Menggali Ide Kreatif Siswa dengan Pendekatan  Eksploratif

PENDIDIKAN769 Dilihat

Oleh: Nelson Sihaloho

 

ABSTRAK

 

Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini praktik baik pembelajaran yang diterapkan dalam pendidikan menjadi acuan bagi pihak-pihak pemangku kebijakan. Praktik baik pembelajaran umumnya banyak ditiru dan diadopsi oleh sekolah-sekolah yang memiliki keinginan dalam meningkatkan mutu serta kualitas sekolahnya. Namun fakta dilapangan seringkali kita menemukan guru tidak melaksanakan praktik baik dalam pembelajaran. Asumsi dasar bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang bermakna dimana siswa terlibat langsung. Apabila siswa tidak mendapatkan sesuatu yang menantang dalam pembelajaran kita akan kesulitan dalam mendapatkan ide-ide kreatif. Saat ini ditengah berbagai isu-isu global serta munculnya digitalisasi pembelajaran menuntut guru untuk selalu kreatif. Pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kreatif adalah pembelajaran menggunakan pendekatan eksploratif. Pendekatan eksploratif merupakan suatu cara yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran dengan memberikan kesempatan kepada masing-masing siswa untuk mengkonstruksi pengetahuan dalam membangun pemahaman melalui pembelajaran yang bermakna. Melalui kegiatan eksplorasi siswa mampu mengembangkan kemampuan belajar berdasarkan pengalaman yang diperolehnya sehingga penguasaan dan pemahaman yang diperolehnya dimasukkan ke dalam struktur kognitif masing-masing siswa. Dalam kompetisi seperti lomba penelitian siswa Indonesia (OPSI) ide-ide kreatif siswa sangat diperlukan untuk bisa sukses ,elenggang ke jenjang nasional. Ide-ide yang kreatif akan e aKarena imenjadi langkah awal untuk mengubah paradigm pembelajaran yang awalnya teacher centered menjadi student centered.

Kata kunci: ide kreatif, pedekatan eksploratif

 

Mengkonstruksi Pengetahuan

 

Sesorang atau individu yang belajar harus membangun pengetahuan mereka dengan menguji ide-ide mereka. Termasuk pendekatan berdasarkan pengetahuan maupun pengalaman yang ada. Selain itu siswa mengaplikasikannya terhadap situasi baru serta mengintegrasikan pengetahuan baru yang diperoleh dengan membangun intelektual yang sebelumnya telah ada. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses mengkonstruksi pengetahuan adalah konstruksi pengetahuan yang telah ada, domain pengalaman, dan jaringan struktur kognitif yang dimilikinya.  Proses dan hasil konstruksi pengetahuan yang telah dimiliki seseorang akan menjadi pembatas konstruksi pengetahuan yang akan datang. Pengalaman akan fenomena yang baru menjadi unsur penting dalam membentuk dan mengembangkan pengetahuan. Keterbatasan pengalaman seseorang pada suatu hal juga akan membatasi pengetahuannya akan hal tersebut. Pengetahuan yang telah dimiliki orang sesorang atau  individu akan membentuk suatu jaringan struktur kognitif dalam dirinya.

Umumnya pembelajaran konstruktivistik akan lebih baik dengan menggunakan sumber belajar yang bervariasi. Dalam pembelajaran dengan strategi konstruktivistik kita sebagai guru  dituntut mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan. Mengutamakan proses, menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman sosial, dan pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman. Pandangan konstruktivistik mengarahkan perhatian pada bagaimana seseorang mengonstruksi pengetahuan dan pengalamannya, struktur mental dan keyakinan yang digunakan untuk menginterpretasikan objek dan peristiwa-peristiwa. Dengan mengkonstruksi pengetahuan berarti seorang guru dalam kelas memberikan keaktifan terhadap siswa untuk belajar menemukan sendiri kompetensi, pengetahuan dan teknologi yang diperlukan guna mengembangkan dirinya.

Mengutip Driver and Bell dalam Hamzah (2008) mengemukakan karakteristik pembelajaran konstruktivisme sebagaimana (Suyono & Hariyanto, 2014: 106) adalah sebagai berikut: a). siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif melainkan memiliki tujuan, b?. belajar harus mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa, c). pengetahuan bukan sesuatu yang datang dari luar, melainkan dikonstruksi secara personal, d). pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi lingkungan belajar, e). kurikulum bukanlah sekadar hal yang dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi dan sumber.

Suyono & Hariyanto,et,al menyatakan bahwa ada sejumlah prinsip – prinsip pemandu dalam konstruktivisme. Diantaranya  (a). Belajar merupakan pencarian makna. Intinya bahwa pembelajaran harus dimulai dengan isu – isu yang mengakomodasi siswa untuk secara aktif mengkonstruk makna. (b). Pemaknaan memerlukan pemahaman bahwa keseluruhan (wholes) itu sama pentingnya seperti bagian – bagiannya. Sedangkan bagian – bagian harus dipahami dalam konteks keseluruhan. Karena itu proses pembelajaran berfokus terutama pada konsep – konsep primer dan bukan kepada fakta – fakta yang terpisah. (c). Supaya dapat mengajar dengan baik, guru harus memahami model – model mental yang dipergunakan siswa terkait bagaimana cara pandang mereka tentang dunia serta asumsi – asumsi yang disusun yang menunjang model mental tersebut. (d). Tujuan pembelajaran adalah bagaimana setiap individu mengkonstruksi makna, tidak sekadar mengingat jawaban apa yang benar dan menolak makna milik orang lain. Karena pendidikan pada fitrahnya memang antardisiplin, satu – satunya cara yang meyakinkan untuk mengukur hasil pembelajaran adalah melakukan penilaian terhadap bagian – bagian dari proses pembelajaran, menjamin bahwa setiap siswa akan memperoleh informasi tentang kualitas pembelajarannya.

Pentingnya ditekankan pembelajaran bermakna terhadap siswa karena belajar adalah usaha mencari tahu dan menemukan makna atau pengertian. Dengan mempelajari tumbuhan maka siswa akan menyelidiki tumbuhan, selanjutnya siswa akan memorisasi suku kata, ada proses pemecahan masalah dan sebagainya. Dengan begotu maka siswa termotivasi dalam belajar jika pembelajaran itu bermakna dalam kehidupan siswa. Belajar tidak akan berhasil apabila siswa melakukannya karena takut atau untuk menyenangkan hati guru. Belajar akan memberi hasil yang autentik apabila melalui proses penyelidikan atau penemuan, dimula dengan hasrat atau keinginan untuk dapat mencapai jawaban dari suatu permasalah dan berlangsung dengan usaha eksperimental yang beraneka ragam guna memecahkan masalah yang harus dipelajari. Guru dalam melaksanakan pembelajaran diharapkan selalu berusaha agar dapat membantu siswa untuk mencapai pemahaman yang sebaik-baiknya dengan memberi pengalaman konkret kepada siswa melalui pengamatan atau percobaan untuk memecahkan permasalahan dalam hidupnya melalui pendekatan konstruktivisme, sehingga pembelajaran menjadi bermakna untuk siswa.

Artinya bahwa belajar konstruktivisme siswa belajar tentang situasi nyata, sesuai dengan kehidupan sehari-hari mereka. Mereka tidak hanya menghafal konsep namun juga melalui pengamatan, percobaan sehingga pembelajaran menjadi lebih menarik, siswa memiliki perhatian penuh, dan tingkah laku siswa terlihat lebih aktif. Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivisme diharapkan siswa bersikap dan mempunyai persepsi positip terhadap belajar, siswa menginterpretasikan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan yang dimilikinya. Haal tersebut bisa dilakukan dengan cara mengklasifikasikan, membandingkan, melakukan analisis, dan memecahkan masalah, serta siswa memiliki kebiasaan mental produktif, kritis, dan kreatif, serta mandiri. Belajar berarti membentuk makna,  dimana makna diciptakan dari apa yang diobservasi, konstruksi tersebut dipengaruhi oleh pengetahuan yang dimiliki. Proses belajar terjadi pada waktu ada kesenjangan skema yang ada di otak para siswa, sedangkan hasil belajar dipengaruhi oleh pengalaman siswa di dunia fisik dan lingkungannya, dan hasil belajar tergantung dari apa yang telah diketahui oleh siswa.

