MEMOTIVASI SISWA BELAJAR DARING DENGAN METODE KOMUNIKASI “SMCR”

319

Oleh: Nelson Sihaloho

Abstrak:
Saat ini kondisi yang kurang kondusif terhadap kegiatan pembelajaran akibat Virus Corna (Covid-19) melanda dunia khususnya pendidikan. Kalangan orangtua termasuk para stake holders yang terkait ikut merasakan pengaruh dan imbas besar lainnya yang sangat besar itu.

Model pembelajaran yang dilakukan biasanya jam tatap muka duganti dengan model online (daring) untuk menghambat laju Covid-19 itu. Jauh-jauh sebelumnya model-model teknik komunikasi dalam pembelajaran telah banyak digunakan. Salah satu diantaranya adalah model “SMCR” Berlo  singkatan dari Source (S) Message (M), Channel (C) dan Rece-icer (R). Model SMCR ini jika disesuaikan dalam proses pembelajaran, maka Source-nya adalah guru yang akan menyampaikan materi pembelajaran. Message adalah bagaimana guru menyampaikan atau mengkomunikasikan materi pelajaran pada saat berlangsungnya proses pem-belajaran di kelas.

Channel adalah media yang digunakan dalam proses pembelajaran, sedang-kan Receiver adalah siswa sebagai sasaran didik. Salah satu alternatif pemecahan masalah belajar adalah dengan penerapan teknologi komunikasi dalam pembelajaran. Mengutip Anglin, (1995) “teknologi pembelajaran adalah kombinasi dari pembelajaran, belajar, pengembangan, pengelolaan, dan teknologi lain yang diterapkan untuk memecahkan masalah pendidikan .
Kata kunci: motivasi, belajar dan model “SMCR”

Tinjauan Empirik
Teknologi informasi kominikasi (TIK) kini telah menjadi fasilitas utama terhadap kegiatan berbagai sektor kehidupan. TIK memberikan andil besar dan perubahan pada struktur operasi, manajemen organisasi, pendidikan, trasportasi, kesehatan dan penelitian. Peningkatan kemampuan sumberdaya manusia (SDM) TIK mutlak dilakukan untuk mengantisipasi dampak krisis sebagaimana yang terjadi saat ini. Penyebaran Covid-19 yang melanda dunia strategi pembelajaran yang efektif dan efesien mutlak diterapkan.

Mengutip Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran. Yakni dari pelatihan ke penampilan, dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, dari kertas ke “on line” atau saluran. Dati fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja dan dari waktu siklus ke waktu nyata.

Saat ini komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan menggunakan media- komunikasi handphone, komputer, internet, e-mail, dan sebagainya. Interaksi guru dan siswa dilakukan melalui hubungan dengan menggunakan media tersebut.

Teknologi telah berkembang dimana proses, sumber,  sistem belajar pada manusia baik perseorangan, kelompok  dapat dikembangkan. Hakikat teknologi pembelajaran adalah suatu disiplin pemecahan masalah belajar dengan serangkaian prinsip dan menggunakan TIK.

Menguitip Rogers (Mulyana, 2007: 69), komunikasi adalah proses dimana sumber menyampaikan suatu ide kepada penerima baik seseorang atau sekelompok orang, dengan perubahan tingkahlaku yang menjadi  tujuannya. Model komunikasi David K, Berlo dikenal dengan model SMCR yaitu source (sumber), message (pesan), channel (saluran), dan receiver (penerima).

Sumber adalah individu atau sekelompok orang yang menciptakan pesan. Dimana pesan tersebut merupakan gagasan yang diterjemahkan kedalam suatu bahasa atau isyarat. Medium yang membawa pesan disebut saluran dan orang menjadi sasaran komunikasi disebut penerima. Pesan merupakan perluasan yang berdasarkan elemen, struktur, isi, pemeliharaan, kode dan saluran adalah panca indera manusia

Model SMCR
Menurut Mulyana (2003) model SMCR dapat ditelaah lebih lanjut dengan mengurai satu persatu komponen ataupun elemen ke empat  huruf tersebut. Source/ sumber yaitu seorang baik sebagai sumber maupun penerima harus memperhatikan hal-hal berikut dalam berkomunikasi. Pertama, ketrampilan berkomunikasi (communication skills) yang terdiri atas kemampuan sumber dalam menyusun tujuan komunikasi.

