“Guru Hebat”  dan  Era Society 5.0

JAMBI45 Dilihat

Oleh: Nelson Sihaloho

 

ABSTRAK

 

Banyak seminar dilakukan oleh berbagai lembaga pendidikan atau kalangan praktisi tentang “guru hebat”. “How To Be A Great Teacher” (bagaimana menjadi guru yang hebat). Pendidikan dewasa ini merupakan hak mendasar di dalam nilai kehidupan manusia. Pendidikan tidak hanya berperan menciptakan generasi muda sebagai agent of change juga membawa perubahan. Selain itu generasi muda harus bisa menjadi agent of producer yang mampu menciptakan perubahan yang nyata.

Sebagaimana kita ketahui bahwa revolusi industri 4.0 telah mengubah hidup dan kerja manusia secara fundamental. Berbeda dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri generasi ke-4 ini memiliki skala, ruang lingkup dan kompleksitas yang lebih luas. Kemajuan teknologi baru yang mengintegrasikan dunia fisik, digital dan biologis telah mempengaruhi semua disiplin ilmu, ekonomi, industri dan pemerintah. Bidang-bidang yang mengalami terobosoan berkat kemajuan teknologi baru diantaranya (1) robot kecerdasan buatan (artificial intelligence robotic), (2) teknologi nano, (3) bioteknologi, dan (4) teknologi komputer kuantum, (5) blockchain (seperti bitcoin), (6) teknologi berbasis internet, dan (7) printer 3D (Schwab, 2017). Demikian juga dalam pendidikan atau pembelajaran munculanya “guru penggerak” dimana telah memasuki pendaftaran “Angkatan ke 10”. Banyak kalangan berharap  “Guru Penggerak” menjadi lokomotif penggerak pendidikan di masa depan yang mampu menelurkan embrio generasi unggul. Bukan hanya sebatas “slogan” namun benar-benar menunjukkan aksi nyata dilapangan. Guru Penggerak yang masih muda-muda diharapkan memanfaatkan peluang tersebut sebaik mungkin serta harus mempu membuktikan kualitas dirinya sebagai Guru Penggerak. Label Guru Penggerak hendaknya menjadi bekal untuk menghadapi era Society 5.0 sebagai “guru hebat”. Tentunya akan semakin banyak tantangan dan perubahan yang harus digadapi dalam menghadapi Era Society 5.0. Tidak menutup kemungkinan label “Guru Penggeral” bisa jadi tidak menjadi jaminan akan sukses menjadi guru professional. Karena itu pendidikan sebagai gerbang utama dalam mempersiapkan SDM unggul tentunya membutuhkan  guru-guru profesinal ataupun “guru-guru hebat”.

Kata kunci: guru hebat, era society 5.0

 

SDGs dan Era Society 5.0

 

Di dunia Internasional, kualitas pendidikan di Indonesia berada pada peringkat ke-64 dari 120 negara diseluruh dunia sebagaimana berdasarkan laporan tahunan UNESCO Education For All Global Monitoring Report 2012.

Sedangkan berdasarkan Indeks Perkembangan Pendidikan untuk Semua (Education for All Development Index, EDI) Indonesia berada pada peringkat ke-57 dari 115 negara pada tahun 2015. Dalam laporan terbaru program pembangunan PBB tahun 2015, Indonesia menempati posisi 110 dari 187 negara dalam Indeks

