50 MENIT MERAJUT ASA, GAK JADI PATAH HATI

Cerpen180 views

Hembusan nafas panjang ini tidak berhenti, bagaikan angin sepoi-sepoi di pinggir pantai…

Tetapi mentari tetap bersinar, tidak ada yang berubah, semuanya sama, sama seperti dahulu…

Bulan pun terlelap di malam hari menemani Koala yang lucu dan imut seperti bayi mungil dalam buaian…

Malam berganti pagi, pagi berganti malam, waktu pun terus berjalan tanpa henti. Roda waktu terus berputar, mengitari lintasan yang sama, tanpa mau tau arti dia melintas pada lintasan yang sama. Waktu juga tidak ingin tau apa yang kamu rasakan, yang kamu alami, yang akan terjadi padamu. Dia tetap konsisten dengan kepribadiannya sebagai pemberi petunjuk, petunjuk terang dan gelap.

 

Suara gas motor mulai menyala pukul 6 pagi, siap melakukan perjalanan menuju tempat pencarian jati diri. Brum…brum, motor pun siap berangkat. “Hati-hati di jalan ya Ibu,” teriak suara nyaring dari balik meja makan, sambil melambaikan tangan mungilnya. “Iya sayang, Ibu pergi dulu ya, sampai ketemu nanti sore ya sayang,” jawabku sambil berlalu. Motor pun meluncur dengan gesitnya menuju Kabupaten Mekar. Begitulah setiap hari rutinitas yang dilakukan Cahaya, wanita tangguh usia 31 tahun, seorang istri dan seorang ibu untuk 2 orang anak laki-lakinya. Suami Cahaya bekerja di salah satu kantor BUMN di Kabupaten Suka, tidak jauh dari rumah mereka. Selain menjadi ibu rumah tangga, Cahaya juga seorang wanita karir yang bekerja di perusahaan industri di Kabupaten Mekar yang merupakan kantor cabang dari Kabupaten Suka. Cahaya seorang pekerja komuter atau penglaju dari Kabupaten Suka ke Kabupaten Mekar. Perjalanan ke kantor cabang perusahaan Kabupaten Mekar ditempuh Cahaya sekitar 50 menit.

 

Aduh..aw..aw..sakit,“ rintihku sambil menggerakkan motor ke tepi jalan. “Ya ampun, celanaku sobek, gimana ke kantor kalau begini?” “Ah… sudahlah, kepalang tanggung balik ke rumah, perjalananku sudah sangat jauh, sudah 45 menit aku lalui,” ucapku sambil bergegas mengendarai motor. Tidak ada satu orang pun yang melihatku jatuh, kebetulan pula tidak ada motor dan mobil yang melintas. Padahal biasanya motor, truk, bahkan puso sering melintasi jalan ini bersamaku di pagi hari. Perjalanan ini menjadi taruhan nyawaku setiap hari, melewati mobil, truk, apalagi kalau sudah musim hujan tiba, aku harus berjuang untuk sampai di kantor. Beberapa daerah yang sering kulewati jalannya jelek dan berlubang-lubang, sehingga tak jarang kecelakaan terjadi, kali ini aku lagi apes. Saat menghindari lubang, tanganku tiba-tiba tidak stabil, sehingga aku pun terjatuh. Tapi aku masih bersyukur karena luka jatuh yang aku alami tidak parah, hanya goresan sedikit.

“Hai mba…loh celana mba kenapa sobek?” sapa Meta. Meta salah seorang staf personalia pada divisi yang aku pimpin. “Iya nih Meta, mba lagi kena apes, tadi mba di jalan jatuh,” ucapku. “Tapi mba ga apa-apa kan? Istirahat dulu mba, ntar aku cariin betadin ya mba,” balas Meta menjawabku.

 