Kemudian sumber dalam menterjemahkan pesan ke dalam bentuk signal atau ekspresi tertentu. Ke dua, sikap, terdiri atas sikap terhadap diri sendiri dan sikap terhadap pesan itu sendiri. Selanjutnya adalah sikap terhadap penerima pesan (receiver) maupun sikap sebaliknya, receiver terhadap sumber.Ke tiga pengetahuan, adalah pengetahuan sumber receiver, media komunikasi yang sesuai, metode pendekatan, serta pengetahuan tentang pesan. Kenudian adalah pengetahuan receiver tentang sumber, media, maupun pesan. Ke empat, sistem sosial budaya, baik sumber maupun penerima memperhatikan sistem sosial budaya yang berlaku.Yakni norma yang dianut, sistem pengambilan keputusan serta budaya yang berkembang dan dianut. Mengutip Larson (1986), salah satu model komunikasi digunakan untuk menjelaskan proses komunikasi persuasif adalah model komunikasi Berlo. Model komunikasi Berlo dikenal dengan SMCR terdiri dari empat unsur komunikasi yaitu sumber, pesan, saluran komunikasi, dan penerima pesan. Ke empat unsur tersebut merupakan bagian dari proses persuasi. Merujuk model komunikasi Berlo, kita harus waspada terhadap motivasi sumber, memperhatikan pesan, media, efek yang terjadi. Arnold Johnson & Martin Peterson (The Liang Gie: 1996) bahwa teknologi adalah penerapan dari ilmu dan hasil-hasil penelitian ilmiah untuk pemecahan masalah praktis.
Komunikasi dan Pembelajaran
Hardjana (Endang Lestari G : 2003) secara etimologis komunikasi berasal dari bahasa latin yaitu cum, sebuah kata depan yang artinya dengan. Atau bersama dengan, dan kata umus, sebuah kata bilangan yang berarti satu.

Dua kata tersebut membentuk kata benda communio, yang dalam bahasa Inggris disebut communion.  Yang mempunyai makna kebersamaan, persatuan, persekutuan, gabungan, pergaulan, atau hubungan. Karena untuk ber-communio diperlukan adanya usaha dan kerja, maka kata communion dibuat kata kerja communicare. Yang berarti membagi sesuatu dengan seseorang, tukar menukar, membicarakan sesuatu dengan orang, memberitahukan sesuatu kepada seseorang.

Atau bercakap-cakap, bertukar pikiran, berhubungan, atau berteman. Dengan demikian, komunikasi mempunyai makna pemberitahuan, pembicaraan, percakapan, pertukaran pikiran atau hubungan.

Pembelajaran merupakan proses yang berfungsi membimbing para peserta didik di dalam kehidupannya. Yakni membimbing mengembangkan diri sesuai dengan tugas perkembangan yang harus dijalani. Proses edukatif memiliki ciri-ciri yaitu ada tujuan yang ingin dicapai, ada pesan yang akan ditransfer. Ada pelajar, ada guru, ada metode  dan ada situasi ada penilaian. AECT (1977), menegaskan bahwa pembelajaran (instructional) merupakan bagian dari pendidikan dimana saat ini system pembelajaran daring dilakukan. Pembelajaran merupakan suatu sistem yang di dalamnya terdiri dari komponen-komponen sistem instruksional. Komponen tersebut yakni komponen pesan, orang, bahan, peralatan, teknik, dan latar atau lingkungan.

PBM hakikatnya adalah proses komunikasi, dimana guru berperan sebagai pengantar pesan  dan siswa sebagai penerima pesan . Pesan yang dikirimkan oleh guru berisi materi pelajaran yang dituangkan  ke dalam simbol-simbol komunikasi. Simbol komunikasi baik verbal (kata-kata dan tulisan) maupun nonverbal (gerak tubuh dan isyarat).

Dalam setiap kegiatan komunikasi terdapat dua macam kegiatan yaitu “encoding” dan “decoding”. Encoding adalah kegiatan berkaitan dengan pemilihan lambang-lambang yang akan digunakan dalam kegiatan komunikasi oleh guru. Terdapat dua persyaratan yang harus diperhatikan untuk melakukan kegiatan “encoding”. Pertama, dapat mengungkapkan pesan yang akan disampaikan. Ke dua sesuai dengan medan pengalaman audience atau penerima, sehingga memudahkan penerima didalam menerima isi pesan yang disampaikan.
Salah satu kemampuan profesional seorang guru adalah kemampuan melakukan kegiatan “encoding” dengan tepat. Dengan demikian siswa memperoleh kemudahan dalam menerima bahan pelajaran sebagai pesan pembelajaran yang disampaikannya pada siswa.  “Decoding” adalah kegiatan dalam komunikasi yang dilaksanakan oleh penerima (audience, siswa).

Dimana penerima berusaha menangkap makna pesan yang disampaikan melalui lambang-lambang oleh sumber melalui kegiatan encoding. Kegiatan “decoding” ini sangat ditentukan oleh keadaan medan pengalaman penerima sendiri. Keberhasilan penerima dalam proses “decoding” sangat ditentukan oleh kepiawaian sumber dalam proses “encoding” yang dilakukan. Diantaranya memahami latar belakang pengalaman, kemampuan, kecerdasan, minat dan lain-lain dari penerima pesan. Kita keliru apabila di dalam proses komunikasi sumber melakukan proses “encoding” berdasarkan pada kemauan dan pertimbangan pribadi. Artinya tanpa memperhatikan hal-hal yang terdapat pada diri penerima sebagaimana disebutkan di atas, terutama adalah medan pengalaman mereka.
Adapun faktor pendukung dalam komunikasi yaitu media, Faktor pendukung efisiensi dan keefektifannya adalah penguasaan bahasa, sarana komunikasi, kemampuan berpikir, lingkungan yang baik. Sedangkan hambatan komunikasi antara lain hambatan fisik, hambatan psikologis, hambatan kultural serta hambatan lingkungan.

