oleh

Komitmen, Dedikasi dan Kesungguhan Profesionalisme  Guru di Era Digital

Oleh: Nelson Sihaloho 

Penulis: Guru SMPN 011 Kota Jambi

 

ABSTRAK:

 

Perbaikan sumberdaya manusia (SDM)  pada suatu negara tidak terlepas dari peranan para tenaga pendidik utamanya guru. Guru berperan sangat penting dalam upaya mengembangkan serta membentuk kualitas SDM bermutu dan profesional. Di era teknologi digital saat ini, guru dituntut untuk terus berinovasi dan beradaptasi sesuai dengan tutntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Lingkungan belajar (sekolah) harus diselaraskan dengan pemanfaatan Iptek, minimal internet sehingga memungkinkan peserta didik belajar dengan mandiri, dinamis, dan tidak terikat oleh hanya satu tempat dan satu sumber belajar. Termasuk peserta didik agar tidak tergantung pada gurunya saja, melainkan mereka bisa belajar dari banyak guru terutama berbagai sumber yang ada dunia maya.

Tuntutan baru tersebut menngindikasikan bahwa komitmen, dedikasi serta kesungguhan guru di era digital sangat dibutuhkan untuk memperbaiki mutu serta kualitas pendidikan kita. Guru sebagai tenaga profesional di masa mendatang akan terus menghadapi berbagai tantangan kompleks serta perubahan dalam berbagai upaya pengembangan SDM. Dalam konteks abad ke-21 saat ini, persaingan global yang sudah terasa geliatnya menuntut para guru untuk lebih cerdas, kreatif, terampil serta harus memiliki banyak ide-ide inovatif dalam mempersiapkan SDM anak didiknya. Pendidikan maju, hanya bisa diwujudkan apabila guru-gurunya memiliki daya kreatifitas yang tinggi serta kaya akan pengalaman hidup. Komitmen, dedikasi dan kesungguhan profesionalisme guru di era digital akan berpengaruh sangat signifikan terhadap peningkatan kualitas SDM peserta didik.

Kata kunci: komitmen, dedikasi, profesionalisme, era digital

 

Komitmen dan sistem among

 