Aku pun berpamitan pada pimpinan untuk izin pulang lebih cepat dari biasanya, waktu masih menunjukkan pukul 3 sore. Aku pun perlahan-lahan mengendarai motor, karena kakiku sedikit ngilu. Kalau sudah seperti ini, pikiranku mulai galau, gundah gulana. Hati mulai sensitif, emosi dan rasa marah mulai menghampiri. Batinku menjerit, dada terasa sesak, nafas tak karuan, bukan seperti angin sepoi-sepoi lagi, tapi sudah seperti angin puting beliung yang berputar ke sana ke mari. “Tuhan sampai kapan aku seperti ini, sampai kapan takdirku seperti ini, sudah 5 tahun, lelah… lelah… aku capek Tuhan,” bathinku menjerit. Sempat terlintas di benakku saat jatuh tadi, bagaimana jika ada mobil yang menabrakku dan jika sampai Tuhan memanggilku, bagaimana dengan anak-anakku? Sebegitu pentingkah pekerjaan ini? Apakah pimpinan perusahaan tidak mempertimbangkan keselamatanku, keluargaku, kehidupanku? Semua terenggut begitu saja, perjalanan ini mondar-mandir seperti layangan yang ditarik ulur tanpa henti. Selama ini, pekerjaanlah yang terpenting, aku merasa hidupku hanya untuk waktu bekerja, sementara waktu tidak mau tau apa yang kurasakan. Tiba-tiba, aku tersentak, dan kutepis semua keluh kesahku tadi. “Oh Tuhan, ampuni hambaMu ini, hanya bisa mengeluh,” bisikku dalam hati. Memang masa emas anak-anakku kulewatkan selama 5 tahun, mereka berada dalam pengawasan ayahnya, sementara ayahnya juga harus bekerja. Lelahnya harus berbagi mengurus rumah, mengurus anak-anak, mengantar dan menjemput sekolah, memberikan sarapan pagi, makan siang dan mengantar les privat untuk belajar. Sementara aku harus stay di kantor cabang Kabupaten Mekar dari jam 7 pagi sampai jam 5 sore, sampai di rumah sudah sekitar jam 6 sore. Ketemu anak-anak hanya 2 jam. Setiap jam 8 malam, mereka sudah terlelap, karena mereka besok harus sekolah. Jodi anak pertamaku kelas 3 SD dan Franki anak keduaku kelas 1 SD. Anak-anakku harus belajar privat dengan seorang guru, karena aku tidak punya waktu membantu mereka dalam belajar. Terkadang aku berfikir, bagaimana jika anak-anakku lebih sayang sama ibu gurunya dibanding ibunya sendiri. Miris, memprihatinkan, dadaku terasa sesak bila mengingat semua itu. Satu hal yang menguatkanku, aku selalu berdoa kepada Sang Pemberi Kehidupan supaya keluarga kecilku selalu dilindungi olehNya.

Perjalanan menuju rumah masih jauh. Perlahan pandanganku semakin kabur. Kabut menyelimuti kaca helm, meski cuaca sedang cerah. Seketika helm kubersihkan dengan sebelah tanganku sambil meyakinkan air mataku tidak menetes lagi. ”Oh Tuhanku, izinkan aku kembali ke Kabupaten Suka, berkerja, berkarya dan berbakti pada kantor pusat di Kabupaten Suka” “Oh Tuhanku, apakah aku salah jika aku berharap lebih kepadaMu, apakah aku masih layak dan pantas di hadapanMu?” pintaku dalam hati. Kuseka air mata ini, kukuatkan hati ini, ku selimuti hati yang perih dan pedih ini, walaupun orang tidak tau apakah aku bahagia, atau bersedih.

 

“Tin tin tin… bunyi klakson menggema di rumah mungilku. “Yeay… ibu pulang, ibu pulang, abang, abang, abang, ibu pulang,” teriak Franki, sambil menyambutku dan membukakan pintu gerbang buatku. Tanpa basa-basi, setelah motor kuparkirkan, aku langsung duduk bersama anak-anak, kupeluk kedua anakku erat-erat, sambil berkata, “bagaimana kabarnya hari ini? makan apa hari ini? apakah sekolahnya berjalan lancar? apakah ada yang mau cerita?” Ayah pun menghampiri kami dan memberikan air putih kepadaku, “Ibu, minum dulu, Ibu sudah lelah dalam perjalanan,” ujar ayah. Belum sempat Franki bercerita, Jodi bertanya, “Ibu jatuh ya? celana Ibu sobek, kaki Ibu luka?” “Iya Nak, tadi Ibu jatuh di jalan menuju kantor, tapi hanya luka ringan kok bang “jawabku tersenyum sambil membelai wajah Jodi dan Franki. Walaupun aku sedang sakit atau bersedih, aku tetap menunjukkan raut wajah bahagia bila di depan anak-anakku. Aku tidak ingin melihat mereka ikut bersedih. “Ibu ga usah kerjalah, biar Ibu ga jatuh. Ibu teman Franki aja ga kerja,” celoteh Franki. “Ga dibolehin bos kantor Ibu dek,” balas Jodi. “Bos kantor Ibu, jahat! ga sayang sama Ibu!” pekik Franki. “Kalau Ibu ga kerja, kan enak, Ibu bisa ngantar adek ke sekolah, sama kayak teman adek, teman adek diantarin sama Ibunya. Ibu juga bisa masak kue donat, pisang crispy kesukaan adek, adek juga ga usah les, belajarnya sama Ibu saja, bosan les terus,” tambah Franki. “Iya sayang, kalau Ibu libur kerja, kita masak kue kesukaan adek ya,” ucapku lirih. “Adek, Ibu kan lagi sakit, kita bawa Ibu berobat yuk, biar Ibu cepat sehat!” ungkap ayah mengalihkan pembicaraan Franki. “Lain kali, Ibu harus lebih berhati-hati ya Bu, Ibu harus fokus, jangan terlalu memikirkan kami di sini, Ayah bisa kok menjaga anak-anak. Dukungan dan kasih sayang suami sangat menguatkanku saat ini. “Terima Kasih Ayah,” balasku dengan senyuman.

