Bungonews.net,Bungo-Perjalanan panjang kami di Kecamatan Pelepat Ilir kali ini membuka banyak cerita. Dari deru mesin mobil molen ( Mixer Truk ) di tepi jalan menuju Bandara Muara Bungo, hingga suara palu di sekolah-sekolah yang sedang berbenah, semangat pembangunan terasa hidup di setiap sudutnya.Rabu (29/10/2025 )

Di ruas jalan Muara Bungo -Kuamang Kuning, tepat menuju bandara, tampak aktivitas pekerja yang tengah menata rigid beton jalan.
Proyek bernilai besar itu baru saja dimulai, namun sayangnya tidak terlihat papan merek proyek. Tak sedikit warga yang penasaran dan bertanya-tanya, proyek siapa dan berapa nilainya?
“Kalau ada papan informasi kan kami bisa tahu, biar jelas,” ujar seorang warga yang kami temui di pinggir jalan. Sebuah kalimat sederhana, tapi menggambarkan harapan masyarakat akan transparansi pembangunan di daerahnya.

Perjalanan berlanjut ke Dusun Danau. Di SD 03 Dusun Danau, tampak kesibukan berbeda. Sejumlah pekerja lokal tengah merehab ruang kelas, menata lantai, dan membangun jamban baru. Dari luar, suara gergaji dan ketukan palu berpadu dengan tawa anak-anak yang penasaran melihat sekolahnya berubah.
Proyek revitalisasi sekolah senilai Rp863 juta ini dikerjakan secara swakelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), dengan waktu pelaksanaan 120 hari. Progresnya sudah di atas 50 persen.
Di ruang kepala sekolah yang sederhana, Angga, S.Pd, tampak penuh semangat. Baru beberapa bulan menjabat, ia bertekad membawa sekolahnya menjadi lebih layak dan nyaman untuk belajar.
“Kami berupaya maksimal agar pekerjaan ini sesuai juklak dan juknis. Masyarakat juga ikut membantu, kami berkoordinasi dengan desa dan konsultan agar semua berjalan baik,” ucapnya dengan senyum yakin.

Cerita serupa juga ditemui di SD 138 Daya Murni. Di sini, papan proyek berdiri dengan rincian kegiatan yang jelas: rehabilitasi sembilan ruang kelas dan pembangunan ruang UKS, senilai Rp797 juta.
Kepala sekolahnya, Sucipto, S.Pd, menatap proyek yang masih dikerjakan dengan harapan besar.
“Insya Allah bisa selesai tepat waktu, paling lambat awal Desember,” ujarnya, menatap bangunan yang kelak akan menjadi tempat belajar anak-anak dengan rasa bangga.
Di SMPN 2 Pelepat Ilir, semangat yang sama juga tampak. Kepala sekolahnya, Elpi, dengan nada tenang menyampaikan keyakinannya bahwa revitalisasi di sekolahnya akan rampung sesuai target.
“Kami terus berupaya agar pekerjaan selesai tepat waktu,” ujarnya singkat.
Pelepat Ilir hari ini mungkin belum sempurna. Masih ada proyek yang minim informasi, dan masih ada catatan kecil soal keterbukaan publik. Namun di balik itu, ada banyak wajah penuh harapan — para guru, kepala sekolah, dan warga yang percaya bahwa pembangunan bukan sekadar angka di DPA, melainkan langkah nyata menuju perubahan. ( BN )





















Komentar