Pembangunan Manusia (IPM) dengan angka 0,684. Berpijak pada angka tersebut Indonesia masih tertinggal dari dua negara tetangga ASEAN yaitu Malaysia (peringkat 62) dan Singapura (peringkat 11). Merujuk pada hal itu maka tujuan pendidikan akan menjadi tumpuan upaya pemerintah untuk mendorong pencapaian tujuan dan sasaran pembangunan berkelanjutan dalam era Sustainable Development Goals (SDGs) hingga 2030 berdasarkan arahan dari Forum PBB yang telah disepakati pada tanggal 2 Agustus 2015 silam. Peningkatan pendidikan bagi masyarakat Indonesia akan memacu pencapaian terhadap tujuan dan sasaran lainnya dalam 17 poin SDGs, terutama untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia Indonesia. Diharapkan peran pendidikan mampu meningkatkan daya saing Indonesia dalam mendukung SDGs 2030 termasuk dalammenghadapi bonus demografi. Demikian juga dengan era super smart society (society 5.0) yang diperkenalkan oleh Pemerintah Jepang pada tahun 2019. Hal tersebut dilakukan sebagai antisipasi dari gejolak disrupsi akibat revolusi industri 4.0, yang menyebabkan ketidakpastian yang kompleks dan ambigu (VUCA). Dikhawatirkan invansi tersebut dapat menggerus nilai-nilai karakter kemanusiaan yang dipertahankan selama ini.

Menghadapi era society 5.0, dunia pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas SDM. Selain pendidikan beberapa elemen dan pemangku kepentingan seperti pemerintah, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan seluruh masyarakat juga turut andil dalam menyambut era society 5.0 mendatang. Untuk menghadapi era society 5.0 tersebut maka satuan pendidikan harus melakukan perubahan dalam paradigma pendidikan.

Pendidik meminimalkan perannya sebagai learning material provider, pendidik menjadi penginspirasi terhadap tumbuhnya kreativitas peserta didik. Selain itu pendidik berperan sebagai fasilitator, tutor, penginspirasi dan pembelajar sejati yang memotivasi peserta didik untuk “Merdeka Belajar”. Kita berharap bahwa merdeka belajar akan menciptakan pendidikan berkualitas untuk seluruh rakyat Indonesia. Untuk menghadapi era society ada dua hal yang harus dilakukan yakni adaptasi dan kompetensi.

Society 5.0 adalah masyarakat yang dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era revolusi industri 4.0. Society 5.0 merupakan sebuah konsep masyarakat yang berpusat pada manusia dan berbasis teknologi.

Pembelajaran abad 21 dan substansinya harus diimplementasikan terhadap siswa sehingga mereka memiliki mindset dan soft skill yang mampu menjawab tantangan di masa depan. Salah satu diantaranya adalah pendidikan vokasi.

Pendidikan vokasi menjadi bagian integral  penting dari sistem pendidikan nasional selain memiliki peran  strategis diharapkan mampu mewujudkan SDM  maupun menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas. Paradigma dalam pendidikan juga harus diubah, termasuk pendidikan vokasi dengan industri harus berubah. SMK-SMK di Indonesia  tidak menyiapkan lulusan sendirian dan industri tidak sebagai penerima lulusan saja. Namun keduanya dapat bersinergi dengan aktif sehingga sinkronisasi lulusan SDM sesuai  dengan kebutuhan industry.

 

“Guru Hebat” dan Keterbatasan Kemampuan

 

Tren Guru Penggerak sebagai terdepan dalam sistem pendidikan di Indonesia kini menimbulkan dikotomi serta semakin memperlebar jurang antara guru-guru senior dengan guru-guru muda berlabel “Guru Penggerak”. Kondisi dan cara pandang dalam pendidikan akhirnya memunculkan persepsi yakni “activating event”.   Activating event dimaknai sebagai kondisi di mana cara pandang/pespektif yang dimiliki seseorang selama ini ternyata mengandung keterbatasan, kelemahan dan kekurang-akuratan. Termasuk dalam apersi pada peserta didik ataupun murid memunculkan hal berbeda.

Apersepsi dalam pembelajaran secara umum adalah menghubungkan pengalaman peserta didik dengan materi yang akan disampaikan sehingga pengolahan kesan lebih luas. Agar mampu menghubungkan pengalaman peserta didik dengan materi yang akan disampaikan sehingga pengolahan kesan lebih luas seorang guru harus atraktif. Atraktif diartikan seorang “Guru Penggerak” memiliki daya tarik tertentu atau kegiatan yang menyenangkan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Selain itu guru juga mampu mendorong atau membimbing siswa untuk belajar mandiri. Belajar mandiri adalah memberikan kebebasan kepada generasi milenial untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai, merencanakan strategi yang dilakukan, mengatur diri sendiri serta mengevaluasi kinerja yang dilakukan.

Dalam kegiatan belajar mandiri para murid tentu harus mampu menilai capaian belajar. Capaian Belajar adalah tujuan dari sebuah pembelajaran berkaitan dengan apa yang hendak diketahui, dipahami dan dapat dikerjakan oleh peserta didik setelah dapat menyelesaikan tugas belajarnya. Tugas belajat yang diberikan terhadap murid harus bersifat mendidik atau edukatif. Edukatif ialah segala sesuatu yang sifatnya mendidik dan memberikan pelajaran terhadap murid. Nilai-nilai pembelajaran edukatif yang diberikan terhadap murid harus mempunyai efek pengiring. Efek pengiring adalah aspek penting dalam pembelajaran dan terbukti mampu meningkatkan kemampuan dan perubahan sikap serta karakter generasi milenial ke arah yang lebih konstruktif. Tindakan bersifat konstruktif yang diakukan juga harus mampu mengeksplorasi murid.

Eksplorasi ialah tindakan untuk mencari sesuatu dengan tujuan tertentu.

Guru Penggerak harus mampu menjadi fasilitator belajar.  Fasilitator belajar ialah seseorang yang bertugas memfasilitasi pembelajaran yang berlangsung pada diri peserta didik sehingga mereka memperoleh pengalaman belajar yang nyata dan otentik. Seringkali kita melihat dan mendengar dalam seminar-semnar tentang guru adaptasi pembelajaran sesuai dengan perkembangan zaman. Seperti dimasa pandemic Covid 19 yang berkembang adalah work frame home (WFH) maupun Flexible Learning. Model flexible learning adalah salah satu alternative belajar untuk generasi milenial dengan berbasis teknologi pembelajaran.

Bahkan dalam implementasi kurikulum merdeka (IKM), Lokakarya Guru Penggerak, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) sering dilakukan rehat dengan metode “Ice breaking”. Ice breaking adalah strategi pemecah ketegangan belajar untuk membangun suasana belajar yang menyenangkan biasanya dilakukan dengan bernyanyi atau melakukan permainan ringan. Dimasa era kepemimpinan Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim,

Guru Penggerak harus mampu menjadi katalisator perubahan.  Katalisator adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya suatu perubahan dan kejadian yang baru. Maka pembelajaran yang diterapkan banyak berfokus pada pembelajaran berbasis kehidupan (Life Based Learning). Life Based Learning adalah Pembelajaran berbasis kehidupan yang berfokus pada belajar dari seluruh kehidupan seseorang pada setiap detik waktu dan sumber belajar itu sendiri.

Termasukmodel-model pembelajaran lainnya yakni pembelajaran transformative. Pembelajaran transformative  adalah pembelajaran yang menghasilkan perubahan mendasar pada diri generasi milenial.  Begitu juga dengan sistem belajar kolaboratif online penting diterapkan oleh para guru.

Sistem belajar kolaboratif online adalah sistem belajar dengan cara yang cepat, mudah dan dapat diakses dari berbagai tempat dan tidak terbatas sehingga memberikan kenyamanan dalam belajar.

Karena itu Guru-Guru Penggerak harus mampun mentransfer pengetahuan dengan baik terhadap murid.  Transfer pengetahuan merupakan proses belajar dari satu orang dan diberikan kepada orang lain berdasarkan pengalaman yang sudah didapatkan.

Demikian juga dengan masa perkembangan revolusi industry 4.0 terjadi banyak perubahan dalam pekerjaan maupun dalam bidang lainnya. Revolusi industri generasi empat tidak hanya menyediakan peluang, tetapi juga tantangan bagi generasi milineal (Fatmawati, 2018; Marsudi & Widjaja, 2019). Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pemicu revolusi indutri juga diikuti dengan implikasi lain seperti pengangguran, kompetisi manusia versus mesin, dan tuntutan kompetensi yang semakin tinggi. Revolusi industri 4.0 dalam lima tahun ke depan akan menghapus 35 persen jenis pekerjaan. Bahkan pada 10 tahun yang akan datang jenis pekerjaan yang akan hilang bertambah menjadi 75 persen (Hamdan, 2018).

Hal ini disebabkan pekerjaan yang diperankan oleh manusia setahap demi setahap digantikan dengan teknologi digitalisasi program. Dampaknya, proses produksi menjadi lebih cepat dikerjakan dan lebih mudah didistribusikan dengan cara masif dengan keterlibatan manusia yang minim.

Di Amerika Serikat, misalnya, dengan berkembangnya sistem online perbankan telah memudahkan proses transaksi layanan perbankan. Akibatnya, 48.000 teller bank harus menghadapi pemutusan hubungan kerja karena alasan efisiensi. Bahkan menurut survey McKinsey, sebuah korporasi konsultan manajemen multinasional, di Indonesia sebanyak 52,6 juta lapangan pekerjaan berpotensi digantikan dengan sistem digital. Dengan kata lain, 52 persen angkatan kerja atau merepresentasikan 52,6 juta orang akan kehilangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan yang potensial diotomatisasikan diantaranya usaha pengolahan (manufaturing), perdagangan ritel, transportasi dan pergudangan, tenaga administrasi, konstruksi, layanan makanan dan akomodasi, pertanian, perikanan, dan kehutanan, serta layanan kesehatan dan keuangan/asuransi. Dengan demikian, revolusi industri dapat mengancam makin tingginya pengangguran di Indonesia. Kendati demikian, bidang pekerjaan yang berkaitan dengan keahlian Komputer, Matematika, Arsitektur dan Teknik akan semakin banyak dibutuhkan. Bidang-bidang keahlian ini diproyeksikan sesuai dengan tuntutan pekerjaan yang mengandalkan teknologi digital. Situasi pergeseran tenaga kerja manusia ke arah digitalisasi merupakan bentuk tantangan yang perlu direspon oleh para peserta didik. Tantangan ini perlu dijawab dengan peningkatan kompetensi siswa terutama penguasaan teknologi komputer, keterampilan berkomunikasi, kemampuan bekerjasama secara kolaboratif, dankemampuan untuk terus belajar dan adaptif terhadap perubahan lingkungan.

 

AKM  Akankah Mujarab?

 

Sebagaimana hasil PISA 2012  mayoritas siswa usia 15 tahun belum memiliki literasi dasar (membaca, matematika, sains) Anak-anak kita tidak akan berdaya saing bila di sekolah mereka tak dilatih Kecakapan Hidup Abad 21, misalnya: untuk membuat perbandingan, membuat penilaian data, berpikir kritis, membuat kesimpulan, memecahkan masalah dan menerapkan pengetahuan mereka pada konteks kehidupan nyata serta pada situasi yang masih asing.Hasil PISA 2012 juga menunjukkan bahwa bidang Matematika sebanyak 75% siswa Indonesia di bawah kompetensi minimum. Sedangkan Membaca 56% siswa di bawah kompetensi minimum.

Mengatasi dan solusi atas hal tersebut maka pemerintah menerapkan sistem penilaian dengan Asesmen Nasional  yakni Asesmen Kompetensi Minimum (AKM). AKM dilakukan sebagai upaya pemetaan mutu pendidikan pada seluruh sekolah, madrasah, dan program kesetaraan jenjang dasar dan menengah. Mutu diukur dengan 3 intrumen yakni  AKM, Survei Karakter dan Survey Lingkungan Belajar. AKM untuk mengukur literasi membaca dan numerasi. Adapun survey karakter untuk mengukur sikap, kebiasaan, nilai-nilai sbg hasil belajar non kognitif. Survei lingkungan belajar adalah mengukur kualitas pembelajaran dan iklim sekolah yang menunjang pembelajaran. Literasi dan numerasi perlu dilakukan? Literasi membaca dan numerasi adalah dua kompetensi minimum bagi siswa untuk belajar sepanjang hayat serta dapat berkontribusi kepada masyarakat. Menurut studi nasional dan internasional, tingkat literasi siswa Indonesia masih rendah.

Begitu juga dengan survey karakter. Pendidikan bertujuan mengembangkan potensi siswa secara utuh. Asesmen nasional mendorong mengembangkan sikap, values, dan perilaku yang mencerminkan Pancasila. Menurut Nadiem Makarim (2021)  adapun kelebihan AKM yakni tidak dilakukan berdasarkan mata pelajaran atau penguasaan materi kurikulum, tidak membedakan peminatan, siswa mendapat soal yang mengukur kompetensi yang sama. Keunikan konteks beragam materi kurikulum lintas mapel dan peminatan (ragam stimulus), penguasaan terhadap 2 kompetensi (literasi dan numerasi). Dilakukan agar sesuai dengan standar internasional seperti PISA, AKM dilaksanakan secara adaptif.

Tidak ada kisi-kisi, keberhasilan AKM tidak melalui proses drilling soal-soal. Adapun dampak AKM yakni  memperbaiki budaya belajar, tidak ada dikotomi antara mapel UN dan mapel non UN, tidak ada mapel utama dan mapel pelengkap. Tidak ada percepatan materi/bimbingan intensif dan meningkatkan proses pembelajaran. Adapun penilaian yang dilakukan adalah dengan menggunakan Asesmen Kontekstual.

Asesmen ini merujuk pada berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Adapun ruang lingkup stimulus/konteks: personal, sosial, dan global, seperti: kesehatan, pendidikan, pekerjaan, sumbar daya alam, lingkungan hidup, bencana alam, pemanfaatan sains dan teknologi. Sedangkan karakteristik asesmen kontekstual adalah REACT.

Relating terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan nyata. Experiencing: ditekankan kepada penggalian (eksplorasi),  penemuan (discovery), dan penciptaan (invention). Applying, menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.

Communication, menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah. Transfering, menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru. Dalam Asesmen Kontekstual, peserta didik mengekspresikan respons dengan konteks dunia nyata (realistis). Mengukur performansi tugas (berpikir tingkat tinggi) dan terintegrasi dengan pembelajaran. Selanjutnya pembuktian langsung melalui penerapan pengetahuan dan keterampilan dengan konteks nyata. Untuk menghadapi era Society 5.0 dibutuhkan “Guru Hebat” yang mampe menyiasati dan mengatasi segala permasalahan yang muncul di era masa depan.

Era abad pengetahuan yang identic dengan era digital menuntut guru-guru untuk bekerja lebih profesional lagi termasuk “Guru Penggerak” lebih kaya pengalaman, lebih terampil dari guru-guru senior atau “berumur” dengan berbagai model platform merdeka mengajar modernnya. Semoga bermanfaat. (******)

 

Rujukan:

  1. Angelina, P. R. (2018). Optimalisasi Bimbingan dan Konseling Karir di Era Revolusi Industri 4.0. Prosiding SNTP, 1.
  2. Hamdan, H. (2018). Industri 4.0: Pengaruh Revolusi Industri Pada Kewirausahaan Demi Kemandirian Ekonomi. Jurnal Nusantara Aplikasi Manajemen Bisnis, 3(2), 1-8.
  3. Marsudi, A. S., & Widjaja, Y. (2019). Industri 4.0 Dan Dampaknya Terhadap Financial Technology Serta Kesiapan Tenaga Kerja Di Indonesia. Ikra-Ith Ekonomika, 2(2), 1-10.
  4. Nofrion, N. (2018). Pentingnya Keterampilan Komunikasi di Era Revolusi Industri 4.0.
  5. Schwab, K. (2017). The fourth industrial revolution: Crown Business.

Komentar