Jiwa Kependidikan Kuat Kunci Kemajuan Pendidikan

NASIONAL, PERISTIWA1,180 views

Oleh: Nelson Sihaloho

 

ABSTRAK

Salah satu kunci kemajuan suatu bangsa terletak pada mutu pendidikannya. Demikian juga dengan Indonesia  tanpa pendidikan yang merata dan bermutu tinggi kita tidak akan memiliki sumber daya manusia (SDM) unggul. Termasuk ketahanan dan kekuatan suatu bangsa terletak pada bidang pendidikan yang unggul. SDM yang mampu mengikuti perkembangan teknologi dan unggul menjadi modal pembanguman utama dalam mewujudkan visi Indonesia emas di 2045.

Mengacu pada pergantian kepemimpin pada bulan Oktober 2024 dari Presiden Joko Widodo-Maruf Amin periode 2024-2029 sejumlah harapan terhadap pelaksanaan pembangunan yang ke arah yang lebih dan merata dapat diwujudkan. Utamanya dalam pendidikan perubahan rezim biasanya selalu membawa harapan baru sekaligus tantangan yang signifikan. Kita berharap dalam pemerintahan Prabowo-Gibran penajaman visi dan misi di bidang pendidikan perlu terus dilakukan dengan menempatkan menteri kabinetnya yang memiliki jiwa kependidikan yang kuat.  Aspek-aspek kunci seperti kualitas pendidikan, aksesibilitas, serta relevansi kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang harus dikedepankan. Selain itu sasaran pembangunan di bidang pendidikan  adalah untuk memperkuat pembangunan SDM termasuk peningkatan kesetaraan gender, penguatan peran perempuan, pemuda (generasi milenial dan generasi Z), maupun penyandang disabilitas. Diharapkan dengan menempatkan sosok menteri yang memiliki jiwa kependidikan yang kuat oleh Prabowo-Gibran akan menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan Indonesia ke masa depan.

Kata kunci: jiwa kependidikan, maju, pendidikan

 

Hakikat Jiwa kependidikan

 

Menurut Achmad Munib, (2004: 142), Pada hakikatnya pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki potensi spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Tujuan pendidikan pada suatu negara akan berbeda dengan tujuan pendidikan di negara lainnya, sesuai dengan dasar negara, falsafah hidup bangsa maupun ideologi yang dianut oleh negara tersebut Menurut Agus Taufiq, dkk (2011: 1.3) pendidikan setidak-tidaknya memiliki ciri sebagai berikut: (1) Pendidikan merupakan proses mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat, dimana dia hidup, (2) Pendidikan merupakan proses sosial, dimana seseorang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) untuk mencapai kompetensi sosial dan pertumbuhan individual secara optimum, (3) Pendidikan merupakan proses pengembangan pribadi atau watak manusia.

Sebagai suatu sistem, pendidikan mencakup unsur-unsur (elemen, komponen): (1) pendidik: subjek yang memberikan bimbingan, pesan, nilai-nilai, pongaruh atau pengetahuan; (2) peserta didik: manusia muda yang belum dewasa, sebagai masukan bahan mentah (raw input); (3) tujuan pendidikan: ke arah mana manusia muda itu akan dibawa / dibimbing atau akan dijadikan apa, sebagai keluaran, hasil atau lulusan (output): (4)materi pendidikan:nilai-nilai, pesan, pengaruh atan pengetahuan yang akan ditanamkan, (5) proses pendidikan interaksi antara pendidik dan peserta didik; (6) sarana-prasarana pendidikan: kurikulum, metode, model, pendckatan, media, pusat sumber belajar yang dimanfaatkan (instrumental input); dan (7) tempat atau lingkungan pendidikan: di mana bimbingan itu dilaksanakan (invironmental input).

