Sekolah Hebat Mindset Adaptif

NASIONAL1217 Dilihat

Oleh: Nelson Sihaloho

Penulis: Guru SMP Negeri 011 Kota Jambi

 

 

ABSTRAK:

 

Seringkali kita mendapatkan informasi di lapangan atau kebanyakan orang-orang bahwa ada sekolah yang dujuluki dengan dengan sekolah unggul. Selain itu masih ada sekolah favorit bahkan ada sekolah yang telah mendapat julukan “sekolah internasional”. Dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) misalnya selalu yang menjadi ukuran adalah input (masukan). Padahal dengan input yang rendah sekalipun apabila sekolah menerapkan mindset yang benar-benar baik (bukan terbaik) bisa saja sekolah tersebut akan menjadi sekolah hebat. Untuk menjadi sekolah yang hebat dibutuhkan orang-orang mindset berkembang dengan memperhatikan informasi serta memperluas pengetahuan murid (peserta didik).

Untuk mencapai yang namanya “sekolah hebat” orang-orang yang ada dalam lingkungan pendidikan (sekolah) harus memiliki cara berpikir growth mindset  suka tantangan, siap dibenturkan dengan berbagai pengalaman dari setiap usaha yang dilakukan. Banyak kalangan dan pakar mengemukakan bahwa skill dan kecerdasan intelektual yang dimiliki dipercaya dapat terus berkembang seiring dengan kerja keras, usaha serta ketekunan para peserta didik. Pada intinya untuk menjadi sebuah sekolah yang hebat harus tetap berjuang semakin hebat dan kuat.

 

Sekolah yang terus berinovasi serta tidak takut tehadap perubahan serta anti kemapanan adalah kunci sukses menjadi sekolah hebat.

Kata kunci: sekolah, mindset,adaptif

 

Sekolah dan Mindset

 

Growth mindest merupakan hal penting yang perlu dimiliki oleh siswa. Sebab akan dapat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Siswa yang memiliki growth mindset dapat lebih cepat berkembang dan mampu mengatasi permasalahan atau kegagalan dengan bijak. Salah satu tempat yang dapat menunjang pertumbuhan growth mindset siswa yaitu dalam kelas belajar. Peran guru sangat penting dalam membimbing siswa membentuk growth mindset serta menghilangkan fixed mindset  siswa. Mengutip Dweck menyebut tanpa mindset yang benar, seseorang akan mudah gagal dalam usahanya atau menyerah sebelum berhasil. Pada dasarnya, growth mindset adalah suatu pola pikir yang meyakini bahwa untuk bisa maju, harus memiliki pemikiran yang terbuka. Seseorang dengan growth mindset juga meyakini bahwa proses belajar akan berjalan selama masih hidup. Karena itu growth mindset sangat diterapkan dalam sekolah. Selain bermanfaat untuk proses belajar yang semakin sulit dan daya saing yang tinggi, growth mindset juga akan sangat bermanfaat untuk semua peserta didik ketika sudah masuk ke jenjang perguruan tinggi hingga sudah di tahap bekerja. Banyak tantangan yang akan mereka hadapi sehingga apabila mereka tidak memiliki mindset yang bisa bertumbuh, maka kemungkinan besar mereka akan mudah menyerah dan hasil yang akan didapat pun cenderung rendah. Di lingkungan sekolah untuk mengembangkan dan membangun mindset yang positif, siswa terlebih dahulu harus mengenal siapa dirinya, apa kemampuan yang mereka miliki, dan apa tujuannya belajar ke sekolah. Siswa juga penting mengetahui bagaimana cara berpikir mereka selama proses belajar sedang berlangsung. Demikian juga dengan guru maupun pendidik harus memiliki growth mindset. Pengalaman 20 tahun mengajar belum tentu menjamin seseorang guru professional. Banyak kalangan menyatakan bahwa pembentukan SDM yang unggul dan berkarakter adalah sekolah unggul. Sekolah merupakan jembatan menuju gerbang masa depan terutama untuk para generasi masa depan.  Sekolah harus memiliki sistem pengelolaan yang baik dan semua elemen didalamnya wajib berkomitmen. SDM guru harus memadai sesuai dengan pelatihan dan coaching.

 

Alat bantu pembelajaran yang diterapkan dapat mengembangkan potensi otak menjadi lebih hebat serta sarana prasarana teknologi pembelajaran maupun TIK yang memadai.

Kita harus sadar bahwa di era masa depan kita menghadapi era ketidakpastian maupun risiko.  Kita juga menyadari bahwa perkembangan teknologi digital dengan lambat laun mengubah perilaku manusia di hampir semua lini kehidupan. Dunia digital misalnya telah mengubah  kita bagaimana cara berkomunikasi dalam sehari-hari, pekerjaan maupun dalam  usaha atau bekerja. Fakta dan kenyataan bahwa perubahan lain adalah dalam cara berkomunikasi, aktivitas sehari-hari, cara belanja online maupun cara bertransaksi online. Kita tidak perlu heran apabila sekarang anak-anak masa kini banyak bercita-cita ingin jadi youtuber dan content creator. Hal tersebut mengindikasikan bahwa muncul tren baru pekerjaan di era digital di mana keahlian yang paling banyak dicari seperti social media specialist, copy writer, video creator, designer grafis dan data analyst. Mengacu pada hal tersebut diperlukan konsep kinerja adaptif sekolah dalama menghadapi era digitalisasi maupun era bonus demografi serta generasi emas. Pembelajaran aktif dan kondisi yang dihadapi secara  nyata dilapangan harus mendukung siswa menjadi pembelajar adaptif.

Siswa yang punya growth mindset adalah siswa yang percaya bahwa bakat dapat terus berkembang. Siswa yang sedang belajar saat  memiliki peran yang sangat besar dalam menghadapi era transformasi besar-besaran SDM di semua asepk. Betap tidak perubahan demi perubahan akan terus berlangsung  yang dpandang menjadi peluang untuk terus tumbuh dan mengembangkan kompetensi diri mereka. Dunia saat ini lekat dengan digitalisasi dan terus akan berkembang kea rah yang lebih dinamis. Siswa  harus bergerak cepat untuk menguasai apa yang harus mereka kuasai untuk bekal di masa depan.

Masa depan bangsa kita pada akhirnya berada di tangan generasi muda. Sekolah harus lebih banyhak mengadopsi program-program unggulan yang bisa memberdayakan peserta didik ke arah yang lebih baik.

 

Mindset dan Kompetensi

 

Mindset dan peningkatann kompetensi peserta didik memang harus mutlak dilakukan. Dalam menghadapi berbagai perkembangan ilmu pengetahuan  dan teknologi mindset peserta didik harus diubah agar kometensi mereka bisa lebih ditingkatkan.  Penerapan growth mindset dalam belajar merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sebab metode tersebut sangat membantu siswa menyadari potensi mereka dan mendorong mereka untuk mengembangkannya dengan berfokus pada bakat dan kemampuan mereka daripada kekurangannya.  Growth mindset adalah cara berpikir tentang kapasitas atau bakat seseorang sejak kecil. Seseorang yang memiliki mindset berkembang atau growth mindset cenderung ingin mendapatkan proses pembelajaran yang penting (bermakna) dan memiliki pengaruh dalam hidupnya. Mulai sejak dini guru harus dapat merubah pola pikir dari fixed mindset menjadi growth mindset. Fixed mindset sangat tidak diharapkan dalam sebuah lembaga karena dengan pola pikir ini maka kualitas sebuah lembaga akan megalami stagnan bahkan penurunan yang signifikan. Guru merupakan penentu keberhasilan siswa dalam belajar. Sejalan dengan program Merdeka Belajar dan Implementasi Kurikulum Merdeka harus bisa memberikan kontribusi terhadap perbaikan kualitas pendidikan di tanah air. Perubahan mindset guru akan berpengaruh pada perubahan sikap, kompetensi dan keterampilan peserta didik.

Perubahan yang begitu cepat dan tantangan yang semakin kompleks di era digital sekarang ini mengharuskan kita untuk merubah pola pikir. Termasuk dalam hal metode, model dan pengembangan materi pembelajaran, guru harus menguasai teknologi pengetahuan, informasi, komunikasi, komputasi dan otomasi yang saat ini tersedia di mana saja, kapan saja, dari dan kemana saja, serta lebih cepat dan tanpa batas. Kolaborasi guru di sekolah diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan dan model pembelajaran yang menyenangkan. Beberapa hal yang dapat dilakukan yakni merubah mindset tentang sekolah. Yaitu dengan memberikan penekanan pada peserta didik menjadi sekolah yang menuntun peserta didik sesuai dengan minat bakatnya. Menciptakan lingkungan belajar yang positif yaitu lingkungan sekolah nyaman dan menyenangkan, pembelajaran menyenangkan dengan kegiatan pembelajaran interaktif. Memberi ruang kepada peserta didik untuk berperan dalam menentukan capaian tujuan pembelajaran, melibatkan orang tua peserta didik termasuk dalam penyelarasan kurikulum.

Karena itu membangun budaya growth mindset di kelas sangat penting dilakukan. Sebab keberhasilan dalam pembelajaran yang diberikan oleh guru di kelas terhadap, siswa ternyata tidak hanya terkait dengan metode dan strategi mengajar yang tepat. Namun juga terkait pendekatan terhadap pola pikir guru dan siswa itu sendiri. Pendekatan pola pikir siswa yang benar dari awal dengan signifikan akan mempengaruhi seluruh hidup siswa tersebut ke depan. Guru selaku pendidik mengutamakan  pendekatan  growth mindset atau pola pikir berkembang, yang melihat kecerdasan, kepribadian dan karakter seseorang atau siswa berproses untuk besar tumbuh karena tantangan maupun kegagalan. Perlu dicermati bahwa para siswa yang memiliki growth mindset percaya  kecerdasannya dan ketrampilannya bisa terus tumbuh berkembang melalui usaha dan kegigihannya. Kunci utamanya adalah belajar dan terus  selalu berusaha dan bekerja keras.  Growt

 

Mindset juga harus diiringi startegi belajar yang tepat agar tidak hanya menjadi mitos. Selain itu growth mindset mendorong seorang guru untuk terus berkembang. Guru yang memiliki growth mindset akan terus bereksperimen dan tertantang pada hal-hal baru. Dengan demikian pola pikir bertumbuh makin diperlukan untuk memperbaiki mutu pendidikan. Pendidik yang mampu menjadi mentor untuk membentuk pola pikir peserta didik makin dibutuhkan. Di era masa kini dan masa depan semua ilmu ada di dunia maya. Bukan mereka yang pintar atau punya talenta yang  bisa sukses. Orang yang tekun dan gigih berusaha dengan pola pikir bertumbuh akan mampu menantang dirinya untuk terus belajar dengan hal-hal baru dan menerima tantangan meski menghadapi kesulitan atau hambatan. Sebagaimana  di rilis OECD Tahun 2021 bertajuk  ”Sky’s the Limit: Growth Mindset, Students, and Schools in PISA”, diungkapkan pentingnya memperkuat pola pikir bertumbuh untuk dapat mendorong siswa berperforma baik. Lebih dari sekadar tentang prestasi akademik, disebutkan dengan growth mindset  membawa siswa menjadi sosok well-being atau berbahagia. Dari kajian OECD,et,al terbukti bahwa  growth mindset ni dapat membantu siswa yang merasa dirinya biasa-biasa saja atau dari kelompok miskin atau marjinal bisa meraih prestasi baik. Demikian juga, dampaknya baik untuk meningkatkan mutu di negara yang sistem pendidikannya masih rendah seperti Indonesia.

 

Mindset Adaptif

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa growth mindset pendidik merupakan  tuntuntutan zaman dalam proses pendidikan di era global sehingga para pendidik menjadi model untuk peserta didik.  Mental yang bertumbuh sesuai dengan kecakapan abad 21 menjadi penting karena mendasari sikap dan tindakan. Guru professional selalu menggunakan cara-cara kreatif dan inovatif dalam menyampaikan setiap pengetahuan, keterampilan bahkan sikap kepada siswa, termasuk kreativitas dalam menggunakan media pembelajaran.

 

Karakteritik pembelajaran yang efektif dapat dicapai jika guru memiliki ide kreatif dan inovatif dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif, bermakna dan menyenangkan (meaningfull learning and joyfull learning).

Keterampilan manusia seperti orisinalitas, inisiatif, dan pemikiran kritis cenderung sangat dibutuhkan seiring kemajuan teknologi dan otomatisasi. Mengutip LinkedIn, lima keterampilan non-teknis yang paling dibutuhkan adalah kreativitas, persuasi, kolaborasi, adaptasi, dan manajemen waktu. Model pembelajaranpun kini telah dengan signifikan kearah penerapan teknologi digital. Pendidik yang profesional serta berintegritas, expert pada bidangnya juga dituntut memiliki digital mindset. Apabila guru tidak adaptif dan tidak dapat mencerminkan kompetensi guru abad 21 maka dikhawatirkan akan terjadi gap generation yang akan menyebabkan gagalnya proses pendidikan. Growth mindset memungkinkan seseorang atau guru lebih adaptif dan mampu menghadapi tantangan dalam berbagai situasi dan kondisi.  Pola pikir ini juga mendorong semangat terus belajar dan tidak bosan mempelajari sesuatu yang belum dikuasai.

Intinya penerapan growth mindset meyakini untuk mencapai kesuksesan mereka belajar sesuatu dan meningkatkan kemampuan dirinya. Melalui growth mindset  para guru bisa membangun budaya siswa menyukai tantangan, lebih memberikan penghargaan pada proses belajar bukan hasil. Kondisi yang terus berubah-ubah yang disebut dengan VUCA atau volatility (tidak menentu), uncertainty (ketidakpastian), complexity (kompleksitas), dan ambiguity (ambiguitas) membuat kita untuk terus belajar. Pesatnya perkembangan industri dan teknologi menjadi penyebab dari banyaknya perubahan dalam aspek kehidupan, termasuk karier. Growth mindset sebagai pola pikir yang mengakui adanya perubahan zaman akan dengan mudah beradaptasi dengan keadaan.

Orang-orang yang memiliki growth mindset akan mudah bertahan dalam perubahan dan tahu langkah apa yang harus dilakukan. Selain itu mereka paham menghadapi tantangan dan perubahan. Selain hal tersebut bahwa kesuksesan suatu daerah dan bangsa itu tergantung bagaimana pendidikannya. Termasuk Kepala Sekolah harus meningkatkan mutu pendidikan disekolah yang dipimpinnya.

Karena itu individu yang memiliki growth mindset adalah mereka yang akan selalu percaya bahwa bakat yang dimilikinya selalu dapat dikembangkan. Pengembangan bakat tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara sepertti kerja keras, menggunakan strategi yang tepat saat bekerja, hingga mendengarkan masukan dari orang lain. Beberapa mafaat growth mindset diantaranya meningkatkan kepercayaan diri, belajar dengan skill baru, mau menerima tantangan, mendapatkan kesempatan baru, serta mudah menerima feedback. Dunia kerja saat ini  yang semakin dinamis juga membutuhkan feedback.Teknologi saat ini memegang peranan yang sangat penting. Apabila sebelumnya, hard skill adalah skill wajib yang harus dimiliki dan dikuasai. Kini, hard skill tidak lagi menjadi primadona. Yang dibutuhkan dunia kerja sekarang selain hard skil, adalah soft skill.  Karena itu selama beberapa dekade terakhir, perubahan zaman yang didorong oleh perkembangan teknologi dan informasi berdampak besar terhadap seluruh aspek kehidupan manusia. Digital mindset menjadi solusi untuk dapat terus bertahan da Manusia masih menjadi jawaban tegas akan pertanyaan tersebut. Manusialah yang harus terus berkembang dan berbenah diri. Salah satunya dengan memiliki digital mindset agar dapat terus relevan dengan zaman yang dinamis sebagaimana saat ini. Kendati perkembangan digital tak akan bisa dibendung, manusia tetap menjadi pemeran utama yang dapat memenangkan era global. Karena itu sekolah diharapkan untuk terus melakukan mindset adapti. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang terus berbenah dengan mindsetnya adaptif terhadap perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi.  Semoga bermnafaat. (*****).

 

Rujukan

 

  1. Agboola, A. & Tsai, K. C. 2012. “Bring Character Education into Classroom” dalam European Journal of Educational Research, 1(2), 163-170

 

  1. Ardi, Rahkman. 2019. Memahami Kognisi Sosial Individu dalam Era Revolusi Industri 4.0. Dalam Seminar Nasional Riset Multidisiplin (SNRM) III, Jakarta, 26 April 2019.

 

  1. Fixed Mindset vs. Growth Mindset: What’s the Difference and Why Does It Matter?

 

  1. GROWTH MINDSET

 

  1. What Having a “Growth Mindset” Actually Means

 

  1. 20 Growth Mindset Examples to Change Your Beliefs

Komentar