Tokoh pendidikan kita Ki Hajar Dewantara dalam proses pembelajaran selalu mengacu dan menerapkan “sistem among” yang dikembangkan di Taman Siswa. Imlementasinya dalam mendidikan anak kecil (tingkat pendidikan bawah) dilakukan dengan pola Ing Ngarso Sung Tulodho (guru di depan harus memberi contoh) di depan anak-anaknya. Sedangkan pada jenjang SMP, menggunakan Ing Madyo Mangun Karso (guru di tengah-tengah kehidupan anak, memberi semangat). Adapun untuk jenjang SMA dan perguruan tinggi menggunakan Tutwuri Handayani (guru mengikuti di belakang sambil memberi arahan). Upaya untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Ujian Nasional (UN)  akhirnya digantikan dengan assesmen kompetensi minimum (AKM). Komiten guru merupakan kunci keberhasilan sekolah dalam meningkatkan pencapaian belajar siswa yang ditunjukkan melalui komitmen aktif seorang guru terhadap pembelajaran siswa di kelas. Lee (2011) mendefinisikan komitmen guru sebagai ketertarikan seorang guru secara psikologis dengan profesi mengajar, asosiasi profesional, sekolah, rekan kerja (kolega), orang tua, dan siswa. Selain itu, komitmen guru juga dianggap sebagai kunci dari budaya sekolah dan dapat ditunjukkan oleh proses pengajaran guru, dedikasi guru dalam meningkatkan prestasi siswa dan kesetiaan guru terhadap sekolah. Guru yang memiliki tingkat komitmen yang rendah menandakan kurang loyal terhadap sekolah (Ç. T. Mart, 2013). Ungkapan komitmen mengajar yang tinggi dapat ditemukan pada guru melalui dua cara yaitu, pertama melihat kendala yang dihadapi guru. Kedua, dengan cara menanyakan kepada guru apakah akan tetap memilih profesi mengajar, jika guru dapat mengulang waktu untuk memilih profesinya (Han, Yin, & Wang, 2016). Permasalahan yang sering muncul berkaitan dengan komitmen guru di  era digital saat ini adalah kurangnya kesiapan dan profesinalisme guru sebagai salah satu komponen utama dalam proses pembelajaran. Guru yang kompeten dan relevan dengan kebutuhan sekolah bukan hanya berkualifikasi saja tetapi juga berkomitmen untuk selalu menjadikan pendidikan sebagai pendidikan sepanjang hayat. Mengutip Napitupulu, (2009) menyatakan bahwa era globalisasi yang serba digital dan penuh persaingan, memberikan tantangan guru ke depan. Tantangan itu  antara lain; Pertama, perkembangan Iptek yang cepat dan pesat akan membutuhkan guru yang berkarakteristik adaptif responsif, arif dan bijaksana. Kedua, arus negatif globalisasi akan membutuhkan guru yang bisa berperan aktif dan bijaksana sebagai fasilitator dan  mebimbing para siswa. Ketiga, krisis sosial, seperti kriminalitas dan pengangguran akan membutuhkan guru yang responsif, sehingga sekolah sebagai lembaga pendidikan formal yang mendapat kepercayaan masyarakat harus mampu menghasilkan siswa yang siap hidup dalam kondisi dan situasi bagaimanapun. Keempat, krisis identitas sebagai bangsa dan Negara Indonesia akan membutuhkan guru yang mampu berperan sebagai penjaga nilai-nilai  termasuk nilai nasionalisme kepada para siswanya. Kelima, perdagangan bebas akan membutuhkan guru yang visioner, kompeten dan berdedikasi tinggi sehingga mampu membekali siswa dengan sejumlah kompetensi yang diperlukan sebagai bekal menghadapi persaingan global. Karena itu guru harus reflektif dalam mengevaluasi kemampuan diri, menganalisis situasi serta membangun pengalaman dalam penggunaan teknologi. Pendidik harus sering melakukan refleksi, mengevaluasi diri bagaimana selama ini dirinya mengajar kemudian mampu mencari solusi untuk menyelesaikan segala permasalahan yang dirasakan. MenurutTrilling & Fadel, (2009) menyatakan bahwa keterampilan abad 21 merupakan serangkaian keterampilan yang selayaknya dimiliki secara terintegrasi oleh individu, yang terdiri atas keterampilan memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja dalam tim, menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, melakukan inovasi, dan berpikir kreatif pada tema-tema atau isu-isu kontekstual secara efektif dan efisien. Untuk mengantisipasi kebutuhan abad 21 pergeseran cara belajar dengan perubahan metode pembelajaran harus dilakukan dengan mendasarkan pada empat ciri abad 21, yakni informasi, komputasi, otomasi dan komunikasi. Informasi tersedia dimana saja dan pembelajaran diarahkan untuk mendorong siswa mencari tahu dari berbagai sumber, bukan diberi tahu. Komputasi  yakni lebih cepat menggunakan mesin, model pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab). Otomasi yakni menjangkau semua pekerjaan rutin pekerjaan rutin dan pembelajaran diarahkan untuk melatih berpikir analitis/pengambilan keputusan, bukan berpikir mekanistis (rutin). Komputasi yakni lebih cepat menggunakan mesin, dan pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah.

 

Tantangan Makin Kompleks

 

