Rutin Menabung Puluhan Tahun, Petani Sayur di Empelu Naik Haji

BUDAYA, BUNGO4 Dilihat

Bungo, Pasangan suami istri (pasutri) di Kabupaten Bungo, Jambi, Masri Yahya (70) dan Nafsiah (65), akhirnya bisa naik haji pada tahun ini setelah bertahun-tahun menabung dengan menyisihkan uang hasil kerja keras mereka.

Masri Yahya bekerja sebagai petani sayur dan istrinya, Nafsiah, merupakan ibu rumah tangga, terkadang ikut membantu suaminya. Pasangan dengan tiga anak ini tinggal di pinggir sungai Batang Tebo, tepatnya di Dusun Empelu, Kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo.

Menurut pengakuan Yahya, dirinya sudah menyisihkan sebagian kecil keuntungan dagangannya untuk berangkat haji selama kurang lebih 20 tahun, hingga bisa daftar tahun 2012. Selanjutnya, setelah mendapatkan kursi, is dan istri lanjut menabung untuk biaya pelunasan.

“Ini hasil menabung puluhan tahun kami bekerja di pertanian sayuran. Hasilnya tidak menentu, nyicil dikit demi sedikit lalu bisa untuk pesan nomor porsi haji. Biaya pelunas juga lewat tani,” kata Yahya, Selasa (28/04/2026).

Yahya menceritakan, sebagai Muslim Melayu, ia memiliki cita-cita besar menyempurnakan rukun Islam dengan berhaji sejak lama. Niat tersebut ia tanam dalam pikiran dan hatinya. Setiap bekerja di kebun sayur, ia menjadikan niat berhaji sebagai motivasi.

“Namanya tani, kadang hasil naik dan turun. Bahkan pernah terkena banjir. Sehingga berbagai jenis sayur seperti kangkung, bayam, singing, tomat, terong, cabai gagal panen. Kadang nanam jagung. Niat haji membuat tetap semangat, mulai lagi dari awal,” jelasnya.

Tekat kuatnya untuk berhaji, membuat Yahya dan istri selalu menyisihkan hasil penjualan sayur untuk berangkat haji. Dari hasil yang terkadang tidak terlalu besar, tapi selalu ada uang khusus untuk tabungan haji. Meskipun bahagia, Yahya tampak terharu bisa berangkat haji tahun 2026 bersama istri.

Dengan mata berkaca-kaca, Yahya mengungkapkan jika ia dipilih Allah untuk berhaji dengan fisik yang masih sehat fisik dan kuat berjalan dengan normal. Semua persiapan seperti manasik ia lakukan dengan lancar.

“Bahagia sekali dipilih tahun ini. Fisik masih kuat. Karena kita petani, jadi terbiasa berkeringat dan bekerja keras,”ujarnya.

Yahya mengungkapkan, dalam proses menabung untuk haji, ia juga mendapatkan kemudahan dari Allah. Ia percaya, karena niat baik untuk haji dan menjaga kepercayaan pelanggan membuat bisnis sayur terus berjalan puluhan tahun.

“Model pemasaran sayur, ada pedagang beli ke kebun lalu dijual ke pasar di Bungo. Kadang kita yang ke pasar jualnya. Bersyukur beras dan sayur tidak beli karena menanam sendiri, jadi hasil tani bisa digunakan untuk haji,” kata Yahya.

Hal yang sama juga dialami pasutri Mardiamis (54) dan Herawati, mereka berdua mendaftar haji bersama Yahya. Pekerjaannya pun sama, yaitu petani sayur di Dusun Empelu. Mardiamis dan Yahya sering saling menguatkan ketika ada masalah. Saling support dalam hal tenaga dan pikiran.

“Kita masih saudara, pekerjaannya pun sama. Daftar haji bareng dan berangkat pun bersama. Jadi saling mendukung, dapat nikmat yang luar biasa. Dimudahkan dalam hal baik,” tandasnya. Syarif Abdurrahman

Komentar