Demikian juga dengan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi harus mengerti dan memahami tentang hakikat kependidikan. Banyak kalangan menyatakan bahwa  masalah utama yang dihadapi pendidikan kita saat ini adalah kesenjangan dalam kualitas pendidikan antara kawasan perkotaan dan pedesaan, termasuk antara sekolah negeri dan swasta. Selain itu masalah tersebut erat kaitannya dengan anggaran. Sejauh ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar 20 persen dari dana APBN untuk sektor pembangunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS), membuktikan bahwa pada tahun ajaran 2021/2022,  jumlah ruang kelas yang rusak ringan atau sedang mencapai 60,60 persen pada jenjang SD, 53,30 persen ruang kelas pada jenjang SMP, dan 45,03 persen pada jenjang SMA. Begitu juga dengan Kurikulum Merdeka Belajar berbasis teknologi digital yang diimplementasikan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim pada akhirnya menimbulkan  masalah kompleks. Belum lagi ditambah dengan Project Merdeka Mengajar (PMM) maupun E-Kinerja yang pada akhirnya berujung  menimbulkan pro kontra di kalangan guru. Jika dikaji dengan lebih mendalam Kurikulum Merdeka sesungguhnya merupakan Kurikulum Prototype yang dirancang untuk mengatasi learning loss dimasa Covid-19.  Kurikulum Merdeka diterapkan di hampir semua sekolah dengan cara yang kurang tepat. Apalagi di masa normal sekarang ini kebali ke tatap muka jauh lebih urgen apabila dibandingkan dengan sistem Platform Merdeka Mengajar. Perlu dikaji serta dikethaui bahwa agar sekolah dan para guru  mampu mengimplementasikan Kurikulum Merdeka harus melalui persiapan yang matang. Imbas dari “ketergesa-gesaan” dalam implementasi kurikulum adalah dicabutnya label “Guru Penggerak” dimana bisa memicu  konflik dikalangan guru. Dengan kondisi telah dicabutnya label “Guru Penggerak” pada akhirnya menurunkan citra serta wibawa Menteri melorot dimata publik. Karena itu hakikat jiwa kependidikan penting dimiliki oleh seorang menteri yang menjabat dibidang Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.

Kita aberharap apabila kelak dilakukan pergantian Menteri khusunya di bidang pendidikan harus benar-benar memiliki jiwa kependidikan yang kuat.

 

 

Reformasi Pendidikan

 

Reformasi pendidikan di masa kepemimpinan Prabowo-Gibran perlu dilakukan dengan melakukan evaluasi dengan komprehensif terhadap bidang pendidikan kita. Pada bulan Oktober 2024 merupakan awal memulai masa pemerintahan untuk 5 tahun ke depan. Belajar dari kepemimpinan terdahulu harus melnjadi titik awal  untuk mereformasi sistem pendidikan nasional. Selain merekrut Mendikbud Ristek yang memiliki jiwa kependidikan yang kuat juga harus berpengalaman dalam dunia pendidikan. Tidak nhanya itu juga memiliki visi yang kuat untuk menjadikan sector pendidikan kita ke arah yang lebih dan tangguh. Dimasa depan tantang pendidikan yang semakin kompleks dan dinamis para generasi muda harus dipersiapkan menjadi masyarakat digital yang memiliki daya saing kompetitif. Pembangunan pendidikan yang merata diperlukan untuk mempersiapkan kualitas SDM menuju bonus demografi dan Indonesia Emas harus benar-benar diperhatikan. Saat ini merupakan era transformasi teknologi dan sosial, semua pihak dituntut untuk mampu menghadapi situasi global. Kemampuan menghadapi situasi global secara signifikan akan memperlkuat kemandirian bangsa. Kita harus menperkuat serta nmempertajam visi pendidikan bahwa kunci utama kemajuan negara berada pada SDM berkualitas.

Dimasa transisi kepemimpinan saat ini situasi yang aman dan damai  harus menjadi dasar utama serta mengakui hasil-hasil Pemilu.  Transisi kepemimpinan 2024  tidak bisa dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja dalam demokrasi. Demokrasi merupakan suatu pengejewantahan yang lebih bermartabat yakni pembelajaran kaya makna. Program pendidikan yang difokuskan adalah program penguatan teknologi dan pengembangan SDM unggul harus didukung oleh semua pihak. Memanfaatkan bonus demografi tidak cukup hanya dengan penguatan ekonomi. Dibutuhkan transformasi penguatan SDM generasi muda. Selain fokus pada pendidikan, kualitas SDM perlu ditingkatkan dengan cara membangun sikap kepedulian, kapasitas manajemen dan manajemen pengetahuan. Inovasi pengembangan teknologi, baik teknologi sederhana maupun teknologi tinggi, diarahkan pada penguatan kemandirian. Hal tersebut mencakup transfer pengetahuan terhadap teknologi terkini. Kita sebagai bangsa yang memiliki bonus demografi harus mampu mengelolanya menjadi potensi besar serta menjadi kekuatan bangsa. Segala sumber daya, pengetahuan, dan warisan pembangunan yang ada saat ini adalah modal utama yang harus kita kelola dengan cara lebih professional. Selain itu membangun soliditas dan sinergitas dengan seluruh komponen bangsa merupakan pilar penting dalam membangun SDM bangsa. Intinya adalah menyatukan kekuatan dari berbagai sisi elemen bangsa  dengan lebih sinergis menjadi bangsa yang kuat dan tangguh dalam mewujudkan Indonesia Maju dan Indonesia Emas 2045.