Pada era masa sekarang ini pekerjaan mendidik tidak sesederhana pada era masa lampau bahkan di era masa depan-pun akan semakin beragam kompoleksitasnya. Masa sekarang saja kehidupan sudah sedemikian kompleks. Dengan kondisi ersebut memerlukan sosok guru yang penuh inspiratif dan profesional. Guru profesional merupakan sumber kekuatan motivasi, kekuatan belajar, kekuatan empati dan komitmen yang tangguh. Era digital saat ini menjadi hal utama serta realita yang harus kita hadapi bersama. Era Digital disebut sebagai evolusi dari perputaran pengetahuan yang tinggi dan di luar kontrol manusia. Masyarakat yang hidup dengan pengetahuan yang berbasis pada teknologi secara tidak langsung juga menciptakan sebuah cara hidup baru. Seiring berjalannya waktu, era digital juga berdampak pada dunia pendidikan.  Pendidikan di era digital dituntut untuk mengintegrasikan teknologi dan komunikasi terhadap mata pelajaran. Di era digital, terdapat kemudahan dalam mencari referensi, mendorong kreativitas dan kemandirian, mendorong penguasaan bahasa asing, dan mendapat informasi yang edukatif.  Kemajuan teknologi ibarat dua mata pisau yang tidak terpisahkan, selain memberi kemudahan juga bisa memanjakan.  Di era digitalisasi, segala arus informasi yang diserap secara tidak langsung telah membangun dan mempengaruhi emosi, mentalitas, dan karakter seorang anak. Kemajuan teknologi telah mengubah dunia pendidikan secara drastis. Ada kekhawatiran yang mendalam yang dirasakan di setiap-setiap penyelenggaraan pendidikan. Intoleransi, Bullying, dan kekerasan seksual merupakan tiga masalah besar dalam dunia pendidikan Indonesia.  Penelitian Davis (2020) dalam pembelajaran menunjukkan bahwa Guru yang memberi akses internet kepada peserta didik tidak selalu memberi dampak yang positif. Starkey (2020) menjelaskan Guru diharuskan lebih kritis, aktif, kreatif, inovatif, dan kolaboratif dalam mengikuti trend di era digitalisasi. Guru saat ini dituntut untuk lebih cerdas. Proses pembelajaran saat ini tidak hanya dalam kelas bahkan guru bisa menggunakan media digital, online, dan telekonferensi. Guru dituntut unyul waspada menghadapi perkembangan teknologi. Guru di era global memerlukan tuntunan, perubahan, tuntutan kebutuhan  serta perkembangan zaman. Guru harus dapat menyesuaikan diri serta berada[tasi dalam mengikuti perubahan Iptek serta mengembangkan profesionalismenya kearah yang lebih baik. Perubahan dan perkembangan Iptek  tidak dapat dihindari dalam era digital. Usaha guru untuk mencapai perkembangan diri serta karyanya harus dilakukan terus dengan berkesinambungan. Hingga saat ini tantangan maupun peran guru di era digital cukup berat. Terbatasnya inovasi kebijakan sekolah yang mampu memfasilitasi pembelajaran guru, seperti insentif penelitian guru dan panduan pembelajaran ternyata masih minim. Karena itu setiap sekolah harus memiliki inovasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalismenya. Seiring dengan diberlakukannya kurikulum merdeka, sekolah penggerak dan guru penggerak semestinya guru-guru harus lebih kompeten serta kredibel dalam melakukan inovasi pe,belajaran. Kemdibud Ristek (2022) menyatakan lebih dari 3.500 referensi modul ajar, bahan ajat hingga modul projek dalam Platform Merdeka Belajar. Dengan kondisi demikian di masa depan akan semakin banyak referensi modul ajar yang dibutuhkan untuk meminalisir tantangan yang dihadapi oleh guru di era digital.

 

Kurikulum Merdeka Jalan Tengah?

 

Perubahan global, peningkatan mutu lulusan, efektifitas dan efisiensi pencapaian tujuan pendidikan dan fenomena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan masyarakat yang semakin tinggi dan peningkatan profesionalisme guru adalah beberapa faktor yang mendorong perubahan kurikulum. Sebagaimana kita ketahui bahwa Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM) resmi ditetapkan oleh Kemendikbudristek serentak dilaksanakan pada tahun ajaran baru 2022/2023. Hal tersebut sesuai dengan Siaran Pers Kemendikbudristek Nomor 413/sipers/A6/VII/2022. Kurikulum Merdeka digagas oleh Nadiem Anwar Makarim dan digagas sebagai jalan tengah untuk meningkatkan dan memulihkan kembali kualitas pendidikan. Tantangan di dunia pendidikan saa ini adalah tuntutan akan perubahan serta perkembangan teknologi digital yang menuntut guru untuk bisa beradaptasi dengan cepat. Kurikulum Merdeka merupakan salah satu kurikulum yang menuntut para pelaku pendidikan memiliki kecakapan teknologis. IKM pada akhirnya menuntut guru untuk menguasai kecakapan digital. Guru harus siap dan berani untuk melakukan eksplorasi, berinovasi, berkreasi sesuai dengan kebutuhan sekolah dan siswa dalam menghadapi era masa depan. Dunia yang semakin cepat berkembang menuntut guru terus berlari dan responsive terhadap perubahan yang terjadi di dunia siswa maupun di dunia pendidikan. Kesungguhan sekolah maupun guru dalam menjalankan tugas profesionalismenya secara signifikan akan mampu menjawab tantangan peningkatan kualitas SDM di masa depan. Semakin banyak tawaran yang diberikan terhadap guru dalam  kegiatan pengembangan diri. Guru dituntut untuk bijak mengambil kesempatan pengembangan dirinya. Pelatihan mana dan apa saja yang urgent  untuk mengebangkan kompetensinya itulah yang harus dilakukan. Perubahan kurikulum memberikan konsekuensi terhadap guru untuk terbiasa mengembangkan kreativitasnya dalam proses pembelajaran.  Metode pembelajaran berbasis scientific, problem based learning, project based learninginquiry, observasi, diskusi hingga presentasi. Efektivitas pendekatan dan model pembelajaran tersebut sangat ditentukan kompetensi guru. Information and Communication Technology (ICT) yang kini menjadi kebutuhan dalam berbagai sektor kehidupan, termasuk dunia pendidikan pembelajaran juga dilakukan berbasis ICT (cyber pedagogy) kendati masih menyisakan kelemahan (Sulistyo: 2021). Nurjanah (2019), menyatakan saat ini guru menghadapi tantangan yang lebih berat dibanding era sebelumnya untuk memenuhi empat pilar pendidikan yang ditetapkan UNESCO: Learning to know, learning to do, learning to live together, dan learning to be (Rodriguez, 2020). Tuntutan pendidikan saat ini menghendaki siswa menguasai keterampilan abad 21, yakni 4C; 1) Creativity Skills dan Innovation, 2) Critical Thinking dan Problem Solving, 3) Communication Skills, dan 4) Collaboration Skills (Nabilah & Nana, 2020; Septikasari, 2018). Merdeka belajar adalah program kegiatan pembelajaran fleksibel yang memberikan kebebasan kegiatan pembelajaran (freedom of learning) untuk guru dan siswa. Suasana belajar harus lebih menyenangkan tanpa dibebani dengan pencapaian yang ditentukan oleh skor atau nilai tertentu.  Pendidikan karakter dan kebutuhan siswa di era digital sangat berbeda dengan siswa di era sebelumnya. Salah satu karakter siswa generasi alpha yang menonjol adalah tech savvy. Siswa sangat antusias dengan hal-hal berbau digital dan teknologi. Salah satu indikator kompetensi profesional guru adalah mampu memanfaatkan teknologi dalam proses pembelajaran untuk menjawab tantangan zaman. Kompetensi guru harus selalu di-upgrade supaya dapat mengikuti perkembangan zaman. Diera digital guru dengan kemampuan artifisialnya dapat membelajarkan siswa dalam jumlah besar. Dengan teknologi internet, ilmu pengetahuan dapat ditransmisikan pada kecepatan tinggi. Tuntutan kemampuan dan kesempatan untuk mengakumulasi, mengolah, menganalisis, menyintesa data menjadi informasi. Kemudian menjadi ilmu pengetahuan yang bermanfaat sangatlah penting dikuasai guru dalam dunia informasi saat ini. Dengan mendapatkan informasi guru dapat  mengaplikasikan teknologi pembelajaran lebih efektif. Memanfaatkan ketersediaan informasi teknologi maka guru dapat menambah wawasan dan skillnya. Perkembangan sumber belajar pada akhirnya telah merubah paradigma pembelajaran. Teknologi digital juga telah menawarkan beragam media komunikasi yang akan memudahkan guru dengan peseta didik maupun orang tuanya untuk saling bertukar informasi ataupun berkomunikasi. Fakta membuktikan bahwa sebagian negara-negara maju berkembang dengan pesat bukan karena memiliki sumber alam yang melimpah ruah akan tetapi ditunjang dengan intelektualitas, disiplin, etos kerja rakyatnya. Guru yang profesional juga harus bisa mengembangkan keahlian mengajarnya dan tidak hanya bertindak sebagai penyaji informasi, tetapi juga harus mampu bertindak sebagai fasilitator, motivator, dan pembimbing yang memberikan banyak kesempatan kepada peserta didik untuk mencari dan mengolah informasi sendiri. Semoga bermanfaat. (******)

 

Rujukan:

 

  1. Daryanto, Karim S., 2017. Pembelajaran Abad 21, (Yogyakarta: Gava Media).
  2. Feri Sulianta, 2020, Literasi Digital, Riset dan Perkembangannya dalam Perspektif Social Studies, Jakarta.
  3. Hamdan Husein Batubara, 2021, Media Pembelajaran Digital, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
  4. Mubin, F. (2020). Tantangan Profesi Guru Pada Era Revolusi Industri 4.0.
  5. Nata, Abuddin. Guru Profesional di Era Digital. http://abuddin.lec.uinjkt.ac.id/articles/g uru-profesional-di-era-digital
  6. Rudi Hartono, 2019, Mendeteksi Guru Bergairah Di Era Milenial, Semarang: CV. Pilar Nusantara.
  7. Sulastri, S., Fitria, H., & Martha, A. (2020). Kompetensi Profesional Guru dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan. Journal of Education Research, 1(3), 258-264.
  8. Tarkus Suganda. (2018). Pengelolaan Pembelajaran Zaman Now (Generasi Z) (Vol. 108, pp. 1042–1043). https://doi.org/10.13140/RG.2.2.23700.60800
Facebook Comments

ADVERTISEMENT

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.