang dalam melawan Covid-19.

Perilaku-perilaku yang menyimpang dan berpotensi besar terkena akibat wabah Covid-19 harus disingkirkan. Bangsa ini harus yakin dengan nilai-nilai kejuangan yang melekat pada hati nurani bangsa. Siklus ekonomi (konjungtur)  baik jangka pendek, menengah dan jangka panjang harus di pedomani dengan baik. Mungkin siklus jangka menengah, meliputi masa waktu 7-11 tahun (rata-rata berkisar 9 tahun), disebut Siklus Juglar, cocok dipedomani untuk saat ini.  Semoga.

(dihimpun dari berbagai sumber: penulis adalah guru SMPN 11 Kota Jambi).

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed