Bungonews.net, Bungo-Di sebuah sudut kecil Dusun Pedukun, derita itu terasa begitu dekat. Lahan yang selama puluhan tahun dirawat penuh kasih kini rusak terus longsor akibat pengerjaan proyek dan batang sawit tumbang.Di sana, tangis bukan lagi sesuatu yang asing. Ia jatuh perlahan, tanpa suara karena suara rakyat kecil seringkali memang tak pernah didengar.
Proyek rehabilitasi Dam Batang Uleh yang digarap PT Wijaya Karya perusahaan yang katanya milik negara ( BUMN ) telah meninggalkan luka yang jauh lebih dalam daripada longsor di atas tanah. Ia meninggalkan kehancuran di hati keluarga yang hidupnya bergantung pada lahan itu.Pohon Sawit Tumbang, Tapi yang Roboh Lebih dari Sekadar Tanaman
RP, anak dari almarhum Syaharodi, tidak mampu menyembunyikan getaran suaranya saat mencoba berbicara. Di antara sisa batang sawit yang tercerabut seperti tubuh yang tercabik, ia berdiri memandangi warisan ayahnya yang kini telah hilang.
“Mereka keruk begitu saja… tanpa izin… tanpa bicara…
Sawit-sawit ayah saya tumbang seperti tak ada nilainya…”
Setiap pohon yang tumbang bukan hanya kerugian materi itu adalah hasil kerja keras seorang ayah, keringat yang diperas dari pagi hingga senja, doa yang ia titipkan pada setiap bibit yang ia tanam. Kini semuanya musnah dalam sekejap oleh proyek bernilai miliaran rupiah.
Ayahnya Pergi Membawa Luka yang Tak Pernah Sempat Sembuh
Yang paling menghancurkan hati adalah kenyataan bahwa almarhum Syaharodi meninggal tanpa sempat melihat kepastian apa pun. Sampai hari terakhir hidupnya, ia masih bertanya, masih berharap, masih percaya bahwa ada keadilan.
Namun yang datang hanyalah janji-janji kosong yang menggantung tanpa kepastian.
“Sudah ditanya berapa ganti rugi… tapi setelah itu tak ada kabar.Ayah saya menunggu… terus menunggu sampai akhirnya beliau pergi.” tutur putra Almarhum Sahrodi
Betapa pedihnya membayangkan seorang ayah menghembuskan napas terakhir sambil memikirkan lahan yang dirusak dan masa depan anaknya yang terancam hilang.
Betapa kejamnya membiarkan rakyat menunggu jawaban yang tak kunjung tiba hingga ajal menjemput.
Pihak proyek berdalih bahwa ganti rugi sudah disetujui, namun ‘dicoret’ oleh pihak balai. Tetapi hingga kini, tak ada selembar bukti pun yang ditunjukkan.
Tidak ada transparansi.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada moralitas.
“Kalau memang dicoret, tunjukkan buktinya. Tunjukkan alasannya.Kami tidak tahu apakah dananya ada atau hilang. Yang jelas, kami tidak dapat apa pun.”
Seolah-olah nasib rakyat bisa dihapus hanya dengan satu coretan pena.
Pelaksana Lapangan Mengelak, Pemerintah Tak Melihat atau Tak Mau Melihat
Saat dikonfirmasi, Anggi pelaksana lapangan hanya mengucapkan:
“Tidak tahu sayo, bang.”
Kalimat dingin yang lebih mirip penolakan daripada jawaban.
Di sisi lain, Dinas PUPR Kabupaten Bungo, melalui Kabid SDA, hanya berkata mereka “menyarankan mediasi”, tetapi tidak tahu kelanjutannya.
Betapa enteng mereka bicara “tidak tahu”, sementara warga Pedukun menderita, kehilangan, dan berduka.
Ketika Uang Berjalan, Suara Rakyat Dipadamkan
Proyek bernilai Rp15 miliar berjalan, sementara rakyat kehilangan tanahnya.
Proyek yang dijanjikan membawa manfaat, justru membawa air mata.
Penguasa yang seharusnya membela rakyat, justru diam entah tak peduli, entah pura-pura buta.
Kendatipun kenyataan pahit yang diterima ternyata masih ada orang baik yang merasa iba dengan nasib almarhum , Dia Aji Said Ali,SH ” Kito akan bantu bersama bang ,kasihan dengan almarhum Sahrodi, saya sudah hubungi anak almarhum untuk minta keterangan dan data, semoga saja pihak kontraktot bermurah hati untuk menyelesaikan masalah ini ” Tutur Aji advokad muda kelahiran Pedukun ( BN )

























Komentar