Menyiasati Ketimpangan Dalam Pendidikan

176

Oleh: Nelson Sihaloho

Rasional:
Era revolusi industri 4.0 identik dengan mengubah cara pandang kita tentang pendidikan. Perubahan tidak hanya dilakukan dengan sekadar mengubah cara pengajaran, tetapi jauh yang lebih esensial, yakni merubah cara pandang terhadap konsep pendidikan itu sendiri. Pendidikan yang dilakukan harus dapat mendorong pemberdayaan peserta didik dalam mengapresiasi pentingnya sikap humanis agar memiliki rasa peduli dan berbagi dalam suatu masyarakat. Saat ini ketimpangan mutu tentang pendidikan semakin melebar utamanya di kawasan pedesaan dengan perkotaan. Terlebih di wilayah terluar maupun wilayah terisolir yang sulit dijangkau dengan jaringan internet. Selain itu terkikisnya sikap-sikap humanis di masyarakat karena perubahan sikap individu merupakan keadaan yang sangat mengkhawatirkan. Satu sisi pembelajaran abad ke-21 menuntut peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan di bidang teknologi, media, informasi, keterampilan pembelajaran, inovasi serta keterampilan hidup dan karir. Mengutip Kemendikbud (2013), merumuskan bahwa paradigma pembelajaran abad ke-21 menekankan pada kemampuan peserta didik dalam mencari tahu dari berbagai sumber, merumuskan permasalahan, berpikir analitis dan kerjasama serta berkolaborasi dalam menyelesaikan masalah.Tantangan era globalisasi yang menyebabkan terjadinya kompetisi tenaga kerja antarnegara dengan tingkat persaingan yang semakin kompetitif. Tantangan dunia pendidikan di era revolusi industri 4.0 adalah seorang pendidik atau guru harus mampu mengubah mindset peserta didik dari memanfaatkan menjadi menciptakan. Tantangan zaman menjadikan seorang guru dituntut untuk menjadi pribadi yang tangguh. Meski masa Covid-19 belum berakhir guru harus selalu berusaha untuk mampu mengatasi setiap persoalan yang dihadapinya dalam melaksanakan tugasnya termasuk menyiasati berbagai ketimpangan yang terjadi dalam menjalankan tugas profesionalismenya.
Tantangan Beragam dan Kompleks
Kondisi dan tantangan pendisikan kita saat ini dihadapkan pada masalah mutu dan kualitas. Terlebih di masa Covid 19 ini kegiatan pembelajaran menggunakan kurikuum khusus yakni Kurikulum Darurat Masa Covid-19. Beragam dan kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh guru menjadikan potret pendidikan kita sulit diukur. Bahkan tidak bisa optimal karena banyaknya hal-hal tekhnis yang harus dikerjakan. Khusus sebagian kalangan era disruptif merupakan sebuah peluang untuk maju lebih cepat bergerak cepat seperti Program Sekolah Penggerak (PSP). Pada hal jika ditelisik secara lebih mendalam menjadi sekolah penggerak bukan semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu bertahun-tahun lamanya untuk menjadikan sebuah sekolah layak dan mumpuni sebagai sekolah percontohan. Semua stakeholders yang terkaitdi dalamnya harus benar-benar bekerja keras ulet dan tangguh untuk mewujudkannya. Kelak aka nada sekolah imbas dari hasil kerja keras itu. Kuncinya keras dulu baru aka nada hasil dari jerih payah yang telah dilakukan. Mengutip Frydenberg & Andone (2011) menyatakan bahwa untuk menghadapi pembelajaran di abad 21, setiap orang harus memiliki keterampilan berpikir kritis, pengetahuan dan kemampuan literasi digital, literasi informasi, literasi media dan menguasai teknologi informasi dan komunikasi. Kurikulum berbasis karekter dan kompetensi diharapkan mampu memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya dibidang pendidikan, dengan mempersiapkan peserta didik, melalui perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi terhadap sistem pendidikan secara efektif, efesien, dan berhasil guna. Tantangan utama revolusi industri 4.0 adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia, yang dapat mengelaborasi ilmu pengetahuan, keterampilan hidup, dan penguasaan terhadap teknologi informasi. Intinya revolusi industri 4.0 adalah mengubah cara hidup berbagai sektor kehidupan manusia salah satunya adalah bidang pendidikan. Sebuah penelitian Sukartono (2017) mengungkapkan bahwa, pendidikan mengalami disrupsi hebat sekali. Peran guru selama ini sebagai satu-satunya penyedia ilmu pengetahuan sedikit banyak bergeser menjauh darinya. Era revolusi industri 4.0 mengubah konsep kehidupan, struktur pekerjaan, dan kompetensi yang dibutuhkan di dunia pekerjaan. Sebuah survei perusahaan perekrutan internasional, Robert Walters, bertajuk Salary Survey (2018) menyebutkan bahwa fokus pada transformasi bisnis ke platform digital telah memicu permintaan profesionalitas SDM yang memiliki kompetensi yang jauh lebih maju dari sebelumnya. Menurut Rabindranath Tagore pendidikan adalah proses sosial yang berlangsung secara terus menerus dan harus dikaitkan dengan kehidupan ekonomi dan sosial masyarakat, sehingga sekolah disebut sebagai miniatur masyarakat (Samuel, 2011:1166). Tidak seharusnya pendidikan hanya berorientasi pada tujuan akhir untuk mencari pekerjaan, akan tetapi bagaimana pendidikan mengcounter pada semangat pembangunan (Guha, 2013:37). Pendidikan harus mencerahkan, bukan hanya sekadar menghasilkan pekerja untuk pabrik-pabrik kantor semata (Samuel, 2010:650). Tujuan pendidikan tidak boleh hanya terfokus untuk menghasilkan lulusan yang menguasai scientia tapi juga bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, serta membekali peserta didiknya dengan semangat kebangsaan, semangat keadilan sosial, serta sifatsifat kemanusiaan dan moral luhur sebagai warga negara agar dapat menjadi generasi yang siap menghadapi perubahan secara mental dan spiritual (Saksono, 2008: 76). Pendidikan perlu menyesuaikan diri pada situasi dimana era revolusi industri 4.0 mengubah konsep pekerjaan, struktur pekerjaan, dan kompetensi yang dibutuhkan dunia pekerjaan. Sebuah survei perusahaan perekrutan internasional, Robert Walters, bertajuk Salary Survey 2018 dalam Sukartono (2018:2) menyebutkan bahwa fokus pada transformasi bisnis ke platform digital telah memicu permintaan profesional sumberdaya manusia (SDM) yang memiliki kompetensi yang jauh berbeda dari sebelumnya. Pendidikan dituntut mampu menghasilkan lulusan SDM yang unggul dan kompeten. Pendidikan setidaknya harus mampu menyiapkan anak didiknya menghadapi tiga hal: 1.) Menyiapkan SDM untuk bisa bekerja yang pekerjaannya saat ini belum ada; 2.) Menyiapkan SDM untuk bisa menyelesaikan masalah yang masalahnya saat ini belum muncul; dan 3) Menyiapkan SDM untuk bisa menggunakan teknologi yang sekarang teknologinya belum ditemukan (Sukartono, 2018:3). Dominasi pengetahuan dalam pendidikan dan pembelajaran harus diubah agar kelak lulusan sekolah mampu mengungguli kecerdasan mesin sekaligus mampu bersikap bijak dengan memperhatikan sisi humanis-religiusnya dalam menggunakan mesin untuk kemaslahatan. Dampak lain yang muncul di era ini adalah adanya perubahan paradigma dalam kehidupan individu yang juga memiliki efek pada sektor pendidikan merupakan gejala yang tampak nyata di masyarakat. Sikap individualis pada satu sisi dapat dimaklumi sebagai cerminan kecemasan yang dialami, namun sikap ini juga mengakibatkan sikap tidak peduli kepada lingkungan dan lingkungan sosial sekitarnya (Subasman, 2019: 3). Sebagaimana Ristekdikti (2018) menjelaskan bahwa ciri-ciri era disrupsi dapat dijelaskan melalui (VUCA) yaitu Perubahan yang masif, cepat, dengan pola yang sulit ditebak (Volatility), Perubahan yang cepat menyebabkan ketidak pastian (Uncertainty),Terjadinya kompleksitas hubungan antar faktor penyebab perubahan (Complexity), Kekurangjelasan arah perubahan yang menyebabkan ambiguitas (Ambiguity).

Prioritas SDM Unggul

Perkembangan pendidikan di dunia tidak lepas dari adanya perkembangan dari revolusi industri yang terjadi di dunia, karena secara tidak langsung perubahan tatanan ekonomi turut merubah tatanan pendidikan di suatu negara. Fakta dilapangan membuktikan bahwa dunia saat ini tengah dihadapkan dengan disrupsi pekerjaan di beberapa lini industri. Permintaan akan individu dengan penguasaan keterampilan baru pun menjadi sebuah prasyarat utama untuk setiap perusahaan. Diprediksikan beberapa tahun ke depan permintaan (demand) terhadap pekerja dengan ketrampilan baru sektor i akan meningkat signifikan. Penguasaan soft skill maupun kemampuan yang bersifat afektif, psikomotorik juga memiliki peran yang sangat penting. Kemampuan critical thinking, problem solving, communication, collaboration, dan creativity atau invention justru sangat dibutuhkan dalam persaingan global. Era Revolusi industri 4.0 beberapa hal terjadi menjadi tanpa batas melalui teknologi komputasi dan data yang tidak terbatas, hal ini terjadi karena dipengaruhi oleh perkembangan internet dan teknologi digital yang masif sebagai tulang punggung pergerakan dan konektivitas manusia dan mesin. Di era globalisasi ini, dunia menjadi terbuka seolah tanpa batas (borderless) sehingga sangat mudah mengetahui kekurangan dan keunggulan. Kompleksitas dunia yang terus meningkat juga menuntut kemampuan yang sesuai untuk menganalisa setiap situasi secara logis dan memecahkan masalah secara kreatif. Kesuksesan pendidikan tergantung pada peserta didik mengembangkan ketrampilan-ketrampilan yang tepat untuk menguasai kekuatan kecepatan, kompleksitas dan ketidakpastian yang saling berhubungan satu sarna lain. Per;u ditekankan terhadap anak didik bahwa pada era industri generasi 4.0 ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat.
Kita tidak usah heran apabila transaksi transfer, beli pulsa, bayar internet atau langganan tv cable sudah tersedia melalui Mobile Banking dan Internet Banking. Hal itu diciptakan untuk mengurangi antrian di mesin ATM atau Teller bahkan petugas Teller pun nantinya bisa digantikan robot. Diprediksikan juga bahwa petugas bagian transfer dan inkaso akan hilang tidak diperlukan lagi, kemudian petugas bagian akuntansi seperti di journal keeping dan book keeping juga akan menyusul. Sebab sistem akuntansinya sudah terprogram dari proses transaksi. Kantor Bank pun mungkin sudah tidak perlu ada banyak karyawan karena bisa digantikan oleh Fintech, aplikasi Alipay atau digital marketing online lainnya. Masalahnya sekarang apakah anak-anak saat ini mampu menciptakan serta berkompetisi dalam era industry 4.0? Banyak kalangan menyatakan di masa depan akan semakin banyak SDM yang muncul terampil tanpa gelar. Akan semakin banyak penulis-penulis muda dan brilian yang mucul di masa depan. Waktu;ah yang akan membuktikan betapa saat ini saja banyak orang meraih gelar sarjana dari rumah. Menjadi catatan penting untuk kita bahwa generasi muda yang tidak disiapkan dengan baik, tidak memberi implikasi positif pada bonus demografi Indonesia 2030. Apabila generasi muda kita kelak bisa menunjukkan produktifitasnya, maka daya saingnya akan meningkat. Peran perubahan di masyarakat ada di tangan para pendidik. Pendidikan menjadi peluang dan pilar untuk terus berupaya meningkatkan produktivitas diri. Pendidikan sangat berpengaruh terhadap tindakan kita. Untuk menghadapi era revolusi industri 4.0, kita dituntut untuk bersikap lebih bijak didukung dengan mengembangkan kemampuan diri. Revolusi Industri 4.0 merupakan sebuah gerakan baru yang muncul sekitar tahun 2010 melalui rekayasa inteligensi dan berdasar pada Internet of Things  berperan besar sebagai penggerak utama atau tulang punggung pergerakan dengan manusia dan mesin sebagai konektivitasnya (Prasetyo, 2018). Karena itu generasi muda harus dibekali ilmu untuk menyongsong era digital demi menjawab berbagai tantangan yang muncul di masa depan.

Bersahabat dengan teknologi

Kendati profesi guru tidak mendapatkan pengaruh signifikan, namun guru harus tetap berupaya untuk terus meningkatkan kualitas dirinya. Menjadi guru yang mampu menghasilkan SDM berkualitas memang tidak merupakan pekerjaan yang gampang. Dalam mengikuti perubahan yang terjadi guru harus bersahabat dengan teknologi. Sebab kemajuan Iptek akan terus berkembang dengan dinamis. Perubahan dunia dengan kemajuan Iptek tidak perlu diajdikan ancaman, namun dihadapi dengan positif, belajar dan beradaptasi dengan teknologi. Guru juga dituntut untuk lebih kreatif dalam menjalankan tugas profesionalismenya. Guru yang kreatif akan mampu menghasilkan sebuah struktur, pendekatan atau metode dalam menjawab maupun menyelesaikan masalah. Karena itu dalam menjalankan tugasnya guru harus mengajar secara utuh (holistik) dan tidak boleh sepenggal-sepenggal bahkan menggunakan metode melompat-lompat. Selain itu untuk menyiasati perubahan yang ada maka pendidikan harus mampu menawarkan layanan pembelajaran yang membuat peserta didik mahir berkolaborasi, komunikasi dan memecahkan masalah, berfikir kritis, kreatif, dan inovatif. Kemampuan demikian hanya bisa diwujudkan melalui pembelajaran yang tidak hanya tatap muka, melainkan kombinasi pembelajaran daring (e-learning) dan tatap muka (face toface) atau dikenal dengan istilah blended learning. Model blended learning menuntut  optimalisasi penggunaan teknologi sebagai alat bantu pendidikan yang diharapkan mampu menghasilkan generasi kreatif, inovatif, serta kompetitif untuk menghadapi era revolusi industry 4.0. Seiring dengan semakin meningkatnya kebutuhan siswa terhadap pengalaman belajar individual, siswa memiliki pilihan dalam menentukan bagaimana mereka belajar.Siswa berpotensi akan memodifikasi sendiri proses belajar mereka dengan alat yang mereka perlukan. Selain itu kurikulum juga harus mampu mengarahkan dan membentuk siswa yang siap menghadapi era revolusi industry dengan penekanan pada bidang Science,Technology, Engineering,dan Matematics (STEM). beberapa tahun yang lalu dengan munculnya metode belajar yang baru yaitu BYOD (Bring Your On Device). Peserta didik dalam belajar cukup menggunakan device/gadget yang dimiliki dan tidak perlu lagi membawa buku-buku yang banyak ke sekolah karena semua isi dari buku sudah dimasukkan semua ke dalam gadget mereka melalui internet Pemanfaatan TIK diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan belajar para pembelajar, penurunan tingkat putus sekolah, dan penurunan tingkat ketidakhadiran di kelas. Untuk itu aplikasi TIK agar tepat guna hendaknya disesuaikan dengan kehidupan atau budaya yang berlaku dimasyarakat. Menurut Bitter & Legacy, 2008; Lever-Duffy & McDonald,2008; Thorsen, 2006 menyatakan ada tiga jenis umum penerapan teknologi di bidang pendidikan. Pertama guru menggunakan teknologi ke dalam pengajaran mereka di ruang kelas untuk merencanakan pengajaran dan menyajikan isi pelajaran kepada siswa mereka. Kedua, guru menggunakan teknologi untuk menjajaki, melatih dan menyiapkan bahan makalah dan presentasi. Ketiga, guru menggunakan teknologi untuk mengerjakan tugas administrasi yang terkait dengan profesi mereka, seperti penilaian, pembuatan catatan, pelaporan, dan tugas pengelolaan. Penggunaan teknologi oleh siswa melalui pengolah kata, spreadsheet, basis data, pengajaran dengan bantuan komputer (CAI), program pengajaran pribadi, game pengajaran, simulasi, program penyelesaian masalah, internet, proyek multimedia, sistem pembelajaran terpadu, televisi pendidikan, dan papan tulis interaksi. Mengutip Slavin, R. E, untuk mempermudah guru dalam pemanfaatan teknologi, paling tidak komputer harus tersedia di setiap sekolah bahkan idealnya di setiap ruang kelas sesuai jumlah siswa yang ada. Apabila kondisi sekolah hanya memungkinkan satu komputer per kelas atau hanya tersedia satu laboratorium, tentunya tetap harus dimanfaatkan secara optimal. lebih efisien apabila menempatkan semua komputer di laboratorium. Sejumlah hasil penelitian menunjukkan penggunaan komputer dalam pembelajaran tidak memberikan implikasi d yang berarti apabila tidak dikelola secara efektif oleh guru. Guru akan menggunakan teknologi secara efektif sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran. Bukan guru digantikan oleh teknologi. Karena itu salah satu langkah yang pasti dan perlu dilakukan oleh Guru adalah lebih bersahabat dengan teknologi. Semoga bermanfaat. (Penulis:Guru SMPN 11 Jambi).

Rujukan:
Dunwill, E. (2016). 4 changes that will shape theclassroom of the future: Making educationfully technological.Education, S. (2009). Science , Technology ,Engineering , and Mathematics ( STEM ) Education What Form ? What Function ?
Hafil, M. (2018). Mendikbud Ungkap Cara Hadapi Revolusi 4.0 di Pendidikan.REPUBLIKA.co.id. Diakses pada 02 Mei2018 dari https://www.republika.co.id/berita/ pendidikan /eduaction/18/05/02/p8388c430 mendikbud-ungkap-cara-hadapi-revolusi-40-di- pendidikan
Ristekdikti. 2018. Mempersiapkan SDM Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi.
Rohim, Abdur. Bima A, Ridho. Julian, Starlet Gerdi. 2016. Belajar dan Pembelajaran Di Abad 21. Universitas Negeri Yogyakarta.
Syamsuar& Reflianto. 2019. Pendidikan dan Tantangan Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi di Era Revolusi Industri 4.0. Universitas Negeri Malang.

Facebook Comments