 

5 bulan kemudian…

 

“Mba… mba Cahaya, dipanggil bapak,” ucap Meta. “Ada apa Meta?” tanyaku penasaran. “Gak tau mba, tadi bapak berpesan supaya mba ke ruangan beliau, segera ya mba,” tambah Meta. “Ok… ok,” jawabku, sambil berlari menuju ruangan pak Doni, pimpinan di perusahaan kami. “Silahkan duduk Cahaya!” kata pak Doni. Aku pun duduk dengan perlahan-lahan, tanpa bersandar, dan badanku tegak lurus, seperti tiang listrik di tepi jalanan. Pikiranku sedikit bertanya-tanya, tidak biasanya pak Doni memanggilku jam 8 sepagi ini. Kalau kuingat-ingat, tagihan pekerjaan bulan ini sudah aku selesaikan, tidak mungkin mendapat teguran. Biasanya pak Doni memanggil manajer pasti terkait pekerjaan yang sudah deadline, tetapi masih belum rampung. “Tapi sepertinya enggak deh,” batinku berbisik. Dan setelah kuamati wajah pak Doni berbeda, tidak seperti biasanya.

 

“Cahaya, sebenarnya Bapak kepengen kamu tetap bekerja di kantor cabang ini, kamu andalan Bapak, selama ini Bapak sebagai pimpinan merasa bangga dengan prestasi kerja dan dedikasi yang kamu berikan untuk kantor cabang kita. Piagam-piagam perhargaan yang telah kamu kumpulkan dari kantor Pusat, sangat membuat Bapak bangga. Setiap pertemuan direksi di kantor pusat, kamu juga menjadi bahan pembicaraan, karena kamu sebagai manajer mampu melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Bagaimana menurut kamu?” tanya Pak Doni. “Maksudnya apa ya pak? saya belum mengerti pertanyaan bapak,” tanyaku kepada pak Doni.

 

“Kamu wanita hebat Cahaya, walaupun kamu bekerja di kantor cabang ini, dan rumah kamu jauh di Kabupaten Suka, tapi kamu seorang pekerja yang disiplin, pukul 7 pagi sudah berada di kantor, sementara teman-teman kamu yang tinggal di sini, datang ke kantor masih ada yang terlambat. Kamu memang tidak pernah berubah dalam bekerja, kamu konsisten dan professional. Jika kamu harus pindah dari kantor cabang ini, bapak berharap kamu tetap mempertahankan kinerja yang selama ini telah kamu bangun. Mungkin saatnya kamu akan bekerja dan berkarya di tempat lain. Ini surat penugasan kamu yang baru dari kantor pusat, mulai bulan depan, kamu tidak lagi bekerja di kantor ini, tetapi kamu akan bekerja di kantor pusat Kabupaten Suka. Selamat ya!” ucap pak Doni. “Hah…Apakah itu benar pak?” tanyaku ke pak Doni, dadaku terasa deg-degan, dan seolah tak percaya, spontan wajahku berseri-seri rasa tak percaya. Selama ini, aku memang berharap, direksi di kantor pusat bisa menugaskanku kembali di kantor pusat, sehingga aku tidak jauh untuk bekerja dari tempat tinggalku. Sebelumnya aku seorang staf di kantor pusat, tetapi karena pimpinan menilai kinerjaku baik, maka aku dipromosikan di kantor cabang sebagai manajer. Direksi di kantor pusat juga pernah mengatakan kepadaku, bahwa ini promosi jabatan, sewaktu-waktu kamu bisa kembali bekerja di kantor pusat, dengan syarat menunjukkan kinerja terbaik di kantor cabang.

 

Setelah pak Doni memberikan surat penugasanku yang baru, aku pun mengucapkan terima kasih atas dukungan beliau selama ini kepada teman-teman di kantor khususnya kepadaku. Tak sadar, air mataku pun menetes di pipi, terharu mendengar semua ucapan pak Doni. Menurut kami, beliau merupakan sosok pimpinan yang sangat baik. “Oiya Cahaya, masih ada waktu 2 minggu lagi untuk membereskan pekerjaan kamu, tolong kamu rapikan arsip divisi kamu ya,” ucap pak Doni menambahkan. “Baik pak akan saya laksanakan,” tegasku sambil memberi hormat ke pak Doni. Pak Doni pun tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Aku pun meninggalkan ruangan beliau sambil membawa surat penugasanku yang baru. “Terima Kasih Tuhan, doa dan harapanku telah Engkau wujudkan,” ucapku. Kuhampiri teman-temanku satu persatu yang ada di kantor ini, seketika aku teringat kenangan bersama mereka, susah senang kami rasakan bersama terutama saat bekerja di lapangan. Teman-temanku di kantor cabang merupakan tim terbaik yang pernah kumiliki. Kemudian kami pun saling berpelukan, saling menguatkan, terutama Meta, Meta staf terbaikku, aku akan sangat kehilangannya.

 

Selama dalam perjalan pulang, air mataku pun kembali tak terbendung, secercah harapan yang kuimpikan, akhirnya terwujud. Banyak momen berharga sebagai Ibu 5 tahun ini terlewat begitu saja. Aku memang pribadi pekerja keras, tapi aku sadar, aku juga punya kewajiban, selain berbakti kepada suami, aku juga ingin melihat dan mendampingi momen emas tumbuh kembang anak-anakku. Aku memilih untuk tetap bekerja karena naluriku sebagai pekerja tidak bisa kuabaikan begitu saja. Aku juga ingin tetap berkarya. Suami mendukung pilihanku, dan kami berdua tetap berharap, suatu saat aku bisa kembali bekerja di kantor pusat Kabupaten Suka. Ketika hari Sabtu dan Minggu tiba, saat itulah aku menghabiskan waktu bersama keluarga kecilku, bermain dan berbagi keceriaan. Terkadang mereka protes, terutama si bungsu Franki menanyakan kenapa Ibunya jauh sekali tempat kerjanya. Aku pun saat itu hanya bisa menjelaskan, bahwa saat ini Ibunya bekerja jauh, tapi suatu saat Ibunya bisa kembali bekerja di Kabupaten Suka lagi. Dan saat yang kami nantikan itu pun tiba, harapanku kini terwujud.

 

Tin…Tin…Abang…Adek….Ibu Pulang…“Terima Kasih Tuhan, akhirnya aku sudah sampai di rumah dengan selamat,” batinku mengucapkan syukur. Seperti biasa aku dan anak-anakku saling berpelukan, saling bercerita tentang sepanjang hari ini, sambil melepaskan lelahku, aku pun mulai memberitahu mereka tentang penugasanku yang baru. Ku lihat wajah mereka sambil tersenyum. Mereka malaikat-malaikat kecilku, ucapan syukur terus kupanjatkan kepada Sang Pemberi Kehidupan ini.

“Nak…Ibu Kembali…Ibu Kembali…Ibu Kembali….” sambil kupeluk mereka erat-erat, mereka hanya terdiam saat kupeluk, dan kuucapkan lagi, “Ibu kembali bekerja di sini, iya di kantor dekat rumah kita.” Jodi, menatapku dan berkata, “benaran bu?” Ibu kembali kerja di sini? ga jauh lagi? dekat rumah kita?”  Karena suara Jodi agak keras, suami pun menghampiri kami. “Ada apa ini?” ucapnya lirih. “Ayah…Ayah,” Jodi dan Franki berteriak bersamaan, “Ibu kembali kerja di sini lagi”. Suami pun tersenyum sambil merangkulku, kami pun saling berpelukan. “Akhirnya Tuhan menjawab doa kita Bu,” ungkap suami sambil membelai kepalaku. “Iya Ayah,” ucapku bahagia.

Dan… Aku pun berbisik dalam hati,

“Berharaplah untuk hal yang baik, suatu saat, harapan itu akan datang dan menghampirimu,

jangan berubah, jangan pernah mengeluh untuk setiap tetes keringatmu, tetaplah berbuat baik, tetaplah menjadi baik, dan yakinlah bahwa kamu orang baik, karena Tuhan akan membalas setiap kebaikan dan keteguhan hatimu, ketika kamu mempunyai harapan, Tuhan akan mewujudkannya.”

 

Teruntuk cinta buat Suamiku, Roy. I Love You.

Teruntuk cinta buat malaikat-malaikat kecilku, Jodi dan Franki. I Always Love You.

Really Really Love You All…

 

With Love, Cahaya_2021

 

-Tamat-

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.