Ketika Malam Menyisakan Lelah, Bupati Dedy Putra Memilih Duduk Bersama Warga: “Saya Ingin Bungo Maju, Tapi Maju Bersama-sama”

BUNGO238 Dilihat

Bungonews.net, Bungo-Minggu malam di Muara Bungo selalu memiliki suasana berbeda. Lampu-lampu jalanan menyala lembut, suara kendaraan mulai menurun, dan warung-warung sederhana menjadi tempat paling hidup untuk melepas penat. Di salah satu sudut kota, Warung Teragak Salero justru tampak lebih ramai dari biasanya. Bukan karena menu spesial, tetapi karena ada sosok yang datang tanpa pengawalan berlebihan Bupati Bungo, H. Dedy Putra, SH., M.Kn.

Beberapa jam sebelumnya, ia baru saja menyelesaikan rangkaian pertemuan penting di pusat dan Provinsi Jambi, lobi anggaran yang melelahkan dan menuntut strategi. Namun, alih-alih langsung kembali ke rumah dinas untuk beristirahat, ia memilih sesuatu yang berbeda: duduk di warung rakyat, menyapa warga, dan bercerita secara terbuka.

“Di tempat seperti inilah saya merasa paling dekat dengan masyarakat,” ucapnya sambil tersenyum, sebelum menyentuh cangkir teh yang masih mengepulkan uap.

Malam itu, suasana akrab terasa seperti pertemuan sahabat yang lama tak jumpa, padahal yang dibicarakan adalah hal-hal besar tentang masa depan daerah. Dedy bercerita tanpa menahan detail, seolah ingin memastikan masyarakat memahami apa saja yang sedang diperjuangkannya.

Puluhan  Miliar yang Berhasil Dibawa Pulang

Enam bulan bukanlah waktu panjang untuk mengukur kinerja kepala daerah. Namun, dengan mata yang menyiratkan kelelahan sekaligus kebanggaan, Dedy memaparkan kabar baik yang berhasil ia raih.

“Tahun ini, belasan miliar dana pusat sudah berhasil kita dorong ke Bungo,” ujarnya. Anggaran itu bukan angka di atas kertas, melainkan harapan yang berubah menjadi kerja nyata: rehabilitasi Dam Batang Uleh, Dam Sungai Arang, peningkatan irigasi desa, serta penguatan infrastruktur vital lainnya.

Ia menceritakan bagaimana prosesnya tidak mudah. Menghadap kementerian, membawa data, menjelaskan urgensi, dan meyakinkan bahwa Bungo benar-benar membutuhkan dukungan pusat. Semuanya dilakukan dalam jadwal padat yang tidak jarang berlangsung hingga larut malam.

Perubahan yang Mulai Terlihat: Kota, Sekolah, dan Listrik

Muara Bungo kini mulai berbenah. Jalan-jalan dalam kota yang dulunya sempit dan rusak, mulai diperlebar dan diperbaiki. Taman-taman yang selama bertahun-tahun tidak tersentuh kini mulai disiapkan untuk dihidupkan kembali sebagai ruang publik.

Dedy tampak antusias ketika menjelaskan soal taman kota.
“Taman Semagor itu nanti bukan lagi sekadar tempat lewat. Kita jadikan ruang keluarga, pusat aktivitas, dan kebanggaan kota,” katanya. Anggaran sekitar Rp 24 miliar sudah disiapkan, dengan target rampung pada 2026.

Di sisi lain, masalah listrik PLN di wilayah Jujuhan dan Bathin III Ulu yang bertahun-tahun menghantui warga akhirnya menemukan titik terang. Di wajah Dedy terlihat kelegaan ketika menceritakan progres tersebut. “Saya tahu betapa pentingnya listrik bagi kehidupan masyarakat. Makanya itu menjadi salah satu prioritas begitu saya dilantik.”

Bandara dan Mimpi Besar Bungo

Percakapan mencapai titik paling hangat ketika topik beralih ke Bandara Muara Bungo. Selama ini, bandara hanya bisa didarati pesawat kecil, sehingga akses udara masih terasa terbatas. Namun Dedy punya mimpi besar.

“Insya Allah tahun 2026, Bandara Muara Bungo akan bisa didarati pesawat berbadan besar seperti Batik Air. Kita sedang bangun penambahan runway,” ujarnya, kali ini dengan nada lebih mantap.

Rencana itu bukan sekadar ambisi, tetapi strategi besar untuk membuka pintu ekonomi: arus barang lebih cepat, industri bisa masuk, wisata bergerak, dan mobilitas warga semakin mudah.

Sekolah dan Anak-Anak Negeri

Di antara pembangunan fisik yang megah, ada satu hal yang Dedy anggap paling mendasar: pendidikan. Ia menyebut pemerintah pusat kembali mengucurkan dana revitalisasi satuan pendidikan untuk Bungo. Sekolah-sekolah yang dindingnya retak, atapnya bocor, atau ruang kelasnya tak layak akan kembali diperbaiki.

“Anak-anak Bungo harus belajar di tempat yang layak. Itu hak mereka,” katanya, dengan nada yang lebih emosional.

Baginya, membangun daerah bukan hanya soal jalan dan jembatan, tetapi masa depan generasi.

“Saya Tidak Bisa Sendiri”

Malam mulai merambat menuju larut ketika Dedy menutup perbincangan. Wajahnya masih menyimpan semangat, meski lelah seharian pasti belum sepenuhnya hilang.

“Saya akan terus perjuangkan agar dana pusat masuk ke Bungo,” ujarnya sambil menatap warga yang ikut berkumpul malam itu.
“Tapi saya tidak bisa sendiri. Saya butuh dukungan masyarakat untuk mengawasi dan mensuport. Kita harus jaga agar pembangunan berjalan jujur dan benar.”

Ada ketulusan dalam ucapannya yang sulit dipalsukan. Seolah ia ingin menegaskan bahwa jabatan bukan sekadar kewenangan, tetapi amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat dan Tuhan.

Dan malam itu, Warung Teragak Salero bukan hanya tempat makan. Ia menjadi panggung kecil tempat seorang pemimpin menyisihkan waktunya untuk rakyat di tengah segala kesibukan, lobi anggaran, dan tekanan pekerjaan.

Di situlah harapan-harapan baru untuk Kabupaten Bungo kembali dipupuk.

( BN – war )

 

 

.

Komentar