Memotivasi Siswa
Komunikasi merupakan proses penyampaian informasi dari pendidik kepada siswa melalui media untuk mencapai tujuan tertentu. Karakteristik komunikasi yang efektif adalah memberikan informasi yang praktis,informasi yang disampaikan jelas dan padat. Dapat menyakinkan pihak lain serta memberikan fakta bukan sekadar pesan. Komunikasi dikatakan efektif apabila komunikasi menimbulkan arus informasi dua arah dengan munculnya feedback dari pihak penerima pesan. Begitu juga dengan kualitas pembelajaran dipengaruhi oleh efektif tidaknya komunikasi yang terjadi di dalamnya.
Komunikasi efektif dalam pembelajaran merupakan proses transformasi pesan berupa Iptek dari pendidik kepada peserta didik. Peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan. Sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik. Pengajar adalah pihak yang paling bertanggungjawab terhadap berlangsungnya komunikasi yang efektif dalam pembelajaran.

Setidaknya terdapat lima aspek yang perlu dipahami dalam membangun komunikasi yang efektif. Ke lima aspek itu adalah kejelasan, ketepatan, konteks, alur dan budaya, Agar komunikasi dapat berjalan secara efektif, harus dipenuhi beberapa syarat. Diantaranya menciptakan suasana komunikasi yang menguntungkan, menggunakan bahasa yang mudah ditangkap dan dimengerti. Pesan yang disampaikan dapat menggugah perhatian atau minat bagi pihak komunikan. Pesan dapat menggugah kepentingan komunikan yang dapat menguntungkan. Pesan dapat menumbuhkan suatu penghargaan bagi pihak komunikan.
Komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan yang harmonis antara pengajar dengan peserta didik. Motivasi merupakan keberhasilan pengajar mengemban tanggung jawab sebagai pemberi tugas dengan system daring/internet. Pembelajaran e-learning hendaknya mampu menumbuhkan harapan untuk para siswa, menciptkan suasana yang kondusif bagi mereka.
Mampu menumbuhkan rasa kebersamaan antara pengajar dan siswa untuk saling berbagi informasi dan bertukar pikiran. Memungkinkan para siswa untuk bereksperimen, menguji pengetahuan mereka, menyelesaikan tugas yang diberikan. Mampu menerapkan teori yang telah mereka pelajari atau mereka baca, mengembangkan mekanisme mengevaluasi kemampuan siswa.  Menyediakan tempat yang aman dan nyaman dalam proses pembelajaran sesuai dengan kondisi rumah siswa.

Memotivasi siswa belajar sangat penting dalam situasi Covid-19, sehingga tugas perkembangan dapat dilakukan dengan baik. Khusus kela IX yang kini menghadapi masa transisi ke SMA/K di dorong untuk selalu belajar dengan system daring. Ha ini perlu dilakukan agar mereka siap menghadapi sistem yang diberlakukan di masa depan. Arah Pendidikan yang penuh dengan kompetisi berbasis Iptek merupakan komitmen dunia pemdidikan menghadapi era globalisasi.

Globalisasi kemampuan SDM ditentukan oleh kemampuan para guru untuk memberikan ilmu pengetahuan terhadap siswa tentang masa depan. Mengutip Resnick (2002) ada tiga hal penting yang harus dipikirkan ulang terkait dengan modernisasi Pendidikan, pertama, bagaimana kita belajar (how people learn); ke dua, apa yang kita pelajari (what people learn). Ke tiga, kapan dan dimana kita belajar (where and when people learn).

Cara berinteraksi antara guru dengan siswa sangat menentukan model pembelajaran. Pannen (2005), menyatakan saat ini terjadi perubahan paradigma pembelajaran terkait dengan ketergantungan terhadap guru dan peran guru dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran seharusnya tidak 100% bergantung kepada guru lagi (instructor dependent) dan lebih banyak terpusat pada siswa (student-centered learning atau instructor independent). Mengutip Kirkpatrick (2001), e-learning telah mendorong demokratisasi pengajaran dan proses pembelajaran dengan memberikan kendali yang lebih besar dalam pembelajaran kepada siswa.  Teknik pengajaran baru akan bersifat dua arah, kolaboratif, dan inter-disipliner.  Romiszowski & Mason (1996)  menyatakannya dengan istilah “jarak sudah mati” atau “distance is dead.Studi tentang tujuan pemanfaatan TI di dunia pendidikan terkemuka di Amerika, oleh Alavi dan Gallupe (2003) menemukan beberapa tujuan pemanfaatan TI.

Diantaranya  memperbaiki competitive positioning, meningkatkan brand image, meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran. Meningkatkan kepuasan siswa, meningkatkan pendapatan, memperluas basis siswa dan meningkatkan kualitas pelayanan. Mengurangi biaya operasi dan mengembangkan produk dan layanan baru. Dengan demikian e-learning merupakan salah satu produk teknologi informasi pendukung terciptanya pendidikan bermutu.

(Dihimpun dari berbagai sumber: penulis adalah guru SMP Negeri 11 Kota Jambi).

Facebook Comments