Bungonews.net, Bungo- Angin sore itu berhembus lembut di halaman Gedung Serbaguna eks MTQ Muara Bungo, membawa aroma sate yang dibakar di ujung jalan, tawa anak-anak kecil, dan suara musik daerah yang sayup-sayup terdengar dari panggung utama. Lampu warna-warni mulai menyala, dan cahaya-cahaya kecil itu memantul di wajah-wajah lelah yang tersenyum bahagia.
Bungo berulang tahun.
Enam puluh tahun bukan waktu yang singkat bagi sebuah kabupaten kecil yang tumbuh dari keringat rakyatnya sendiri. Tahun demi tahun, Bungo belajar berdiri, melangkah, dan percaya bahwa sekecil apa pun langkah, jika dilakukan bersama, bisa mengubah segalanya.
Dan di pameran pembangunan tahun 2025 ini, kisah itu kembali terasa nyata.
Di balik tenda-tenda rapi, spanduk warna-warni, dan musik yang riuh, tersimpan cerita-cerita kecil yang membuat hati hangat bahkan menitikkan air mata.
MEREKA TETAP TERSENYUM DITENGAH BIAYA DAN BATAS
Di dalam gedung, berdiri 60 stan kecil berukuran 3×3 meter. Ada stan milik kecamatan, OPD, hingga pihak swasta. Biaya sewanya bervariasi Rp5 juta untuk kecamatan, Rp5,5 juta untuk OPD.
Bagi sebagian orang, itu bukan jumlah kecil. Namun bagi mereka, ikut pameran bukan soal untung-rugi. Ini tentang kebanggaan, tentang hadir untuk daerah sendiri.
Kamis Sore jelang malam, 23 Oktober 2025, sekitar pukul 17.30 WIB, di salah satu sudut gedung, seorang staf kecamatan terlihat menempelkan poster yang sedikit miring. Peluh menetes di pelipisnya, tapi senyum tak pernah lepas dari wajahnya.
“Kami ingin masyarakat tahu apa yang sudah kami kerjakan. Mungkin sederhana, tapi ini dari hati,” ucapnya pelan.
Ia bukan pejabat besar, bukan orang kaya. Tapi semangatnya menjelaskan sesuatu yang tak tertulis di laporan manapun: bahwa pembangunan bukan hanya tentang uang, tapi tentang cinta.
Dalam obrolan singkat di dalam gedung serbaguna yang kini disekat dan disewakan oleh pihak ketiga—dengan fasilitas seperti blower, kipas angin, dan panggung, seorang staf kecamatan mengungkapkan,
“Bukan Rp5,5 juta, Pak, tapi Rp6 juta sewanya,” katanya.
Pernyataan itu berbeda dengan keterangan sebelumnya yang menyebutkan Rp5 juta untuk kecamatan dan Rp5,5 juta untuk OPD.
Perbedaan informasi ini menunjukkan perlunya transparansi dan evaluasi dalam pengelolaan pameran di tahun-tahun mendatang.
Kondisi di dalam gedung pun tampak sepi. Beberapa stan tidak dijaga, bahkan ada yang ditutup dengan hordeng dan kursi plastik. Situasi ini menjadi catatan penting agar penyelenggaraan berikutnya bisa lebih tertata dan menarik minat pengunjung.
SUARA DILUAR GEDUNG
Sementara di luar gedung, suasana jauh lebih hidup.
Ratusan tenda berdiri 560 lapak kaki lima dan 110 lapak UMKM menghidupkan malam-malam pameran. Pedagang dari dalam dan luar Kabupaten Bungo sibuk menawarkan dagangan mereka. Ada permainan anak-anak, mandi bola, lempar balon, melukis, dan berbagai hiburan lain yang ramai dikunjungi.
Namun di balik keriuhan itu, ada kisah lain.
Para pedagang kaki lima ternyata harus membayar biaya sewa Rp500 ribu, jumlah yang cukup besar bagi sebagian dari mereka. Beberapa bahkan mengaku sedih ketika ada oknum yang mengaku dari pemerintahan memaksa mereka menyetor lebih dari jumlah yang ditetapkan.
Ditambah lagi, keluhan soal mahalnya biaya parkir yang dipungut oleh oknum petugas membuat suasana semarak pameran sedikit ternoda.
Hal-hal seperti ini perlu disikapi dengan tegas agar nama baik Bungo tidak tercoreng oleh ulah segelintir orang.
Di antara hiruk pikuk itu, para ibu pelaku UMKM menata dagangan mereka—keripik pisang, madu hutan, batik, dodol.
Beberapa dari mereka membawa anak kecil yang tertidur di kursi plastik, menunggu dagangan laku.
Mereka mungkin tak punya modal besar, tapi punya sesuatu yang jauh lebih berharga: keyakinan dan harapan.
PANGGUNG BUDAYA TEMPAT DIMANA AIR MATA DAN BANGGA MENYATU
Malam makin larut, tapi panggung utama tetap hidup. Anak-anak muda menari dengan busana adat, diiringi musik tradisional yang menggema ke seluruh penjuru.
Di antara penonton, beberapa orang tua menatap haru. Air mata mereka jatuh ketika lagu daerah lama dinyanyikan kembali lagu yang dulu mereka dengar ketika Bungo baru belajar menjadi kabupaten.
Di balik panggung, Hasbi, Kabid Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bungo, tampak memperhatikan anak-anak yang bersiap tampil.
Kepada Bungonews, Hasbi menjelaskan soal terhentinya salah satu penampilan drama:
“Panitia menetapkan waktunya karena sudah melebihi jadwal, ditambah cuaca tidak memungkinkan. Waktu sudah larut, dan masih banyak peserta yang ingin tampil, jadi panitia mempercepat tampilan dengan langsung ke bagian akhir cerita,” jelasnya.
Terkait dana kesenian dan budaya, Hasbi menyebut jumlahnya sekitar Rp560 juta.
HUT ke-60: Ketika Bungo Tak Lagi Sekadar Nama
Dari udara, jika dilihat dengan drone, pameran itu tampak seperti lautan cahaya.
Tenda-tenda putih berjajar, panggung menyala, dan orang-orang berjalan beriringan seperti arus kehidupan yang tak pernah berhenti.
Namun dari dekat, yang terlihat adalah wajah-wajah penuh perjuangan: pedagang kecil, pegawai, anak muda, seniman, hingga pejabat yang sama-sama bekerja keras.
Bungo berdiri sederhana, tapi kuat. Penuh tantangan, tapi juga cinta.
Karena yang membuat sebuah daerah hebat bukan gedungnya, tapi hatinya.
Di balik angka sewa stan, laporan kegiatan, dan sorotan lampu panggung, ada sesuatu yang tak bisa dihitung: rasa memiliki.
Mereka tidak mencari nama, tidak menunggu pujian.
Mereka hanya ingin ikut menyalakan cahaya,sekecil apa pun untuk tanah tempat mereka lahir dan tumbuh.
Dan mungkin, di situlah letak haru paling dalam dari perayaan HUT Bungo ke-60:
bahwa pembangunan bukan soal kemegahan, tapi tentang cinta yang bekerja dalam diam.
Dengan harapan, pihak panitia dan penyelenggara ke depan tidak hanya memikirkan keuntungan, tapi juga nasib para pedagang dan kenyamanan pengunjung yang datang membawa harapan dan cinta untuk Bungo tercinta
.( Azwari Pemred Bungo news )


























Komentar