Perjalanan Investigasi Proyek DAU SG di SD dari Kecamatan Pelepat ke kecamatan Tanah Sepenggal Lintas

PERISTIWA229 Dilihat

Oleh: Tim Bungonews.net

Bungonews.net, Bungo -Langit Bungo pagi itu (29/10/2025 ) tampak cerah, seolah menyambut langkah tim Bungonews yang kembali turun ke lapangan. Tujuan kali ini adalah Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas, sebuah wilayah yang menjadi bagian penting dalam pemerataan pembangunan pendidikan melalui program Dana Alokasi Umum Spesifik Grant (DAU-SG) tahun anggaran 2025.

Perjalanan dimulai dari arah Muara Bungo, melewati jalan lintas Sumatera menuju dusun Sarana Jaya dan dusun Sungai Mancur melintasi areal persawahan Di balik debu yang beterbangan dan lalu lalang petani ke sawah dan para pekerja yang mengerjakan proyek irigasi terselip semangat untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang digelontorkan negara benar-benar sampai pada tujuan: anak-anak yang menimba ilmu di pelosok negeri

SDN 111/II Bukit Telago Antara Semangat dan Keterbatasan

Sekolah pertama yang dikunjungi adalah SDN 111/II Bukit Telago. Untuk bisa sampai ke sekolah ini melewati jalan berlubang dan becek , Di halaman sekolah terlihat tumpukan material bangunan lama setelah dibongkar dan tumpukan material bangunan yang didatangkan untuk rehab dan bangunan baru,beberapa pekerja tampak sibuk menyiapkan pondasi.
Di lokasi ini, ada tiga paket proyek yang tengah berjalan:

1. Pembangunan ruang guru
2. Pembangunan jamban
3. Rehabilitasi ruang kelas belajar.

Dua di antaranya yakni ruang guru dan jamban yang dikerjakan oleh CV. Aira Duta Kontraktor, sementara satu pekerjaan lainnya, yaitu rehabilitasi ruang kelas, tidak memasang papan merek proyek

“Saya diminta bantu agar proyek ini bisa selesai tepat waktu. Itu bagian dari kesepakatan saya dengan kontraktornya,” ujar Sutino, pelaksana lapangan yang juga kontraktor asal Tebo, dengan nada hati-hati sambil mengelap keringat di dahi.

Ucapan singkat itu menggambarkan situasi klasik di lapangan pekerja lokal yang berjuang di bawah tekanan waktu dan tanggung jawab besar, sering kali tanpa tahu banyak soal kontrak atau nilai proyek yang mereka kerjakan.

SDN 036/II Sarana Jaya 

Perjalanan berlanjut menuju SDN 036/II Sarana Jaya, sekitar dua jam dari Bukit Telago. Sekolah ini tampak hidup di tengah suasana pedesaan yang tenang. Di antara pepohonan dan suara ayam kampung, terdengar dentingan cetok para pekerja yang sedang menyiapkan pondasi bangunan baru.

Di sini, dua kegiatan tengah berjalan bersamaan:
Rehabilitasi ruang kelas senilai sekitar Rp554 juta, dikerjakan oleh CV. Ayu Vitria, dan Pembangunan laboratorium sekolah senilai Rp199 juta, dilaksanakan oleh CV. JA Konstruksi.

Dikonfirmasi, pemilik CV. JA Konstruksi membenarkan hal itu perusahaannya mengerjakan beberapa proyek di kabupaten Bungo namun ada juga yang pinjam pakai perusahaannya
“Yo bang, ado beberapa paket proyek di Bungo yang kami kerjakan langsung. Ado jugo rekanan yang pinjam perusahaan,” katanya lugas melalui sambungan telepon.

Keterangan itu memberi gambaran tersendiri tentang bagaimana proyek pemerintah kerap berlapis tangan, antara pemilik perusahaan, rekanan pelaksana, hingga pekerja di lapangan. Praktik “pinjam bendera” yang masih terjadi ini menyisakan pertanyaan soal profesionalisme dan tanggung jawab hukum dalam pelaksanaan proyek.

SDN 029/II Sungai Mancur – Ketika Papan Proyek Salah Alamat

Sore mulai turun ketika tim Bungonews tiba di SDN 029/II Sungai Mancur. Di sinilah kejutan berikutnya muncul.
Nama CV. JA Konstruksi kembali terlihat sebagai pelaksana pembangunan laboratorium sekolah. Namun, ada pula proyek lain yang dikerjakan oleh CV. Mutiara Berlian—mulai dari rehabilitasi ruang kelas, pembangunan jamban, hingga pembangunan ruang kelas baru.

Anehnya, papan proyek milik CV. Mutiara Berlian justru menampilkan nama berbeda: “SD 80 Tukum” dengan nilai Rp394 juta, tanpa mencantumkan masa pelaksanaan.Padahal, lokasi pekerjaan jelas berada di SDN 029/II Sungai Mancur.

“Ado yang aneh, bang. Namonyo SD lain, tapi papan proyeknyo di sekolah kito,” ujar seorang warga sambil tersenyum getir.

Kesalahan ini bukan sekadar teknis. Bagi masyarakat, papan proyek adalah simbol keterbukaan. Kesalahan nama sekolah saja sudah cukup menimbulkan kecurigaan apalagi jika disertai ketidakjelasan informasi anggaran dan waktu pelaksanaan.

Di Antara Lumpur, Debu, dan Harapan

Dari satu titik ke titik lain, tim Bungonews menapaki jalan menuju lokasi proyek dan berbincang dengan warga.
Di balik angka-angka kontrak dan nama perusahaan, ada wajah-wajah guru yang berharap ruang kelas baru segera rampung, agar anak-anak bisa belajar tanpa harus berdesakan di ruang yang nyaris roboh.

Catatan Akhir: Transparansi Adalah Napas Pembangunan

Proyek DAU SG di Kecamatan Tanah Sepenggal Lintas memang berjalan. Beton dicetak, dinding disusun, ruang belajar perlahan berdiri. Namun, di balik semua itu, transparansi dan akuntabilitas masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

Beberapa proyek berjalan tanpa papan informasi yang jelas. Sebagian lagi masih diwarnai praktik pinjam bendera perusahaan.
Padahal, publik berhak tahu siapa yang mengerjakan, berapa nilainya, dan sejauh mana progresnya.

Perjalanan ini bukan sekadar dokumentasi, tapi sebuah refleksi tentang makna pembangunan. Di tengah keringat para pekerja, suara anak-anak yang mengucap doa, dan harapan guru di sekolah pelosok, tersimpan pesan kuat:bahwa setiap bangunan pendidikan adalah investasi masa depan bangsa, dan setiap ketertutupan adalah ancaman bagi kepercayaan publik.

Bungonews akan terus memantau, mengawal, dan mengingatkan bahwa di balik tumpukan bata dan semen itu, ada mimpi kecil anak-anak Bungo yang menanti ruang belajar yang layak untuk masa depan mereka.

(BN – Tim Investigasi Bungonews.net)

Komentar