 

Pendekatan Eksploratif

 

Sebagaimana kita ketahui bahwa pengembangan potensi menjadi proses yang dilakukan agar para siswa dapat mengembangkan diri agar bisa menghadapi segala perubahan maupun permasalahan. Pengembangan potensi siswa dapat digali dalam berbagai bidang dalam pembelajaran bidang studi. Pendekatan eksplorasi merupakan salah satu pendekatan yang berlandaskan pada teori kontruktivisme. Teori kontruktivisme merupakan teori yang mendukung pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. (Novianti, Isrok’atun, & Kurniadi, 2016). Pendekatan eksplorasi merupakan suatu pendekatan yang bertujuan untuk menggali ide-ide, argument-argumen dan cara-cara yang berbeda dari siswa melalui sejumlah pertanyaan-pertanyaan terbuka dan perintah-perintah sehingga dapat mengantarkan siswa kepada pemahaman suatu konsep serta penyelesaian masalah-masalah. Dalam pendekatan eksplorasi siswa menjadi penjelajah aktif (active eksplorer) dan guru hanya berperan sebagai pembimbing dan fasilitator eksplorasi. Tujuan dari kegiatan eksplorasi adalah agar siswa terlibat secara luas dalam pemecahan masalah. Peran guru dalam kegiatan eksplorasi adalah sebagai fasilitator dan guide selama proses pembelajaran berlangsung. Mengutip Rohmat (2014: 18) mengungkapkan peran guru dalam pendekatan eksplorasi, diantaranya: 1) Melibatkan siswa mencari informasi yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari serta belajar dari aneka sumber, 2) Guru harus menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media pembelajaran dan sumber belajar lain, 3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya, 4) Melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran, 5) Memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, atau lapangan. Pendekatan eksploratif ini memiliki beberapa karakteristik yang di antaranya menurut Ramlan dan Arie (2011) adalah sebagai berikut 1) Melibatkan siswa untuk mencari informasi (topik tertentu), 2) Menggunakan beragam metode, media dan sumber belajar, 3) Memfasilitasi terjadinya interaksi antarsiswa, 4) Guru memberi umpan balik positif terhadap hasil belajar siswa, 5) Guru memberi konfirmasi hasil eksplorasi siswa, 6) Guru memberi kesempatan kepada siswa untuk merefleksi pengalaman belajarnya. Sedangkan menurut Dwirahayu (2013) pendekatan eksploratif memiliki lima tahapan yaitu pemberian masalah, eksplorasi individu, presentasi, eksplorasi kelompok, dan diskusi. Berdasarkan kelima tahapan tersebut dapat dilihat bahwa pembelajaran menggunakan pendekatan eksploratif mencoba mengubah paradigma pembelajaran yang mulanya teacher centered menjadi student centered.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan eksploratif memiliki banyak keuntungan diantaranya dapat meningkatkan kepercayaan diri. Karena siswa difasilitasi untuk percaya kepada kemampuan sendiri, bertindak mandiri dalam mengambil keputusan, memiliki konsep diri yang kuat serta berani mengungkapkan pendapat. Dengan demikian bahwa prinsip eksploratif berkaitan dengan semangat untuk membuka ruang yang lebar terhadap proses konstruktivisme dan pengembangan diri siswa. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pendekatan eksploratif juga berkembang menjadi penelitian eksploratif.  Penelitian eksploratif adalah suatu jenis penelitian yang memiliki tujuan untuk melakukan eksplorasi atau memperdalam pengetahuan ataupun mencari ide-ide baru mengenai suatu hal tertentu, guna merumuskan permasalahan dengan secara lebih terperinci ataupun mengembangkan hipotesis dan bukanlah untuk menguji hipotesis. Penelitian eksploratif ini sifatnya lebih fleksibel, dan cenderung tidak terstruktur secara kaku dan baku, serta biasanya sampel penelitiannya relatif sedikit jumlahnya atau terbatas, serta analisis data primernya biasanya lebih bersifat kualitatif. Eksplorasi dipandang sebagai langkah taktis untuk memperoleh data-data yang diperlukan. Eksplorasi juga merupakan istilah yang digunakan dalam penelitan. Penelitian Eksploratif merupakan studi dengan melakukan penelusuran, terutama dalam pemantapan konsep yang akan digunakan dalam ruang lingkup yang penelitian yang lebih luas dengan jangakauan konseptual yang lebih besar (Yusuf, 2017). Dalam melakukan eksplorasi, konsep yang matang menjadi goal dalam penelitian dan jangakauan konseptual yang lebih luas.  Penelitian eksploratif merupakan penelitian awal yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai suatu topik penelitian yang akan diteliti lebih jauh (Morissan, 2017).

Tujuan dari penelitian eksploratif sebagaimana disampaikan secara lebih detail oleh Yusuf (2004) bahwa  tujuan umum dari penelitan dari yang bersifat eksplorasi yakni guna mendapatkan ide-ide mengenai permasalahan pokok secara lebih terperinci maupun untuk mengembangkan hipotesis yang ada. Hasil penelitian eksploratif akan menjawab apakah penelitian masih akan dilanjutkan atau tidak. Jadi penelitian eksploratif merupakan jenis penelitian awal dari suatu penelitian yang sifatnya sangat luas. Untuk penelitian subyek tertentu, penelitian eksploratif menjadi sangat penting dikarenakan akan menghasilkan landasan kuat untuk penelitian selanjutnya. Penelitian eksploratif merupakan kombinasi antara penelitian deskriptif dan penelitian menguji, tetapi tidak dapat memiliki artik mandiri. Penelitian Eksploratif memberikan arah pada perumusan masalah dan hiptesis (Jamaluddin, 2004). Teknik pengumpulan data dalam penelitian eksploratif dapat menggunakan wawancara terbuka dan penelaahan berbagai buku. Ketika wawancara terbuka dilakukan, peneliti dapat mengajukan berbagai pertanyaan yang mendalam yang berkaitan erat dengan dengan objek yang diteliti (Saifuddin, 2018). Adapun beberapa ciri-ciri dari Penelitian Eksploratif oleh Yusuf (2017) yakni: (1)bPenelitian eksploratif ingin menemukan sesuatu apa adanya sebagai langkah awal untuk mendeskripsikan suatu fenomena tersebut secara lebih jelas dan tuntas. (2) Sampelnya terbatas (3). Instrumen yang dipakai haruslah mampu mengungkapkan sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan sesuai dengan objek penelitian.(4). Bentuk pertanyaan yang dipakai lebih banyak yang bersifat terbuka daripada yang bersifat terstruktur, sehingga mampu menampung atau mendeteksi sebanyak mungkin informasi yang dibutuhkan. (5). Mengunakan data primer dan sekunder karena kedua jenis data tersebut akan saling melengkapi.

Mengacu pada hal tersebut maka penting dilakukan perubahan maupun inovasi pendidikan maupun pembelajaran di kelas. Peranan guru harus bergeser dari “apa yang akan dipelajari” ke “bagaimana menyediakan dan memperkaya pengalaman belajar murid”. Pengalaman belajar murid dapat diperoleh melalui serangkaian kegiatan untuk mengeksplorasi alam melalui interaksi aktif murid dengan teman, lingkungan, dan nara sumber lainnya. Pemahaman konsep diterapkan pada siswa yang merupakan kemampuan siswa dalam menjelaskan, menemukan fakta dan contoh-contoh, menggeneralisasikan,mengaplikasikan, menganalogikan, dan memperlihatkan masalah dengan berbagai cara yang berbeda. Pendekatan eksplorasi juga mampu meningkatkan kemampuan befikir kritis dan kreatif siswa. Dengan demikian bahwa menggali ide-ide kreatif siswa dapat dilakukan dengan pendekatan eksploratif. Pengembangan dan penerapan pendekatan eksploratif dapat dilakukan dengan penelitian lebih lanjut oleh para ahli dan pakar-pakar penddikan yang berfokus pada penggalian ide-ide kratif baik dalam mata pelajaran maupun bidang-bidang strategis lainnya. Seoga bermanfaat. (*****).

 

Rujukan:

  1. Bidarra J. & Olimpio, M. (2010). Exploratory learning with geodromo: design of emotional and cognitive factors within an educational cross-media experience. Journal of Research on Technology in Education, 43 (2), hlm. 171-183.
  2. Heitink, Gerben., Hartono, Heselaars. 1999. TEOLOGI PRAKTIS (Postural dalam Era Modernitas-Postmoderitas). Yogyakarta: Kanisius
  3. Jamaluddin, Ritonga. 2004. Riset Kehumasan. Jakarta: Grasindo
  4. 2017. METODE PENELITIAN SURVEI. Jakarta: Kencana
  5. , Ismail, Muhammad Syuhudi., Wekke, Ismail Suardi. 2018. Strategi dan Teknik Penulisan Skripsi. Yogyakarta: DEEPUBLISH
  6. Ramlan dan Arie. (2011).Pembelajaran dengan eksplorasi, elaborasi dan konfirmasi.[Online].Diakses dari: http://ramlannarie.blogspot.com/201
  7. Yusuf, Muri. 2017. Metode Penelitian (Kuantitatif, Kualitatif, & Penelitian Gabungan). Jakarta: Kencana

Komentar