Life Skill & Pemberdayaan Potensi Personalisasi Peserta Didik Era Society 5.0

PERISTIWA1140 Dilihat

 

Oleh: Nelson Sihaloho
(Guru SMPN 11 Kota Jambi)

ABSTRAK:

Sebagaimana kita ketahui bahwa era disruptif sering kali dimaknai merusak, menggerus, dan mengubah segalanya. Hal itu ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi yang semakin masif. Era disruptif, teknologi mampu menguasai segalanya sehingga peserta didik maupun anak-anak muda harus kreatif memanfaatkan teknologi untuk hal positif. Diantranya berdagang dengan sistem online sehingga jangkauannya lebih luas.
Tantangan pendidikan akibat perkembangan Internet of Things (IoT) dan Artificial intellegence (AI) menuntut guru untuk selalu meningkatkan pengetahuan dan kompetensinya. Tidak terkecuali peserta didik dituntut untuk terus belajar dan belajar agar memiliki kecakapan hidup (life skill). Termasuk untuk terus memberdayakan potensi personalnya dalam menghadapi era Society 5.0. Pengembangan pembelajaran personalized learning seringkali memberikan keberhasilan signifikan terhadap peserta didik karena mereka mengetahui bagaimana cara belajar yang paling berhasil terhadap setiap siswa ataupun diri mereka sendiri.
Dengan life skill dan pemberdayaan potensi personalisasi peserta didik dalam pendidikan diharapkan mereka mampu menghadapi era society 5.0 dengan baik.
Kata kunci: life skill, potensi personalisasi, era society 5.0.

Life Skill

Kalangan dunia mengakui bahwa untuk dapat bertahan hidup seseorang harus memiliki kecakapan hidup maupun ketrampilan hidup. Kecakapan hidup ini merupakan sumber daya yang sangat vital serta wajib dimiliki oleh seseorang. Termasuk dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin massif serta dinamis.
Mengutip Karim & Daryanto (2017: 2) mengungkapkan bahwa perkembangan dunia abad 21 ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam segala segi kehidupan. Teknologi tersebut dapat menghubungkan dunia yang melampaui sekat-sekat geografis sehingga dunia menjadi tanpa batas. Akibatnya, informasi dapat tersebar dengan luas dalam waktu yang amat singkat, sehingga dunia seakan tidak memiliki batas geografis lagi. Karena itu teknologi pembelajaran dan prinsip-prinsip pembelajaran abad 21 terus dikembangkan agar selalu up to date sesuai dengan tuntutan dan perubahan. Jennifer Nicholas (dalam Karim & Daryanto, 2017) menyatakan adapun prinsip-prinsip pendidikan abad 21 yakni pertama, Instruction should be student-centered. Kedua, Education should be collaborative. Ketiga, Learning should have context. Keempat, Schools should be integrated with society. Begitu juga dengan ketrampilan abad 21 harus dikuasai oleh peserta didik agar berhasil dalam mengahdapi kehidupan di masa depan. Minimal empat skill atau keterampilan utama yang diperlukan untuk menyukseskan pendidikan abad 21. Keterampilan abad 21 disebut dengan 4C. Yakni berpikir kreatif (creative thinking), berpikir kritis dan pemecahan masalah (critical thinking and problem solving), berkomunikasi (communication), dan berkolaborasi (collaboration). Adapun Trilling dan Fadel (dalam Karim & Daryanto, 2017:1) membagi keterampilan abad 21 dengan 3 bagian. Yakni pertama, Life and career skills, merupakan ketrampilan hidup dan berkarir, meliputi fleksibelitas dan adaptabilitas, inisiatif dan mengatur diri sendiri, interaksi sosial budaya, produktivitas dan akuntabilitas, serta kepemimpinan dan tanggung jawab. Kedua, Learning and innovation skills, adalah keterampilan belajar dan inovasi meliputi: berpikir dan mengatasi masalah, komunikasi dan kolaborasi, dan kreativitas dan inovasi. Ketiga, Information media and technology skills, merupakan keterampilan teknologi dan media informasi meliputi literasi informasi, literasi media dan literasi ICT. Ketiga keterampilan tersebut terangkum dalam sebuah skema yang disebut pelangi keterampilan pengetahuan abad 21 atau disebut ―21 Century Knowledge-Skill Rainbow”.
Karena itu kecakapan hidup merupakan kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif sehingga memungkinkan seorang mampu menghadapi berbagai tuntuttan dan tantangan dalam kehidupannya. Intinya kecakapan hidup merupakan suatu kemampuan untuk berperilaku positif dan beradaptasi yang memiliki pengaruh terhadap tuntutan dan tantangan kehidupan sehari-hari peserta didik. Pendidikan kecakapan hidup yang diperoleh peserta didik dapat membuat peserta didik mandiri. Dengan demikian kecakapan hidup merupakan interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki seseorang sehingga mereka dapat hidup mandiri.

Potensi Personalisasi Dalam Pembelajaran

Di era reknologi digital saat ini manusia sibuk mengukur kesuksesan dengan berbagai cara hingga lupa mengembangkan potensi dirinya. Potensi diri sangat berpengaruh terhadap cara seseorang untuk mencapai lesuksesan. Kesuksesan yang dicapai dengan meningkatkan meningkatkan personalitas serta kerja keras akan menghasilkan prestasi yang luar biasa. Beda dengan kesuskesan yang diraih dengan cara-cara kurang baik bisa berakibat kurang beruntung dikemudian hari. Begitu juga dengan peserta didik perlu dibekali dengan perencanaan karir yang baik terutama dalam meningkatkan serta memberdayakan potensi personalnya ataupun potensi dirinya. Potensi diri adalah suatu kemampuan atau kekuatan dalam diri yang masih tersembunyi dan belum teraktualisasi, namun masih bisa dioptimalkan.
Sesungguhnya sangat mudah mengenali potensi diri peserta didik. Mereka perlu dilakukan latihan-latihan untuk mengenal dirinya lebih dalam. Diantaranya dengan mengasah bakat yang sudah ada atau dengan belajar dan berlatih.
Implikasinya dalam pembelajaran khususnya model pembelajaran personalized learning yang merupakan penelitian terbaru untuk mengetahui bagaimana cara belajar yang paling berhasil untuk setiap siswa.
Franzoni & Assar, (2009), menyatakan bahwa model pembelajaran berbasis personalisasi tidak lepas dari gaya belajar yang dianggap menjadi parameter penting untuk menentukan metode pembelajaran yang paling cocok bagi setiap siswa. Pembelajaran yang dipersonalisasi dalam penelitian-penelitian sebelumnya telah banyak membuktikan bagaimana cara belajar siswa dapat berhasil dalam pembelajaran (Izmestiev, 2012), karena siswa dapat belajar sesuai kebutuhan dan ketertarikan mereka, selaras dengan yang dikatakan Green dkk, 2011 (dalam Sahabuddin&Ali, 2013) bahwa pembelajaran fleksibel memungkinkan siswa berinteraksi dengan materi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Izmestiev (2012:3) mengatakan bahwa personalized learning didesain berdasarkan kebutuhan dan ketertarikan personal siswa.
Patrick, Kennedy, & Powell, (2013) menyatakan bahwa personalized learning adalah pembelajaran yang berbasis personalisasi, yaitu pembelajaran pribadi yang menyesuaikan pada kekuatan, kebutuhan dan kepentingan setiap siswa.
Begitu juga dengan penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah yang diluncurkan pada 2022 tidak lepas dari berbagai tantangan. Dalam kurikulum baru atau yang dikenal dengan Kurikulum Merdeka, fungsi guru juga sudah berubah. Dari yang semula mengajar dengan pendekatan yang diseragamkan atau satu ukuran untuk semua (one size fits all), menjadi seseorang yang mampu menciptakan siswa sebagai pembelajar mandiri sepanjang hayat. Guru harus menjadi mentor, fasilitator, atau coach dalam kegiatan belajar yang berbasis proyek (project based learning) secara aktif. Diharapkan Kurikulum Merdeka membawa semangat melanjutkan proses peningkatan kualitas pembelajaran yang telah diinisiasi oleh beberapa kurikulum sebelumnya. Ada tiga karakteristik utama Kurikulum Merdeka. Pertama, bersifat holistic, kedua, fokus pada materi esensial. Ketiga, bersifat kontekstual dan personalisasi.
Karena itu pengembangan potensi diri peserta didik harus terus dilakukan agar mereka kelak mampu mandiri menghadapi era masa depan. Sebagaimana kita ketahui bahwa pengembangan potensi diri merupakan usaha atau proses yang terus menerus kearah personal mastery (penguasaan pribadi). Pribadi yang memiliki keinginan kuat untuk belajar pribadi yang mantap (dewasa secara mental) dan sukses (dedikasi, determinasi, berbeda, mampu tampil sebagai pemimpin/agen perubahan). Falam kaitan ini kecerdasan spiritual perlu diasah dan ditingkatkan agar lebih baik. Kecerdasan spiritual merupakan kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri yang berhubungan dengan kearifan di luar ego, atau jiwa sadar (bukan hanya mengetahui nilai tetapi juga menemukan nilai). Dan juga merupakan kecerdasan yang mendapat inspirasi, dorongan dan efektivitas yang terinspirasi Theis-ness (Penghayatan Ketuhanan). Dimensi spiritual seseorang (titik sentral pribadinya, merupakan komitmen individual terhadap sistem nilainya, yang menjadi dasar ataupun landasan yang kuat bagi seorang pemimpin adanya kekuatan spiritual dalam dirinya yang dapat mengendalikan emosinya. Begitu pula dengan adversity intelligence (ketahanmalangan) penting diperkuat dalam pembelajaran.
Kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup. Dalam hal ini tidak mudah untuk menyerah apabila menghadapi setiap kesulitan hidup. Termasuk ketahanan atau daya tahan seseorang ketika menghadapi masalah harus diperkuat. Merujuk penmdapat Stoltz,(2000:9) menyatakan AQ mempunyai 3 bentuk. Yakni AQ sebagai suatu kerangka kerja konseptual yang baru untuk memahami dan meningkatkan semua jenis kesuksesan. Suatu ukuran untuk mengetahui respon terhadap kesulitan. Serangkaian peralatan dasar yang memiliki dasar ilmiah untuk memperbaiki respon terhadap kesulitan . Adapun ciri orang yang memiliki potensi adversity intelligence yakni menerima kekuatan dan kelemahan dirinya. Memahami potensi dan perbedaan orang lain. Memiliki rasa humor tinggi, menerima kritik dengan lapang dada. Memiliki kemampuan bersikap sesuai falsafah hidup, tidak mudah merasa bersalah dan menyerah. Menempatkan diri sebagai manusia yang bernilai dengan rasa syukur terhadap Tuhan. Mengembangkan potensi pengembangan diri dapat dilakukan dengan menentukan tujuan pengembangan potensi diri (Spesific, Measurable, Aplicable, Realistic, Time Bounded). Dengan konsep diri (kesan/image individu mengenai karakteristik diri yakni intrapersonal, interpersonal, perubahan dalam tekanan dan tantangan). Meminimalisasi hambatan, menemukan strategi pengembangan diri. Dedikasi (Komitmen, Passion, Ambisi), Determinasi (pantang menyerah) dan berbeda.

Pengembangan Potensi Era Society 5.0

Pada umumnya pengembangan potensi peserta didik merupakan proses yang disengaja serta sistematis dalam membiasakan/mengkondisikan mereka agar memiliki kecakapan dan keterampilan hidup. Era Society dengan segala kompleksitasnya yang mereka hadapi kelak hendaknya menyadarkan mereka untu terus belajar mengembangkan potensinya. Kecakapan dan keterampilan yang penting dibekali terhadap peserta didik yakni kecakapan personal (personal skill) yang mencakup; kecakapan mengenali diri sendiri (self awareness) dan kecakapan berpikir rasional (thinking skill), kecakapan sosial (social skill), kecakapan akademik (academic skill), maupun kecakapan vokasional (vocational skill).
Dalam konsep Kurikulum Merdeka Belajar hendaknya proses melatih diri sangat penting dilakukan dengan pembiasaan dan pengkondisian peserta didik berpikir kritis, strategis dan taktis dalam proses pembelajaran. Peserta didik hendaknya dilatih memahami, merumuskan, memilih cara pemecahan dan memahami proses pemecahan masalah.
Dalam hal ini budaya instant dalam pembelajaran harus ditinggalkan dalam menuju proses pemberdayaan unsur komprehensif dalam sistem pembelajaran. Fakta dan kenyataan kenyataan yang kita lihat dilapangan serungkali kita menemukan banyak peserta didik seakan-akan bodoh, tanpa potensi apa pun. Upaya yang harus kita lakukan adalah menggali potensi peserta didik sehingga mereka bisa meraih impian masa depannya. Yakni dengan konsep diri dan pandangan yang benar mengenai kecerdasan. Tiap upaya untuk menggali maupun meningkatkan potensi, prestasi maupun kompetensi seseorang, tidak terlepas dari yang bernama konsep diri. Konsep diri seorang peserta didik adalah cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. Konsep diri seorang peserta didik terbentuk melalui pengalaman dan interaksi dengan lingkungan serta dipengaruhi siapa yang dianggap memiliki otoritas terhadap dirinya. Kosep diri ini mempengaruhi cara seorang berpikir, bersikap dan bertindak dalam hal apa pun, baik dalam berhubungan dengan orang lain maupun dalam kegiatan yang dikerjakan. Kosep diri terdiri atas diri ideal, citra diri dan harga diri.
Kecerdasan akan lebih tepat apabila digambarkan sebagai suatu kumpulan kemampuan atau keterampilan yang dapat ditumbuhkan serta dikembangkan. Kecerdasan bersifat laten, ada pada diri tiap manusia tetapi dengan kadar pengembangan yang berbeda. Perihal kecerdasan kita bisa mendeteksinya dengan menggunakan kata “bakat” atau “talenta”. Para pakar psikologi membagi kecerdasan dalam delapan jenis kecerdasan. Yakni kecerdasan linguistic adalah kemampuan dalam bidang bahasa. Kecerdasan matematika dan logika merupakan kemampuan dalam berpikir abstrak dan terstruktur. Kecerdasan visual dan spasial, adalah kemampuan yang berhubungan dengan gambar, diagram, peta, maupun grafik. Kecerdasan musik, merupakan kemampuan yang sangat kreatif dalam hal musik. Kecerdasan interpersonal, mampu bergaul dan beradaptasi dengan cepat, mampu menjadi mediator, dan pintar dalam hal berkomunikasi Kecerdasan intrapersonal, kemampuan untuk dapat mengerti diri sendiri serta kemampuan untuk memperhatikan nilai dan etika hidup. Kecerdasan kinestetik, ahli dalam hal-hal yang berhubungan dengan fisik, pekerjaan tangan dan dalam hal mengelolah suatu objek. Kecerdasan naturalis, kemampuan untuk mencintai alam dan berinteraksi dengan hewan maupun tumbuhan. Dengan demikian pengembangan potensi seorang peserta didik hendaknya memperhatikan hal tersebut. Meniadakan atau mengesampingkan salah satu aspek di dalamnya merupakan pekerjaan sia-sia dalam usaha menggali potensi peserta didik. Perlu dukungan dari orangtua dan guru dalam mengembangkan potensi yang mereka miliki agar mereka bisa meraih impian di masa depan mereka. Kita harus membiarkan mereka berkembang sesuai dengan kecerdasan yang mereka miliki. Dengan demikian pengembangan kecakapan hidup dan pemberdayaan potensi personalisasi peserta didik di Era Society 5.0 sangat penting dilakukan. Sebab akan memberikan kontribusi signifikan dalam mengembangkan potensi diri serta keberhasilan mereka di masa depan. Semoga bermanfaat.

Rujukan:

Cervone, Daniel, Lawrence A.Pervin, 2011. Personality : Theory and Research, Terjemahan Aliya Tusyani dkk., Jakarta : Salemba Humanika

Cooper, Robert K, Ph.D dan Ayman Sawaf. Executive EQ, 1998. Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Daryanto & Karim, S., 2017. Pembelajaran Abad 21. Yogyakarta: Gava Media.

Fontana, Avianti. 2011. Innovate We Can!, Manajemen Inovasi dan Penciptaan Nilai. Jakarta: Cipta Inovasi Sejahtera

M. Taufiq Amir. 2009. Strategi Mindset, Jakarta

Munandar, Utami. 2009. Pengembangan Kreativitas Anak

Komentar