 

Guru Sehajtera SDM Meningkat

 

Persoalan guru memang tidak pernah sepi dari perdebatan. Tatkala mutu pendidikan menurun atau mengalami sedikit penurunan yang disalahkan selalu guru. Padahal dalam mendidik maupun meningkatkan mutu SDM banyak faktor yang harus diperhatikan. Guru merupakan pondasi utama dalam mencerdaskan bangsa. Karena itu martabat dan kesejahteraan guru wajib diutamakan para pemimpin bangsa ke depan termasuk Prabowo-Gibran. Kita juga berharap kepemimpinan Prabowo-Gibran focus bekerja untuk kesejahteraan guru.  Guru memiliki peran vital dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Peningkatan kualitas SDM sangat erat dengan kualitas dan kemampuan dari guru. Program kerja Asta Cita Prabowo-Gibran, peningkatan kesejahteraan guru termasuk ke dalam Asta Cita 4, yakni memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi dan pendidikan. Dalam, Asta Cita 4 terebut Prabowo – Gibran memiliki keinginan kuat untuk kesejahteraan guru melalui empat program, yakni pertama menyediakan beasiswa bagi putra putri petani, nelayan, guru dan buruh untuk melanjutkan jenjang pendidikan S1 hingga S3. Kemudian memberlakukan upah minimum pada kategori guru swasta, PAUD, madrasah, dan yayasan. Ketiga, meningkatkan kesejahteraan dosen, peneliti, penyuluh dan seluruh tenaga pendidik. Karena itu untuk mendapatkan guru berkualitas, kesejahteraan guru harus tercukupi.

Demikian halnya dengan pentingnya penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri saat ini.Pentingnya pengembangan keterampilan baru terhadap lulusan baru, sehingga mereka dapat lebih siap menghadapi dunia kerja. Penyesuaian kurikulum pendidikan berdasarkan minat siswa sangat pentig dilakukan. Sebab mereka para angkatan kerja baru dapat mengejar karier sesuai dengan minat dan kemampuannya.

Memberikan keberpihakan terhadap generasi milenial dalam mendukung ide kreatif mereka dapat mendorong pertumbuhan bisnis dan inovasi. Melahirkan SDM unggul tidak bisa dilepaskan dari sosok guru. Peran dan fungsi guru menjadi sentral. Namun sayangnya, sosok yang melahirkan generasi hebat dan unggul ini hanya dituntut kewajiban dan tanggung jawab­nya mencerdaskan anak bangsa, tanpa diapresiasi dengan perlakuan baik yang menyejahterakan lahir dan batinnya. Guru dibebani harus melahirkan ge­nerasi hebat. Keberhasilan seorang pe­serta didik selalu mutlak menjadi tang­gung jawab guru, meski nyatanya hanya berperan beberapa jam di lingku­ngan sekolah. Belum lagi, guru harus menda­patkan perlakuan tidak elok dari murid. Bahkan sering berhadapan dengan hukum.

Tingkat kesejahteraan guru sangat berhubungan erat de ngan kualitas dan profesionalitas guru. Apabila kesejah­teraan guru belum bisa penuhi, sulit men­jadikan profesional. Pemaknaan kesejahteraan harus diperluas oleh pemerintah. Kesejah­teraan bukan saja dalam bentuk uang, tapi bentuk lainnya baik BPJS, ke­tenagakerjaan maupun kesehatan, sehing­ga guru-guru memiliki pegangan terutama untuk mem­berikan rasa aman.

Program PPG Prajabatan dan PPG Dalam Jabatan jika dianalisis lebih lanjut merupakan program yang bagus. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru di Indonesia. PPG Prajabatan ditujukan bagi lulusan pendidikan yang ingin menjadi guru, sementara PPG Dalam Jabatan ditujukan bagi guru yang sudah bekerja.  Kedua program ini memberikan pendidikan tambahan dan pelatihan intensif kepada para calon guru dan guru yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam mengajar dan membimbing siswa.

Dengan meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru, diharapkan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah juga akan meningkat, dan siswa akan lebih siap menghadapi tantangan di era globalisasi dan revolusi industri 4.0. Program-program ini memberikan kesempatan bagi para guru dan mahasiswa untuk mengembangkan potensi mereka, mengikuti perkembangan zaman, dan menjawab tuntutan masa depan.  Dengan melibatkan semua pihak terkait, baik pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat, diharapkan program-program ini dapat memberikan dampak yang signifikan dalam mencapai Indonesia Emas 2045. Untuk mencapai hasil yang optimal, diperlukan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait, pengawasan yang ketat, serta pengalokasian sumber daya yang memadai.  Dalam era yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat, investasi pada pengembangan SDM menjadi sangat penting.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu terus mendorong kolaborasi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan, mengadopsi inovasi dalam pendidikan, serta mengawal implementasi program-program prioritas tersebut dengan baik.

Dengan komitmen bersama dan upaya yang sinergis, Indonesia dapat menghadapi masa depan dengan SDM yang tangguh, berdaya saing serta  lebih siap menghadapi tantangan global di era Indonesia Emas 2045.

Benni Setiawan, (2019) pernah menyatakan bahwa saat guru sejahtera, bangsa Indonesia akan berdaulat.  Matthew G Springer and Catherine D Gardner (2010) dalam Teacher Pay for Performance: Context, Status, and Direction yang menyebut bahwa gaji yang layak merupakan sebuah keniscayaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh sejauh mana pemerintah melakukan penggajian yang layak untuk mereka.  Penelitian Mohammad Zulfikar, Arif Darmawan, Edy Sutrisno (2014) menunjukkan bahwa gaji yang layak (melalui sertifikasi), menjadi guru bersemangat dalam proses belajar mengajar. Bahkan dengan itu, guru semakin bersemangat dalam mengajar dan meningkatkan mutu/kualitas pembelajaran.  Kampanye kesejahteraan guru yang menjadi agenda Pilpres dan Pilkada 2024 harus terus disuarakan. Guru berhak mendapat gaji yang layak sesuai dengan profesionalismenya.

Dengan demikian jiwa kependidikan yang kuat akan menjadi kunci kemajuan pendidikan di masa depan. Semoga kepemimpinan Prabowo-Gibran 2024-2029 kelak mampu menempatkan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi yang benar-benar memiliki jiwa kependidikan yang kuat. Semoga bermanfaat. (*****)

 

Rujukan:

 

  1. ______, (2000). Pendidikan Nasional sebagai Wahana: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, Membangun Peradaban Negara-Bangsa.Jakarta: CINAPS.
  2. Ani M.Hasan. (2003). Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad Pengetahuan http://pendidikan.net/. diakses 13 Juli 2003
  3. Arifin, I. (2000). “Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi”. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, 25-26 Juli 2001.
  4. Faujiah, S., Syaifudin, M., & Andriani, T. (2023). Implementasi Manajemen Strategi dalam Lembaga Pendidikan. Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi, 4(3), 641–650.
  5. Silitonga, D. (2019). Komparasi Perencanaan Strategis (Renstra) Kemendikbud dan SMA Negeri 68 Jakarta Berdasarkan Analisis Teori. Esensi: Jurnal Manajemen Bisnis, 22(2).

    Jiwa Kependidikan Kuat

    Kunci Kemajuan Pendidikan

    Oleh: Nelson Sihaloho

    Guru SMPN 11 Kota Jambi

    Email: nelsonsihaloho06@gmail.com,sihaloho11@yahoo.com

     

    ABSTRAK

    Salah satu kunci kemajuan suatu bangsa terletak pada mutu pendidikannya. Demikian juga dengan Indonesia  tanpa pendidikan yang merata dan bermutu tinggi kita tidak akan memiliki sumber daya manusia (SDM) unggul. Termasuk ketahanan dan kekuatan suatu bangsa terletak pada bidang pendidikan yang unggul. SDM yang mampu mengikuti perkembangan teknologi dan unggul menjadi modal pembanguman utama dalam mewujudkan visi Indonesia emas di 2045.

    Mengacu pada pergantian kepemimpin pada bulan Oktober 2024 dari Presiden Joko Widodo-Maruf Amin periode 2024-2029 sejumlah harapan terhadap pelaksanaan pembangunan yang ke arah yang lebih dan merata dapat diwujudkan. Utamanya dalam pendidikan perubahan rezim biasanya selalu membawa harapan baru sekaligus tantangan yang signifikan. Kita berharap dalam pemerintahan Prabowo-Gibran penajaman visi dan misi di bidang pendidikan perlu terus dilakukan dengan menempatkan menteri kabinetnya yang memiliki jiwa kependidikan yang kuat.  Aspek-aspek kunci seperti kualitas pendidikan, aksesibilitas, serta relevansi kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang harus dikedepankan. Selain itu sasaran pembangunan di bidang pendidikan  adalah untuk memperkuat pembangunan SDM termasuk peningkatan kesetaraan gender, penguatan peran perempuan, pemuda (generasi milenial dan generasi Z), maupun penyandang disabilitas. Diharapkan dengan menempatkan sosok menteri yang memiliki jiwa kependidikan yang kuat oleh Prabowo-Gibran akan menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan Indonesia ke masa depan.

    Kata kunci: jiwa kependidikan, maju, pendidikan

     

    Hakikat Jiwa kependidikan

     

    Menurut Achmad Munib, (2004: 142), Pada hakikatnya pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki potensi spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Tujuan pendidikan pada suatu negara akan berbeda dengan tujuan pendidikan di negara lainnya, sesuai dengan dasar negara, falsafah hidup bangsa maupun ideologi yang dianut oleh negara tersebut Menurut Agus Taufiq, dkk (2011: 1.3) pendidikan setidak-tidaknya memiliki ciri sebagai berikut: (1) Pendidikan merupakan proses mengembangkan kemampuan, sikap, dan bentuk-bentuk tingkah laku lainnya di dalam masyarakat, dimana dia hidup, (2) Pendidikan merupakan proses sosial, dimana seseorang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah) untuk mencapai kompetensi sosial dan pertumbuhan individual secara optimum, (3) Pendidikan merupakan proses pengembangan pribadi atau watak manusia.

    Sebagai suatu sistem, pendidikan mencakup unsur-unsur (elemen, komponen): (1) pendidik: subjek yang memberikan bimbingan, pesan, nilai-nilai, pongaruh atau pengetahuan; (2) peserta didik: manusia muda yang belum dewasa, sebagai masukan bahan mentah (raw input); (3) tujuan pendidikan: ke arah mana manusia muda itu akan dibawa / dibimbing atau akan dijadikan apa, sebagai keluaran, hasil atau lulusan (output): (4)materi pendidikan:nilai-nilai, pesan, pengaruh atan pengetahuan yang akan ditanamkan, (5) proses pendidikan interaksi antara pendidik dan peserta didik; (6) sarana-prasarana pendidikan: kurikulum, metode, model, pendckatan, media, pusat sumber belajar yang dimanfaatkan (instrumental input); dan (7) tempat atau lingkungan pendidikan: di mana bimbingan itu dilaksanakan (invironmental input).

    Demikian juga dengan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi harus mengerti dan memahami tentang hakikat kependidikan. Banyak kalangan menyatakan bahwa  masalah utama yang dihadapi pendidikan kita saat ini adalah kesenjangan dalam kualitas pendidikan antara kawasan perkotaan dan pedesaan, termasuk antara sekolah negeri dan swasta. Selain itu masalah tersebut erat kaitannya dengan anggaran. Sejauh ini, pemerintah telah mengalokasikan anggaran sebesar 20 persen dari dana APBN untuk sektor pembangunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS), membuktikan bahwa pada tahun ajaran 2021/2022,  jumlah ruang kelas yang rusak ringan atau sedang mencapai 60,60 persen pada jenjang SD, 53,30 persen ruang kelas pada jenjang SMP, dan 45,03 persen pada jenjang SMA. Begitu juga dengan Kurikulum Merdeka Belajar berbasis teknologi digital yang diimplementasikan oleh Menteri Pendidikan, Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Makarim pada akhirnya menimbulkan  masalah kompleks. Belum lagi ditambah dengan Project Merdeka Mengajar (PMM) maupun E-Kinerja yang pada akhirnya berujung  menimbulkan pro kontra di kalangan guru. Jika dikaji dengan lebih mendalam Kurikulum Merdeka sesungguhnya merupakan Kurikulum Prototype yang dirancang untuk mengatasi learning loss dimasa Covid-19.  Kurikulum Merdeka diterapkan di hampir semua sekolah dengan cara yang kurang tepat. Apalagi di masa normal sekarang ini kebali ke tatap muka jauh lebih urgen apabila dibandingkan dengan sistem Platform Merdeka Mengajar. Perlu dikaji serta dikethaui bahwa agar sekolah dan para guru  mampu mengimplementasikan Kurikulum Merdeka harus melalui persiapan yang matang. Imbas dari “ketergesa-gesaan” dalam implementasi kurikulum adalah dicabutnya label “Guru Penggerak” dimana bisa memicu  konflik dikalangan guru. Dengan kondisi telah dicabutnya label “Guru Penggerak” pada akhirnya menurunkan citra serta wibawa Menteri melorot dimata publik. Karena itu hakikat jiwa kependidikan penting dimiliki oleh seorang menteri yang menjabat dibidang Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.

    Kita aberharap apabila kelak dilakukan pergantian Menteri khusunya di bidang pendidikan harus benar-benar memiliki jiwa kependidikan yang kuat.

     

     

    Reformasi Pendidikan

     

    Reformasi pendidikan di masa kepemimpinan Prabowo-Gibran perlu dilakukan dengan melakukan evaluasi dengan komprehensif terhadap bidang pendidikan kita. Pada bulan Oktober 2024 merupakan awal memulai masa pemerintahan untuk 5 tahun ke depan. Belajar dari kepemimpinan terdahulu harus melnjadi titik awal  untuk mereformasi sistem pendidikan nasional. Selain merekrut Mendikbud Ristek yang memiliki jiwa kependidikan yang kuat juga harus berpengalaman dalam dunia pendidikan. Tidak nhanya itu juga memiliki visi yang kuat untuk menjadikan sector pendidikan kita ke arah yang lebih dan tangguh. Dimasa depan tantang pendidikan yang semakin kompleks dan dinamis para generasi muda harus dipersiapkan menjadi masyarakat digital yang memiliki daya saing kompetitif. Pembangunan pendidikan yang merata diperlukan untuk mempersiapkan kualitas SDM menuju bonus demografi dan Indonesia Emas harus benar-benar diperhatikan. Saat ini merupakan era transformasi teknologi dan sosial, semua pihak dituntut untuk mampu menghadapi situasi global. Kemampuan menghadapi situasi global secara signifikan akan memperlkuat kemandirian bangsa. Kita harus menperkuat serta nmempertajam visi pendidikan bahwa kunci utama kemajuan negara berada pada SDM berkualitas.

    Dimasa transisi kepemimpinan saat ini situasi yang aman dan damai  harus menjadi dasar utama serta mengakui hasil-hasil Pemilu.  Transisi kepemimpinan 2024  tidak bisa dianggap sebagai hal yang biasa-biasa saja dalam demokrasi. Demokrasi merupakan suatu pengejewantahan yang lebih bermartabat yakni pembelajaran kaya makna. Program pendidikan yang difokuskan adalah program penguatan teknologi dan pengembangan SDM unggul harus didukung oleh semua pihak. Memanfaatkan bonus demografi tidak cukup hanya dengan penguatan ekonomi. Dibutuhkan transformasi penguatan SDM generasi muda. Selain fokus pada pendidikan, kualitas SDM perlu ditingkatkan dengan cara membangun sikap kepedulian, kapasitas manajemen dan manajemen pengetahuan. Inovasi pengembangan teknologi, baik teknologi sederhana maupun teknologi tinggi, diarahkan pada penguatan kemandirian. Hal tersebut mencakup transfer pengetahuan terhadap teknologi terkini. Kita sebagai bangsa yang memiliki bonus demografi harus mampu mengelolanya menjadi potensi besar serta menjadi kekuatan bangsa. Segala sumber daya, pengetahuan, dan warisan pembangunan yang ada saat ini adalah modal utama yang harus kita kelola dengan cara lebih professional. Selain itu membangun soliditas dan sinergitas dengan seluruh komponen bangsa merupakan pilar penting dalam membangun SDM bangsa. Intinya adalah menyatukan kekuatan dari berbagai sisi elemen bangsa  dengan lebih sinergis menjadi bangsa yang kuat dan tangguh dalam mewujudkan Indonesia Maju dan Indonesia Emas 2045.

     

    Guru Sehajtera SDM Meningkat

     

    Persoalan guru memang tidak pernah sepi dari perdebatan. Tatkala mutu pendidikan menurun atau mengalami sedikit penurunan yang disalahkan selalu guru. Padahal dalam mendidik maupun meningkatkan mutu SDM banyak faktor yang harus diperhatikan. Guru merupakan pondasi utama dalam mencerdaskan bangsa. Karena itu martabat dan kesejahteraan guru wajib diutamakan para pemimpin bangsa ke depan termasuk Prabowo-Gibran. Kita juga berharap kepemimpinan Prabowo-Gibran focus bekerja untuk kesejahteraan guru.  Guru memiliki peran vital dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Peningkatan kualitas SDM sangat erat dengan kualitas dan kemampuan dari guru. Program kerja Asta Cita Prabowo-Gibran, peningkatan kesejahteraan guru termasuk ke dalam Asta Cita 4, yakni memperkuat pembangunan SDM, sains, teknologi dan pendidikan. Dalam, Asta Cita 4 terebut Prabowo – Gibran memiliki keinginan kuat untuk kesejahteraan guru melalui empat program, yakni pertama menyediakan beasiswa bagi putra putri petani, nelayan, guru dan buruh untuk melanjutkan jenjang pendidikan S1 hingga S3. Kemudian memberlakukan upah minimum pada kategori guru swasta, PAUD, madrasah, dan yayasan. Ketiga, meningkatkan kesejahteraan dosen, peneliti, penyuluh dan seluruh tenaga pendidik. Karena itu untuk mendapatkan guru berkualitas, kesejahteraan guru harus tercukupi.

    Demikian halnya dengan pentingnya penyesuaian kurikulum dengan kebutuhan industri saat ini.Pentingnya pengembangan keterampilan baru terhadap lulusan baru, sehingga mereka dapat lebih siap menghadapi dunia kerja. Penyesuaian kurikulum pendidikan berdasarkan minat siswa sangat pentig dilakukan. Sebab mereka para angkatan kerja baru dapat mengejar karier sesuai dengan minat dan kemampuannya.

    Memberikan keberpihakan terhadap generasi milenial dalam mendukung ide kreatif mereka dapat mendorong pertumbuhan bisnis dan inovasi. Melahirkan SDM unggul tidak bisa dilepaskan dari sosok guru. Peran dan fungsi guru menjadi sentral. Namun sayangnya, sosok yang melahirkan generasi hebat dan unggul ini hanya dituntut kewajiban dan tanggung jawab­nya mencerdaskan anak bangsa, tanpa diapresiasi dengan perlakuan baik yang menyejahterakan lahir dan batinnya. Guru dibebani harus melahirkan ge­nerasi hebat. Keberhasilan seorang pe­serta didik selalu mutlak menjadi tang­gung jawab guru, meski nyatanya hanya berperan beberapa jam di lingku­ngan sekolah. Belum lagi, guru harus menda­patkan perlakuan tidak elok dari murid. Bahkan sering berhadapan dengan hukum.

    Tingkat kesejahteraan guru sangat berhubungan erat de ngan kualitas dan profesionalitas guru. Apabila kesejah­teraan guru belum bisa penuhi, sulit men­jadikan profesional. Pemaknaan kesejahteraan harus diperluas oleh pemerintah. Kesejah­teraan bukan saja dalam bentuk uang, tapi bentuk lainnya baik BPJS, ke­tenagakerjaan maupun kesehatan, sehing­ga guru-guru memiliki pegangan terutama untuk mem­berikan rasa aman.

    Program PPG Prajabatan dan PPG Dalam Jabatan jika dianalisis lebih lanjut merupakan program yang bagus. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru di Indonesia. PPG Prajabatan ditujukan bagi lulusan pendidikan yang ingin menjadi guru, sementara PPG Dalam Jabatan ditujukan bagi guru yang sudah bekerja.  Kedua program ini memberikan pendidikan tambahan dan pelatihan intensif kepada para calon guru dan guru yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam mengajar dan membimbing siswa.

    Dengan meningkatkan kualitas pendidikan profesi guru, diharapkan kualitas pembelajaran di sekolah-sekolah juga akan meningkat, dan siswa akan lebih siap menghadapi tantangan di era globalisasi dan revolusi industri 4.0. Program-program ini memberikan kesempatan bagi para guru dan mahasiswa untuk mengembangkan potensi mereka, mengikuti perkembangan zaman, dan menjawab tuntutan masa depan.  Dengan melibatkan semua pihak terkait, baik pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dan masyarakat, diharapkan program-program ini dapat memberikan dampak yang signifikan dalam mencapai Indonesia Emas 2045. Untuk mencapai hasil yang optimal, diperlukan komitmen yang kuat dari semua pihak terkait, pengawasan yang ketat, serta pengalokasian sumber daya yang memadai.  Dalam era yang semakin kompleks dan berubah dengan cepat, investasi pada pengembangan SDM menjadi sangat penting.

    Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan perlu terus mendorong kolaborasi yang kuat antara berbagai pemangku kepentingan, mengadopsi inovasi dalam pendidikan, serta mengawal implementasi program-program prioritas tersebut dengan baik.

    Dengan komitmen bersama dan upaya yang sinergis, Indonesia dapat menghadapi masa depan dengan SDM yang tangguh, berdaya saing serta  lebih siap menghadapi tantangan global di era Indonesia Emas 2045.

    Benni Setiawan, (2019) pernah menyatakan bahwa saat guru sejahtera, bangsa Indonesia akan berdaulat.  Matthew G Springer and Catherine D Gardner (2010) dalam Teacher Pay for Performance: Context, Status, and Direction yang menyebut bahwa gaji yang layak merupakan sebuah keniscayaan dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh sejauh mana pemerintah melakukan penggajian yang layak untuk mereka.  Penelitian Mohammad Zulfikar, Arif Darmawan, Edy Sutrisno (2014) menunjukkan bahwa gaji yang layak (melalui sertifikasi), menjadi guru bersemangat dalam proses belajar mengajar. Bahkan dengan itu, guru semakin bersemangat dalam mengajar dan meningkatkan mutu/kualitas pembelajaran.  Kampanye kesejahteraan guru yang menjadi agenda Pilpres dan Pilkada 2024 harus terus disuarakan. Guru berhak mendapat gaji yang layak sesuai dengan profesionalismenya.

    Dengan demikian jiwa kependidikan yang kuat akan menjadi kunci kemajuan pendidikan di masa depan. Semoga kepemimpinan Prabowo-Gibran 2024-2029 kelak mampu menempatkan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi yang benar-benar memiliki jiwa kependidikan yang kuat. Semoga bermanfaat. (*****)

     

    Rujukan:

     

    1.     ______, (2000). Pendidikan Nasional sebagai Wahana: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, Membangun Peradaban Negara-Bangsa.Jakarta: CINAPS.

    2.     Ani M.Hasan. (2003). Pengembangan Profesionalisme Guru di Abad Pengetahuan http://pendidikan.net/. diakses 13 Juli 2003

    3.     Arifin, I. (2000). “Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era Globalisasi”. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Malang, 25-26 Juli 2001.

    4.     Faujiah, S., Syaifudin, M., & Andriani, T. (2023). Implementasi Manajemen Strategi dalam Lembaga Pendidikan. Jurnal Ekonomi Manajemen Sistem Informasi, 4(3), 641–650.

    5.     Silitonga, D. (2019). Komparasi Perencanaan Strategis (Renstra) Kemendikbud dan SMA Negeri 68 Jakarta Berdasarkan Analisis Teori. Esensi: Jurnal Manajemen Bisnis, 22(2).

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *