oleh

Iklim Kelas dan Prestasi Belajar

Oleh: Nelson Sihaloho

Abstrak:
Proses dan kegiatan belajar mengajar berkaitan erat dengan lingkungan maupun suasana di mana proses kegiatannya itu berlangsung. Prestasi belajar dipengaruhi banyak aspek diantaranya gaya belajar, fasilitas yang tersedia bahkan pengaruh iklim kelas merupakan hal yang sangat penting. Sebab pada saat peserta didik belajar di ruang kelas, lingkungan kelas, baik itu lingkungan fisik maupun non fisik kemungkinan besar mendukung atau bahkan malah mengganggu peserta didik.

Mengutip Hyman (1980) bahwa iklim yang kondusif dapat mendukung interaksi yang bermanfaat diantara peserta didik, memperjelas pengalaman-pengalaman guru dan peserta didik, menumbuhkan semangat yang memungkinkan kegiatan-kegiatan di kelas berlangsung dengan baik serta mendukung saling pengertian antara guru dan peserta didik.
Mengutip Lamoreaux (Hiatt-Michael,2001) bahwa penelitian membuktikan hasil yang paling efektif hanya terjadi bila pemimpin sekolah bertindak sebagai pembelajar, dan menciptakan situasi yang kondusif bagi terbentuknya kebiasaan serupa bagi warga sekolah. Pembinaan keprofesian oleh Kepala Sekolah terhadap guru dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Kelas dan sekolah merupakan tempat terjadinya proses pembelajaran. Apabila pengambilan keputusan dilakukan di tempat yang paling dekat dengan berlangsungnya proses pembelajaran tersebut dapat membuat sekolah menjadi lebih baik.

Berkaitan dengan iklim kelas, permasalahan yang timbul adalah bahwa iklim kelas belum dikembangkan, dan juga pada umumnya guru dan kepala sekolah belum banyak yang mengembangkannya.

Kata kunci: iklim kelas dan prestasi belajar
Kajian empirik
Beberapa kajian di negara maju yang selama ini sudah diterapkan dalam KBM untuk perbaikan pendidikan (misalnya Fraser and Fisher, 1986; Fraser, Seddon and Eagleson, 1982; Fraser and Walberg, 1991). Iklim kelas diyakini berkorelasi dengan prestasi belajar peserta didik dan proses perbaikannya dilakukan di tingkat sekolah. Kelas dan sekolah merupakan tempat terjadinya proses pembelajaran. Apabila pengambilan keputusan dilakukan di tempat yang paling dekat dengan berlangsungnya proses pembelajaran tersebut, Wohlstetter dan Mohrman (1994) mengakui hal itu dapat membuat sekolah menjadi lebih baik. Berkaitan dengan iklim kelas, permasalahan yang timbul adalah bahwa iklim kelas belum dikembangkan, dan juga pada umumnya guru dan kepala sekolah belum banyak mengembangkannya. Sebaliknya, di beberapa negara maju hal itu merupakan kajian yang selama ini sudah diterapkan dalam KBM untuk perbaikan pendidikan (misalnya Fraser and Fisher, 1986; Fraser, Seddon and Eagleson, 1982; Fraser and Walberg, 1991).

Iklim kelas diyakini berkorelasi dengan prestasi belajar peserta didik dan proses perbaikannya dilakukan di tingkat sekolah. Mengutip Chand (1991) memperingatkan bahwa perbaikan pendidikan (di Amerika) telah dilakukan dengan menempuh berbagai bidang garapan, tetapi hasilnya belum memuaskan.

Hal itu disebabkan diantaranya karena perbaikan-perbaikan itu belum atau hanya sedikit menyentuh aspek iklim kelas. Beberapa istilah yang kadang-kadang digunakan secara bergantian dengan kata climate, yang diterjemahkan dengan iklim seperti, feel, atmosphere, tone and environment. Istilah iklim kelas digunakan untuk mewakili kata-kata tersebut di atas dan kata-kata lain seperti learning environment, group climate dan classroom environment.
Bloom (1964) mendefinisikan iklim dengan kondisi, pengaruh, dan rangsangan dari luar yang meliputi pengaruh fisik, sosial, dan intelektual yang mempengaruhi peserta didik. Sejalan dengan hal tersebut, Hoy dan Forsyth (1986) mengatakan bahwa iklim kelas adalah organisasi sosial informal dan aktivitas guru kelas yang secara spontan mempengaruhi tingkah laku. Lebih lanjut Hoy dan Miskell (1982) mengatakan bahwa iklim merupakan kualitas dari lingkungan (kelas) yang terus menerus dialami oleh guru-guru, mempengaruhi tingkah laku, dan berdasar pada persepsi kolektif tingkah laku mereka.

Hoy dan Miskell,et.el, menambahkan bahwa istilah iklim seperti halnya kepribadian pada manusia. Artinya, masing-masing kelas mempunyai ciri (kepribadian) yang tidak sama dengan kelas-kelas yang lain, meskipun kelas itu dibangun dengan fisik dan bentuk atau arsitektur yang sama.

Iklim kelas adalah segala situasi yang muncul akibat hubungan antara guru dan peserta didik atau hubungan antar peserta didik yang menjadi ciri khusus dari kelas dan mempengaruhi proses belajar-mengajar. Situasi di sini dapat dipahami sebagai beberapa skala (scales) yang dikemukakan oleh beberapa ahli dengan istilah seperti kekompakan (cohesiveness), kepuasan (satisfaction), kecepatan (speed), formalitas (formality), kesulitan (difficulty), dan demokrasi (democracy) dari kelas. Moos (1979) mengemukakan ada tiga dimensi umum yang dapat digunakan untuk mengukur lingkungan psikis dan sosial.

Ketiga dimensi tersebut adalah dimensi hubungan (relationship), dimensi pertumbuhan dan perkembangan pribadi (personal growth/development) dan dimensi perubahan dan perbaikan sistem (system maintenance and change). Murray, sebagaimana dikutip Fisher (1990) mengatakan bahwa tingkah laku dipengaruhi baik oleh kepribadian maupun oleh lingkungan eksternal.

Murray mengajukan suatu model kebutuhan dan tekanan (press) yang dapat dianalogkan seperti halnya pribadi dan lingkungan. Kebutuhan pribadi mengacu pada motivasi individu untuk mencapai suatu tujuan tertentu, sedangkan lingkungan press merupakan situasi eksternal yang mendukung atau bahkan menyebabkan kekacauan dalam mengungkapkan kebutuhan pribadi. Walberg (Farley dan Gordon, 1981) menunjuk pengaruh lingkungan pada belajar peserta didik. Lebih lanjut, Moos dalam Walberg (1979) mengatakan bahwa iklim sosial mempunyai pengaruh yang penting terhadap kepuasan peserta didik, belajar, dan pertumbuhan/perkembangan pribadi.

Kedua pendapat itu sangat beralasan karena hal-hal tersebut di atas pada gilirannya akan mempengaruhi prestasi belajar peserta didik.
Walberg dalam Farley dan Gordon (1981) mengemukakan bahwa prestasi belajar peserta didik ditentukan oleh banyak faktor seperti usia, kemampuan dan motivasi, jumlah dan mutu pengajaran, lingkungan alamiah di rumah dan kelas. Di samping itu, Berliner (dalam Walberg, 1979) kelihatannya mendukung Walberg dengan mengatakan bahwa iklim kelas yang ditandai dengan kehangatan, demokrasi, dan keramahtamahan dapat digunakan sebagai alat untuk memprediksi prestasi belajar peserta didik.

Beberapa penelitian lain juga membuktikan bahwa iklim kelas ikut mempengaruhi prestasi belajar peserta didik. Sijde (1988) melakukan penelitian terhadap 558 peserta didik kelas 2 sekolah menengah pertama yang belajar Matematika di Belanda dengan menggunakan Dutch Classroom Climate Questionnaire (DCCQ). Salah satu indikator iklim kelas itu, ‘pengawasan guru terhadap peserta didik’ mempunyai korelasi yang signifikan dengan prestasi belajar peserta didik. Fraser (1986) yang mendokumentasikan lebih dari 45 penelitian juga membuktikan adanya hubungan positif antara iklim kelas dengan prestasi belajar peserta didik. Penelitian-penelitian itu menggunakan berbagai macam alat ukur iklim kelas seperti Learning Environment Inventory (LEI), Classroom Environment Scales (CES), Individualized Classroom Environment Questionnaire (ICEQ), My Class Inventory (MCI) dan instrumen-instrumen lainnya di beberapa negara baik negara-negara maju seperti USA, Canada dan Australia maupun negara-negara yang sedang berkembang seperti India, Jamaica, Brazil dan Thailand.

Umumnya mereka menyimpulkan bahwa prestasi belajar peserta didik juga ditentukan oleh kualitas iklim kelas di mana mereka belajar. Implikasi lebih lanjut dari studi-studi itu adalah bahwa prestasi belajar peserta didik dapat ditingkatkan dengan menciptakan iklim kelas yang kondusif dan lebih baik.
klim Sekolah

Iklim sekolah merujuk pada kualitas dan karakter kehidupan sekolah yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman, norma, tujuan, nilai, hubungan antarpersonal, proses belajar mengajar dan praktik kepemimpinan serta struktur organisasi yang ada di sekolah (sumber: National School Climate Council, 2007). NSCC, et,el. Menyatakan definisi lain mengatakan bahwa iklim sekolah mengacu pada “rasa” terhadap sekolah, dan hal ini bisa bervariasi antar satu sekolah dengan sekolah lainnya.

Iklim sekolah merefleksikan aspek fisik dan psikologis sekolah yang mudah berubah dan merupakan pra kondisi yang diperlukan untuk terciptanya proses belajar mengajar yang baik. Mengutip Loukas (2007) memaparkan bahwa iklim sekolah dapat dimaknai dalam tiga dimensi; fisik, sosial dan akademik. Dimensi fisik antara lain berbicara tentang tampilan gedung sekolah dan ruang kelas, jumlah rombongan belajar dan rasio guru dengan siswa, pengaturan ruang kelas, serta ketersediaan sumber daya dan keamanan maupun kenyamanan.

Peran pemimpin sangat esensial dalam terciptanya komunitas yang pembelajar, terutama jika pemimpin mampu memaknai belajar sebagai proses dan berfungsi pada perbaikan sekolah beserta warganya. Sejalan dengan itu Larrivee (2000) dalam Kilpatrick, Barret & Jones (2003) memaparkan tumbuhnya ketertarikan pada sekolah sebagai komunitas belajar diawali dengan hasil penelitian pada tahun 1970-an dan 1980-an yang mengemukakan bahwa sekolah efektif didukung dengan konsep sekolah sebagai masyarakat, yang didalamnya termasuk menginventarisir kemampuan siswa untuk mengenali komunitas sekolah.

Kilpatrick, Barret & Jones, et.el, mendefinisikan learning community sebagai hasil dari bersatunya orang-orang yang tujuan sama, yang berkolaborasi dengan didasarkan kekuatan individu, saling menghormati perspektif orang lain, dan mendorong peluang belajar secara aktif. Adapun Sergiovani (2006:103) menegaskan bahwa sekolah dapat dipandang sebagai learning community apabila siswa dan anggota sekolah lainnya berkomitmen untuk berpikir, tumbuh dan mencari tahu, serta menjadikan belajar sebagai aktivitas atau cara hidup sebagaimana proses belajar itu sendiri.

Hasil penelitian Lapan dkk. (2011), Carrel dan Carrel (2006), menyebutkan bahwa kehadiran secara intens para konselor (guru BK) juga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap angka kelulusan dan rendahnya permasalahan indisipliner para siswa. Lapan dkk. (2006) juga menemukan bahwa kehadiran proses pembimbingan dan konseling pada siswa memberikan dampak pada keberhasilan siswa dalam belajar.

Sebuah survey yang dilakukan oleh Training and Development Agency for School (2008) menemukan bahwa guru merupakan role model yang penting bagi para siswanya. Mengutip Zirkel (2002: 358) menyatakan bahwa kapasitas/perilaku para remaja merupakan refleksi dari apa yang ada disekitar mereka. Selain penyiapan SDM yang berkualitas tinggi dan penyiapan prosedur kerja untuk menghasilkan proses pembelajaran yang terbaik (best process), penyiapan fasilitas juga menjadi salah satu unsur penyiapan proses yang baik.

Fasilitas menentukan juga terjadinya proses yang berjalan efektif dan efisien. Eartman dan Lemasters (2009), Plang, Broadshaw, dan Young (2009), Stephenson (2001) dan Sheet (2009) dalam 21th Century School Fund menyebutkan betapa besar sumbangan fasilitas terhadap prestasi belajar yang dihasilkan sekolah. Earthman dan Lemasters,et.el, menyatakan bahwa guru-guru yang berada di ruang kondisi gedung yang nyaman lebih bersikap positif daripada guru yang berada di gedung yang tidak nyaman.

Di lain pihak, guru masih mengeluhkan tentang layanan internet di sekolahnya yang sering bermasalah dan mengalami perlambatan. Dampak yang perlu diperhatikan adalah bagaimana sekolah meminimalisir persaingan tidak sehat yang terjadi dalam rangka memenangkan persaingan. Dalam persaingan prestasi akademik, mencontek /plagiasi menjadi salah satu dampak dari persaingan yang diciptakan sekolah. Permasalahan ini tidak hanya menjadi problem satu sekolah, namun secara nasional, bahkan internasional. McCabe dkk. (2001), dan New York Times (2012) mencontek/plagiarisme adalah masalah besar dalam sistem pendidikan.

McCabe, et.el menyatakan bahwa dalam 30 tahun terakhir ini, permasalahan mencontek menjadi semakin tinggi intensitasnya. Hiatt-Michael, (2001) menjelaskan bahwa untuk membangun learning community diperlukan empat elemen yakni pemimpin yang tampil sebagai pemandu dan pengasuh, tujuan moral yang diyakini bersama, rasa saling percaya dan hormat antar satu sama lain, serta keterbukaan lingkungan sehingga pengambilan keputusan dilakukan secara kolaboratif.
Prestasi Belajar

Theodore (1996:7) mengungkapkan bahwa lingkungan kerja yang kurang mendukung seperti lingkungan fisik pekerjaan dan hubungan kurang serasi antar guru dengan guru lainnya ikut menyebabkan kinerjanya akan jadi buruk. Iklim organisasi yang kondusif sangat dibutuhkan bagi guru untuk menumbuhkan dorongan dalam diri guru tersebut agar bekerja lebih bersemangat. Ada iklim yang menggairahkan para anggotanya untuk berprestasi, ada juga iklim yang justru memadamkan motivasi untuk berprestasi. Hasil belajar berasal dari bahasa Belanda “prestatie,” dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha. Robert M. Gagne (1988:65) bahwa dalam setiap proses akan selalu terdapat hasil nyata yang dapat diukur dan dinyatakan sebagai hasil belajar (achievement) seseorang. Belajar bukan semata-mata kegiatan mekanis stimulus respon, tetapi melibatkan seluruh fungsi organisme yang mempunyai tujuan-tujuan tertentu.

Dalam proses pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil dari proses belajar mengajar yakni, penguasaan, perubahan emosional, atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu. Prestasi belajar peserta didik dapat juga dilakukan melalui evaluasi. Istilah Evaluasi atau penilaian adalah sebagai terjemahan dari istilah asing “Evaluation”. Dan sebagai panduan, menurut Benyamin S. Bloom (Handbook on Formative and Sumative Evaluation of Student Learning) dikemukakan bahwa: Evaluasi adalah pengumpulan bukti-bukti yang cukup untuk kemudian dijadikan dasar penetapan ada-tidaknya perubahan dan derajat perubahan yang terjadi pada diri siswa atau anak didik. Evaluasi artinya penilaian terhadap tingkat keberhasilan siswa mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam sebuah program.

Kata lain yang sepadan dengan kata evaluasi dan sering digunakan untuk menggantikan kata evaluasi adalah tes, ujian dan ulangan. Istilah evaluasi biasanya digunakan untuk menilai hasil belajar para siswa pada akhir jenjang pendidikan tertentu atau ujian semester, ujian sekolah dan lainnya. Aktivitas belajar perlu diadakan evaluasi. Hal ini penting karena dengan evaluasi kita dapat mengetahui apakah tujuan belajar yang telah ditetapkan dapat tercapai atau tidak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, dikemukakan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah “penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru”. Istilah evaluasi sering dikacaukan dengan pengukuran, keduanya memang ada kaitan yang erat, tetapi sebenarnya mengandung titik beda. Mengutip Sumadi Suryabrata pengukuran mencakup segala cara untuk memperoleh informasi yang dapat dikuantifikasikan. Sedangkan evaluasi menekankan penggunaan informasi yang diperoleh dengan pengukuran maupun dengan cara lain untuk menentukan pendapat dan membuat keputusan-keputusan pendidikan.

Evaluasi dilaksanakan berkenaan dengan situasi sesuatu aspek dibandingkan dengan situasi aspek lain akhirnya terjadilah suatu gambaran yang menyeluruh yang dapat dipandang dari berbagai segi. Evaluasi juga dilakukan dengan cara membanding-bandingkan situasi sekarang dengan situasi yang lampau atau situasi yang sudah lewat. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai oleh seorang siswa pada periode tertentu. Intinya Evaluasi prestasi belajar adalah upaya yang dilakukan untuk memperoleh informasi penyebab keberhasilan dan kegagalan berkaitan dengan hasil belajar yang dicapai seorang siswa dalam periode waktu tertentu.

Dengan demikian bahwa iklim kelas memiliki koelasi positif terhadap prestasi belajar peserta didik, bukan hanya dari sisi prestasi akademik saja melainkan juga prestasi non akademik. Perlu dicermati bahwa kadang-kadang siswa yang prestasi akademiknya biasa-biasa saja namun bisa memiliki prestasi yang luar biasa pada perstasi non akademik. Sebaliknya ada siswa yang hanya memililiki prestasi pada akademik saja namun kurang mampu berprestasi pada non akademik. Iklim kelas yang baik sangat menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai suatu prestasi dan perlu dicermati prestasi tidak bisa diraih dengan cara instan.

(dihimpun dari berbagai sumber: penulis adalah guru SMP Negeri 11 Kota Jambi).

Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed